One & Only

One & Only
54 - Berpindah ke Bagian Belakang.


__ADS_3

Yura pun beranjsk dari kamar Raja dan Ratu untuk kembi menuju ke ksmarnya sendiri untuk mengemas barang. Setelah berdiam diri beberapa saat usai mengemas barang, Yura pun beranjak ke luar dari kamarnya.


Saat melangkah ke luar dari kamar, entah hanya perasaannya saja atau memang Yura merasa lorong kamar menjadi lebih sepi dari biasanya.


Lalu, Yura menghampiri pelayan yang tampak sedang merasa bingung di sana dan pelayan itu akhirnya menitipkan suatu barang pada Yura. Yura pun menerima barang titipan itu dengan senang hati dan akan menyimpannya dengan baik.


"Kalau begitu, apa kau tahu ke mana perginya yang lain? Karena sepertinya bukan hanya perasaanku saja yang merasa kalau di sini jadi terasa lebih sepi dari biasanya, kan?" tanya Yura


"Nona belum tahu, rupanya. Semuanya sudah bersiap untuk meninggalkan Vila Kerajaan dan kembali ke Istana Kerajaan bahkan kereta kuda pun sudah disiapkan di halaman luar sana," jawabnya


"Begitu, rupanya. Baiklah, terima kasih sudah memberi tahuku," ucap Yura


"Sama-sama. Apa Nona perlu bantuan atau sesuatu yang lain?" tanyanya


"Tidak perlu. Aku bisa mengurus semuanya sendiri. Terima kasih," jawab Yura


"Tidak perlu sungkan, Nona. Kalau begitu, saya permisi dulu ... " Pelayan itu pun berlalu pergi dari sana.


Yura pun mengambil koper barang yang sudah dikemas dan disiapkan di dalam kamarnya, lalu gadis bercadar itu langsung beranjak ke luar dari Vila.


"Katanya, aku tidak perlu terburu-buru mengemas barang, tapi aku hanya merileks-kan badan sebentar setelah berkemas malah sudah ditinggal ke luar Vila. Untung saja tidak sampai ditinggal pergi dari Vila Kerajaan ke Istana Kerajaan. Dasar, kakak ipar ... " batin Yura


Begitu ke luar Vila, Yura langsung berpapasan dengan pelayan yang bertugas memasukkan koper barang ke dalam kereta barang.


"Saya akan membantu memasukkan koper barang milik Nona ke dalam kereta barang. Jadi, serahkan saja kopernya pada saya."


"Baiklah. Kalau begitu, mohon bantuannya ... " ujar Yura

__ADS_1


Yura melihat Arvan yang sedang berada di dekat kereta barang, maka Yura tidak punya pilihan selain menyerahkan koper barangnya untuk dimasukkan ke dalam kereta barang pada pelayan yang menghampirinya itu. Karena Yura masih ingin membantu Arvan untuk menjauh dari dirinya, meski nyatanya Arvan sudah tidak menginginkan hal itu lagi.


"Kukira Yura sudah lebih dulu ke luar dari Vila, makanya aku terburu-buru ke luar setelah mengemas barang karena ingin bertemu dengannya di luar sini. Nyatanya, bukan hanya Yura yang tadinya masih belum ke luar dari Vila, aku pun tidak bisa bertemu dengan berpapasan langsung dengannya setelah berada di luar sini karena dia masih ingin terus menghindar dariku," batin Arvan


Arvan memang berkemas dengsn cepat. Karena dari awal datang ke Vila Kerajaan pun, lelaki itu tidak memindahkan barang bawaan miliknya ke dalam lemari di dalam kamar dan hanya tetap membiarkannya ada di dalam koper barang. Hal ini sengaja dilakukan olehnya agar bisa cepat berkemas saat hendak kembali ke Istana Kerajaan.


Akhirnya, Arvan hanya mengemas sedikit barang yang memang sempat dikeluarkan dari dalam koper barang miliknya dan dengan cepat ke luar dari kamarnya menuju ke luar Vila. Niatnya ingin bertemu dan menghampiri Yura. Namun, saat ke luar rupanya Yira masih berada di dalam Vila dan begitu Yura ke luar dari Vila, gadis bercadar itu langsung ingin menghindar begitu melihatnya.


"Maaf, Yura. Kami kira kau susah ke luar lebih dulu tadi," kata Ratu


"Tidak perlu bilang maaf, Yang Mulia Ratu. Tidak masalah meski saya tertinggal sekali pun. Saya punya kemampuan bergerak dengan cepat, jadi saya pasti bisa menyusul dengan cepat pula," ujar Yura sambil membuat senyuman mata dengan sedikit menyeramkan.


