One & Only

One & Only
27 - Pelajari dan Perhatikan.


__ADS_3

Begitu sadar bahwa ada Arsha di sana yang melihat dan terus memerhatikan mereka berdua, Yura langsung mendorong tubuh Arvan.


"Arvan, kau bisa lepaskan aku sekarang ... " kata Yura sambil mendorong pelan tubuh Arvan.


"Ah, baik. Maaf," sahut Arvan


Arvan pun melepaskan rengkuhan tangannya dari pinggang Yura secara perlahan. Sedangkan, Yura dengan cepat membenarkan posisinya agar bisa kembali berdiri dengan tegak.


Namun, saat Yura sedang berusaha memperbaiki posisi tubuhnya untuk berdiri tegak, gadis itu malah tidak sadar telah menginjak ujung belakang gaunnya. Hingga tubuhnya kembali kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke arah belakang.


Melihat itu, kali ini Arvan hendak membantu Yura lagi. Namun, kali ini tangannya tidak sampai untuk meraih tubuh Yura seperti sebelumnya. Hingga kali ini malah membuat lelaki itu ikut kehilangan keseimbangannya dan terhuyung ke depan.


Arvan pun terjatuh ke arah Yura hingga keduanya terjatuh secara bersamaan. Untung saja di belakang Yura adalah ranjang tidur kamar tersebut. Posisi keduanya kali ini adalah Arvan jatuh tepat menindih Yura di bawahnya. Namun, Arvan menyempatkan diri untuk menopang beban tubuh bagian atasnya dengan kedua tangan yang disanggahkan di kedua sisi tubuh Yura di atas ranjang yang empuk.


Yura memang sedang memakai gaun dengan bahan yang nyaman untuknya beraktivitas dengan leluasa seperti biasa. Gaun tersebut berukuran sangat lebar pada rok alias bagian bawahnya, namun berbahan lembut dan jatuh ke bawah.


Yura terkejut saat melihat Arvan yang ikut jatuh bersama dan ke arahnya, lebih tepatnya lagi di atas tubuhnya. Arvan pun tampak sama terkejutnya seperti Yura.


Baik yang perempuan atau yang lelaki tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Namun, keduanya malah tak bisa berkata-kata. Yura dan Arvan saling menatap, namun sibuk dengan lamunannya masing-masing.


Saat itu juga Arsha bertepuk tangan. Itu membuat Yura dan Arvan tersadar dari lamunan dan sama-sama menoleh ke arah Arsha yang masih ada di sana sambil menatap keduanya.


"Arvan, bisa tolong menyingkir dari atas tubuhku? Ada Arsha di sini dan dia sedang melihat kita," ujar Yura dengan pelan.


"Tunggu sebentar, maafkan aku ... " kata Arvan


Arvan pun lebih dulu bergerak untuk bangkit dan menyingkir dari atas tubuh Yura. Setelah Arvan berdiri, kini giliran Yura yang beranjak bangkit dari ranjang. Keduanya tampak merasa canggung terhadap satu sama lain.


"Apa kau sudah puas karena bisa mengalahkan aku kali ini?" tanya Yura buka suara untuk menghilangkan suasana canggung.


"Aku tidak menang dan kau pun belum kalah, pertarungannya saja yang sudah berakhir. Kita seri," jawab Arvan


"Bibi Yura, Paman Arvan, kalian berdua hebat sekali. Sangat keren!" seru Arsha


Yura dan Arvan pun tersenyum.


"Maaf, Arsha, kami berdua jadi terjatuh di atas ranjangmu secara tidak sengaja," kata Yura


"Tidak masalah, Bibi Yura. Aku senang bisa melihat contoh daat dua orang saling bertarung," sahut Arsha


Yura dan Arvan pun menghampiri Arsha.


"Namun, kau harus ingat, Arsha. Bertarung tidak boleh dilakukan tanpa latihan yang benar, apa lagi jika itu dilakukan untuk melukai orang lain yang lemah dan tidak bersalah ... " ucap Yura


"Aku mengerti dan akan selalu aku ingat," kata Arsha


"Jadi, apa yang kau pelajari dari latihan bertarung kali ini, Arsha?" tanya Arvan


"Bertarung itu hanya untuk membela diri dan menolong orang yang kesulitan," jawab Arsha


"Kau benar, Putra Mahkota ... " puji Arvan


"Seperti itulah yang pernah Bibi Yura ajarkan padaku," kata Arsha


"Itu hanya yang sudah pernah dibahas sebelumnya. Namun, apa yang kau pelajari dari pertarungan Bibi Yura dan Paman Arvan barusan? Apa yang kami berdua lakukan selama bertarung selain berusaha untuk menang?" tanya Yura


"Aku tidak mengerti, Bibi. Yang kulihat hanya kalian berdua yang bertarung sambil saling bicara," jawab Arsha


"Menurutmu, kenapa kami bertarung sambil terus saling bicara?" tanya Yura


"Entahlah. Apa mungkin kalian mengobrol selama bertarung?" tanya balik Arsha karena tidak mengerti.


