One & Only

One & Only
72 - Pemikiran yang Hampir Sama.


__ADS_3

Arvan merasa senang mendengar perkataan Yura yang srolah memberinya pujian.


Usai saling berbincang sambil berbisik-bisik, akhirnya pegawai toko sebelumnya muncul dan menghampiri Yura dan Arvan.


"Sepertinya sudah ada pegawai yang melayani dan mengantar minuman untuk Tuan dan Nona, baguslah. Maaf kalau saya membuat Anda berdua terlalu lama menunggu. Karena tadi saya harus menyimpan senjata pesanan Nona dengan baik dan benar agar tidak tercampur dengan senjata pesanan pelanggan lain."


"Tidak apa-apa, itu tidak masalah karena artinya kau bekerja dengan sungguh-sungguh agar bisa memenuhi harapan pelanggan seperti saya," kata Yura


"Bagus kalau kau kembali selama mungkin jadi aku dan Arvan bisa berdiskusi dengan baik untuk bisa melancarkan aksi misi penyelidikan kali ini," sambung Yura di dalam hati.


"Bagus kalau kau kembali selama mungkin jadi aku bisa mengobrol dengan Yura lebih lama hingga bisa kembali mempererat hubungan kami untuk kembali menjadi dekat seperti sebelumnya. Malah harusnya kau kembali lebih lama dari pada ini," batin Arvan


Lagi-lagi Yura dan Arvan memiliki pemikiran yang hampir sama. Namun, nyatanya benar-benar berbeda.


"Kalau begitu, mari kita lanjutkan pembicaraan sebelumnya. Nona Rara tadi bilang, ingin tahu total biaya pelunasannya nanti. Benar begitu, kan? Meski begitu, saya tidak bisa memberi tahu harga sesungguhnya dan hanya bisa memberikan perkiraan harga. Karena bagaimana pun juga bukan saya yang menjual dan membuat barangnya, saya hanya melayani pembelian dan pemesanan."


"Tidak apa-apa karena memang seperti itu yang saya butuhkan. Saya harus tahu perkiraan harganya agar tidak kekurangan saat membawa biaya pelunasannya nanti dan pastinya saya akan membawa biaya lebih banyak dari harga perkiraan," ujar Yura

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu, saya akan memberi tahukan rincian perkiraan harganya. Tadi saya juga sudah sempat merundingkannya dengan tukang tempa dan pemilik toko kami untuk menentukan perkiraan harganya dan kami sudah mencapai pembulatan. Inilah perkiraan harga senjata pesanan Anda, Nona." Pegawai toko itu pun memberikan selembar kertas berisi rincian perkiraan harga senjata yang dipesan oleh Yura.


"Harga yang mengagumkan. Saya harap setelah semua pesanan selesai juga bisa membuat saya terkagum dan puas saat melihat hasilnya," kata Yura


"Tentu saja. Toko kami tidak akan dan tidak pernah membuat pelanggan mana pun merasa kecewa."


"Kalau melihat dari harga yang kau berikan ini, apa saya masih perlu menambah biaya uang mukanya?" tanya Yura


"Tidak perlu, Nona, sudah cukup. Bahkan tidak masalah kalau Nona langsung melunasi pembayaran saat pengambilan barang pesanan. Jadi, tidak perlu menambahan biaya uang muka lagi."


"Bajklah, kalau begitu. Rincian perkiraan harga ini, akan saya simpan lebih dulu supaya tidak terlupa," ujar Yura yang mengambil selembar kertas berisi rincian harga pelunasan pemesanan senjata dan menyimpannya ke dalam saku pakaiannya setelah dilipat menjadi beberapa lipatan.


"Ya, saya mengerti ... " sahut Yura


Yura yang sudah menyimpan kertas nota perkiraan harga tentu saja sudah melihat totalan biaya senjata pesanannya dan itu adalah harga yang terbilang luar biasa.


Arvan pun sempat melihatnya, meski hanya terlihat tulisan total harganya saja. Lelaki itu pun tahu itu bukanlah jumlah harga yang main-main. Namun, Arvan masih berusaha untuk diam bagaimana pun juga ini adalah bagian dari upaya untuk melancarkan misi, apa lagi saat ini masih tahap permulaan. Padahal Tuan Penasehat Besar itu sangat ingin melancarkan protes saat melihat total harga yang menjulang tinggi itu. Namun, ia tidak ingin usahanya dalam misi kali ini menjadi gagal karena ia melakukan tindakan yang gegabah.