"Senyuman mata yang mengerikan itu sama seperti saat Yuna sedang marah. Saudari kembar ini memang benar-benar memiliki kesamaan. Harusnya tadi aku memastikan dulu apa Yura masih berada di dalam kamarnya atau tidak. Aku tahu Yura sekarang sedang marah, tapi pasti dia sendiri merasa segan mengakui dirinya sedang marah karena aku adalah seorang Raja dan kakaknya adalah seorang Ratu," batin Raja yang berusaha tidak bergidik ngeri untuk menyembunyikan ketakutannya saat melihat senyuman mata Yura yang tampak mengerikan karena tidak bisa langsung melihat senyum bibir saudari kembar Ratu itu juga karena tertutup oleh cadar.


Saat itu, Rio, seorang pelayan lelaki Vila Kerajaan menghampiri Yura sambil membawa Grace, kuda milik Yura bersamanya.


"Kau rupanya, Rio. Terima kasih, ya ... " ucap Yura yang mengambil alih Grace dari Rio.


"Sama-sama, Nona," balas Rio


"Oh, ya, aku ada ini ... apel yang kuambil di meja makan usai sarapan pagi tadi. Tolong berikan pada Nick. Sampaikan maaf padanya karena aku tidak bisa menemuinya lagi. Namun, suatu saat pasti kami akan bertemu lagi. Kau harus sering mengajaknya bicara kalau kau ingin akrab dengannya," ujar Yura sambil menitipkan sebuah apel pada Rio untuk diberikan pada Nick, kuda hitam Vila Kerajaan.


"Baiklah, akan kuberikan apel ini pada Nick nanti, tapi apa yang akan bertemu denganmu lagi nanti hanya Nick dan aku tidak?" tanya Rio


"Memangnya kau pikir siapa yang akan membawa Nick untuk bertemu lagi denganku nanti kalau bukan kau orangnya, Rio?" tanya balik Yura


"Aku mengerti sekarang. Aku pasti akan membawa Nick untuk pergi menemuimu suatu hari nanti," jawab Rio

__ADS_1


"Bagus, kalau kau bisa mengerti ... " ujar Yura


Rio datang menghampiri Yura sambil membawa Grace untuk menyerahkan kuda berwarna kulit cokelat itu pada pemiliknya. Rio datang bersama Denny yang membawa kuda milik Arvan yang berwarna kulit keabu-abuan untuk diserahkan pada Tuan Penasehat Besar sekaligus Dokter Utama Kerajaan itu.


Arvan merasa tidak suka saat melihat Yura yang tampak akrab dengan pelayan lelaki bernama Rio itu.


"Bibi Yura, bolehkah aku kembali ke Istana Kerajaan dengan menunggang kuda bersamamu saja?" tanya Arsha


"Arsha, keselamatan anggota keluarga kerajaan adalah yang paling penting dan utama. Jadi, lebih baik kau tetap naik kereta kuda," jawab Yura


"Baiklah, aku mengerti. Aku hanya ingin bertanya," kata Arsha


Setelah semua persiapan telah dilakukan, mereka pun mulai bersiap untuk pergi meninggalkan Vila Kerajaan menuju ke Istana Kerajaan.


"Karena semua persiapan sudah selesai, kita akan langsung meninggalkan Vila Kerajaan untuk kembali menuju ke Istana Kerajaan sekarang juga," ujar Raja


"Baik, Baginda Raja."


Setelah itu, Raja, Ratu, dan Putra Mahkota Arsha pun masuk ke dalam kereta kuda. Sedangkan, Yura dan Arvan menaiki kuda milik masing-masing.


Baru sedikit merasa senang karena berpikir bisa menunggang kuda berdampingan dengan Yura seperti saat pergi dari Istana Kerajaan menuju ke Vila Kerajaan, Arvan langsung kembali sedih lagi saat melihat Yura enggan berada di dekatnya.


"Aku akan berjalan menunggang kuda di belakang kereta barang untuk mengawasi dari belakang. Kau jalan saja lebih dulu di depan kereta kuda untuk mengawasi dari depan sana," ucap Yura yang langsung mengendalikan kuda miliknya untuk berpindah ke bagian belakang kereta barang.


Karena dari awal Yura dan Arvan diajak untuk ikut berlibur bersama untuk menjadi pengawal pribadi, Yura menggunakan alasan itu untuk berpindah ke bagian belakang kereta barang untuk mengawasi rombongan dari arah belakang dan membiarkan Arvan berada di depan kereta kuda untuk mengawasi rombongan dari bagian depan.


Posisi laju gerak rombongan adalah kereta kuda di bagian depan dan kereta barang di bagian belakang. Jadi, Arvan yang berjalan sambil menunggang kuda di depan kereta kuda untuk mengawasi rombongan dari bagian depan akan berada paling depan. Sedangkan, Yura yang berjalan sambil menunggang kuda di belakang kereta barang untuk mengawasi rombongan dari arah belakang akan berada di paling belakang.

__ADS_1


__ADS_2