"Sebenarnya bukan itu. Itu adalah salah satu cara dari strategi bertarung," jawab Yura

__ADS_1


"Aku tidak mengerti, Bibi. Bukankah strategi dibuat sebelum bertarung? Apa tidak sulit memikirkan strategi selagi bertarung bahkan sambil terus bicara seperti yang kalian berdua lakukan tadi?" tanya Arsha


"Pada umumnya, strategi memang dirancang sebelum bertarung. Namun, ada kalanya strategi dipikirkan selagi bertarung jika pertarungan itu terjadi secara mendadak tanpa diduga. Seperti yang dilakukan oleh Bibi Yura dan Paman Arvan tadi, kami berdua tidak pernah menduga kau akan meminta untuk diberikan contoh cara bertarung. Jadi, bagaimana cara memikirkan strategi selagi pertarungan berlangsung?" tanya Yura usai menjelaskan.


"Aku tidak tahu, Bibi. Yang kutahu, kita menyusun strategi supaya bisa memenangkan pertarungan dengan baik tanpa menanggung kerugian," jawab Arsha


"Kau benar, Arsha. Kau sudah cukup mengerti sebagian besar teorinya. Biar Bibi beri tahu bagian penting lainnya. Menyusun strategi itu butuh ketenangan dengan pikiran jernih dan jangan gegabah atau memikirkannya secara impulsif atau berdasarkan amarah," ucap Yura


"Baiklah, Bibi. Aku mengerti," kata Arsha


"Masih ada lagi yang harus kau perhatikan, Arsha. Kau jangan meniru yang dilakukan Bibi saat bertarung dengan Paman Arvan tadi. Sebenarnya itu adalah salah satu contoh buruk saat bertarung. Kebanyakan orang yang terus berbicara saat bertarung adalah cara yang mencoba untuk menjatuhkan lawannya. Cara itu biasanya dilakukan untuk memprovokasi agar lawan bisa terpancing amarahnya hingga menyerang dengan penuh amarah dan berakhir kalah karena kehabisan tenaga atau justru mempengaruhi agar lawan menjadi lengah hingga mudah dikalahkan dengan cepat," ungkap Yura


"Berarti tadi Bibi Yura berbuat curang dong?" tanya Arsha


"Benar, kali ini Bibi mengakui itu. Namun, Bibi melakukannya karena tahu kalau Paman Arvan tidak fokus untuk bertarung dan Bibi tidak suka dengan orang yang tidak fokus seperti itu. Jadi, kau jangan meniru hal itu dan maaf karena sudah memberi contoh yang tidak baik padamu, Arsha. Maaf juga karena sudah berbuat curang padamu, Arvan," ucap Yura


"Ya, tidak masalah. Aku juga minta maaf karena sempat tidak fokus pada awal bertarung tadi. Namun, aku tidak pernah meremehkan kemampuanmu sedikit pun," kata Arvan


"Ya, aku tahu. Aku hanya ingin membuatmu sadar," sahut Yura


"Tidak masalah karena Bibi sudah memberi tahukannya padaku. Yang penting aku sudah melihat contoh cara bertarung yang ditunjukkan oleh Bibi Yura dan Paman Arvan. Jadi, aku berterima kasih untuk itu. Kalau soal merancang strategi, aku pasti akan membuat strategi yang berbeda milikku sendiri saat aku bertarung nanti," ujar Arsha


"Kau pintar sekali, Arsha ... " puji Yura


"Namun, apa kau tahu, apa yang membuatmu hampir dikalahkan olehku di detik akhir pertarungan, Yura?" tanya Arvan


"Padahal yang kutahu Bibi Yura itu sangat hebat. Memangnya karena apa, Paman?" tanya Arsha


"Memang benar Bibi Yura-mu itu hebat. Namun, kesalahannya kali ini adalah padahal dia sudah menyuruhmu melakukan pemanasan sebelum latihan, tapi Bibi-mu sendiri tidak melakukan pemanasan sebelum latihan bertarung denganku," jelas Arvan


"Benar, makanya kau harus selalu ingat untuk melakukan pemanasan sebelum latihan atau bertarung sungguhan selagi ada waktu dan kesempatan, ya, Arsha. Agar tidak seperti Bibi tadi yang hampir kalah," ujar Yura


"Tapi, bukankah tadi Paman Arvan juga tidak melakukan pemanasan?" tanya Arsha


"Ya, aku juga mengakui hal itu ... " kata Arvan


Saat itu, Arsha terlihat mengucek kedua matanya yang sayup beberapa kali dan sesekali mengerjap secara perlahan.


