
Yura telah terbangun dari tidurnya sejak pagi sekali. Gadis itu tidak bisa tidur dengan nyenyak karena semalam ada yang mengganggu tidurnya. Kedua orangtuanya bersikeras membawa Arvan masuk ke dalam kamarnya untuk memeriksa kondisi lukanya.
Namun, Yura yang memang pada dasarnya memiliki indera yang peka langsung bisa mengetahui saat ada yang masuk ke dalam kamar dan mengganggu tidurnya. Pada akhirnya, Yura hanya bisa diam saat Arvan memeriksa kondisi lukanya. Karena sudah terlanjur, Yura pun tidak ingin membuat kedua orangtuanya yang ingin mengawasi pemeriksaan menjadi merasa khawatir berlebihan jika ia menolak untuk diperiksa hingga akhir.
Meski begitu, saat pemeriksaan dilakukan oleh Arvan pada lukanya, Yura terus berpura-pura tidur. Hingga pemeriksaan selesai, barulah Yura berhenti sandiwara yang langsung meminta Arvan dan kedua orangtuanya untuk jangan mengganggunya lagi dan pergi meninggalkan kamarnya.
Usai bersiap, Yura langsung ke luar dari dalam kamar dan beranjak menuju ke kamar Arsha. Karena tidak mungkin jika Yura pergi ke kamar Ratu karena pasti ada Raja juga bersamanya dan tidak mungkin pula ia pergi menemui Arvan, apa lagi ke kamar kedua orangtuanya setelah semalam ia mengusir kedua orangtuanya dari dalam kamarnya sendiri.
Begitu sampai di kamar Arsha, rupanya keponakan lelakinya itu sedang bersiap dengan dibantu oleh pelayan vila untuk berpakaian. Saat itu, Yura pun langsung ikut membantu Arsha untuk bersiap.
"Rupanya, keponakan Bibi sedang bersiap. Bibi kira nasih harus membangunkanmu dari tidur saat sampai di sini," ujar Yura yang langsung mendekat ke arah Arsha untuk membantunya bersiap.
"Tentu saja. Karena saat berada di asrama Akademi Kerajaan setiap murid pun harus bangun pagi sekali. Awalnya aku hanya ingin bertanya soal pakaian karena aku baru pertama kali datang ke vila nenek dan kakek, tapi pelayan di sini malah bersikeras ingin membantuku bersiap," kata Arsha
"Apa kau masih ingin pergi sekolah hari ini juga, Arsha?" tanya Yura
"Ya, Bibi. Kupikir aku harus tetap sekolah karena tidak ingin tertinggal satu pun pelajaran," jawab Arsha
"Bibi tidak bisa memutuskan soal ini, tapi Bibi akan membantumu bicara soal ini pada ibunda Ratu dan ayahanda Raja-mu nanti," kata Yura
"Terima kasih, Bibi Yura ... " ucap Arsha
"Aku yang akan membantu Arsha bersiap. Kau boleh ke luar. Bantulah pelayan lain untuk menyiapkan sarapan pagi," ujar Yura pada pelayan yang membantu Arsha bersiap.
"Baiklah. Kalau begitu, saya permisi, Nona Yura, Yang Mulia Putra Mahkota." Pelayan pun beranjak pergi dari kamar tersebut.
__ADS_1
"Bibi Yura, bagaimana kondisi luka yang kau dapat semalam?" tanya Arsha
"Tidak ada masalah, lukanya sudah diobati dan Bibi juga baik-baik saja. Bahkan lukanya juga sudah diperiksa oleh paman Arvan yang datang semalam setelah kau tidur. Kau tidak perlu khawatir," jawab Yura sambil tersenyum.
"Syukurlah, kalau begitu ... " kata Arsha
"Arsha, Bibi harap kau bisa melupakan kejadian semalam. Biar pun bukan kau dan ibu-mu, Bibi pasti akan melindungi siapa pun dari bahaya. Karena sudah menjadi tugas semua orang untuk menolong dan melindungi sesama, jadi jangan sampai kau merasa bersalah hanya karena melihat Bibi yang terluka," ucap Yura
"Aku hanya merasa khawatir. Jika memiliki kemampuan, aku pun akan melakukan hal yang sama dan tidak ingin orang lain merasa bersalah. Meski begitu, aku harap Bibi tidak memintaku untuk melupakan apa yang terjadi semalam. Biar aku terus mengingatnya untuk dijadikan pelajaran yang berharga," ujar Arsha
"Kau sudah semakin pintar, Arsha. Baiklah, terserah kau saja jika memang tidak ingin melupakan yang terjadi semalam. Asalkan kau tidak menganggapnya sebagai kenangan buruk yang menakutkan dan mengerikan, kau bisa terus mengingatnya sampai kapan pun," kata Yura
"Tindakan hebat dan keren yang dilakukan oleh Bibi hingga membuatmu seperti menjadi pahlawan, tidak mungkin itu menjadi kenangan buruk yang menakutkan dan mengerikan," sahut Arsha
"Kau semakin pandai memuji sampai membuat hati orang yang mendengarnya merasa senang. Baiklah, kau sudah selesai bersiap. Kalau begitu, ayo kita pegi ke luar untuk sarapan bersama," ujar Yura
Keduanya pun beranjak pergi ke luar bersama dari kamar tersebut dan langsung beralih menuju ruang makan. Di sana, makanan baru saja selesai dihidangkan di atas meja makan. Sama seperti Yura yang muncul bersama Arsha, Ratu datang bersama Raja, dan Tuan Haris bersama sang istri. Hanya Arvan-lah yang muncul seorang diri tanpa pasangan di ruang makan tersebut.
