One & Only

One & Only
32 - Tidur di Atas Pangkuan.


__ADS_3

Arvan seolah sedang memikirkan sesuatu hingga membuatnya terdiam.


"Arvan, apa yang sedang kau pikirkan hingga membuatmu melamun seperti itu?" tanya Raja yang mampu membuat Arvan tersadar dari lamunannya.


"Aku hanya sedang berpikir, apa sebenarnya alasan aku dikirim ke Istana Kerajaan oleh ayahku yang merupakan kepala suku Barat adalah karena ayah berusaha untuk melindungiku dari kemungkinan pertarungan antar kedua suku saat itu? Apa mungkin aku sudah salah mengira bahwa diriku dijadikan tawanan oleh ayahku sendiri demi perdamaian saat itu?" Arvan yang kini bertanya-tanya.


"Kita masih sama-sama kecil untuk mengerti soal permasalahan saat itu dahulu, tapi sejak dulu aku menganggapmu sebagai teman baik. Tidak pernah sekali pun aku menganggapmu sebagai seorang tawanan," ucap Raja


"Tapi, kalau bukan dijadikan tawanan, kenapa ayahku tidak pernah sekali pun menjemputku untuk pulang bahkan saat pertempuran itu baru terjadi lebih dari sepuluh tahun sejak aku dikirim ke Istana Kerajaan?" tanya Arvan


"Mungkin kau benar-benar salah paham dengan kepala suku, Arvan. Mana mungkin ada orangtua yang tega menjadikan anaknya sendiri sebagai tawanan, meski bahkan sekelompok bar-barian sekali pun. Sepertinya ayahmu memang hanya ingin melindungimu. Alasan kenapa ayahmu tidak pernah menjemputmu, mungkin itu adalah firasat orangtua," jelas Yura


"Karena meski pengirimanmu ke Istana Kerajaan sudah berlalu sangat lama, pada akhirnya pertarungan antar dua suku itu tetap terjadi. Makanya, ayahmu juga mengirim nyonya Azkia untuk menjadi selir Raja. Semua itu semata-mata ia ingin melindungi kalian berdua. Mungkin ia merasa bagaimana pun juga Istana Kerajaan adalah tempat yang paling aman," sambung Yura


"Yura, sudah cukup lama sejak kau datang ke Istana Kerajaan bahkan kau sudah cukup dekat dengan Arvan, kenapa baru sekarang kau memberi tahu soal pendapatmu tentang Arvan yang bukan seorang tawanan setelah Raja memintamu bercerita tentang kisahmu saat menyelamatkan suku Barat?" tanya Ratu


"Maaf, Yang Mulia Ratu ... saya pikir seperti pertarungan antar dua suku itu, soal ini adalah masalah internal Arvan dengan ayahnya, kepala suku Barat. Sebisa mungkin saya tidak ingin ikut campur karena khawatir hanya akan memperburuk hubungan ayah dan anak antara kepala suku Barat dengan Arvan sendiri," jawab Yura


"Paman Arvan adalah putra dari kepala suku Barat yang artinya adalah seorang Pangeran suku? Aku baru tahu soal ini. Aku hanya cukup sering mendengar soal tawanan, tapi aku tidak mengerti alasan kenapa Paman Arvan dijadikan sebagai seorang tawanan, padahal Paman Arvan orang yang baik," ujar Arsha


"Benar, Putra Mahkota. Saya tidak pernah memberi tahu karena saya menganggap hal ini sebagai aib bahwa saya adalah seorang tawanan. Namun, sepertinya saya sendiri salah paham dengan maksud tujuan kepala suku Barat mengirim saya ke Istana Kerajaan sejak kecil dulu," ucap Arvan

__ADS_1


"Yang kutahu sebelum kau datang ke Istana Kerajaan, Raja dan Ratu terdahulu mengatakan bahwa aku akan mendapat teman sepermainan, sahabat karib. Makanya, aku selalu menganggapmu teman baik sejak dulu," ujar Raja


