One & Only

One & Only
45 - Memilih Tempat Menunggu.


__ADS_3

Saat tersisa dirinya seorang diri di dalam kamar, Yura pun membuka cadar yang menutupi sebagian wajahnya dengan bebas.


"Hanya perasaanku saja ... sepertinya tadi aku melihat pintu kamar Arvan sedikit terbuka dan aku juga sempat melihat sosok Arvan meski hanya sekilas. Entah itu benar atau tidak, yang jelas Arvan tidak mungkin mencariku karena dia ingin menjauhkan diri dariku. Jadi, aku tidak perlu memikirkannya," batin Yura


Lalu, Yura pun segera beranjak untuk istirahat.


•••


Keesokan harinya.


Seperti kemarin, usai sarapan bersama, Arvan langsung beranjak pergi meninggalkan ruang makan dengan cepat.


"Lagi-lagi Arvan langsung pergi begitu saja," gumam Ratu


"Bibi Yura, kali ini aku ingin bersama ayahanda Raja dan Ibunda Ratu. Tidak apa-apa, kan?" tanya Arsha


"Tentu saja, tidak masalah kok. Arsha, nikmatilah waktu bersama keluargamu dengan baik," jawab Yura


"Kalau begitu, saya permisi lebih dulu ... " sambung Yura


Yura pun berlalu pergi dari sana. Membiarkan kebersamaan antar keluarga kerajaan tanpa berniat untuk mengganggu.


Kali ini Arsha lebih memilih untuk menggunakan waktu lebih banyak bersama keluarga dengan mengobrol sambil berkeliling.


"Arsha, apa kau senang bisa terus bersama bibi Yura-mu kemarin? Apa saja yang kalian lakukan bersama?" tanya Raja


"Bersama bibi Yura selalu terasa menyenangkan. Sama seperti sebelumnya, kemarin aku berlatih menunggang kuda dan bela diri dengan bibi Yura," ungkap Arsha


"Kau tidak meminta bibi Yura untuk memberi contoh cara bertarung lagi seperti sebelumnya, kan?" tanya Ratu


"Tidak, Ibu. Kemarin kami hanya latihan berdua dan bibi Yura hanya melatihku seorang diri karena tidak ada paman Arvan," jawab Arsha


"Ayah kira kau bersama bibi Yura dan paman Arvan juga kemarin," kata Raja


"Tidak, Ayah. Karena paman Arvan sudah lebih dulu pergi usai sarapan seperti hari ini dan kemarin kami berdua tidak bertemu dengannya lagi setelah itu," ucap Arsha


"Lalu, apa Arsha tahu alasan paman Arvan tidak muncul setelah itu hingga kalian tidak bertemu dengannya?" tanya Ratu


"Aku juga tidak tahu, Ibu. Namun, kemungkinan karena paman Arvan sedang sibuk karena mungkin paman Arvan membawa berkas dokumen Istana Kerajaan sama seperti Ayah, itu kata bibi Yura ... " jelas Arsha


"Berkas dokumen itu bukan Ayah yang membawanya, tapi paman Arvan yang menaruhnya ke dalam koper barang milik Ayah," kata Raja

__ADS_1


"Itu juga yang dikatakan oleh bibi Yura," sahut Arsha


"Kalau begitu, yang dikatakan bibi Yura memang benar. Kalau paman Arvan menaruh berkas dokumen itu ke dalam koper barang milik Ayah, pasti paman Arvan juga membawa berkas dokumen itu bersamanya. Paman Arvan itu tipe orang yang gila kerja," ujar Raja


Sedangkan, Arsha berkeliling bersama Raja dan Ratu, sementara itu Yura sedang berkeliling seorang diri. Karena tidak ada hal lain yang dilakukan dan tidak ada tempat yang dituju, Yura hanya bisa mengunjungi Grace, kuda peliharaan kesayangannya yang berada di kandang vila.


Rupanya, di sana sudah ada Rio yang siap menyambut kedatangannya. Pelayan itu tampak merasa senang saat melihat Yura yang datang.


"Tidak salah aku memilih tempat ini untuk menunggu Nona Yura. Seperti dugaanku, Nona Yura pasti datang karena sangat menyayangi kuda peliharaannya dan itu dapat dilihat dari cara dia melatih Putra Mahkota cara pendekatan dengan seekor kuda kemarin. Apa lagi, berbeda dari kemarin, hari ini Nona Yura datang seorang diri. Kali ini pasti lebih mudah untukku mendekatinya," batin Rio


Rio pun langsung menghampiri Yura.


