One & Only

One & Only
76 - Tidak Ingin Tertinggal Pemandangan Indah.


__ADS_3

Arvan sedang bersiap di dalam kamar mandi, sementara Yura sedang memakan roti garlic dengan pendamping susu sebagai minuman yang telah dibelikan Arvan sebelumnya.


"Apa yang kau lihat sampai seperti itu?" tanya Yura saat melihat Arvan ke luar dari kamar mandi sambil memerhatikannya.


"Tidak ada," jawab Arvan sambil mengalihkan pandangannya.


"Apa kau sungguh tidak masalah berada di dalam satu kamar dengan seorang lelaki? Kau bahkan dilihat dan melihat lelaki itu ke luar masuk kamar mandi. Meski tetap memakai pakaian lengkap, apa sungguh tidak ada masalah sama sekali? Sedikit pun, tidak? Padahal sedari tadi aku sangat gelisah dan tidak karuan," sambung Arvan bergumam di dalam hati dengan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Yura, meski pun telah berusaha.


"Apa kau belum makan atau masih lapar? Atau, apa kau sudah merasa lapar lagi setelah makan tadi siang?" tanya Yura yang sadar jika Arvan terus memerhatikannya yang sedang mengunyah makanan dari arah lain.


"Tidak, perutku masih aman kok. Namun, apa kau tidak ingin menghangatkan makananmu dulu? Bukahkah itu sudah jadi dingin dan membuat rasanya jadi kurang nikmat?" tanya balik Arvan


"Mau masih hangat atau tidak, bagiku sama saja. Rasanya tetap sama. Yang penting masih layak makan. Kan, tidak mungkin kau memberiku makanan basi," jawab Yura


"Mana mungkin aku tega memberikan makanan kadaluarsa padamu," gumam Arvan


"Aku memang suka makanan hangat, tapi aku juga sudah cukup terbiasa mengonsumsi makanan yang sudah dingin selama mengembara. Itu tidak jadi masalah karena yang penting masih bisa dikonsumsi," ucap Yura


"Katakan jika memang ada sesuatu yang mengganjal. Selagi ada kesempatan, kau juga boleh bertanya jika mau," sambung Yura yang merasa risih saat menyadari Arvan masih terus memandanginya.


"Sebenarnya aku masih tidak menyangka bahwa kau tidak merasa keberatan sama sekali dengan kita yang berbagi kamar seperti ini," ujar Arvan


"Rupanya, kau masih ingin membahas soal ini. Sepertinya, aku harus mengatakannya padamu. Selama aku mengembara, aku juga cukup sering menginap di pengungsian bersama pengungsi lainnya. Yang kumaksud bukan dengan pria asing, tapi dengan para wanita dan anak kecil. Aku hanya menganggap kali ini sama seperti pengalamanku yang telah lalu itu," ungkap Yura


"Lagi pula, aku sudah mengatakan dengan keras untuk saling menetapkan pengendalian diri dan batasan masing-masing. Bagiku itu sudah cukup. Atau sebenarnya kau yang merasa keberatan dengan hal ini? Salahmu sendiri malah hanya diam saat melakukan pemesanan kamar hingga terpaksa aku sendiri yang mengambil keputusan. Kalau kau memang sangat keberatan, silakan ke luar dari kamar ini dan pesan kamar lain untuk dirimu sendiri. Sepertinya itu justru bagus," sambung Yura sambil meneguk susu putih dari botol usai menghabiskan roti garlic-nya.

__ADS_1


"Tidak, aku akan terus mengikutimu. Maaf, aku tidak akan mempermasalahkan hal ini lagi," kata Arvan


"Meski begitu, bisa-bisanya kau menganggapku sama dengan wanita dan anak kecil? Aku ini lelaki dewasa yang sangat normal, Yura. Apa kau sama sekali tidak pernah menganggapku sebagai seorang lelaki?" batin Arvan yang seketika bersedih hati.


"Aku katakan padamu kalau aku tidak butuh pengawal atau penjagaan karena aku bisa menjaga diriku sendiri. Jadi, kalau kau ingin pindah kamar, silakan saja ... " ujar Yura yang akhirnya membuat Arvan terdiam.


Bagaimana pun Arvan tidak ingin berjauhan dari Yura. Namun, lelaki itu merasa kesulitan menahan diri dan terus merasa tidak karuan saat bersama gadis yang dicintainya.


