One & Only

One & Only
136 - Mendekati Hari Kelahiran.


__ADS_3

Raja memberikan masing-masing penghargaan pada Yasha dan Arvan berupa Lencana Emas Kehormatan karena kedua lelaki itu berkontribusi besar dalam peperangan selama lebih dari 3 tahun lamanya di depan seluruh Pasukan Negara Chuya begitu kembali ke Istana Kerajaan.


"Lalu, harap untuk segera maju, Yura Haris ... " panggil Raja


Yura tidak menyangka akan mendapat panggilan kehormatan dari Raja. Gadis itu pun berjalan dengan langkah tangguh dan langsung berlutut begitu sampai tepat di hadapan Raja.


"Saya telah mendengar prestasi besar yang kau lakukan kali ini. Kau yang pergi sebagai bantuan pihak medis bahkan ikut pergi sampai ke medan perang dengan keberanian yang kau punya. Karena itu saya akan menganugerahkan sebuah nama untukmu, yakni Bellona, yang memiliki arti sebagai Dewi Perang ... " ucap Raja


"Tanpa mengurangi rasa hormat yang ada, saya mengucapkan banyak terima kasih pada Baginda Raja," sahut Yura yang lalu bangkit berdiri.


"Yura, apa kau masih menyimpan Lencana Emas Kehormatan yang saya berikan padamu sebelumnya?" tanya Raja


"Menjawab pertanyaan Anda, saya masih dan akan selalu menyimpan lencana pemberian Anda dengan sangat baik," jawab Yura


"Bagus, kalau begitu. Saya harap kalian bertiga bisa selalu menyimpan dan menggunakan lencana tersebut dengan baik dan bijak," ujar Raja


"Baik, Baginda!" seru Yura, Yasha, dan Arvan secara bersamaan.


"Lalu, saya ucapkan selamat dan terima kasih bagi seluruh anggota prajurit yang tergabung ke dalam pasukan. Tanpa kalian semua, perang tidak akan berhasil dimenangkan dengan baik. Kontribusi, perjuangan, dan jasa kalian semua akan terus diingat sampai kapan pun. Kalian semua adalah pasukan terbaik," ucap Raja


Setelah Raja selesai berpidato, seluruh pasukan pun saling membubarkan diri.


"Yura ... " panggilnya.


Mendengar namanya dipanggil, Yura pun membalikkan tubuhnya. Di sanalah Ratu menunggu bahkan telah memanggil namanya. Saat Yura mengembangkan senyumnya, Ratu sudah lebih dulu memeluk saudari kembarnya itu dengan sangat erat.


"Yang Mulia Ratu, saya masih memakai baju besi. Pasti terasa sakit bagi Anda memeluk saya seperti ini," ucap Yura


"Aku tidak peduli. Akhirnya kau kembali dengan selamat, Yura ... " ujar Ratu

__ADS_1


"Kak Yasha juga ada di sini. Apa Anda tidak ingin melihatnya juga setelah sekian lama tidak bertemu?" tanya Yura


Ratu pun melepaskan pelukannya secara perlahan.


"Yang Mulia Ratu, bagaimana kabar Anda saat ini?" tanya Yasha yang menghampiri kedua adik kembarnya.


"Kalian berdua, tolonglah jangan bersikap terlalu formal atau sungkan denganku. Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian berdua?" tanya balik Ratu


"Kami berdua juga baik-baik saja," jawab Yura


"Ya, seperti yang bisa kau lihat. Dan aku merasa senang karena sepertinya sebentar lagi aku akan mendapat keponakan baru lagi," ujar Yasha sambil melihat ke arah perut Ratu yang tampak buncit.


"Benar juga, Kak. Bukankah kau sudah mulai hamil sejak sebelum aku pergi ke medan perang? Ini sudah 3 tahun berlalu, harusnya bayimu sudah lahir cukup lama, kan? Apa memang ini seperti yang kupikirkan?" tanya Yura


"Kau benar, Yura. Anak kedua kami sudah lahir dan ini adalah yang ketiga," jawab Ratu


"Wah, aku ikut merasa senang mendengarnya. Selamat, ya ... " ucap Yasha


"Kak, kau tidak boleh seperti itu. Setiap anak adalah anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan. Semua orang juga mengerti seperti apa posisimu sebagai seorang Ratu. Namun, sebagai seorang ibu harusnya kau merasa bersyukur dengan kehadiran anakmu ini. Lagi pula, tidak akan jadi masalah lagi karena saat ini perang sudah berakhir," ujar Yura


