One & Only

One & Only
30 - Saingan Cinta.


__ADS_3

Yura memegangi satu syal yang tersisa dan terus memerhatikannya.


"Masih sisa satu syal lagi, ya, Bibi. Kenapa tidak kau pakai saja?" tanya Arsha


"Bibi cukup dengan memakai selimut saja, Bibi juga sudah memakai cadar yang bisa menghalangi wajah dari rasa dingin," jawab Yura


"Kalau begitu, satu syal yang tersisa ini sia-sia saja dong," ujar Arsha


"Tidak akan sia-sia kalau kau membantu Bibi," kata Yura


"Maksudnya membantu seperti apa, Bibi?" tanya Arsha


"Kau pakaikanlah syal yang tersisa ini pada Paman Arvan. Dia masih belum mendapat selimut atau syal untuk dipakai, kasihan dia karena pasti merasa dingin di luar sini," jelas Yura


"Baiklah. Bibi tetap tunggu aku di sini, ya ... " kata Arsha


Yura hanya mengangguk sambil tersenyum. Arsha pun bangkit dari posisi duduknya dan beralih menghampiri Arvan yang masih sedang menyiapkan tenda teduh.


"Paman Arvan, tolong ke sini sebentar ... " panggil Arsha


"Putra Mahkota, Anda sebaiknya tidak ke sini. Khawatir akan ada barang yang jatuh dari atas dan menimpamu saat kami sedang bekerja," ucap Arvan yang lamgsung menghampiri Arsha.


"Aku hanya akan sebentar dan cepat. Cobalah menunduk sebentar," kata Arsha


"Ini Bibi Yura yang memberikannya padamu dan meminta aku yang langsung pasangkan untukmu. Katanya, jangan sampai kau merasa kedinginan di luar sini ... " sambung Arsha yang memakaikan syal pada leher Arvan saat menunduk ke arahnya yang lebih rendah.


"Terima kasih, Putra Mahkota ... " ucap Arvan


"Bilang saja terima kasih langsung pada Bibi Yura, jangan padaku," ujar Arsha yang langsung kembali beralih untuk duduk di dekat Yura.


Arvan memandang ke arah Yura yang hanya terlihat punggungnya dari belakang.


"Kau masih saja peduli padaku, meski aku sedang berusaha menjauh darimu. Kau sangat baik, Yura. Aku tidak pantas mempermainkan perasaanmu hanya karena kau memiliki wajah yang mirip dengan perempuan yang aku cintai," batin Arvan sambil memegangi syal yang dipakaikan pada lehernya.

__ADS_1


"Aku sudah melakukannya, sudah kuberikan syal itu pada Paman Arvan ... " kata Arsha


"Kau baik sekali. Terima kasih sudah mau membantu Bibi," ucap Yura


"Paman Arvan juga bilang terima kasih padaku dan kusuruh dia bilang terima kasih langsung padamu, Bibi ... " ujar Arsha


"Aku tidak mengerti. Kenapa tidak kau pakai sendiri saja syal itu? Bukankah Bibi juga baru memakai selimut saja? Kalau syalnya kau pakai pasti lebih terasa hangat, kan?" tanya Arsha melanjutkan.


"Saat mengembara Bibi sudah terbiasa dengan udara dingin, jadi selimut saja cukup untuk menghangatkan badan. Lagi pula, Bibi kurang suka memakai syal ... " jelas Yura


"Sebaliknya, kau harus menghangatkan badan dengan baik. Sini biar Bibi rapikan lagi posisi selimut yang kau pakai. Ini pasti tersingkap saat kau bangun dan berjalan ke Paman Arvan tadi," sambung Yura yang memperbaiki posisi selimut yang disampirkan pada pundak Arsha.


Arvan terus terdiam memandangi sosok belakang Yura hingga dirinya disadarkan oleh pelayan lelaki yang membantunya memasang tenda teduh.


"Tuan, tendanya sudah selesai dipasang ... " kata pelayan lelaki bernama Rio.


"Benar. Baik, terima kasih sudah membantu," ucap Arvan


Rio, pelayan lelaki itu melihat ke arah pandang Arvan dan menyadari bahwa Tuan Penasehat itu sedang memandang ke arah Yura.


