One & Only

One & Only
121 - Terluka.


__ADS_3

Hari ini, Istana Kerajaan mendapat kiriman surat. Namun, surat itu bukan untuk diberikan pada Raja atau Ratu, melainkan untuk pasangan Earl Haris yang sedang menginap di sana.


Surat itu datang dari kediaman Earl yang menyampaikannya pada Tuan dan Nyonya mereka yang sedang berada di Istana Kerajaan yang sebenarnya dikirimkan dari daerah perbatasan. Surat itu lebih dulu sampai di tangan Tuan Haris yang langsung membaca isi surat tersebut setelah membuka amplopnya.


Untung saja surat itu lebih dulu sampai di Tuan Haris karena kalau Nyonya Haris yang menerima dan membacanya lebih dulu mungkin bisa membuat wanita itu menangis atau bahkan pingsan. Surat itu dikirimkan oleh putra sulung Keluarga Haris, yaitu Yasha, ke kediaman orangtuanya. Namun, karena kedua orangtuanya sedang menginap di Istana Kerajaan, maka seseorang dari kediaman Earl mengirim surat itu ke Istana Kerajaan untuk disampaikan pada penerima surat yang seharusnya.


Usai membaca surat tersebut, Tuan Haris tampak menghela nafas dan langsung beranjak menuju ke ruang makan untuk makan siang bersama.


Di ruang makan, Tuan Haris melangsungkan makan siang bersama istri juga anak dan menantunya.


"Baginda Raja, sebenarnya ke mana perginya Yura? Kenapa dia belum kembali juga dari urusannya setelah 2 hari berlalu? Sebenarnya hal apa yang menjadi urusannya?" tanya Ratu


"Kalau Anda mengetahui sesuatu, tolong katakanlah. Aku yakin Ibu dan Ayah pun merasa khawatir sama sepertiku," ujar Ratu melanjutkan.


Raja pun menatap ke arah istri juga Ibu dan Ayah Mertuanya secara bergantian, lalu ia menghela nafas. Raja merasa tidak bisa menutupinya lagi dan setelah menatap Ayah Mertua yang seolah bicara, "katakan saja," dari tatapan matanya, akhirnya Raja memutuskan untuk memberi tahu kenyataan tentang Yura.


"Maaf, jika aku menutupi hal ini sebelumnya. Sebenarnya Yura pergi bukan karena urusan biasa, melainkan adik ipar pergi ke daerah perbatasan untuk membantu kakak ipar yang ada di sana. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena Yura memaksa ingin pergi termasuk memintaku untuk menyembunyikan hal ini. Aku khawatir kau begitu juga dengan Ibu dan Ayah Mertua akan merasa stress jika kau langsung mendengar tentang hal ini, jadi aku menyembunyikannya seperti permintaan Yura," ungkap Raja


Ratu dan Nyonya Haris langsung tampak terkejut dan meletakkan alat makan yang awalnya berada di tangan mereka begitu saja.


"Ya ampun, kenapa Anda mentembunyikan hal penting sebesar ini, Baginda? Sepertinya Ayah tidak merasa terkejut setelah mendengarnya, apa Ayah juga sudah tahu tentang hal ini dan menyembunyikannya dariku dan Ibu?" tanya Ratu


"Ayah juga baru tahu setelah pengurus kediaman mengantar surat yang dikirim Yasha dari perbatasan ke Istana Kerajaan. Dalam surat itu, Yasha mrngatakan kalau Yura ada di sana dan dia akan menjaga adiknya dengan baik," jelas Tuan Haris


"Kapan surat itu datang? Kenapa aku tidak tahu dan tidak diberi tahu?" tanya Nyonya Haris


"Surat itu baru datang sebelum aku pergi ke ruang makan ini. Aku akan memperlihatkan suratnya padamu setelah makan siang ini selesai," jawab Tuan Haris


"Aku tahu kalau tidak sepantasnya mengatakan ini dan daerah perbatasan memang sedang jadi tempat yang bahaya, tapi Yura memutuskan untuk pergi ke sana pasti karena merasa dirinya bisa menjaga diri. Lagi pula, adik ipar tidak sendiri dan dia tidak akan ikut berperang karena dia pergi untuk mengisi posisi bantuan pihak medis di sana. Lalu, ada kakak ipar dan Arvan juga para prajurit di sana," ujar Raja

__ADS_1


"Apa maksud Anda Arvan juga ada di daerah perbatasan? Kapan dia pergi?" tanya Ratu


"Ya, dia berangkat sore dua hari yang lalu. Aku sengaja mengirimnya ke sana untuk membantu dan melindungi Yura," ungkap Raja


"Baginda Raja sudah berkata seperti itu, pasti semua akan baik-baik saja. Jangan terlalu merasa khawatir," kata Tuan Haris


Setelah makan siang selesai, Tuan Haris pun memberikan surat yang dikirim oleh Yasha dari daerah perbatasan pada istrinya dan Nyonya Haris pun langsung membaca isi surat tersebut.


Benar saja, saat membaca surat tersebut Nyonya Haris bahkan membungkam mulutnya yang tak bersuara dengan tangannya. Meski begitu, suara isak tangis halus terdengar saat itu juga.


