One & Only

One & Only
22 - Perlakuan Tidak Menyenangkan.


__ADS_3

Kini Yura dan Arvan kembali berkeliling di sekitar vila. Namun, kali ini keduanya berjalan terpisah satu sama lain. Ini adalah kemauan Yura yang ingin mencoba untuk berkeliling sendiri tanpa ditemani. Bagi gadis yang kini masih saja memakai cadar itu menikmati waktu seorang diri juga merupakan kebahagiaan tersendiri.


Memutuskan untuk menyudahi aktivitas berkeliling, Arvan pun memilih untuk kembali menuju ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar, Arvan mengeluarkan sapu tangan miliknya pemberian dari Ratu semasa mereka kecil. Hanya untuk memegang sapu tangan itu pun Arvan sangat berhati-hati dan melakukannya dengan lembut.


"Sudah lebih dari 10 tahun aku menyimpan sapu tangan ini, bahkan saat itu usiaku masih 10 tahun, yang berarti usia Ratu saat itu masih sembilan tahun, tapi aku masih sangat menyukainya sejak pertama kali bertemu," batin Arvan


"Sayang sekali sapu tangan kesayanganku ini sudah robek, padahal aku sudah menjaganya dengan baik. Sejak insiden penari kipas itu, sapu tangan ini sudah pernah kucuci, tapi sepertinya sapu tangan ini sudah kotor lagi. Lebih baik aku cuci sekarang juga," gumam Arvan


Arvan pun beralih mencuci sapu tangan kesayangan miliknya di dalam kamar mandi dengan menggunakan sabun pencuci pribadi miliknya. Lelaki itu seolah tak membiarkan sapu tangan kesayangan miliknya itu kotor sedikit pun. Sedikit saja noda menempel, Arvan selalu sudah akan mencucinya. Saat mencuci pun, Arvan lakukan dengan lembut dan hati-hati. Karena itulah sapu tangan kesayangan miliknya selalu bersih, wangi, dan tampak seperti baru, meski warnanya sudah mulai memudar karena sudah dimilikinya sejak lama.


Setelah mencuci sapu tangan kesayangan miliknya, Arvan hanya meletakkannya di dekat jendela kamar agar dapat mudah kering saat mendapat cahaya matahari. Tentu saja, lelaki itu memastikan lebih dulu bahwa tempat ia meletakkan sapu tangan itu bersih tanpa noda dan debu.


"Aku sudah sering menggunakan sapu tangan ini kapan pun dan di mana pun, bahkan di hadapan Ratu sekali pun seperti saat makan pagi tadi, tapi Ratu bahkan tidak pernah berkata apa pun saat melihat sapu tangan ini. Namun, saat Yura yang melihatnya, dia langsung teringat pernah melihat sapu tangan ini sebelumnya. Apa Ratu sama sekali sudah tidak ingat dengan kejadian saat kami pertama kali bertemu dulu? Apa kejadian itu tidak berarti apa-apa baginya bahkan saat dia mengajakku untuk berteman? Sepertinya aku memang tidak sebanding dengan Raja. Itu adalah hal yang sudah pasti, sebenarnya apa yang aku harapkan dari wanita yang sudah bersuami? Bahkan dia adalah Ratu tercinta dari Raja Agung negara ini," gumam Arvan


"Yura tadi tidak marah karena aku menolaknya yang ingin membenarkan sapu tangan ini, kan? Semoga saja tidak. Coba saja, sapu tangan ini pemberian darinya, maka aku akan membiarkannya membenarkan sapu tangan ini. Sayangnya sapu tangan ini pemberian seseorang yang lebih istimewa darinya untuk bisa dia sentuh. Tapi, tunggu ... apa aku mengakui kalau Yura juga istimewa bagiku? Apa karena wajahnya yang sangat mirip dengan Ratu? Lelaki apa-apaan aku ini? Kenapa perasaanku yang dalam ini jadi mudah tergoyah sejak bertemu dengan Yura yang bahkan belum sampai satu bulan ini?" batin Arvan


Berada di dekat jendela, Arvan jadi bisa melihat pemandangan dari dalam kamarnya. Arvan juga bisa melihat Yura yang sedang berkeliling tak jauh dari sana. Lelaki itu langsung tersenyum saat melihat sosok Yura.


Namun, sepertinya terjadi sesuatu saat Yura sedang berkeliling dan Arvan melihat itu.