"Jadi, ke mana saja kau sebelum ini? Apa kau terus berada di luar dan makan seorang diri?" tanya Yura


"Ya, awalnya aku ingin mencari makan di luar penginapan, namun akhirnya aku kembali dan hanya makan di dalam penginapan karena tidak biasa ke luar untuk makan sendiri. Biasanya aku selalu bersama Raja. Aku belum lama kembali saat kau terbangun dari tidurmu," jawab Arvan


"Begitu, rupanya. Apa makanan di penginapan terasa enak?" tanya Yura


"Ya, lumayan. Aku bukan tipe orang yang pilih-pilih makanan," jawab Arvan


"Kurasa kau berbohong. Meski pun sedang tertidur, aku terbiasa bersikap waspada selama mengembara hingga saat tidur pun aku tidak meninggalkan seluruh kesadaranku. Aku sadar kau kembali dengan cepat dan terus memandangiku yang sedang tertidur sambil berdiam diri tanpa melakukan apa-apa," batin Yura


Meski tahu dan sadar atas perbuatan Arvan yang diam-diam terus memandanginya saat tertidur, Yura hanya membiarkannya karena Arvan pun tidak melakukan tindakan buruk atau berlaku macam-macam terhadap dirinya.


Setelah itu, keduanya bersiap untuk pergi ke luar begitu malam tiba.


Seperti biasa, Yura memakai cadar miliknya untuk menutupi sebagian wajahnya. Ia dan Arvan pun sudah siap dengan mengenakan jubah masing-masing.


"Karena sudah memakai jubah, setelah ini kita hanya perlu mencari topeng sebelum mendatangi toko senjata itu," ujar Arvan

__ADS_1


"Jangan lupa juga dengan berbelanja untuk dijadikan buah tangan. Aku tetap akan melakukannya meski sendiri kalau kau tidak mau menemaniku," ucap Yura


"Tentu saja, aku ingat dan akan menemanimu. Pokoknya, aku ikut denganmu ... " kata Arvan


Yura dan Arvan pun beranjak ke luar dari dalam kamar hingga ke luar dari penginapan.


"Sepertinya kita harus mencari kereta kuda sewaan," gumam Yura


"Apa tidak ingin menaiki kuda seperti sebelumnya saja? Apa mungkin itu terlalu merepotkan?" tanya Arvan yang dapat mendengar gumaman Yura.


"Kau pikir saja sendiri," jawab Yura dengan ketus.


"Yura terkadang baik, terkadang juga ketus denganku. Sepertinya dia memang masih marah denganku," batin Arvan


Saat itu, penjaga penginapan tersebut menghampiri keduanya lagi.


"Permisi, Tuan dan Nona. Apa Anda berdua ingin pergi? Apa ingin mengeluarkan kuda dari kandang penitipan atau ingin mencari kereta kuda sewaan? Atau apa Anda berdua butuh bantuan lain?"


"Kebetulan, kami berdua memang ingin mencari kereta kuda sewaan karena sepertinya agak merepotkan jika menunggang pribadi. Apa kami boleh minta tolong, bisakah kau carikan kereta kuda sewaan untuk kami? Kereta kuda seperti apa pun juga boleh," pinta Yura


"Baiklah, Nona. Kebetulan saya tahu tempat menyewa kereta kuda di dekat sini. Tunggu sebentar, saya akan kembali setelah mencarinya. Ini tidak akan lama."


"Baiklah, terima kasih banyak sebelumnya ... " ucap Yura


Penjaga penginapan pun segera beranjak memenuhi permintaan Yura untuk mencarikan kereta kuda sewaan.

__ADS_1


Yura dan Arvan pun menunggu di depan penginapan. Karena kali ini keduanya memakai jubah yang mampu menyamarkan penampilan, tidak ada lagi orang-orang yang memandangi atau membicarakan keduanya yang sedang bersama. Namun, pengecualian untuk penjaga penginapan yang bisa melihat keduanya dari dekat. Saat melihat Yura memakai cadar, ia langsung sadar bahwa itu adalah Nona dan Tuan yang sebelumnya menitipkan kuda milik pribadi di penitipan penginapan, meski pun tidak benar-benar mengenali siapa keduanya.


Saat penjaga penginapan kembali dengan kusir pembawa kereta kuda sewaan, Yura dan Arvan pun langsung masuk menaiki kereta kuda sewwan tersebut untuk pergi bersama.


__ADS_2