
Selama masa pemulihan pada lukanya, Yasha terpaksa tidak ikut berperang dan fokus beristirahat. Sebagai gantinya, Yura yang maju untuk bertarung di medan perang. Namun, kali ini Yura tidak lagi menjadi Ketua yang memimpin pasukan, melainkan hanya akan menjadi Wakil dari Ketua yang memimpin pasukan. Karena telah diputuskan yang menjadi Ketua adalah yang sebelumnya menjadi Wakil Ketua Pasukan.
Namun, ini hanya akan berlangsung selama masa pemulihan Yasha. Dan setelah puluh dari lukanya, Yasha akan kembali memimpin pasukan dengan menjadi Ketua seperti yang seharusnya.
Seperti sebelumnya, kali ini pun Yura sudah bersiap dengan memakai baju besi untuk segera pergi menuju ke medan perang. Kali ini Yura tidak melewatkan untuk berpamitan dengan Yasha sebelum pergi.
"Yura, kau sudah siap untuk berangkat?" tanya Yasha begitu melihat adik bungsunya.
"Ya, aku akan langsung pergi setelah ini," jawab Yura
"Kupikir kau tidak akan ingat untuk pamit denganku lagi," kata Yasha seraya menyindir secara halus.
"Aku melakukannya juga karena kau tidak mengomel lagi. Pokoknya istirahatlah dengan baik dan patuhlah dengan orang yang merawatmu. Tidak perlu khawatir tentang apa pun karena aku akan baik-baik saja dan kembali ke sini," ucap Yura
"Baiklah, aku mengerti. Kau juga berhati-hatilah selama berada di medan perang sana," pesan Yasha
"Aku mengerti, Kak. Maaf, aku harus segera pergi dan tidak bisa berlama-lama di sini," kata Yura
"Kau harus kembali, Yura. Karena kau juga harus menggantikan aku untuk menulis surat balasan untuk ibu dan ayah," ucap Yasha
"Ya ampun, aku lupa kalau belum pernah mengirim surat ke rumah. Kau juga harus cepat pulih agar kita bisa mengakhiri perang ini bersama-sama dan meninggalkan tempat ini kalau kau ingin melihat keponakanmu," ujar Yura
"Selain itu kau juga harus tahu kalau sebentar lagi kau akan punya keponakan baru lagi," sambung Yura sambil berbisik di telinga Yasha.
Mendengar apa yang dibisikkan oleh Yura pada telinganya mampu membuat Yasha langsung menoleh dengan cepat ke arah adik bungsunya itu.
"Apa yang kau pikirkan, Kak? Kenapa kau melihatku seperti itu? Yang akan memberimu keponakan baru adalah kak Yuna. Saat ini Ratu sedang mengandung lagi," bisik Yura
"Ya ampun, Yura. Kau membuatku terkejut sekaligus waspada," kata Yasha
"Kau saja yang aneh. Kenapa juga kau harus berpikir macam-macam? Memangnya kau pikir aku ini gadis seperti apa? Dasar ... kalau saja aku tidak ingat saat ini kau sedang terluka, sebenarnya aku sangat ingin memukulmu. Sungguh," ujar Yura
__ADS_1
"Pokoknya kau juga harus berhati-hati tentang hal yang satu itu," pesan Yasha
"Dasar, kau Kakak yang menyebalkan. Sudahlah, aku pergi dulu ... " kata Yura yang beranjak pergi dari sana.
Begitu pergi meninggalkan Yasha dan ke luar dari posko pengobatan, pipi pada wajah Yura langsung bersemu merah. Perkataan dan pesan dari kakak sulungnya membuat Yura teringat bahwa dirinya kini kemungkinan sedang menjalin hubungan tanpa status dengan Arvan. Meski sudah tidak menjomblo sekali pun Yura tidak mungkin sampai bisa memberi keponakan pada kakaknya di luar nikah seperti yang dikhawatirkan oleh Yasha.
Setelah itu Yura pun bergabung dengan anggota prajurit lainnya untuk bersiap pergi menuju ke medan perang. Saat itu Yura bertemu dan bersitatap dengan Arvan. Baik Yura atau Arvan sama-sama tersenyum meski sebenarnya keduanya sama-sama merasa canggung dan salah tingkah.
Lalu, Yura dan yang lainnya pun bergegas pergi menuju ke medan perang dengan menunggang kuda.
•••
Beberapa hari telah berlalu.
Kini Yasha mulai bisa bergerak lebih banyak dan leluasa. Proses pemulihannya terbilang cepat. Tak terduga bahwa luka parah yang pada tubuh Yasha bisa pulih hanya dalam waktu setengah bulan.
Saat ini Yasha sedang melakukan olahraga ringan dengan berjalan santai di sekitar kamp prajurit pada pagi hari. Hal ini dilakukan agar tubuhnya tidak terasa kaku atau bahkan mati rasa karena terlalu lama berbaring di atas ranjang selama terluka parah sebelumnya.
"Kak Yasha, kau memang sudah boleh menggerakkan tubuhmu, tapi ingat untuk jangan dipaksakan atau berlebihan. Setelah jalan-jalan sebentar, kembalilah ke posko pengobatan atau langsung cari aku saja. Aku akan memeriksa lukamu," ucap Yura yang sedang bersiap untuk memasak sarapan pagi.