Yura yang sedang berkeliling terlihat dihampiri oleh pelayan lelaki vila tersebut. Awalnya keduanya tampak berbincang. Namun, sepertinya Yura terlihat merasa jengah dan meninggalkan pelayan lelaki itu. Namun, dengan beraninya pelayan lelaki itu mengejar Yura dan keduanya tampak mulai berdebat.


"Aku tahu kau orang yang lembut. Masa kau menolak orang yang berbaik hati ingin menemanimu?"


"Maaf, tapi aku ingin kembali berkeliling, SENDIRI SAJA ... " jawab Yura yang memberi penekanan di akhir kata-katanya.


"Kita ini sama-sama pelayan. Kau pelayan di Istana Kerajaan dan aku pelayan di Vila Kerajaan, jadi jangan bersikap sombong."


"Kita sama-sama pelayan, tapi sepertinya kau lebih muda dariku. Berapa usiamu?" tanya Yura yang kembali meladeni pelayan lelaki itu.


"Apa pentingnya usia sekarang ini? Kalau kau tahu, apa kau ingin mengambil inisiatif lebih dulu?" Pelayan lelaki itu mulai mengdoda Yura.


"Jadi, kau lebih suka yang lembut atau yang mengambil inisiatif lebih dulu?" tanya Yura memancing.


"Aku juga suka yang memiliki inisiatif lebih dulu, lebih baik kalau dengan lebih berani."


Saat itu Yura mulai mengeluarkan kipas lipat miliknya. Ia melebarkan kipas tersebut dan mamatut kipas di depan wajahnya.


"Buat apa kau menggunakan kipas itu untuk menutupi wajah? Bukankah wajahmu sudah tertutup cadar? Kau ini misterius sekali, tapi aku suka."


"Kau punya banyak kriteria, rupanya. Aku menggunakan kipas ini agar kau lebih tahu pesona yang kumiliki dan sepertinya di sini mulai panas, ya?" tanya Yura seolah sedang merayu.


"Benar. Sedikit lebih panas dan apa kau mau kubantu?"

__ADS_1


"Tunggu sebentar, aku ingin menentukan konsep diriku dulu. Aku ingin menjadi kriteria pemberani karena itulah kepribadianku. Kau nikmati saja," ujar Yura yang langsung melangkah maju dan merentangkan tangannya ke depan hingga kipas yang berada di genggamannya menyentuh pelayan lelaki di depannya.


Pelayan lelaki itu pun langsung tercekat mematung saat merasakan sesuatu dari kipas yang tajam menempel pada kulit lehernya. Ia bahkan merasa takut saat melihat tatapan Yura yang penuh keberanian yang mengerikan.


Yura membuat tatapan mengerikan yang membuat pelayan lelaki itu semakin takut.


"Kenapa sekarang kau diam saja? Bukankah sebelumnya kau masih banyak bicara? Apa kau merasa takut?" tanya Yura


Pelayan lelaki itu tampak menelan ludahnya dengan susah payah.


"Bukankah kau suka tipe yang pemberani? Apa aku sudah berlebihan? Perlu kau tahu, aku bukan tipe yang lembut, tapi mungkin pemikiran kita berbeda tentang yang suka mengambil inisiatif lebih dulu. Yang kau maksud dengan itu mungkin berbeda, tapi yang kumaksud dengan itu adalah ini. Maksudnya aku bisa saja mengambil inisiatif lebih dulu untuk memberimu hukuman karena kau sudah bersikap kurang ajar dengan pemikiranmu yang suka mengambil inisiatif lebih dulu itu," ujar Yura


"Apa kau merasa penasaran kipas macam apa yang kupakai ini? Biar kuberi tahu padamu, ini adalah kipas khusus penghukuman untuk menindak lelaki sepertimu. Di setiap ujung ruas bambunya dibuat sangat tajam seperti tombak yang tak terlihat, tapi kau pasti bisa merasakannya. Sedikit saja kau salah bertindak mungkin penyebabnya tidak bisa dibayangkan," sambung Yura


"Kau pikir aku takut?" Pelayan lelaki itu berusaha menggertak meski terlihat jelas bahwa dirinya merasa takut.


"Kalau begitu, mari lihat siapa yang lebih berani di antara kita. Kau bebas bertindak, maka aku pun sama. Silakan saja kau coba," ujar Yura


Arvan melihat semua yang terjadi antara Yura dan pelayan lelaki yang sedang bersamanya. Meski tidak bisa mendengar jelas apa yang keduanya bicarakan, Arvan tahu kalau Yura tidak mungkin bertindak semaunya kalau dirinya sendiri tidak merasa terancam.


