
Arvan pun menghampiri Yura yang sedang berusaha mengeluarkan koper barang dari kereta barang.
"Kalian berdua, bisa tolong urus barang bawaan di kereta barang dan memindahkannya ke dalam Vila?" tanya Arvan pada kedua kusir.
"Baik, Tuan ...."
"Ayo, Yura ... biarkan semua barangnya diurus oleh kusir. Sudah ada yang menyambut kedatangan kita, harusnya kita bisa lebih menghargai usaha mereka bukan malah sibuk sendiri," ujar Arvan
"Yang mereka sambut adalah keluarga kerajaan, bukan aku. Jadi, biarkan saja ... " kata Yura
"Bagaimana pun kita juga termasuk dalam rombongan. Lebih baik kau ikut saja. Kita juga harus segera masuk ke dalam Vila untuk makan. Aku lihat selama perjalanan kau sama sekali tidak makan bahkan sedikit pun tidak menyentuh kantong camilan yang kau siapkan sebelum pergi. Tidak baik jika perut terus menerus dibiarkan kosong," ucap Arvan
"Kau melihatku, rupanya ... " ujar Yura
"Kuda kita berjalan bersebelahan, tentu saja aku bisa melihatmu dengan jelas. Jadi, jangan salah paham," kata Arvan
"Aku hanya terlalu senang karena sudah lama tidak menunggang kuda untuk bepergian dan tidak bermaksud untuk salah paham kok, tapi tunggu sebentar ... " sahut Yura
"Belum sampai ada satu bulan, Yura berada di istana kerajaan, tapi dia sudah merindukan saat bepergian dengan naik kuda. Dia rela menahan jiwa bebasnya hanya karena ingin melindungi saudari kembarnya. Dia memang gadis yang baik," batin Arvan
Yura pun mendekati kedua kusir yang sedang mengurus koper barang.
"Kalian berdua, maaf karena tidak bisa membantu kalian mengurus barang bawaan di kereta barang. Karena itu mohon bantuan kalian berdua," ucap Yura
"Tidak masalah, Nona. Karena ini juga sudah termasuk tugas kami berdua."
"Sebagai gantinya, ini ... ada uang tips untuk kalian berdua. Berbagilah dengan adil," ujar Yura sambil menyerahkan kantong kecil berisi koin emas kerajaan pada salah satu kusir.
"Terima kasih banyak, Nona."
"Tolong urus semua barang dengan baik. Jangan sampai ada yang rusak, berkurang atau bertambah dalam barang bawaan kami," ucap Yura
"Baik, Nona."
"Kalau begitu, saya permisi ... " ujar Yura
"Silakan, Nona."
__ADS_1
Yura pun kembali menghampiri Arvan.
"Kau baik sekali, Yura. Sampai mau memberi mereka uang tips," kata Arvan
"Aku juga bisa kejam, contohnya jika berada di medan perang ... " sahut Yura
"Memangnya kau sudah pernah terjun ke medan perang?" tanya Arvan
"Belum pernah, tapi aku pernah membantu memisahkan pertengkaran antar kelompok, itu hampir sama seperti medan perang. Dan cita-citaku adalah membantu memenangkan pertempuran di medan perang," ungkap Yura
"Apa yang kau maksud dengan memisahkan pertengkaran antar kelompok adalah saat kau membantu bentrokan yang terjadi pada suku Barat kami saat melawan suku negara sebelah?" tanya Arvan yang merupakan Pangeran Suku Barat sebelum menjadi tawanan perang dan menjadi Penasehat Kerajaan negara ini.
"Kau tahu soal itu?" tanya balik Yura
"Aku pernah diberi tahu oleh Ayah tentang kejadian saat itu dan saat adikku bilang bahwa kau pernah menolong suku kami, aku langsung bisa mengira-ngira," ungkap Arvan
"Ya, sebenarnya saat itu adalah salah satunya," sahut Yura
"Hanya salah satunya? Rupanya, kau sangat pemberani ... " ujar Arvan
"Aku hanya merasa harus memiliki sifat seperti itu," kata Yura
"Mari, semuanya masuk ke dalam Vila. Makanan yang telah diminta sedang kami hidangkan di ruang makan," ujar penjaga sekaligus pengurus Vila Kerajaan.
