One & Only

One & Only
131 - Saline Steril.


__ADS_3

Arvan pun menarik sebuah kursi untuk diduduki olehnya tepat di hadapan Yura yang sedang duduk di tepi ranjang. Arvan pun akan segera melakukan pengobatan dan pembersihan pada kedua mata Yura.


"Yura, aku akan meneteskan cairan saline steril pada satu per satu matamu, semoga dengan cara ini kotoran dan benda asing yang masuk ke dalam kedua matamu bisa dikeluarkan dengan sendirinya secara mudah setelahnya. Sekarang coba kau buka satu per satu matamu secara perlahan sambil menengadahkan kepalamu. Tahanlah sebentar karena mungkin akan terasa tidak nyaman untukmu," ucap Arvan


Yura hanya mengangguk kecil tanda mengerti dan membuka satu per satu matanya secara perlahan. Mulai dari mata sebelah kanannya. Arvan pun meneteskan cairan saline steril pada mata kanan Yura. Lalu, berganti pada mata sebelah kiri setelah Yura membukanya secara perlahan pula.


"Cobalah untuk berkedip agar kotoran dan benda asing yang masuk ke dalam matamu bisa ke luar," kata Arvan


Yura pun mencoba untuk berkedip beberapa kali dan saat gadis itu benar-benar membuka kedua matanya, ia merasa terkejut saat melihat posisi duduk Arvan yang sangat dekat tepat di hadapannya. Namun, gadis cantik itu berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa keterkejutannya dan tetap santai.


"Arvan, kau sudah terlalu dekat. Kau membuatku terkejut dengan wajahmu itu," kata Yura


"Aku harus sedekat ini untuk mengobati kedua matamu. Sekarang bagaimana kau merasakan kedua matamu?" tanya Arvan


"Mataku rasanya masih ada yang mengganjal," jawab Yura


"Kalau begitu, sepertinya kedua matamu harus dibersihkan langsung olehku," ujar Arvan


"Ya, tolonglah. Lakukan saja," kata Yura


"Arvan, tolong lakukan pelan-pelan saja. Jangan sampai menyakiti Yura," pinta Yasha


"Aku akan bersikap lembut dan melakukannya dengan hati-hati," kata Arvan


"Perkataan kalian sebagai dua orang lelaki terdengar sangat ambigu. Kak Yasha, Arvan adalah seorang dokter. Tenang saja karena dia pasti bisa melakukan tugasnya dengan baik. Aku yang juga memiliki kemampuan medis juga mengerti semua tindakannya dan aku pasti baik-baik saja," ucap Yura


"Aku akan langsung mulai," kata Arvan


"Ya, baiklah. Silakan lakukan saja," sahut Yura


Arvan yang sudah siap memegang kapas bersih yang sudah dibasahkan dengan menggunakan cairan saline steril pun langsung melakukan pembersihan pada satu per satu permukaan mata Yura. Arvan juga membantu melebarkan mata Yura yang dibersihkan dengan salah satu tangannya karena satu tangan lainnya sedang membersihkan permukaan mata Yura menggunakan kapas.


"Sebenarnya ini akan lebih mudah jika kau menangis sebagai respon cepat saat merasa sakit karena matamu terkontaminasi oleh benda asing atau kororan. Karena air mata saat menangis akan membantumu untuk mengeluarkan benda asing atau kotoran yang masuk ke dalam matamu," ucap Arvan


"Kalau begitu, coba saja kau yang membuatku menangis. Karena biasanya aku tidak mudah menangis dengan mudah begitu saja," ujar Yura


"Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu," kata Arvan

__ADS_1


"Katamu, menangis adalah suatu respon saat merasakan sakit karena mata terkontaminasi sesuatu, tapi aku tidak membuat respon seperti itu. Apa itu artinya aku tidak normal?" tanya Yura


"Tidak juga. Terkadang seseorang tidak membuat respon seperti pada umumnya karena terlalu sering menahan diri. Kau termasuk salah satu contohnya," jelas Arvan


"Kini giliran aku yang bertanya. Yura, katakan alasanmu padaku. Kenapa kau berbohong dengan mengatakan kau datang ke sini atas perintah Baginda Raja?" tanya Yasha