"Rupanya, kau sudah mengantuk, ya, Arsha? Apa kau ingin tidur siang? Lalu, apa kau ingin Bibi gendong untuk pindah ke ranjang?" tanya Yura


Arsha pun mengangguk sebagai jawaban bahwa dirinya memang merasa mengantuk. Namun, bocah Putra Mahkota itu langsung menggeleng dengan cepat saat Yura menawarkan untuk menggendongnya beralih ke ranjang.


"Kau tidak perlu menggendongku, Bibi. Aku sudah besar dan ada Paman Arvan di sini. Bisa-bisa Paman Arvan terus meledekku nantinya," tolak Arsha


"Padahal aku tidak bilang apa-apa," sahut Arvan


"Baiklah, ayo berdiri dulu. Biar Bibi bantu," kata Yura yang langsung membantu Arsha untuk bangkit berdiri.


Yura pun merangkul pundak bocah lelaki itu untuk menuntunnya berjalan menuju ranjang. Pasalnya, Arsha sudah terus mengerjapkan kedua matanya yang tampak sisa tenaga 5 watt saja. Sedangkan, Arvan mengikuti Bibi dan keponakan lelaki itu hingga duduk di tepi ranjang di dekat Yura saat gadis itu membantu Arsha berbaring di atas ranjang.


"Bibi, tetaplah di sini dan jangan pergi dulu hingga aku tidur ... " pinta Arsha


"Baiklah. Bibi tidak akan pergi, jadi kau tidur saja ... " kata Yura


"Bibi Yura, katakanlah sesuatu ... aku ingin mendengarnya. Suaramu sama seperti milik ibu yang bisa membuatku merasa tenang dan damai," pinta Arsha dengan kedua mata yang sudah terpejam.


"Apa kau ingin Bibi bercerita tentang sesuatu lagi?" tanya Yura


"Apa saja, selain itu juga tidak masalah. Aku hanya ingin mendengar suaramu saat berbicara," jawab Arsha


"Kalau begitu, baiklah. Arsha, Bibi sudah bilang kalau orang yang terus bicara saat bertarung adalah caranya untuk menjatuhkan lawan, jadi kau tidak boleh seperti itu. Namun, kau juga tidak boleh terbawa emosi, menjadi lengah, atau terpancing amarahnya saat ada orang yang terus bicara untuk menjatuhkanmu saat bertarung. Kau harus tetap fokus pada pertarungan, tetap tenang, dan berpikir jernih, serta tidak perlu membalas ucapannya. Kalau bisa, berpikirlah untuk mengatur strategi saat itu untuk mengalahkannya dengan cepat," ujar Yura


"Hmm ... " sahut Arsha yang hanya bisa berdeham saat memejamkan mata.

__ADS_1


"Kau pasti merasa lelah setelah berlatih menunggang kuda dan bela diri sekaligus hari ini hingga mengantuk seperti ini. Kita akan membahas ulang latihan hari ini pada kesempatan lain. Sekarang kau hanya perlu tidur dengan nyenyak karena itu baik untuk pertumbuhan. Bibi ingat kau ingin tumbuh lebih tinggi lagi agar kuda latihanmu tidak diganti," ucap Yura


Tak ada sahutan dari Arsha meski hanya dehaman pelan seperti sebelumnya. Yura pun mengusap kepala Arsha dengan lembut untuk memastikan bahwa bocah lelaki itu sudah terlelap dalam tidurnya. Pasalnya, Arsha selalu menolak usapan untuknya dengan alasan tidak ingin dirinya diperlakukan seperti anak kecil. Padahal Putra Mahkota itu memang seorang anak kecil yang bahkan sebelum tidurnya suka meminta orang bercerita untuknya.


"Yura, kenapa kau masih saja sempat memberi ulasan latihan bahkan saat Arsha hampir tertidur? Kenapa kau tidak bercerita saja untuknya?" tanya Arvan sambil berbisik.