"Padahal Yura yang pergi, tapi anak itu tidak menulis suratnya sendiri dan malah Yasha yang mengirim surat ini," kata Nyonya Haris


"Yura memang seperti itu. Kalau bisa, dia ingin menyembunyikan hal seperti ini dari kita supaya kita tidak merasa khawatir. Padahal lebih baik dia yang memberi tahu karena justru kita akan lebih merasa khawatir saat mengetahuinya secara tiba-tiba seperti ini. Mungkin Yura baru akan mengirim surat nanti saat dirasa kita sudah lupa untuk merasa khawatir padanya," ujar Tuan Haris


"Apa kau sudah membalas surat ini?" tanya Nyonya Haris


"Kalau begitu, biar aku saja yang membalas surat ini," ujar Nyonya Haris


Nyonya Haris pun langsung mengambil selembar kertas dan pena dengan cepat, lalu mulai menulis surat balasan untuk dikirim ke daerah perbatasan.


Tak terasa sudah 2 bulan Yura berada di daerah perbatasan untuk membantu sebagai pihak medis di kamp prajurit. Selama itu, meski pun tidak ikut ke medan perang, Yura bisa mengetahui kalau pasukan lawan benar-benar menyerang dengan kejam dan sadis. Itu bisa dilihat dari jumlah pasukan yang terluka parah sekembalinya ke kamp prajurit dari medan perang.


Selama itu juga, Arvan lebih banyak diam saat bersama atau berada di dekat Yura. Lelaki itu memang tidak menghindar saat bertemu dengan Yura, namun ia lebih memilih untuk diam dari pada banyak bicara terutama selain saat sedang bersama untuk mengobati prajurit yang terluka.


Mungkin Arvan masih terus memikirkan perkataan terakhir Yura tentang dirinya yang masih keliru dengan perasaannya sendiri.


Saat ini Yura sedang menunggu di kamp prajurit dengan perasaan cemas dan penuh harap. Gadis itu terus berdoa agar tidak ada lagi prajurit yang terluka, terutama sang kakak. Namun, sepertinya doanya kurang diperkenankan karena Yura justru melihat seekor kuda yang kembali dengan seorang prajurit yang terluka ringan yang membawa Yasha kembali dengan luka parah.


Tubuh Yura langsung bergetar dengan hebat karena merasa cemas begitu melihat kondisi Yasha. Arvan pun ikut merasa cemas saat melihat Yura yang seperti itu.

__ADS_1


"Arvan, ayo bantu aku. Kita harus bergerak dengan cepat," kata Yura


Yura dan Arvan pun bergegas menghampiri kuda yang baru saja berhenti itu. Keduanya membantu Yasha yang terluka parah untuk beranjak turun dari atas punggung kuda.


"Biar aku sendiri yang mengurus Kak Yasha. Kau bantu saja prajurit lain yang juga terluka," ucap Yura


Yura pun beranjak pergi sambil memapah Yasha untuk segera diobati. Saat berada di dalam tenda perawatan, Arvan kembali menghampiri Yura yang sedang berusaha mengobati Yasha.


"Satu prajurit lainnya hanya terluka ringan dan berkata bisa mengobati lukanya sendiri, jadi aku akan membantumu mengobati Ketua Yasha," kata Arvan


"Ya, setiap prajurit pasti sudah punya bekal ilmu pengobatan sendiri meski pun hanya sedikit. Kalau begitu, tolong kau bantu aku," ujar Yura


Arvan pun membantu Yura mengobati Yasha dengan sangat teliti. Dilihatnya, Yura pun melakukan pengobatan dengan sangat telaten. Bahkan yang awalnya gadis itu gemetar saat melihat kakaknya terluka parah, kini tidak lagi seperti itu. Yang terlihat hanya Yura yang sangat profesional dan kompeten saat melakukan prosedir medis seperti seorang dokter yang handal dan hebat.


"Kak, aku tahu kau masih sadar. Tolong buka matamu dan cobalah minum pil obat ini agar bisa menghentikan pendarahanmu yang sangat banyak ini," ucap Yura


Yasha pun membuka kedua matanya secara perlahan dan berangsur meminum pil obat yang diberikan oleh sang adik. Yura pun membantu kakak sulungnya untuk meminum obat yang telah diberikan olehnya. Namun, setelah itu Yasha kembali memejamkan kedua matanya.


Yura dan Arvan pun saling membantu mengobati luka pada tubuh Yasha. Saat pengobatan luka hampir selesai, seorang prajurit yang ikut kembali sambil membawa Yasha pun berjalan mendekat.


"Bagaimana keadaan Ketua saat ini?"


"Pengobatan terhadap lukanya hampir selesai dan Ketua pasti akan pulih. Setelah melakukan pengobatan ini, saya juga akan memeriksa luka Anda. Sekarang Anda duduk dan istirahatlah," jawab Yura


"Tidak perlu. Selamatkan saja Ketua. Lukanya sangat parah, sedangkan aku hanya mendapat luka ringan."


"Ada saya dan Tuan Arvan yang mengobati Ketua, dijamin Ketua akan pulih dengan cepat. Namun, luka ringan juga merupakan luka dan tetap harus diperiksa," ucap Yura


Pengobatan luka pada tubuh Yasha pun selesai. Namun, pemimpin pasukan prajurit itu terus memejamkan kedua matanya. Mungkin karena terus menahan rasa sakit pada lukanya atau karena telah kehabisan tenaga.

__ADS_1


__ADS_2