__ADS_1


"Kalau begitu, apa boleh kali ini giliran saya yang memesan sesuatu dari toko ini?" tanya Arvan


"Tentu saja, boleh. Sepertinya Tuan Penasehat Besar baru terpikir ingin memesan apa usai melihat-lihat lebih banyak barang tadi. Apa mungkin Tuan ingin sesuatu yang lain dan yang sangat berbeda dari semua barang yang kita lihat tadi? Toko kami pasti bisa menyediakan dan memenuhi harapan Tuan dengan baik. Jadi, barang apa yang Anda inginkan, Tuan?"


"Ya, mungkin bisa dibilang seperti itu. Saya ingin memesan barang yang sulit ditemukan dan terbilang langka. Saya pikir pernah mendengar kalau toko ini bisa saja membuatkannya dan memberikan apa pun keinginan pelanggan. Jadi, sesuatu yang saya inginkan adalah senjata khusus kelas atas bagai auman harimau," ungkap Arvan yang memelankan suaranya pada akhir kalimat ucapannya.


Karena ada banyak pelanggan lain di sana, pegawai toko itu memerhatikan gerak bibir Arvan saat Tuan Penasehat Besar itu bicara tentang sesuatu yang ingin dipesannya. Pegawai toko itu tampak terkejut setelah behasil membaca gerak bibir Arvan. Namun, pegawai toko itu berusaha untuk tetap tenang bahkan sampai melontarkan senyuman.


"Rupanya, Tuan menginginkan sesuatu yang khusus dari toko kami." Pegawai toko itu terus tersenyum seolah mengerti dengan permintaan Arvan.


"Dia terus tersenyum seperti orang yang sudah nengerti dan terbiasa dengan hal seperti ini, tapi kenapa tanggapannya hanya seperti itu? Apa masih harus mengatakan kata sandi lain? Atau baru bisa masuk menjadi pelanggan VIP di sini setelah pernah berbelanja dengan total yang sudah ditentukan lebih dulu? Apa jumlah belanjaanku masih belum cukup memenuhi? Atau apa ada syarat lainnya lagi? Apa petunjuk yang kudapat untuk masuk sebagai pelanggan VIP di sini masih belum cukup? Apa yang harus dilakukan selanjutnya? Atau pegawai ini pun merasa curiga dengan tujuan kami berdua?" batin Yura bertanya-tanya dan merasa sedikit cemas.


"Kalau begitu saja catat dulu pesanan Anda, Tuan. Tunggu sebentar."


"Apa maksudnya itu? Apa tahap ini berhasil dilalui dengan sempurna? Apa kami bisa lanjut ke tahap selanjutnya setelah ini? Apa ini adalah hal baik atau sebaliknya? Aku baru pertama kali melakukan hal yang seperti ini dan masih tidak tahu tentang banyak hal," batin Yura


Pegawai toko itu tampak mencari sesuatu dari lembaran pada papan klip yang terus dibawanya, lalu juga menuliskan sesuatu di sana.

__ADS_1


"Sebenarnya di toko kami selalu mengadakan acara pelelangan di hari tertentu. Untungnya acara tersebut diadakan nanti malam. Tuan dan Nona bisa datang ke toko kami lagi dan mungkin saat itu Anda bisa mendapatkan sesuatu yang Anda inginkan. Yang saya berikan itu adalah lembaran undangannya. Tuan dan Nona bisa temui saya lagi nanti malam. Jika memang berkenan, setelah datang Tuan dan Nona bisa langsung naik ke lantai atas toko ini. Saya juga sudah menuliskan nomor ruangan khusus pada lembaran jika Tuan dan Nona ingin langsung membicarakan tentang pemesanan khusus bisa langsung masuk ke ruangan dengan nomor sesuai. Jika Tuan dan Nona sudah memasuki ruangan, akan ada orang yang akan memberi tahukannya pada saya dan saya akan langsung menghampiri ke ruangan Anda. Tenang saja, seperti yang Anda berdua inginkan, hanya saya yang akan melayani Tuan dan Nona. Tidak akan ada orang lain yang akan mengganggu pelayanan terhadap Tuan dan Nona. Saya berjanji tentang hal ini." Pegawai toko itu bicara sambil mendekatkan kepalanya pada Yura dan Arvan hingga menjadi leluasa memelankan suaranya seraya memberikan selembar kertas pada Yura dan Arvan.


Arvan menerima selembar kertas yang katanya adalah lembaran undangan itu dan memperlihatkan sekilas pada Yura. Tuan Penasehat Besar dan gadis bercadar itu pun saling menatap, lalu mengangguk secara bersamaan.


__ADS_2