One & Only

One & Only
36 - Waktu yang Tepat.


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Yura nembuka cadar penutup wajahnya diikuti dengan helaan nafas panjangnya.


"Apa aku terlalu berlebihan menanggapi Arvan yang bahkan hanya ingin menjauh dariku? Apa seharusnya aku tidak perlu bicara seketus itu dengannya? Ya ampun, apa aku tidak seharusnya melakukan hal yang seperti itu tadi? Kenapa aku jadi seperti bersikap kekanak-kanakan seperti ini? Ada apa denganku sebenarnya?" Yura bertanya-tanya seraya bermonolog ria.


"Sudahlah, biarkan saja. Harusnya Arvan bisa merasa senang dengan perlakuanku tadi karena itu akan membuatnya semakin mudah untuk menjauh dariku," batin Yura


Yura pun mengunci pintu kamarnya yang telah tertutup rapat itu dan beralih mengganti pakaiannya dengan gaun tidur, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Yura bersiap menyambut mimpi indahnya pada malam hari ini dengan mulai menutup kedua matanya.


...


Seolah menyesali perbuatannya, Arvan bersandar di balik pintu kamarnya yang telah ditutup dan dikunci dengan rapat.


"Sepertinya aku memang tidak akan bisa menjauh dari Yura. Rasanya aku selalu ingin melihat wajahnya dari dekat meski tertutup dengan cadar sekali pun, aku ingin mendengar suaranya yang terkadang meledekku dengan jahil, dan aku ingin lebih sering mengobrol dengannya ... " gumam Arvan


"Tidak peduli dengan siapa yang aku sukai antara Yura atau Ratu. Untuk sekarang aku hanya ingin menjadi lebih dekat dengan Yura sambil terus memerhatikan dan melindungi Ratu dari kejauhan," batin Arvan


Hari ini telah berhasil dilewati meski diakhiri dengan pertengkaran antara Yura dan Arvan. Sungguh hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan.


Semua pun beristirahat dan tidur di kamar masing-masing, seperti Arsha, begitu juga dengan Yura dan Arvan.


Jangan tanyakan tentang Raja dan Ratu. Di malam hari yang dingin ini tentu saja dimanfaatkan dengan baik oleh pasangan suami istri yang telah lama sah untuk saling memadu kasih untuk saling menghangatkan tubuh satu sama lain.


•••


Keesokan harinya.


Kini Ratu sedang membantu Raja untuk bersiap. Ratu memakaikan pakaian pada tubuh Raja serta mengepas dan merapikannya.


"Kak Evan, sepertinya hubungan antara Yura dan Arvan berjalan dengan tidak baik. Bukannya menjadi dekat, justru yang kulihat keduanya jadi menjauh. Bagaimana menurutmu?" tanya Ratu


"Masih terlalu cepat untuk mengatakan kalau hubungan mereka tidak berjalan baik. Mereka berdua masih perlu banyak waktu. Mungkin mereka masih merasa malu-malu untuk menjadi lebih dekat dari sekarang," jawab Raja

__ADS_1


"Namun, aku jadi berpikir ... apa kita terlalu memaksa keduanya untuk menjadi dekat? Apa keduanya merasa tidak menginginkan dan tidak suka dengan perjodohan seperti ini? Apa seharusnya kita tidak melakukan ini?" tanya Ratu


"Jangan menganggap ini sebagai perjodohan untuk mereka berdua. Anggap saja seolah seperti teman aku adalah teman kamu juga, begitu pun sebaliknya. Jadi, kita hanya ingin mengakrabkan dua orang yang dekat dengan kita. Lalu, apa pada akhirnya mereka dua jadi berjodoh atau tidak, biarkan saja itu jadi takdir dan keputusan mereka berdua. Jangan terlalu memikirkan tentang itu dan juga jangan terlalu berharap keduanya akan berjodoh," ujar Raja


"Kak Evan, benar. Mungkin aku sudah terlalu memikirkan masalah ini," kata Ratu


"Jangan bebani pikiranmu dengan sesuatu yang bukan jadi kuasamu. Lebih baik kita cepat selesaikan bersiapnya, lalu kita ke luar untuk makan bersama agar bisa bertemu mereka berdua, jadi kita juga bisa melihat seperti apa perkembangan hubungan mereka berdua," ucap Raja


"Baiklah, sudah selesai. Sekarang, Kak Evan sudah rapi ... " kata Ratu


Ratu tersenyum saat melihat pakaian Raja yang dipakaikan olehnya telah rapi. Ratu merasa senang karena sudah lama tidak membantu Raja berpakaian karena sebelumnya Raja terlalu sibuk dengan urusan kerajaan.