Melihat itu, Arvan pun bergegas ke luar dari kamarnya untuk membantu Yura.


Sayangnya sebelum Arvan tiba di sana, sudah ada pelayan lain yang melerai situasi. Namun, pelayan itu bukan membela Yura yang diperlakukan tidak baik, tapi justru memihak pada pelayan lelaki yang bersikap kurang ajar itu.


"Harusnya aku langsung ke luar lewat jendela saja tadi. Itu bisa menghemat waktu dan lebih dekat," batin Arvan


"Apa kau akan menerima saat ada orang yang baru kau temui ingin mencoreng nama baikmu?" tanya Yura yang sedang memberi pengadilan atas dirinya yang telah diperlakukan dengan tidak menyenangkan.


"Bukankah kita sama-sama hanya seorang pelayan? Mungkin caranya tadi hanya gurauan untuk menyambut kedatanganmu yang sama seperti kami," ujar pelayan perempuan.


Arvan yang sudah berada di sana sibuk mengatur nafasnya yang sebelumnya harus berlari. Namun, lelaki itu sudah terlalu geram melihat Yura yang lagi-lagi mendapat perlakuan kurang baik.


"Omong kosong apa itu? Apa kalian tahu sekarang sedang berhadapan dengan siapa?" tanya Arvan membentak keras.


"Tuan Penasehat!"


"Arvan, cukup ... " pinta Yura sambil berbisik seolah ingin mengurus masalahnya sendiri tanpa perlu bantuan Arvan.


Yura langsung menurunkan tangannya yang merentang ke depan dengan kipas yang ditodongkan pada leher pelayan lelaki itu.


"Berbeda dengan kalian, aku adalah pelayan yang ditunjuk langsung oleh Baginda Raja. Aku diberi kuasa untuk menghukum siapa pun yang memiliki perilaku buruk," ucap Yura


"Sebenarnya alasannya menyinggung Nona hanya karena tidak suka. Dia tidak suka saat Nona melarang kami para pelayan di sini untuk melayani keluarga Kerajaan yang datang hanya karena sudah ada Nona yang melayani mereka. Jujur saja kami merasa tidak adil karena kami juga ingin memiliki kesempatan untuk melayani Keluarga Kerajaan saat Keluarga Kerajaan bahkan jarang mengunjungi tempat ini," ungkap pelayan perempuan itu.


"Tadi kau bilang tidak adil? Kita ini sesama perempuan, kau harusnya tahu perilaku buruk apa yang hendak dia lakukan sampai aku bilang dia yang seorang lelaki ingin mencoreng nama baikku yang merupakan seorang perempuan. Kalau karena aku yang ingin menghukumnya karena tindakan kurang ajar yang hendak dilakukannya padaku, aku dibilang tidak adil, lalu keadilan apa yang boleh kudapat? Atau aku tidak pantas mendapat keadilan?" tanya Yura

__ADS_1


"Kalau kalian berdua memang berteman, harusnya kau menegurnya bukan membelanya. Lalu, kalau kalian merasa tidak adil dengan larangan melayani Keluarga Kerajaan, bukankah kalian bisa bicara baik-baik perihal itu denganku? Kenapa aku harus memaklumi tindakan kurang ajarnya?" tanya Yura melanjutkan.


"Saya mohon maaf atas nama teman saya. Hei, ayo kau juga minta maaf!"


"Maafkan aku!"


"Padahal dengan perlakuannya padaku, aku bisa saja melaporkan kejadian ini pada Baginda Raja dan akibatnya bukan hanya kalian tidak bisa melayani Keluarga Kerajaan, tapi mungkin saja kalian akan dipecat dari sini dan tidak bisa bekerja di mana pun lagi. Tapi, kalau aku berbuat seperti itu, kalian pasti akan menudingku bersikap tidak adil bahkan kejam dan tidak punya perasaan. Kalau begitu, untuk sekali ini saja aku maafkan, tapi tidak ada lain kali. Kalau sampai hal serupa terjadi lagi, aku sendiri yang akan menghukum kalian," ujar Yura


"Kami mohon jangan lapor pada Baginda Raja!"


