One & Only

One & Only
35 - Menyingkir.


__ADS_3

Melihat Yura yang beranjak pergi sambil menggendong Arsha meski terlihat kesulitan, Arvan tak ingin berdiam diri saja.


"Aku akan langsung ikut dengan Yura untuk memastikan Putra Mahkota tidak terjatuh dari gendongannya. Kalian semua, tolong rapikan semua ini tanpaku," ucap Arvan


"Baik, Tuan."


Arvan pun langsung mengikuti langkah kaki Yura dan membiarkan para pelayan yang merapikan semua sisa kemah dan api unggun di halaman Vila Kerajaan tersebut.


"Dasar, saingan cinta. Bilang saja ingin mengejar cinta Nona Yura saat aku tidak bisa menghalanginya. Tuan Penasehat pasti merasa tidak percaya diri saat aku ada di dekat Nona Yura tadi," batin Rio yang merasa kesal di dalam hatinya.


Arvan masih terus mengikuti Yura yang berjalan sambil menggendong Arsha di dalam pelukannya. Arvan memang berkata khawatir Putra Mahkota terjatuh dari gendongan Yura, namun sebenarnya Arvan lebih khawatir dengan Yura sendiri. Melihat Yura berjalan dengan kaki yang terlihat kaku karena habis nenjadi bantal tidur untuk Arsha membuat Arvan tidak tega membiarkan Yura membawa beban berat. Namun, Arvan juga tidak bisa memaksa atau merebut Arsha dari gendongan Yura.


Arvan bahkan sampai mengejar dan mendahului langkah Yura untuk mengajaknya bicara dengan menawarkan dirinya untuk menggantikan gadis itu menggendong Arsha.


"Yura, biarkan aku menggantikanmu menggendong Arsha. Kedua kakimu terlihat masih kaku untuk bergerak sambil membawa beban seperti itu," ucap Arvan yang bicara di hadapan Yura sambil berjalan mundur.


"Arvan, tidak baik berjalan sambil mundur seperti itu. Kau bisa terjatuh nantinya," tegur Yura yang langsung menghentikan langkahnya saat melihat Arvan berjalan mundur di depannya.

__ADS_1


"Kalau begitu, serahkan Arsha padaku. Biar aku saja yang menggendongnya," ujar Arvan yang ikut menghentikan langkah mundurnya untuk bicara dengan Yura.


"Terima kasih, tapi itu hanya akan membangunkan Arsha yang sedang tertidur, jadi biar aku sendiri saja. Lagi pula, Arsha bukan beban, tapi dia keponakanku. Aku tahu kau khawatir Arsha akan terjatuh, tapi itu tidak akan terjadi. Kalau kau benar-benar ingin membantu, bisa tolong menyingkir sedikit? Maaf, tapi kau hanya menghalangi jalanku padahal ini sudah sangat dekat dengan kamar. Kau pasti bisa merasa tenang saat aku menaruh Arsha di atas ranjang kamarnya dan itu pasti bisa kulakukan seorang diri," ucap Yura


"Baiklah, maafkan aku ... " kata Arvan yang segera menyingkir dari hadapan Yura dengan perasaan sedih di dalam hatinya setelah mendengar penolakan dari gadis bercadar itu.


Yura pun langsung melanjutkan langkahnya menuju ke kamar Arsha dan Arvan tetap mengikuti Yura yang membawa Arsha dari belakang. Bahkan Arvan sampai membukakan pintu kamar Arsha saat menyadari Yura kesulitan melakukannya.


"Terima kasih," ucap Yura setelah Arvan membantunya membukakan pintu kamar Arsha.


"Sama-sama. Masuklah," sahut Arvan yang lalu ikut masuk ke dalam kamar Arsha setelah Yura.


Sedangkan, Arvan hanya terus memerhatikan cara Yura memperlakukan dan merawat Arsha dengan baik. Setelah itu Yura pun beranjak bangkit setelah merebahkan Arsha di atas ranjang.


