One & Only

One & Only
62 - Urusan di Penjara Istana.


__ADS_3

Mendapat makanan secara gratis, tentu saja membuat asisten Arvan itu merasa senang. Yang membuat lelaki itu terbebani adalah mana ada bawahan yang makan di hadapan atasan yang sedang bekerja. Bahkan atasannya adalah seorang Raja, yaitu orang yamg paling dihormati di seantero negeri.


Anggap saja Raja sedang bekerja dengan cara mengajari Putra Mahkota yang merupakan penerus tahtanya.


Rino pun duduk di atas sofa kehormatan di sana dan menatap makanan yang sudah tertata di hadapannya. Orang lain yang melihat makanan lezat seperti itu pasti akan tergugah seleranya. Namun, berbeda dengan dirinya.


Bahkan sejak mulai makan, Rino tidak berpikir tentang makan dengan tenang atau menikmati makanan, tapi justru cara menghabiskan makanan itu dengan cepat karen maerasa dirinya tidak boleh meninggalkan waktu kerja terlalu lama.


Bahkan Rino tidak tahu apa makanan itu masuk ke dalam mulut atau hidungnya. Atau apakah dirinya menguyah makanan itu dengan baik atau langsung menelannya. Yang terpikir olehnya hanya soal pencernaannya yang mungkin malah akan terganggu setelah ini.


...


Yura dan Arvan berpisah untuk segera bersiap. Baik Yura mau pun Arvan saling mempersiapkan barang yang akan dibawa masing-masing oleh keduanya.


Usai bersiap, Arvan pun membawa barang bawaannya untuk beranjak menuju ke kandang istana.


Begitu sampai di kandang istana, Arvan langsung mempersiapkan kuda miliknya untuk segera dibawa pergi bersama. Bahkan Arvan juga memakaikan pelana pada punggung kuda miliknya serta pada punggung kuda milik Yura yang juga ada di sana. Arvan sengaja mempersiapkan kuda milik Yura agar saat gadis bercadar itu muncul, keduanya bisa segera pergi secepatnya.


Namun, usai beberapa saat menunggu, Yura tak kunjung muncul di sana. Arvan pun memutuskan untuk meninggalkan kandang lebih dulu untuk menghampiri keberadaan Yura. Masih segar di dalam ingatan Arvan bahwa Yura mengatakan jika ia sudah lama menunggu, namun Yura tidak kunjung muncul, dirinya bisa mencari Yura ke penjara istana.


"Tuan, saya titip kedua kudanya dulu karena saya harus mencari satu teman saya yang akan menggunakan kuda yang satu laginya. Saya akan segera kembali setelah menemukannya. Saya juga titip barang saya di sini dan jangan lepas pelananya lagi supaya kami bisa langsung pergi nantinya," ucap Arvan berpesan.


"Baik, Tuan. Saya mengerti."

__ADS_1


Setelah itu, Arvan pun beranjak pergi meninggalkan kandang istana dan langsung beralih menuju ke penjara istana.


Bicara dengan pengurus kandang istana, lagi-lagi membuat Arvan teringat jika Yura pernah menjadi dekat dengan pelayan lelaki Vila Kerajaan yang sering menemani Yura saat berkuda.


Namun, setidaknya pengurus kandang istana adalah pria yang sudah berumur cukup tua hingga tidak membuat Arvan merasa kesal saat bicara dengannya karena tidak mungkin pria tua sepertinya berani macam-macam dengan menyukai Yura seperti pelayan lelaki Vila Kerajaan yang selalu membuat Arvan merasa kesal setiap kali teringat dengannya.


"Entah ada urusan apa Yura sampai harus ke penjara istana lebih dulu ... " gumam pelan Arvan


Begitu Arvan tiba di depan penjara istana, Yura juga tampak baru muncul di sana.