"Arvan, kau mungkin bisa coba pikir-pikir dulu yang pernah terjadi. Kau mungkin dikirim pergi ke Istana Kerajaan dan ayahmu mungkin tidak pernah menjemputmu untuk kembali pulang, tapi apa kau benar-benar telah diabaikan dan dilupakan begitu saja? Apa kepala suku bahkan memang tidak pernah menanyakan kabarmu meski lewat surat sekali pun?" tanya Yura


"Kalau aku, masih sangat yakin kalau kepala suku Barat masih sangat peduli padamu dan nyonya Azkia, pada kalian berdua, anaknya. Jangan pernah sekali pun kau merasa kecewa atau benci dengan orangtuamu, bagaimana pun juga tanpa dirinya kau tak akan pernah bisa hadir di dunia ini. Anggap saja semua ini seperti ekspetasi yang tak sesuai dugaan. Kau mungkin tidak suka, tapi bisa jadi itu adalah yang terbaik untukmu. Seperti Arsha yang menilai kau sebagai orang yang baik, ayahmu tidak mungkin membuang anak yang baik seperti dirimu," sambung Yura


Lagi-lagi Arvan terdiam. Lelaki itu memikirkan tentang apa yang dikatakan oleh Yura yang kemungkinan sebagian besar benar. Ia tidak menyangka pikirannya akan terbuka oleh perkataan seorang gadis yang belum lama ditemuinya yang bahkan mampu mencuri hatinya.


"Sudah cukup. Berhenti membahas permasalahan ini lagi," kata Raja


"Ya, lebih baik kita makan camilan yang telah disediakan ... " ujar Ratu


Mereka pun mulai makan camilan yang sudah disediakan oleh pelayan yang membantu menyiapkan kemah malam ini.


"Sudah cukup, Bibi. Aku sudah kenyang karena sebelumnya sudah makan malam lumayan banyak," kata Arsha setelah makan beberapa camilan yang dipilihkan oleh Yura untuknya.


"Baiklah. Kalau begitu, minumlah dulu setelah makan camilannya," ujar Yura yang mengambilkan segelas minuman yang tersedia untuk diberikan pada Arsha.


Arsha pun menerima segelas minuman dari Yura dan meminumnya, lalu kembali meletakkannya setelah itu.


"Putra Mahkota, apa kau merasa mengantuk?" tanya Arvan yang melihat tanda-tanda dari rasa kantuk yang diperlihatkan oleh Arsha seperti usai latihan bela diri sebelumnya.

__ADS_1


"Bibi Yura, apa aku boleh tidur di atas pangkuanmu?" tanya Arsha usai mengangguk sebagai ganti jawaban atas pertanyaan dari Arvan.


Mendengar keinginan keponakan lelakinya, Yura langsung merapikan posisi duduknya.


"Arsha, apa kau mau pindah tidur ke dalam kamar di dalam Vila? Atau kau mau tidur di pangkuan Ibu saja?" tanya Ratu


"Aku masih mau di sini bersama semuanya, aku tidak ingin tidur sendiri di dalam kamar Vila sementara yang lain ada di luar sini," jawab Arsha


"Tidak apa-apa, Yang Mulia Ratu. Biarkan Arsha tidur di atas pangkuan saya," kata Yura


"Tidurlah dulu, Arsha. Saat waktunya kembali masuk ke dalam Vila nanti, akan Bibi bangungkan ... " sambung Yura beralih bicara pada Arsha sambil menepuk-nepuk pahanya seolah mempersilakan Arsha untuk berbaring di atas pangkuannya.


"Terima kasih, Bibi ... " ucap Arsha yang langsung merebahkan kepalanya di atas pangkuan Yura.


"Yang kumaksud, kan, kita bisa langsung kembali ke dalam vila sekarang," kata Ratu


"Mungkin Arsha tahu kalau Yang Mulia Ratu masih ingin melihat pemandangan malam di luar sini, jadi tidak tega jika Anda kehilangan momen yang sangat Anda harapkan hanya karena dirinya," ujar Yura


"Ayo, lepaskan dulu syal di lehermu, Arsha. Agar kau tidak merasa tercekik saat tidur," sambung Yura


Arsha langsung melepas syal yang membuat terasa mengganjal pada lehernya seperti yang dikatakan oleh Yura.

__ADS_1


__ADS_2