"Kalau begitu, kami semua akan langsung makan saja," ujar Raja
"Baik. Baginda, Yang Mulia, Tuan, dan Nona ... silakan ikuti saya, ke sebelah sini." Pengurus Vila pun mulai menuntun jalan untuk langsung menuju ke ruang makan.
Sampai di ruang makan, para pelayan Vila masih sedang mondar-mandir untuk menghidangkan makanan dari dapur ke meja makan.
"Selamat menikmati," ucap kepala pelayan yang ada di sana.
Karena sudah semua makanan sudah dihidangkan dengan baik, mereka pun mulai makan bersama.
"Arsha, kau harus makan yang banyak," ucap Raja
"Aku masih merasa kenyang, Ayahanda, karena tadi sudah banyak menghabiskan camilan yang diberikan oleh Bibi," sahut Arsha
__ADS_1
"Kalau begitu, makanlah secukupnya saja. Makan terlalu banyak juga tidak baik untuk tubuh," ujar Ratu
"Baik, Ibunda ... " kata Arsha
"Yura, apa kau tidak kesulitan saat makan masih dengan penutup cadar di wajahmu? Kenapa kau tidak buka saja cadarmu itu?" tanya Arvan
"Karena aku tidak bisa mengungkap wajahku dengan orang lain selain kita di sini," jawab Yura dengan suara pelan.
Arvan pun melihat ke arah sekeliling. Di setiap sudut meja makan, memang ada pelayan yang menunggu di ruang makan tersebit. Itu adalah salah satu tata cara dan peraturan bagi para pelayan saat majikan sedang makan, karena dikhawatirkan sang majikan butuh bantuan saat makan, pelayan yang ikut menunggu di sana bisa langsung sigap dan cepat bergerak untuk memberi bantuan.
"Kalian yang ada di sini, bisa tinggalkan kami saja? Kami ingin makan secara kekeluargaan," ujar Arvan meminta para pelayan untuk menyingkir dari ruang makan.
"Baik, Tuan. Kami permisi, semuanya ... " Para pelayan yang menunggu pun membubarkan diri dari ruang makan tersebut.
"Sekarang kau bisa membuka cadarmu dan makan dengan lebih leluasa," kata Arvan pada Yura
"Terima kasih, Arvan ... " ucap Yura yang langsung membuka penutup cadar wajahnya.
"Sekarang kau terlihat jauh lebih baik saat makan seperti ini. Cara makanmu saat memakai cadar tadi seolah kau adalah gadis pemalu yang sedang makan dengan sembunyi-sembunyi," ujar Arvan
"Padahal sebelumnya kau masih mengatakan kalau aku sangat pemberani dan aku bukan gadis pemalu, justru kau itulah yang lelaki pemalu ... " kata Yura
"Paman Penasehat Arvan adalah lelaki yang pemalu?" tanya Arsha sambil bergumam pelan.
"Saya tidak seperti itu, Putra Mahkota ... " kata Arvan
Arvan jadi teringat dengan momen saat dirinya mengobrol dengan Yura saat sedang melihat pemandangan bersama setelah pertarungan uji coba. Saat itu saudari kembar Ratu itu pernah meledeknya dengan mengatakan bahwa dirinya seorang yang malu-malu. Mengingat kejadian itu mampu membuat dirinya kembali merasa malu.
"Maaf karena kelancangan saya mengusir para pelayan tanpa seizin Anda, Baginda, Yang Mulia ... " ucap Arvan yang berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak masalah, aku tahu alasanmu ... " kata Raja
Raja dan Ratu tersenyum tipis saat menyadari adanya aroma-aroma cinta yang mulai tumbuh antara Yura dan Arvan.
Makan pagi pun berlangsung dengan tenang secara kekeluargaan, benar-benar terasa menyenangkan. Keputusan Arvan sangat tepat dengan meminta para pelayan pergi dari ruang makan.
Setelah menyeka mulut dengan sapu tangan, Yura langsung menutup kembali wajahnya dengan menggunakan cadar. Kini, rupanya telah berubah menjadi gadis bercadar.
__ADS_1
Gadis bercadar itu sempat menoleh dan melihat Arvan menggunakan sapu tangan untuk menyeka mulut usai makan dan gadis itu merasa tak asing dengan sapu tangan yang digunakan oleh Dokter (sekaligus) Penasehat itu.