Raja ikut tersenyum saat melihat wajah Ratu yang semakin cantik saat tersenyum. Saat Ratu melangkah mundur agar bisa melihat penampilan Raja dengan jelas secara keseluruhan, Raja malah menariknya agar mendekat. Raja merangkul pinggang Ratu dengan erat.


Ratu terperanjat kaget saat ditarik mendekat ke arah Raja.


"Ada apa, Kak Evan? Bukankah tadi kau bilang, lebih baik kita cepat selesaikan bersiapnya dan ke luar untuk makan?" tanya Ratu


"Apa yang ingin Anda lakukan, Baginda Raja? Anda tidak seharusnya menarik ucapan Anda begitu saja. Jadi, lebih baik kita segera ke luar sekarang juga," ujar Ratu


"Jujur saja, aku lebih suka saat kau menyebutku dengan panggilan Kak Evan dari pada Baginda Raja. Itu terdengar seperti kita sangat jauh untuk menjadi dekat, padahal kita adalah suami istri ... " ucap Raja


Raja menundukkan kepalanya dan bersandar pada ceruk leher Ratu.


"Tak kusangka, Baginda Raja bisa jadi manja seperti ini ... " kata Ratu


"Yang di hadapanmu sekarang ini hanya ada suamimu yang sedang ingin bermanja, tidak ada orang lainnya lagi," ujar Raja


"Jadi, apa yang suamiku inginkan sekarang ini?" tanya Ratu


"Bisakah kau berikan suamimu ini makanan pembuka sebelum kita ke luar untuk makan sarapan bersama yang lain?" tanya balik Raja yang langsung menegakkan kepalanya dan meminta jatah tambahan sambil menatap lurus ke arah bibir Ratu.

__ADS_1


"Ya ampun, Kak Evan, apa masih belum cukup dengan yang semalam?" tanya balik Ratu lagi yang langsung bisa mengerti dengan maksud permintaan Raja.


"Tidak ada kata cukup untuk cinta kita, Yuna-ku sayang ... " jawab Raja sambil menatap penuh harap pada Ratu.


Raja pun langsung bergerak mendekatkan wajahnya pada wajah Ratu. Menyadari itu, Ratu hanya tersenyum dan memasrahkan diri untuk mengikuti keinginan Raja.


Dengan senyuman yang sama, bibir Raja dan Ratu mulai bertaut memadukan kasih. Keduanya tampak bahagia dan berpelukan untuk menghapus jarak yang ada.


Baru sekadar kecupan bibir, sudah terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.


"Ayahanda Raja, Ibunda Ratu, ini aku. Ayo, kita pergi makan bersama ...."


Ratu pun langsung menarik diri dan mendorong Raja.


"Itu anak kita, Arsha. Dia datang menjemput kita untuk makan bersama," ucap Ratu


"Ya, anak kita selalu tahu waktu yang tepat," kata Raja


"Mungkin sifatnya itu mirip dengan seseorang," sahut Ratu yang merujuk pada Raja.


Raja hanya bisa tersenyum. Namun, di dalam hatinya menghela nafas.


"Jangan menunda dengan berlama-lama lagi. Kasihan Arsha sudah menunggu kita," ucap Ratu


"Baiklah, ayo ... " kata Raja yang langsung kembali merengkuh pinggang Ratu.


"Lebih baik Anda melepaskan tangan Anda, Baginda. Tidak enak jika dilihat Arsha nantinya," ujar Ratu


"Tidak masalah. Arsha adalah anak kita. Dia pasti bisa mengerti seperti apa hubungan Ibu dan Ayahnya," ucap Raja


Raja pun langsung mengajak Ratu untuk beranjak ke luar bersama. Ratu hanya bisa membiarkan dan mengikuti ucapan Raja.

__ADS_1


__ADS_2