"Arvan, rupanya kau menyusul sampai ke sini. Padahal aku juga baru saja datang untuk mengurus sesuatu di sini. Maaf kalau aku terlalu lama bersiap hingga membuatmu menunggu lama," ucap Yura


"Tidak masalah, Yura. Mungkin aku saja yang terlalu cepat saat bersiap," kata Arvan


"Itu benar. Aku memang sengaja bersiap dengan cepat agar bisa cepat bertemu denganmu lagi dan bisa cepat pergi bersamamu. Tidak masalah jika harus menjalankan misi sekali pun karena setidaknya ini adalah salah satu cara agar bisa menghabiskan waktu berdua denganmu agar hubungan kita bisa kembali membaik seperti sebelumnya," batin Arvan


Sepertinya memang benar. Untuk saat ini dan seterusnya hingga selamanya, Arvan hanya akan terus menyukai Yura. Hanya Yura, satu-satunya gadis yang namanya tertanam di dalam hati lelaki bernama Arvan. One and only.


"Kalau begitu, sebaiknya kau tunggu saja di sini sementara aku mengurus sesuatu di dalam penjara istana ini. Sebentar saja," ujar Yura


"Atau, apa kau ingin ikut denganku masuk ke dalam?" tanya Yura melanjutkan memberi pilihan pada Arvan.


"Aku tidak akan hanya menunggu di luar sini dan akan ikut denganmu masuk ke dalam sana," jawab Arvan dengan cepat.

__ADS_1


"Ya, terserah kau saja ... " kata Yura


Yura pun langsung melangkah maju menuju pintu masuk penjara istana dan Arvan tetap berjalan mengikutinya dari belakang.


"Permisi ...."


"Maaf, tapi ada perlu apa kalian berdua datang ke sini?" tanya salah satu dari kedua penjaga yang berada di depan pintu penjara istana.


"Saya ingin bertemu dan bicara langsung dengan ketua penjaga di sini. Apa bisa?" tanya balik Yura meminta.


Kedua penjaga itu tampak diam untuk berpikir sejenak, keduanya juga tampak ragu. Namun, saat melihat Arvan yang datang bersama Yura di sana, kedua penjaga itu akhirnya mengangguk secara bersamaan usai saling menatap satu sama lain.


"Baiklah. Namun, saya akan bertanya lebih dulu pada ketua penjaga dan kalian tetap harus menunggu di sini."


"Ya, tolong coba tanyakan. Mohon bantuan dan kerja samanya," pinta Yura


Salah satu penjaga di sana pun beralih menuju bangunan samping penjara istana tersebut. Sedangkan, Yura dan Arvan tetap menunggu di sana dengan ditemani salah satu penjaga lainnya.


Sebenarnya, Yura masih dalam niat menghindar dari Arvan. Namun, kali ini karena keputusan Raja untuk melakukan misi penyelidikan bersama dan Yura merasa Arvan akan berguna untuk memudahkan urusannya di penjara istana. Jadi, mau tak mau Yura membiarkan Arvan mengikutinya.


Pasalnya, Arvan yang merupakan Penasehat Besar dan Dokter Utama Istana Kerajaan pasti telah lebih dikenal hingga akan bisa membuat segala urusan ditangani dengan lancar dan cepat.


Contohnya saja, sama seperti saat ini. Mungkin akan menjadi sulit jika hanya Yura seorang diri yang meminta untuk bertemu dengan ketua penjaga penjara Istana Kerajaan, bahkan mungkin permintaannya akan langsung ditolak. Namun, karena melihat sosok Arvan barulah permintaan Yura bisa diproses meski masih harus menunggu.

__ADS_1


Karena hal inilah Yura sempat bertanya dan membiarkan saat Arvan berkata ingin ikut dengannya untuk mengurus sesuatu di penjara istana. Yura terpaksa memanfaatkan sosok Arvan meski sebenarnya tidak ingin berbuat seperti itu, apa lagi dirinya telah memiliki lencana emas pemberian dari Raja.


Padahal semua akan sangat mudah jika Yura langsung memperlihatkan lencana emas milik Raja yang diberikan padanya. Namun, entah kenapa gadis bercadar itu tetap mempergunakan sosok Arvan. Entah mungkin karena Yura tidak ingin terlalu memamerkan bahwa dirinya memiliki hak istimewa dengan memperlihatkan benda pemberian dari Raja atau sebenarnya tanpa sadar Yura pun tidak ingin mengabaikan Arvan hingga memilih membiarkannya ikut dengan dalih memanfaatkannya.


__ADS_2