Ada beberapa anggota prajurit yang menemani Yasha berjalan santai di sekitar kamp prajurit. Mereka juga mengobrol bersama. Namun, tiba-tiba saja ada beberapa orang dari pasukan musuh yang datang untuk mencari masalah dan membuat dengan sengaja di sana.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Cepat pergi dari sini karena ini bukan tempat kalian. Pergilah sebelum kami melakukan tindakan terhadap kalian!"
Beberapa orang dari pasukan musuh langsung beranjak turun dari atas punggung kuda dan berjalan memasuki area kamp prajurit.
"Tolong tenanglah. Kami datang ke sini hanya karena ingin melihat Ketua pasukan kalian yang katanya terluka."
Seorang Wakil yang kini menempati posisi Ketua pun langsung menghadang jalan orang-orang dari pasukan musuh.
"Ada perlu apa kalian mencariku? Karena kalian sudah melihatku, maka segeralah pergi dari sini!"
__ADS_1
"Kau adalah Ketua sementara yang baru itu? Jangan menipu kami, kami tahu kalau Ketua kalian yang baru kalian adalah seorang perempuan."
Orang-orang dari pasukan musuh ini terlalu berbelit tentang tujuan mereka datang ke kamp prajurit saat ini.
Pertama mereka bilang ingin melihat Ketua Pasukan yang terluka yang berarti mereka mencari Yasha. Namun, saat Wakil yang kini menjadi Ketua menemui mereka, mereka bilang dan tahu kalau Ketua Pasukan yang baru adalah seorang perempuan seolah mereka ingin bertemu dengan Yura
Hingga dapat dibuat kesimpulan bahwa orang-orang dari pasukan musuh datang untuk meremehkan kemampuan Yasha yang bisa-bisanya terluka parah dalam perang padahal dia adalah seorang Ketua dan juga ingin menantang Yura yang bisa-bisanya menjadi Ketua Pasukan Perang padahal hanya seorang perempuan.
Mengetahui itu, Yasha mengepalkan tangannya. Orang-orang dari pasukan musuh itu tidak hanya ingin membuat perkara, tapi juga bermaksud menghina.
Orang-orang dari pasukan musuh itu akhirnya melihat sosok Yasha yang terlihat dengan jelas baru saja pulih.
"Bukankah ini adalah Ketua dari Keluarga Haris yang terkenal tiada tandingannya di medan perang itu? Sepertinya kami terlalu memandang tinggi keturunan Keluarga Haris ini. Apanya yang katanya terhebat dalam berperang kalau malah terluka parah dan tampak lemah seperti ini? Memang kabar yang beredar itu sering kali dilebih-lebihkan."
Kedatangan orang-orang dari pasukan musuh bagai tamu tak diundang ini akhirnya terdengar sampai ke telinga Yura hingga membuat gadis itu ke luar dari dapur darurat kamp prajurit.
"Aku mendengar ada yang sedang membicarakan keluargaku. Aku juga sempat mendengar ada yang mencariku. Aku adalah seorang putri dari Keluarga Haris sekaligus seorang perempuan di pasukan perang ini. Apa tujuan kalian mencariku sampai datang ke sini?" tanya Yura
"Jadi, rupanya ini Ketua pengganti yang berani-beraninya melukai mata pemimpin pasukan kami? Namun, sepertinya kau telah langsung dikeluarkan dari jabatan Ketua. Apa kemampuanmu hanya sebatas itu?"
Yura hanya tersenyum kecil. Namun, sorot matanya sangat tajam.
"Yura, kenapa kau malah ke sini?" tanya Yasha
"Rupanya, kalian bersaudara, ya. Keturunan Keluarga Haris memang sangat hebat. Yang lelaki menggantikan ayahnya menjadi pemimpin pasukan generasi baru. Satu perempuannya menjadi Ratu, dan yang satu lagi ikut bergabung dengan kakak lelakinya di pasukan peperangan. Namun, sepertinya keluarga ini tak sehebat kedengarannya."
"Kalian salah besar. Sebenarnya apa yang kalian tahu? Kakakku menjadi pemimpin pasukan atas usaha, kerja keras, perjuangan, dan pengalamannya sendiri. Kakakku sama sekali bukan pengganti ayah. Lalu, bagi kami, Keluarga Haris, terluka karena pertarungan adalah suatu kehormatan dan penghargaan yang mulia. Kami bangga dengan itu. Tidak seperti kalian yang tidak punya penghargaan, kehormatan, dan kebanggaan apa pun malah hanya bisa mencari masalah di tempat orang lain," ucap Yura
"Sungguh memalukan dan merupakan gaya orang rendahan. Kalau memang ingin mempercayai suatu kabar yang beredar, harusnya kalian mencari kebenaran kabar itu dengan benar. Mengatakan hal yang salah hanya karena mempercayai kabar yang beredar dengan tidak jelas hanyalah tindakan dari oramg bodoh. Satu lagi, atas dasar apa kalian bisa dengan mudahnya membicarakan Yang Mulia Ratu kami. Kalian sama sekali tidak pantas!" sambung Yura yang meninggikan suaranya di akhir ucapannya.
"Hanya seorang perempuan lemah! Berani-beraninya kau sembarangan menilai kami!"
__ADS_1
Mendengar ada suara keributan, Arvan langsung mencari tahu karena merasa khawatir dengan sang pujaan hati. Dan benar saja, Yura ada di tengah keributan itu. Begitu Arvan sampai di sana, tampaknya situasi sudah berubah menjadi sangat tegang.