Namun, karena semua sudah berkumpul di sana, mereka semua pun duduk di atas kursi masing-masing di hadapan dan melingkari meja makan untuk sarapan bersama.
"Yura, ada apa denganmu? Apa lukamu terasa sakit lagi? Apa ini hanya perasaan dan penglihatanku saja atau wajahmu memang tampak sedikit pucat?" tanya Ratu
"Memangnya kenapa? Apa wajahku tampak aneh? Sebenarnya tidak ada masalah apa pun, tapi semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kamarku kedatangan pengganggu yang mengusikku saat tidur," jelas Yura sambil menyindir.
"Namun, kau tidak perlu merasa khawatir lagi, Kak. Selain sudah diobati, lukaku bahkan sudah diperiksa oleh seorang dokter yang sangat hebat. Bukan begitu, Dokter Arvan? Tolong jelaskan pada Kak Yuna seperti apa kondisi lukaku supaya Kakakku tidak perlu merasa khawatir lagi," sambung Yura sambil menyindir sekali lagi.
__ADS_1
"Benar, Yang Mulia Ratu. Saya sudah memeriksa kondisi luka adikmu semalam. Lukanya pulih cukup baik untuk ukuran luka parah yang baru. Tidak ada lagi pendarahan yang ke luar mungkin karena Yura telah memakan pil obat yang dapat menghentikan pendarahan seperti yang dikatakannya semalam dan bahkan lukanya sudah mulai mengering. Meski begitu, sama sepertimu Yura pun masih harus melakukan pemeriksaan pada lain waktu. Semalam itu saya memeriksa luka Yura dengan pengawasan Tuan dan Nyonya Haris, jadi tolong jangan berpikir macam-macam atau salah paham," ungkap Arvan
"Semalam itu memang Ibu dan Ayah yang sengaja meminta Tuan Arvan untuk memeriksa kondisi luka Yura. Karena kami sebagai orangtua pasti merasa khawatir dengan kondisi putri kami yang seperti itu. Bagaimana tidak, setelah lama tidak bertemu kami justru melihatnya terluka saat bertemu kembali kami setelah sekian lama," ucap Nyonya Haris
"Yang penting Ibu dan Ayah sudah percaya dan melihat sendiri kalau aku baik-baik saja. Tidak perlu berdebat lagi karena tidak baik untuk didengar oleh ibu hamil seperti Kakak," ujar Yura
"Arsha, Bibi masih belum memberi tahu padamu, ya? Sebentar lagi kau akan menjadi seorang kakak. Selamat, ya ... " sambung Yura
"Apa itu benar? Kalau begitu, Ibu harus menjaga diri dan kesehatan dengan baik," ujar Arsha
"Apa kau senang mendengar akan mempunyai adik, Arsha?" tanya Raja
"Tentu saja, aku jadi sangat menantikannya ... " jawab Arsha
"Kak Yuna, Kakak ipar, sebenarnya ada yang ingin Arsha katakan juga. Arsha bilang padaku ingin langsung kembali bersekolah dan pergi ke Akademi Kerajaan hari ini juga. Bagaimana menurut kalian?" tanya Yura
"Benar, Ayah, Ibu. Aku ingin sekolah dan tidak ingin tertinggal pelajaran meski pun hanya sedikit. Karena aku sekolah di Akademi Kerajaan yang memiliki keamanan yang baik, Ayah dan Ibu jadi tidak perlu khawatir. Aku pasti akan selalu aman selama berada di sana," ucap Arsha
"Menurutku biarkan saja Arsha kembali ke Akademi Kerajaan untuk sekolah. Aku akan mengantar Arsha ke Akademi Kerajaan untuk memastikannya tetap aman selama perjalanan seperti pertama kali Arsha pergi ke Akademi Kerajaan sebelumnya," ujar Yura
"Tidak boleh. Yura, kau tetaplah di sini untuk istirahat selama kau terluka, biar Ayah sebagai Kakek yang akan mengantar Arsha pergi ke Akademi Kerajaan. Ayah juga aksn mengatur penjaga untuk ikut bersama kami. Tentu saja, jika Yuna dan Evan menyetujuinya," ucap Tuan Haris
"Baiklah, Arsha boleh kembali sekolah dan pergi ke Akademi Kerajaan. Sekali lagi maaf jika harus merepotkan Anda, Ayah Mertua," ujar Raja
"Tidak masalah dan tidak merepotkan sama sekali," kata Tuan Haris
__ADS_1
Akhirnya, setelah selesai sarapan bersama, Arsha pun pergi bersama Tuan Haris dan seorang penjaga juga seorang kusir yang membawa kereta kuda menuju ke Akademi Kerajaan.