One & Only

One & Only
133 - Memakai Kacamata.


__ADS_3

Ini adalah hari kedua bagi Yura memakai kacamata. Ini adalah rasa sekaligus pengalaman baru karena sebelumnya Yura belum pernah memakai kacamata, untuk sekadar coba-coba memakai pun tidak pernah. Namun, Yura harus bisa membiasakan diri mulai saat ini.


Selain itu, hari ini Yura sedikit merasa kesepian di kamp prajurit karena kebanyakan pasukan telah pergi ke medan perang. Sama seperti yang telah diprediksi sebelumnya, pasukan musuh akhirnya membatalkan situasi gencatan senjata dan kembali maju ke medan perang. Hingga mau tak mau Yasha pun kembali mempimpin pasukan untuk berperang agar pasukan musuh tidak menyerang atau mengganggu daerah dan orang yang tidak bersalah.


Saat ini di kamp prajurit hanya ada beberapa anggota prajurit yang menunggu giliran untuk maju ke medan perang sebagai pasukan cadangan karena mereka adalah anggota prajurit yang pernah terluka.


Yura yang tidak bisa hanya terus berdiam diri pun beranjak ke luar dari dalam tenda untuk melihat apa ada yang bisa dikerjakan olehnya.


"Nona, apa Anda butuh sesuatu? Kenapa ke luar dan tidak istirahat saja?"


"Terlalu membosankan jika terus berada di dalam tenda, aku ingin menghirup udara untuk menyegarkan diri. Tidak akan ada yang marah karena aku sendiri yang ingin ke luar jalan-jalan," jawab Yura


"Bagaimana keadaan mata Nona saat ini?"


"Sudah jadi lebih baik. Aku selalu rutin meneteskan cairan obat pada kedua mataku. Selain mataku yang sedikit bermasalah, aku sungguh baik-baik saja. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan," jelas Yura


"Jika Nona butuh sesuatu atau bantuan apa pun, katakan saja."


"Baiklah. Kalau begitu, aku ingin memeriksa posko pengobatan dulu," ujar Yura yang langsung beralih pergi.


Saat Yura melangkah masuk ke dalam tenda posko pengobatan, semua anggota prajurit yang ada di dalam sana langaung menatap ke arahnya.


"Selamat pagi, Nona Yura. Bagaimana keadaanmu hari ini?"


"Aku baik-baik saja. Lalu, bagaimana dengan keadaan kalian semua hari ini?" tanya balik Yura


"Sangat baik berkat perawatan dari Nona yang cantik."


"Nona bahkan tetap terlihat cantik saat memakai kacamata. Tidak berubah sedikit pun dan konsisten."


"Terima kasih atas pujiannya. Kalau begitu, sekarang waktunya kalian untuk melakukan pemeriksaan," ucap Yura

__ADS_1


"Apa Nona yang akan memeriksa kami? Bukankah Nona masih harus istirahat?"


"Kalau bukan aku, lalu siapa lagi? Saat ini Arvan sudah pergi ke medan perang. Jangan khawatir aku akan melakukan kesalahan saat pemeriksaan karena aku tidak akan melakukan yang seperti itu. Kalian mungkin akan mendapat giliran untuk pergi ke medan perang, jadi pemeriksaan tetap harus dilakukan," jawab Yura


Setelah melakukan pemeriksaan pada beberapa prajurit yang terluka, Yura pergi meninggalkan posko pengobatan untuk melakukan hal lain yang bisa dikerjakan olehnya. Semua orang ingin melarangnya agar Yura bisa kembali istirahat, namun mereka tak dapat menolak bantuan yang dilakukan olehnya. Karena seperti apa pun juga bantuan Yura juga sangat diperlukan untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan yang ada.


Saat Yura sedang menyibukkan diri, ada rombongan prajurit yang datang di kamp prajurit tersebut. Melihat itu, Yura langsung beranjak menghampiri rombongan prajurit berkuda itu.


"Yang Mulia Ratu."


"Kau salah, dia adalah adik kembar Yang Mulia Ratu."


"Benar. Yang pernah bertarung di arena latihan prajurit di Istana Kerajaan."


"Ya, yang berhasil mengalahkan prajurit yang dilawannya."


"Sekarang dia memakai kacamata. Apa memang biasanya selalu seperti itu?"


"Bukankah kalian adalah prajurut Istana Kerajaan?" tanya Yura


"Benar, Nona. Kepada siapa kami semua bisa menghadap dan melaporkan kehadiran kami di sini?"


"Pasukan sudah pergi ke medan perang. Kalian bisa bicara denganku. Siapa perwakilan dari kalian semua di sini?" tanya balik Yura lagi.


"Saya menghadap Nona. Baginda Raja menitipkan surat untuk disampaikan begitu kami sampai di kamp prajurit ini."


"Kau bisa mempercayakan suratnya dengan memberikan padaku," kata Yura


Surat yang ditulis langsung oleh Baginda Raja pun diserahkan pada Yura. Yura pun lanngsung membuka dan membaca isi surat tersebut.


"Aku mengerti dengan situasi yang telah dilaporkan. Setelah melewati banyak pertimbangan karena mungkin situasi perang berubah jadi semakin buruk, jadi aku memutuskan untuk mengirim prajurit tambahan yang baru bersamaan dengan surat ini. Dengan segala harapan dan doa, semoga semua bisa berjalan dengan baik dan perang akan berakhir dengan cepat." Seperti itulah kurang lebih surat yang ditulis dan bertanda cap Raja Negara Kerajaan Chuya yang telah dibaca oleh Yura.