"Apa-apaan sikap kalian ini? Bukan permohonan seperti ini yang diharapkan dari kalian. Sudah diberi kesempatan seperti ini, apa kalian masih tidak tahu diri?" tanya Arvan


"Terima kasih atas kesempatan yang diberikan pada kami kali ini. Sekali lagi kami mohon maaf dan jangan laporkan kami. Kami janji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi."


"Sudahlah, sana kembali bekerja. Asal tahu saja, larangan melayani Keluarga Kerajaan sudah dibatalkan. Kalian bisa bekerja seperti yang kalian mau," ujar Arvan


"Baik ... terima kasih banyak, mohon maaf sekali lagi, dan kami pastikan kejadian tadi tidak akan terulang lagi."


Yura hanya mengangguk kecil dan kedua pelayan itu pun beranjak pergi dari sana.


Kini hanya tersisa Yura dan Arvan di sana. Yura menghela nafas pelan dan Arvan pun menatap gadis bercadar di sampingnya.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa wajahku terekspos?" tanya Yura yang menyadari kalau Arvan menatapnya dengan tidak biasa. Gadis itu mengira cadarnya gagal menutupi wajahnya karena suatu alasan, namun rupanya cadarnya masih sempurna menutup wajahnya.


"Yura, kenapa kau tidak membiarkan aku memberi tahu mereka tentang siapa dirimu sebenarnya?" tanya balik Arvan


"Lalu, untuk apa dari awal aku menutup wajah kalau kau akan mengungkap identitasku juga pada akhirnya?" tanya balik Yura lagi.


"Harusnya biarkan saja terungkap agar kau tidak perlu mendapat perlakuan tidak baik dari mereka yang hanya pelayan seperti tadi. Kau bahkan mengakui dirimu juga seorang pelayan, padahal semua akan mudah kalau semua tahu bahwa kau adalah saudari kembar Ratu. Tidak akan ada yang berani macam-macam padamu," jawab Arvan


"Jangan bicara terlalu keras. Aku juga punya tujuan, kau jangan mengacaukannya ... " kata Yura


"Tujuan seperti apa yang kau maksud? Membiarkan orang lain semena-mena terhadapmu? Katakan padaku, apa yang pelayan tadi lakukan padamu? Kau tidak mungkin bersikap seperti tadi kalau bukan dia yang memulai duluan, kan?" tanya Arvan


"Bukan masalah besar, sudah berlalu juga. Aku juga bukan orang yang mudah ditindas atau diperlakukan dengan semena-mena. Kau tenang saja," jawab Yura


"Benar, bahkan aku telat datang untuk membantumu, tapi aku sempat melihat yang terjadi dari jendela kamarku. Meski tidak mendengar dengan jelas apa yang kau bicarakan dengan pelayan lelaki tadi, kau sendiri juga yang bilang pada pelayan perempuan tadi, kalau pelayan lelaki tadi hendak mencoreng nama baikmu sebagai perempuan. Dari situ aku sadar kalau itu tindakan tercela. Bagaimana bisa aku diam saja? Dan kau bisa-bisanya malah menyuruhku untuk tenang?" tanya Arvan


"Tapi, itu tidak benar-benar terjadi dan kalau saja tadi kau tidak datang, mungkin aku akan tampil dengan sangat keren saat membela diriku sendiri. Meski begitu, aku tetap harus mengatakan ini ... terima kasih sudah bersedia datang nembantuku. Maksud yang ingin kukatakan adalah aku baik-baik saja, jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Yura


"Tidak ada yang kulakukan juga, jadi tidak perlu bilang terima kasih," kata Arvan


"Dengan kau memiliki suatu niat saja itu sangat baik, jadi aku tetap harus bilang terima kasih ... " ujar Yura


"Dengan seperti ini juga belum tentu pembicaraan ini sudah berakhir. Aku tetap tidak mengerti, kenapa kau bahkan sampai membawa benda seperti ini? Ini kipas atau senjata? Sebenarnya apa maksud tujuanmu? Apa kau ingin meniru penari yang menyebabkan kakakmu sendiri sampai terluka?" tanya Arvan sambil menunjuk ke arah kipas lipat yang berada di dalam genggaman tangan Yura yang sempat digunakan untuk menodong pelayan lelaki sehelumnya.

__ADS_1


Saat itu Yura berusaha mengalihkan pandangannya. Gadis bercadar itu kini seolah berkata, "gawat, sudah ketahuan ... " terlihat hanya dari sorot matanya yang tak ingin menatap Arvan secara langsung.


__ADS_2