"Karena jika tidak berkata seperti itu, kau pasti menolak kedatanganku di sini bahkan kau pasti akan menyuruhku pergi dari sini. Lagi pula, itu tidak sepenuhnya bohong. Karena awalnya aku memang memaksa ingin pergi, tapi pada akhirnya Baginda Raja sendiri yang memberikan izin padaku untuk pergi," jelas Yura


"Lalu, bagaimana kau bisa menyimpan lencana emas kehormatan milik Baginda Raja?" tanya Yasha


"Jangan berpikir kalau aku mencurinya. Lencana emas itu memang pemberian dari Baginda Raja untukku karena sebelumnya aku pernah beberapa kali membantu melakukan sesuatu untuknya. Lalu, Baginda Raja juga memberi kewenangan padaku untuk menggunakan lencana kehormatan itu untuk apa pun sesuai kemauanku. Dengan kedua hal ini, tidak bisa dikatakan kalau aku menyalah-gunakan lencana emas pemberian dari Baginda Raja. Kali ini aku tidak berbohong dan Arvan pun tahu soal ini," ungkap Yura


"Itu memang benar. Aku melihat sendiri saat Baginda Raja memberikan lencana emas kehormatan itu pada Yura untuk digunakan sesuka hatinya karena saat itu aku menjadi rekan Yura saat melakukan suatu hal untuk membantu Baginda Raja," ucap Arvan


"Kalian berdua tidak saling bersekongkol untuk berbohong padaku, kan?" tanya Yasha


"Sebenarnya untuk apa kami berdua sampai bersekongkol untuk berbohong dan kenapa kau sangat tidak percaya padaku, Kak? Padahal aku merasa sangat senang jika kau percaya padaku, tapi kau lebih sering percaya dengan orang lain, jadi seharusnya kau sudah bisa percaya saat Arvan yang mengatakan seperti tadi. Apa hanya karena perkataan Arvan sama seperti yang kukatakan, kau jadi tidak percaya padanya juga?" tanya balik Yura


"Baiklah, untuk kali ini aku akan percaya pada perkataan kalian berdua ... " jawab Yasha


Akhirnya, Arvan pun selesai membersihkan kedua mata Yura satu per satu.


"Ya, masih terasa sedikit tidak nyaman ... " jawab Yura


"Kau dilempari dengan segenggam tanah berpasir hingga tepat mengenai dan masuk ke dalam matamu. Jika seperti ini, bisa dibilang wajar untuk sulit melakukan pembersihan pada kedua matamu. Kalau begitu, aku akan meneteskan cairan saline sterilnya pada kedua matamu sekali lagi," ujar Arvan


"Ya, tidak masalah ... " kata Yura


Arvan pun kembali memberi tetesan cairan saline steril pada kedua mata Yura, satu per satu.


"Upaya sudah dilakukan sebaik mungkin, kau akan merasa lebih baik setelah istirahat. Kau pasti merasa tidak nyaman, baik saat ini atau saat melawan 10 musuh tadi. Sekali pun kau sangat suka bertarung, pasti ada rasa tidak nyaman saat kau harus menghadapi musuh. Namun, kau sudah melakukan yang terbaik yang kau bisa. Kau sudah berusaha dan kerja bagus, Yura ... " ucap Arvan


Mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Arvan langsung membuat Yura menangis. Setelah merasa lelah karena melakukan sesuatu, yang sangat ingin didengar oleh Yura adalah pujian. Tepat seperti yang Arvan lakukan barusan. Tentu saja, hal yang sangat dinantikan dapat membuat gadis itu meneteskan air mata karena merasa terharu dan tersentuh hatinya.