__ADS_1


"Aku sudah menerima surat ini. Kalian semua bisa masuk dan istirahat di dalam kamp prajurit sambil terus menunggu kabar dari medan perang. Meski begitu, tetaplah bersikap waspada dan siap sedia. Jangan lengah karena kabar dan panggilan dari medan perang bisa datang kapan saja," ucap Yura


"Baik, Nona."


Rombongan prajurit yang baru datang itu pun langsung membubarkan diri untuk masuk ke dalam kamp prajurit.


Rupanya, beberapa dari mereka yang baru datang ikut bergabung bersama anggota prajurit yang ada di posko pengobatan setelah berkeliling sebentar untuk melihat-lihat. Pada akhirnya mereka pun saling mengobrol.


"Apa kau tahu alasan kenapa saudari kembar Yang Mulia Ratu ada di sini?"


"Apa kau tidak tahu atau melupakan sesuatu? Pemimpin Pasukan adalah kakak Yang Mulia Ratu yang artinya juga kakak dari saudari kembar Yang Mulia Ratu. Kami biasa memanggilnya Nona Yura atau Nona Haris. Dia datang ke sini karena ingin membantu Ketua atas perintah Baginda Raja. Awalnya dia hanya datang sebagai bantuan pihak medis, tapi saat baru datang saja dia sudah membantu menyerang pasukan musuh dengan serangan anak panak dari jarak yang jauh. Kemampuannya yang hebat itu tidak main-main."


"Ya, kami juga pernah melihatnya secara langsung saat masih berada di Istana Kerajaan sebelumnya."


"Namun, kalian pasti akan terperangah sekali lagi saat melihat aksinya di sini. Beberapa waktu lalu, Ketua pernah terluka parah. Nona Yura itu, selain punya kemampuan medis yang baik, dia juga bisa menggantikan kakaknya sebagai Ketua saat terluka parah. Tak hanya hebat, nona Yura juga rendah hati. Dia menjadi Ketua untuk menggantikan kakaknya hanya dalam waktu sehari, itu dilakukannya untuk menghormati Wakil Ketua. Jadi, keduanya bertukar posisi jabatan atas saran dari nona Yura sendiri. Wakil Ketua pasukan menjadi Ketua dan nona Yura menjadi Wakilnya."


"Lalu, kenapa nona Yura memakai kacamata? Seingat kami, dia tidak pernah memakai kacamata saat di Istana Kerajaan."


"Beberapa hari yang lalu, beberapa anggota pasukan musuh datang mencari keributan bagai tamu tak diundang. Nona Yura menghadapi mereka seorang diri, dengan satu lawan 10. Mereka bertarung dan nona Yura mengungguli pertarungan. Namun, saat di pertengahan pertarungan, musuh menyerang dengan melakukan cara yang curang. Nona Yura dilempari dengan tanah berpasir hingga melukai kedua matanya. Meski begitu, nona Yura tetap melanjutkan pertarungan seorang diri melawan 5 orang musuh yang tersisa dengan kedua mata tertutup. Nona Yura melarang satu pun dari kami untuk membantunya. Akhirnya, nona Yura tetap berhasil memenangkan pertarungan, namun kedua matanya jadi bermasalah. Sejak itu, nona Yura memakai kacamata."


"Bukankah beberapa hari lalu situasi perang masih dalam gencatan senjata?"


"Memang benar. Setelah nona Yura berhasil melukai pemimpin pasukan musuh hingga terluka parah hingga mereka tidak punya pilihan selain mengajukan situasi gencatan senjata karena tidak ada pemimpin. Namun, dengan sok hebatnya mereka datang membuat keributan. Makanya, setelah nona Yura berhasil mengalahkan mereka beberapa hari lalu, mereka seolah merasa tidak terima dengan kekalahan itu hingga perang kembali pecah. Kami pun tidak habis pikir, padahal mereka yang lebih dulu berulah. Harusnya kami yang tidak terima saat pihak musuh datang membuat keributan saat gencatan senjata telah disepakati."


"Begitu, rupanya. Pasukan musuh sungguh tidak masuk akal, sedangkan nona Yura sangat hebat. Lalu, bukannya Tuan Penasehat Besar Arvan juga sudah datang ke sini?"


"Benar, saat ini Tuan Arvan juga ikut pergi ke medan perang. Kami ingatkan kalian, meski pun nona Yura yang hebat itu sangat menarik perhatian kalian, jangan mengganggu atau berharap padanya. Karena terlihat jelas kalau tuan Arvan sedang mengejar cinta nona Yura. Ini sudah menjadi rahasia umum bagi kami di sini. Jika kalian tidak mau menanggung rasa malu dan sakit hati karena kalah bersaing dengan tuan Arvan yang sama hebatnya dengan nona Yura itu, lebih baik kalian tahu diri dan menyerah lebih awal. Tuan Arvan dan nona itu sudah sangat cocok dan serasi. Mereka berdua pasti bersatu dan kalian tidak akan punya kesempatan lagi."


"Kami sudah lebih dulu menyadari hal ini sejak masih berada di Istana Kerajaan. Perasaan akan ketertarikan hati kami pun sudah lebih dulu pupus dan sirna."


Akhirnya mereka pun saling bertukar cerita antara keseharian di kamp prajurit dengan di Istana Kerajaan. Tak jaramg mereka pun saling membicarakan Yura dan Arvan sebagai calon pasangan yang terlihat sangat cocok dan serasi.

__ADS_1


__ADS_2