
Seorang pelayan melihat Yura ke luar dari ruang makan, lalu mengikuti keduanya.
"Sepertinya kudengar Nona Yura dan Putra Mahkota ingin latihan berkuda. Kalau begitu, aku harus sampai ke tempat berkuda lebih dulu," batinnya
Pelayan tersebut pun beranjak menuju ke tempat berkuda melalui arah lain sebagai pemotong jalan agar bisa sampai lebih dulu dan cepat.
Begitu pelayan itu sampai di tempat berkuda, ia langsung menghampiri pengurus di sana.
"Denny, apa semua ini adalah makanan untuk kuda yang ada di dalam?"
"Rupanya itu kau, Rio. Ada apa kau datang ke sini? Apa kau ingin membantuku?"
"Ya, biar aku yang memberi makan para kuda di dalam. Kau kerjakan hal lain saja."
"Bagus. Kalau begitu, lakukanlah dengan baik. Aku ingin mengurus yang lain dulu. Hati-hati, jangan sampai kau terkena tendangan kuda yang mengamuk. Terlebih lagi jangan sampai para kuda itu mengamuk karena ulahmu."
"Aku mengerti. Meski tidak sesering dirimu, aku juga pernah mengurus kuda-kuda di sini. Jadi, kau tenang saja."
Pengurus kuda vila itu pun beranjak pergi dari sana. Tinggallah seorang pelayan yang ternyata adalah Rio yang menggantikan melakukan memberi makan pada kuda-kuda di kandang.
"Beruntung aku mendengar kalau Nona Yura akan datang ke sini dan untung saja aku sudah sampai di sini lebih dulu. Kalau seperti ini pertemuan kami di sini nantinya akan dianggap terjadi secara kebetulan. Ini sesuai yang kuinginkan. Kulihat tadi nona Yura hanya berdua dengan Putra Mahkota. Tidak ada Tuan Penasehat, aku jadi bisa lebih leluasa mendekati nona Yura ... " batinnya, Rio.
Sedangkan Yura dan Arsha berjalan dengan santai sambil melihat-lihat tempat indah yang dilewati bersama. Hingga akhirnya, keduanya pun sampai di tempat berkuda.
"Sekarang kita sudah sampai di tempst berkuda. Arsha, apa kau merasa setelah setelah berjalan cukup jauh? Mungkin kau ingin istirahat lebih dulu sebelum mulai latihan berkuda?" tanya Yura
"Tidak perlu, Bibi. Latihan berkuda adalah istirahat bagiku," jawab Arsha
"Kau punya semangat yang sangat bagus, rupanya. Kalau begitu, kau harus mengikuti semua yang Bibi lakukan, termasuk mulai dari masuk ke dalam kandang kuda. Kau tidak boleh merasa takut atau jijik," ujar Yura
"Aku mengerti. Aku akan mengikuti semua yang Bibi Yura lakukan dan pasti sanggup melakukannya," kata Arsha
"Baiklah, ayo kita masuk ke dalam dan keluarkan kudanya ... " ajak Yura
Arsha pun mengangguk dan melangkah masuk ke dalam kandang kuda bersama Yura.
"Itu dia, Nona Yura dan Putra Mahkota. Akhirnya, mereka berdua datang juga ... " batin Rio yang sudah menunggu.
__ADS_1
"Permisi ... " Yura dan Arsha sudah masuk ke dalam kandang kuda.
"Nona Yura dan Putra Mahkota yang datang, rupanya. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Rio yang sudah lebih dulu berada di dalam kandang kuda.
"Rio, kau ada di sini? Sepertinya pengurus kandang kuda yang kemarin kutemui bukan kau orangnya? Di mana pengurus itu?" tanya balik Yura
"Mungkin maksud Nona Yura adalah Denny. Tadi dia pergi untuk mengurus hal lain yang entah apa, jadi aku menggantikannya mengurus kuda-kuda di sini kali ini," jelas Rio
"Apa kau juga pernah mengurus kuda-kuda di sini sebelumnya? Lalu, apa kau tahu karakter semua kuda yang ada di sini? Apa kau bisa menjelaskannya pada kami berdua?" tanya Yura
"Tentu saja, bisa. Kadang kala aku memang suka menggantikan tugas Denny mengurus kuda-kuda di sini," jawab Rio
Rio pun mulai menjelaskan karakter para kuda yang ada di sana. Mulai dari yang paling penurut hingga paling garang dan sulit diatur.