"Sepertinya Tuan Penasehat juga menyukai Nona Yura. Sebelumnya mereka berdua terlihat dekat. Aku punya saingan cinta, rupanya ... " batin Rio


Arvan terus berdiri mematung sambil terus memandangi Yura dari belakang. Hanya melihat punggung gadis itu saja, Arvan merasakan hatinya bergetar hebat dan berdebar dahsyat. Lelaki itu pun memandang secara bergantian sosok belakang antara Yura dan Yuna hingga menjadi merasa bimbang tak menentu.


"Aku tidak mungkin mengkhianati Raja yang juga sahabat dekatku dengan merebut wanita miliknya, tapi aku juga tidak ingin mempermainkan perasaan Yura hanya karena dia punya wajah yang mirip dengan Yuna. Namun, sebenarnya siapa yang aku sukai? Pemilik perasaan ini adalah Yuna atau Yura?" batin Arvan dalam lamunannya.


Lalu, Arvan tersadar saat lamunannya terbuyarkan oleh teriakan Arsha.


"Paman Arvan, jangan hanya terus berdiri di situ! Bergabunglah dengan kami di sini!" teriak Arsha


"Apa kali ini Yura juga yang meminta Arsha untuk memanggilku? Sebenarnya apa yang aku harapkan, sih? Aku tidak boleh terlalu banyak berharap," batin Arvan


"Benar. Arvan, ke marilah!" seru Raja ikut memanggil.

__ADS_1


Arvan pun tidak punya pilihan selain mengangguk sambil tersenyum. Lelaki itu pun berjalan menuju tikar untuk ikut bergabung dan duduk bersama dengan yang lain di sana.


"Aku harus duduk di mana? Tempat kosong yang tersisa hanya di samping Yura. Padahal aku berniat untuk menjauh darinya, apa aku harus duduk di sana? Ah, aku tidak punya pilihan lain ... " batin Arvan


Arvan pun pergi ke tempat kosong yang tersisa di atas tikar, yaitu di samping Yura. Lalu, lelaki itu duduk di sana.


"Aku duduk di sini," kata Arvan


"Silakan," sahut Yura dengan nada ketus.


Arvan jadi merasa sedih saat mendengar nada suara ketus yang Yura ucapkan padanya. Namun, lelaki itu tidak bisa berbuat banyak karena memang sudah bertekad untuk menjauh dari gadis itu.


"Bukankah terasa sepi jika kita hanya diam sambil melihat pemandangan langit malam seperti ini?" tanya Arsha


"Apa kau merasa bosan, Putra Mahkota? Bukankah sudah ada camilan yang disiapkan oleh pelayan? Kau bisa makan sesukamu," ujar Yura


"Bukan seperti itu maksudku, Bibi. Maksudnya, di saat seperti ini akan lebih baik jika ada yang bercerita supaya suasana lebih seru dan tidak membosankan," ucap Arsha


"Melihat pemandangan langit malam dengan tenang juga menyenangkan," kata Yura


"Yang dikatakan Arsha benar, kalau ada saatnya bercerita pasti lebih seru ... " ujar Ratu


"Bibi Yura, ceritakanlah sesuatu," pinta Arsha


"Apa aku harus menceritakan sebuah dongeng atau legenda?" tanya Yura


"Ceritakan saja pengalamanmu saat membantu suku Barat. Aku ingin tahu soal itu," jawab Raja


"Cerita soal itu, bukan hanya tentang pengembaraan biasa, melainkan tentang pertarungan antar suku. Menurutku, sepertinya agak kurang pantas untuk didengar oleh anak seusia Putra Mahkota," ujar Yura


"Kau tidak perlu merasa khawatir denganku, Bibi. Aku juga tidak akan selamanya akan menjadi anak kecil yang tidak mengerti tentang banyak hal, termasuk hal seperti itu. Aku juga akan terus belajar tentang banyak hal, bahkan sudah pernah belajar tentang sejarah perang kerajaan. Tidak akan jadi masalah jika kau menceritakan hal yang ingin didengar Ayahanda Raja," ucap Arsha


"Putra Mahkota Arsha, memang pintar ... " puji Ratu

__ADS_1


__ADS_2