"Karena terkadang hal terakhir yang kita dengar atau lihat sebelum tidur adalah hal yang paling bisa untuk diingat. Meski begitu, makanya aku bilang akan membahas ulang di kesempatan lain untuk memastikan apa dia mendengar ucapanku sebelum tidur dan mengingatnya atau tidak ... selain itu, Arsha bilang kalau dia ingin jadi orang pertama yang ingin mendengar ceritaku. Jadi, aku tidak akan bercerita saat ada dirimu," jelas Yura dengan suara pelan.


Yura pun bangkit beralih dari ranjang menuju troli makanan. Gadis itu memindahkan camilan dan teko minuman beserta gelas ke atas meja. Arvan mengikuti dan memperhatikannya serta membantunya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Arvan


"Kau juga sudah melihat bahkan membantuku memindahkan camilan dan minuman dari troli makanam ke atas meja. Kalau kau bertanya alasan aku melakukannya, karena aku berjanji akan mengembalikan troli makanan ini pada pelayan tadi," ungkap Yura


"Baiklah. Kalau begitu, biar aku saja yang bawa troli makanan ini ke luar," ujar Arvan


"Terima kasih," ucap Yura


"Aku hampir lupa dengan cadarku," sambung Yura sambil bergumam yang langsung mengambil cadar miliknya dari atas meja dan memakainya untuk menutupi wajah.


"Yura memakai cadarnya lagi. Aku jadi tidak bisa melihat wajahnya secara keseluruhan lagi," batin Arvan


"Kalau begitu, ayo kita ke luar dari sini supaya Arsha bisa tidur dengan nyenyak dan usahakan jangan berisik," ujar Yura


Arvan hanya mengangguk. Ia pun beranjak sambil membawa troli makanan ke luar dari kamar Putra Mahkota bersama Yura.


Begitu ke luar dari kamar Putra Mahkota, ada seorang pelayan yang berjaga di sekitar lorong kamar menghampiri karena melihat Arvan membawa troli makanan.


"Tuan, biar saya saja yang membawa troli makanan ini kembali ke dapur."


"Ya, baiklah ... " sahut Arvan


"Terima kasih untuk camilan dan minumannya. Sekarang Putra Mahkota sedang tidur, jadi tolong jangan diganggu," ucap Yura


Pelayan tersebut hanya mengangguk kecil dan beranjak pergi sambil membawa troli makanan untuk dikembalikan menuju ke dapur.


Arvan terus berjalan mengikuti Yura setelah keduanya ke luar dari kamar Arsha.


"Yura, kita juga cukup sering mengobrol bersama, tapi kenapa kau tidak pernah sekali pun bercerita padaku tentang pengalamanmu saat mengembara?" tanya Arvan


"Kalau kau memang ingin mendengarnya, lain kali saja aku ceritakan padamu," jawab Yura


"Aku akan menagih ceritamu, lho ... " sahut Arvan


"Ya, kalau aku ingat. Lagi pula, kau ingin sekali mendengar ceritaku padahal kau sendiri adalah seorang Pangeran Suku Barat. Kau juga pasti pernah melihat tempat yang bagus," ujar Yura


"Memang pernah, tapi tidak sering karena saat masih kecil aku sudah menjadi tawanan kerajaan," kata Arvan


"Maaf, aku lupa soal itu. Omong-omong, aku ingin kembali ke dalam kamarku dan istirahat. Kenapa kau malah terus mengikutiku?" tanya Yura


"Aku juga ingin ingin kembali ke kamarku sendiri kok," jawab Arvan


"Arvan, apa kau lupa letak kamarmu sendiri? Kau sudah mengikuti sampai ke depan pintu kamarku, sedangkan kamarmu ada di seberang kamar ini. Atau jangan-jangan, kau ini lelaki mes*m, ya?" tanya Yura


"Aku tidak seperti itu," jawab Arvan


"Ya ampun, aku tidak menyangka. Memang benar-benar tidak boleh melihat orang dari luarnya saja," ujar Yura sambil bergidik ngeri.


"Sudah kubilang, aku tidak seperti itu! Aku tidak bermaksud dan hanya keliru saja!" seru Arvan yang langsung beranjak menuju kamarnya sendiri.


Arvan langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan rapat. Yura sempat melihat wajah Arvan yang merona merah karena merasa malu. Sepertinya Arvan tidak sadar kalau dirinya terus berjalan mengikuti Yura setelah ke luar dari kamar Putra Mahkota.


Yura terkekeh pelan saat melihat tingkah laku Dokter Penasehat itu.

__ADS_1


__ADS_2