"Adik kita benar, Yuna. Sekarang kau tidak perlu merasa khawatir lagi. Lagi pula, sebagai penguasa memang lebih baik punya banyak keturunan. Tenang saja karena kami tidak akan pergi meninggalkanmu lagi dan akan membantumu mengurus keponakan kami yang berharga," ucap Yasha


"Ya, kalian berdua benar. Namun, apa benar kalian berdua baik-baik saja? Dari yang kudengar, bukankah kalian berdua sempat terluka?" tanya Ratu


"Berada dalam arus medan perang yang mengerikan sangat mustahil jika kami berdua tidak terluka. Namun, bahkan ada Arvan di antara kami semua. Jadi, semua yang berkaitan dengan luka sudah tidak jadi masalah lagi alias sudah pulih dengan baik," jelas Yura


"Yang penting kami berdua sudah baik-baik saja dan kembali dengan selamat. Omong-omong, perutmu sudah sebesar ini berapa usia kandunganmu saat ini?" tanya Yasha


"Benar juga. Kalau sudah sebesar ini bukankah hanya tinggal menunggu hari kelahiran? Kenapa kau masih repot-repot mendampingi kakak ipar dengan terus berdiri lama seperti ini?" tanya Yura

__ADS_1


"Ada kalian berdua di sini. Bagaimana aku tidak ikut hadir? Aku sangat menantikan saat kalian berdua kembali. Lagi pula, semakin dekat dengan hari kelahiran justru harus lebih banyak bergerak agar proses persalinan bisa jadi lebih mudah," jelas Ratu


"Ya, kau memang benar, tapi lebih baik kita jangan berlama-lama ada di sini. Kau harus duduk dan istirahat. Ayo, kita masuk dulu. Biarkan saja kakak ipar yang sedang bicara dengan Arvan," kata Yura


Yura memang merasa heran sejak melihat Ratu muncul dengan perut yang buncit. Ternyata memang benar seperti dugaannya bahwa Ratu sedang mengandung anak ketiga tak lama setelah kelahiran anak kedua. Bahkan usia kandungan anak ketiga saat ini sudah mulai mendekati hari kelahirannya.


Ratu mengusap pelan perut buncitnya. Yura pun meraih tangan ibu hamil itu karena ingin membantu memeganginya saat berjalan. Namun, bahkan belum sempat berbalik badan untuk berjalan masuk ke Istana Kerajaan, Ratu sudah menjerit bersamaan dicengkramnya tangan Yura yang memeganginya.


Seketika saja yang ada di sana langsung merasa panik. Bahkan Raja dan Arvan yang sedang asik berbincang pun langsung menghampiri tiga Haris bersaudara.


"Siapa yang berteriak tadi? Ada apa dengan Yuna?" tanya Raja


"Yuna tiba-tiba menjerit. Sepertinya perutnya terasa sakit," jawab Yasha


"Tidak mungkin, air ketubannya sudah pecah. Sudah saatnya kelahiran si bayi. Cepat panggil dan kumpulkan dokter lainnya," kata Yura


Tanpa basa-basi lagi, Yura langsung mengalungkan lengan Ratu pada lehernya dan menggendong saudari kembarnya itu ala bridal style. Tak disangka, gadis itu sanggup menggendong ibu hamil yang kandungannya bahkan sudah mulai masuk pada tahap persalinan. Yura benar-benar sosok gadis tangguh, kuat, dan berani.


"Yura, kau pasti merasa keberatan. Biar aku saja, lagi pula Yuna adalah istriku ... " ucap Raja


"Sudah tahu ini tidak ringan, maka jangan halangi jalanku, Kakak ipar. Cepat menyingkir!" teriak Yura


"Yura, jaga sopan santunmu pada Baginda Raja," tegur Yasha


"Sudah seperti ini, apa aku masih perlu memikirkan sopan santun? Ada nyawa yang sedang dipertaruhkan," ujar Yura


"Percayakan saja pada Yura," kata Arvan yang langsung menarik Raja agar menepikan tubuhnya untuk memberi Yura jalan.


"Kak, tolong tahan sebentar meski pun terasa tidak nyaman," ucap Yura yang bergegas jalan menuju Kediaman Utama Ratu sambil menggendong saudari kembarnya yang sedang merintih kesakitan.

__ADS_1


Raja, Yasha, dan Arvan pun berjalan mengikuti Yura dari belakang. Selagi berjalan menuju Kediaman Ratu, Raja memerintahkan seseorang untuk mengumpulkan dokter dan tenaga medis.


__ADS_2