"Baiklah. Terima kasih karena sudah mau menjelaskan karakter kuda yang ada di sini pada kami berdua, Rio," ucap Yura
"Sama-sama, Nona Yura ... " balas Rio
"Kalau begitu, karena Arsha baru mulai berlatih lebih baik pakai kuda milik Bibi seperti kemarin saja," ujar Yura
"Baik, Bibi ... " sahut Arsha
"Kali ini aku akan ambil satu kuda lagi untukku sendiri," jawab Yura
"Kalau begitu, saya sarankan ambil kuda yang penurut saja," ujar Rio
"Tidak, aku ingin ambil kuda yang paling garang ... " kata Yura
"Tapi, Nona-"
"Aku ingin tahu segarang apa dia sampai punya julukan seperti itu dan aku ingin menaklukannya," ucap Yura
"Apa Nona Yura yakin bisa mengatasinya?" tanya Rio
"Tentu saja, aku selalu yakin ... " jawab Yura
Awalnya, Rio merasa ragu. Namun, saat melihat keberanian dan rasa percaya diri yang terpancar dari sorotan mata Yura, Rio jadi ikut merasa yakin bisa membiarkan dan mempercayakan Yura memilih kuda yang memiliki karakter yang garang sekali pun.
__ADS_1
"Awalnya, kukira karena Nona Yura memakai cadar, dia adalah tipe gadis yang lembut dan pemalu. Namun, rupanya aku salah menilai. Ternyata Nona Yura adalah tipe gadis misterius yang pemberani dan percaya diri. Itu membuatku semakin menyukainya," batin Rio
Rio pun merasa yakin kalau saat ini Yura sedang tersenyum penuh percaya diri di balik cadar penutup wajahnya. Hanya karena hal itu telah berhasil membuat Rio semakin terpesona.
"Baiklah, kalau begitu ... " kata Rio
"Rio, selain rumput segar, apa kau punya buah atau sayuran segar di sini? Kalau memang ada, bisa kau ambilkan?" tanya Yura
"Sepertinya, seharusnya ada. Tunggu sebentar, biar kucarikan dulu ... " jawab Rio
Rio pun beralih ke kotak cadangan pakan kuda untuk mengambil sayuran segar dari sana dan kembali memberikannya pada Yura.
"Saat ini hanya ada sayuran wortel untuk camilan siang kuda di sini," kata Rio
"Tidak masalah. Terima kasih, Rio," ucap Yura sambil mengambil wortel dari tangan Rio.
"Sama-sama, Nona Yura ... " sahut Rio
"Bukankah semua kudanya sudah diberi makan? Lalu, untuk apa lagi sayuran wortel itu, Bibi?" tanya Arsha
"Ini untuk memberi makan kuda yang akan kita ambil untuk berlatih. Semua makhluk hidup tahu makanan yang enak, jadi kita akan membujuk kudanya agar mau ikut bekerja sama untuk berlatih dengan memberikan wortel yang rasanya lebih enak dari pada rumput sebagai makanan kudanya. Kau sendiri yang harus beri makan kudanya dengan wortel ini, Arsha ... " jelas Yura sambil memberikan wortel pemberian Rio pada Arsha.
"Baiklah," kata Arsha yang menerima wortel yang diberikan oleh Yura.
Arsha pun mulai memberi makan wortel pada kuda milik Yura.
"Semua pun tahu rasa wortel original lebih nikmat dari pada rumput segar sekali pun, jadi maukah kau ikut denganku setelah ini?" gumam Yura mengajak kuda berkarakter garang itu bicara.
Kuda garang yang juga keras kepala itu seolah acuh tak acuh saat melihat orang yang tidak dikenalinya.
"Apa kau tidak mau meski kuberikan makanan enak? Kalau begitu, apa aku berikan wortel ini pada kuda lainnya saja?" Yura masih berusaha membujuk kuda garang di depannya.
Saat Yura hendak berbalik pergi, kuda garang itu mulai bergerak maju mendekatinya dari balik pagar bilik kuda dalam kandang besar itu. Yura pun tersenyum dan kembali untuk memberi wortel pada kuda garang itu.
"Bagus, kuda pintar. Aku anggap kau setuju dengan ajakanku untuk ke luar setelah ini," kata Yura
Lalu, kuda garang itu seolah ingin merebut wortel dari tangan Yura dengan cara menarik menggunakan mulutnya. Namun, dengan tenaganya yang kuat, Yura menahan wortel itu di tangannya agar tidak dapat ditarik oleh mulut kuda garang tersebut.
__ADS_1
"Tidak baik merebut makanan dari orang yang berbaik hati yang memberikannya padamu. Kalau kau tidak setuju dengan ajakanku untuk ke luar bersama setelah ini, lebih baik kuberikan saja wortel ini pada kuda lainnya." Yura menjauh dari kuda garang itu dengan melangkah mundur.
Namun, kuda garang itu meringkik sambil menghentakkan kedua kaki depannya secara bergantian menunjukkan ia ingin makan wortel pemberian Yura lagi.