"Nona Yura, kali ini kau datang seorang diri saja? Tidak datang bersama Putra Mahkota lagi?" tanya Rio


"Ya, kali ini aku datang seorang diri. Aku ingin menemui Grace," jawab Yura


"Silakan. Para kuda baru saja menyelesaikan sarapan paginya, termasuk Grace juga," kata Rio


"Lalu, apa kau juga seorang diri saja di sini, Rio? Di mana pengurus kuda yang biasanya? Katamu, namanya Denny, kan?" tanya Yura sambil berjalan menuju ke arah pagar bilik tempat kuda miliknya berada.


"Dia sedang membuang kotoran setelah membersihkan kandang sejak pagi, jadi aku di sini menjaga kudanya," jawab Rio


Yura pun menemui kuda peliharaannya dan pelaari cepat bernama Grace itu tampak senang saat bertemu dengan Yura dan terlihat bertingkah manja pada pemiliknya itu.


Rio berusaha untuk tidak merasa cemburu saat tahu Yura mengingat nama Denny sebagai pengurus kuda. Namun, Rio langsung merasa cemburu saat melihat Grace yang hanya seekor kuda bisa bertingkah manja terhadap Yura.


"Jadi, apa Nona Yura akan membawa Grace untuk pergi jalan-jalan bersama?" tanya Rio


"Bagaimana menurutmu, Grace? Apa kau ingin pergi jalan-jalan denganku di luar?" Yura bertanya pada kuda miliknya.


Kuda dengan warna kulit coklat itu langsung meringkik dengan girang menunjukkan keinginannya untuk pergi jalan-jalan bersama Yura.


"Karena kau sudah setuju, ayo kita ke luar sekarang ... " kata Yura


Yura pun membuka pagar bilik di mana Grace ditempatkan dan mengeluarkannya dari sana.


Saat itu Denny, si pengurus kuda kembali masuk ke dalam kandang.


"Ada Nona di sini, rupanya ... " sapa Denny


"Ya, aku ingin mengajak Grace untuk jalan-jalan sebentar di tempat berkuda sini saja," kata Yura

__ADS_1


"Nama yang cocok untuk kuda yang cantik milik Nona. Kalau begitu, biar saya bantu pasangkan pelananya," ujar Denny yang langsung mengambil sebuah pelana di sana untuk dipasangkan pada punggung kuda milik Yura.


"Denny, karena kau sudah ada di sini, aku ingin meminjam salah satu kuda untuk menemani Nona Yura berkuda di luar. Bolehkah?" tanya Rio


"Boleh saja. Memangnya kau ingin bawa kuda yang mana?" tanya balik Denny


"Aku ingin membawa Nick," jawab Rio


"Jangan dia, lebih baik kau pilih kuda lain saja. Kau tahu sendiri karakter yang dimiliki oleh Nick itu tidak mudah," larang Denny


"Kau tenang saja, Denny. Aku sudah belajar cara menaklukan Nick dari Nona Yura. Masa kau tidak bisa percaya?" tanya Rio


"Aku percaya pada Nona Yura, tapi tidak denganmu. Kau jangan salah paham," jawab Denny


Tak ingin terus berdebat, Rio memilih mengabaikan Denny dan langsung mengeluarkan Nick dari bilik pagarnya dan langsung memasangkan pelana pada punggung kuda berkulit hitam itu.


"Tidak masalah jika aku menemanimu berkuda, kan, Nona Yura?" tanya Rio


"Silakan saja kalau kau mau," jawab Yura


"Aku tidak akan tanggung jawab kalau terjadi sesuatu padamu, Rio. Yang penting aku sudah memperingatkanmu," kata Denny yang juga tidak ingin terus berdebat dengan Rio.


"Serahkan saja padaku dan tenanglah ... " sahut Rio dengan penuh rasa percaya diri.


"Nick, aku percayakan Rio padamu. Kau harus bersikap baik padanya dan jangan membuatnya terluka," gumam Denny yang beralih mengajak bicara kuda dengan warna kulit hitam bernama Nick.


Nick si kuda hitam itu tampak merespon dengan menghembuskan nafas kudanya.


"Hei, kau harusnya berpesan seperti itu padaku, bukan pada Nick ... " kata Rio


"Sudah kubilang aku tidak percaya denganmu," sahut Denny


"Sepertinya Nick akrab dan patuh padamu, Denny," ujar Yura


"Karena saya yang paling lama mengurus kuda di sini," kata Denny


"Kalau begitu, kau harus lebih banyak belajar cara mengakrabkan diri dengan Nick dari Denny, Rio ... " ujar Yura


"Itu bisa dilakukan nanti, Nona. Untuk kali ini mengikuti caramu yang kemarin pun sudah cukup," kata Rio


"Ya, itu terserah kau saja ... " sahut Yura

__ADS_1


Yura tampak langsung menaiki pelana di atas punggung kuda miliknya dan berjalan ke luar dari kandang dengan menunggangi Grace. Lalu, di belakangnya ada Rio yang mengikutinya dengan menunggangi Nick.


__ADS_2