"Sekarang kau sudah bisa tenang setelah Arsha dipindahkan ke ranjang. Sudah kubilang, aku bisa melakukannya seorang diri," ujar Yura sambil melepaskan syal yang berada di lehernya karena merasa risih.


"Yura, aku sempat mendengar sebelumnya kalau kau tidak suka memakai syal. Apa tadi itu kau bohong? Buktinya akhirnya kau memakai syal yang sempat dipakai Arsha, kan? Apa alasanmu mengatakan seperti itu pada Arsha adalah karena ingin memberikan syal ini untukku bahkan kau sampai meminta Arsha memakaikan syal ini langsung di leherku? Apa itu artinya kau peduli padaku?" tanya Arvan yang langsung mengalihkan topik, membicarakan hal lain yang membuatnya lebih merasa penasaran.

__ADS_1


"Itu tergantung padamu mau menganggapnya sebagai bentuk kepedulian atau tidak, tapi jangan salah paham dulu. Aku memang tidak suka memakai syal karena bisa membuat leherku merasa risih. Sedangkan, aku terpaksa memakai syal yang sempat dipakai Arsha karena tidak ingin Ratu merasa khawatir berlebihan karena aku tidak memakai apa pun untuk menghangatkan badan. Sementara saat aku meminta Arsha untuk memberikan syal untukmu karena aku merasa tidak membutuhkannya," jelas Yura


"Rupanya, Yura hanya sebatas memberikan barang yang tidak dibutuhkan olehnya pada orang lain dan dia benar-benar tidak suka memakai syal. Sebenarnya ada apa denganku? Padahal aku tahu tidak boleh berharap banyak karena aku harus menjauh dari Yura," batin Arvan


Setelah itu, Yura pun beranjak ke luar dari kamar Arsha dan Arvan pun ikut pergi meninggalkan kamar tersebut karena tidak ingin mengganggu waktu tidur dan istirahat malam Putra Mahkota.


Arvan mengejar langkah kaki Yura sebelum gadis bercadar itu beranjak masuk ke dalam kamarnya.


"Yura, apa kau marah padaku?" tanya Arvan


"Apa kau sungguh ingin bertanya padaku tentang hal ini? Apa kau tidak ingin bertanya tentang hal lain padaku? Atau haruskah aku saja yang bertanya padamu? Bukankah hal yang kau tanyakan padaku barusan harusnya menjadi pertanyaanku untukmu? Apa mungkin aku harus bertanya tentang hal lain yang juga hampir serupa dengan pertanyaanmu barusan? Jadi, pertanyaan yang mana dan dari siapa yang harus dijawab lebih dulu?" tanya balik Yura


Seketika Arvan pun terdiam dan Yura menghela nafas pelan.


"Yura sampai bertanya balik sedemikian rupa padaku, apa dia sudah sadar kalau aku sedang berusaha menjauh darinya? Kalau seperti ini, apa yang sebenarnya aku inginkan? Apa aku sungguh bisa menjauh dari Yura?" batin Arvan


"Maaf, Arvan, sudah cukup. Lupakan saja pertanyaanmu serta aku yang bertanya balik padamu tadi. Anggap saja pembicaraan ini tidak terjadi. Kembalilah ke kamarmu sendiri karena aku pun ingin masuk ke dalam kamar untuk istirahat dan tidur. Aku merasa lelah," ujar Yura

__ADS_1


Arvan hanya mengangguk pelan dan beralih menuju ke kamarnya sendiri. Setelah Arvan beranjak pergi darinya, Yura pun melangkah masuk ke dalam kamarnya. Saat yang bersamaan, Arvan juga masuk ke dalam kamarnya. Karena kamar keduanya bersebrangan, Arvan jadi bisa melihat saat Yura masuk ke dalam kamarnya. Namun, Yura sama sekali tidak melirik sedikit pun ke arahnya dan itu membuat hati Arvan merasa sedih.


__ADS_2