"Yura, kenapa kau menangis? Apa mungkin matamu rasanya sangat tidak nyaman? Atau kau mungkin terluka di tempat lain yang tidak kutahu? Apa kau ingin aku melakukan pemeriksaan lainnya?" tanya Arvan


"Tidak kok, aku baik-baik saja dan tidak ada luka lain. Justru bagus jika aku menangis, mungkin kali ini kotoran dan benda asing yang masuk ke dalam kedua mataku bisa ke luar dengan sendirinya seperti yang kau katakan," jawab Yura

__ADS_1


"Jangan menangis lagi karena itu akan membuat cairan obat yang diteteskan pada kedua matamu ke luar lagi," kata Yasha


"Benar juga, tapi kali ini kedua mataku tidak bisa ditetesi dengan cairan obat lagi. Karena terlalu berlebihan juga tidak baik untuk mata," ujar Yura


"Tidak masalah, masih ada cara lain. Kompres saja kedua matamu dengan kain yang dibasahi air hangat. Aku akan mengambil kain dan sebaskom air hangat. Namun, kau harus berhenti menangis lebih dulu," ucap Arvan sambil menghapus air mata Yura dengan lembut.


Arvan pun beranjak pergi untuk mengambil kain dan sebaskom air hangat. Lalu, kembali untuk mengompres kedua mata Yura dengan apa yang telah diambil olehnya.


"Berbaringlah dulu, lalu aku akan mengompres kedua matamu," kata Arvan


Yura pun mengangguk tanda mengerti dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang hingga mudah bagi Arvan untuk langsung memgompres kedua mata gadis itu.


"Yura, apa kau yakin tidak ingin melakukan pemeriksaan atau ada luka lain? Sebelumnya kau juga pernah menangis saat aku memeriksa lukamu, kan? Apa mungkin luka lamamu terbuka lagi?" tanya Arvan


"Tidak perlu karena memang tidak ada luka lain, luka baru, atau luka lama yang terbuka lagi. Luka yang saat itu sudah pulih dengan sangat baik dan tidak mungkin untuk terbuka lagi," jawab Yura


"Yura sebelumnya pernah terluka? Kenapa aku tidak tahu dan tidak diberi tahu?" tanya Yasha


"Aku bukannya tidak ingin memberi tahu, tapi itu hanya luka ringan lama yang bahkan sudah sembuh. Jadi, tidak perlu khawatir atau dibahas lagi. Aku sungguh sudah baik-baik saja," jawab Yura


"Kau selalu bilang itu adalah luka ringan atau luka kecil padahal itu adalah luka akibat tusukan pedang yang menembus tubuhmu dari belakang hingga ke depan," ucap Arvan


"Tapi, tidak ada masalah dengan luka itu bahkan sekarang sudah sembuh. Lagi pula, saat itu aku bukan menangis karena merasa sakit saat kau memeriksa dan mengobati lukaku, melainkan karena aku merasa kesal karena kau mengganggu istirahatku di tengah malam," ujar Yura


"Aku adalah tipe orang yang paling tidak suka saat aku memutuskan untuk istirahat malah ada yang menggangguku. Sekarang aku juga mau istirahat dulu sebentar, jadi Kak Yasha dan Arvan tinggalkan saja aku di sini. Makanan yang belum sempat kuselesaikan mungkin sudah matang. Kalian berdua makanlah bersama yang lain," sambung Yura


"Lalu, bagaimana denganmu? Bukankah kau juga belum makan?" tanya Arvan


"Aku merasa lelah dan ingin istirahat dulu. Aku akan makan nanti setelah istirahat sebentar," jawab Yura


"Baiklah, istirahatlah dulu. Nanti aku akan menyuruh orang untuk mengantarkan makanan untukmu," kata Yasha


"Kak Yasha, makanlah yang banyak karena itu bagus untuk pemulihan lukamu. Lalu, terima kasih karena sudah membantu membersihkan kedua mataku, Arvan," ucap Yura


"Sama-sama. Kami berdua pergi dulu," sahut Arvan


"Aku memang bukan kakak yang baik. Bukan hanya tidak bisa melindungi adikku saat sedang terluka, aku bahkan tidak bisa memberikan pujian seperti yang adikku inginkan. Adikku justru menangis saat mendengar pujian dari orang lain. Namun, aku tahu dia menangis karena merasa senang saat mendengar pujian dari orang lain yang bahkan tidak bisa kuucapkan untuknya," batin Yasha

__ADS_1


Yasha dan Arvan pun beranjak peegi ke luar dari dalam tenda meninggalkan Yura yang ingin istirahat di sana.


__ADS_2