One & Only

One & Only
68 - Pemikiran yang Berbeda.


__ADS_3

Pegawai toko itu pun beralih meninggalkan Yura dan Arvan, lalu menghampiri pelanggan yang baru datang di sana.


"Permisi, Tuan. Mohon maaf, mau mengambil pesanan atas nama siapa?" tanya pegawai toko itu pada pelanggan yang baru datang tersebut.


Pelanggan yang baru datang pun menyebutkan nama suatu keluarga bangsawan. Lalu, pegawai toko itu pun beralih untuk memanggil pegawai lain untuk menyerahkan pesanan pada pelanggan tersebut.


"Sepertinya pelanggan yang baru datang itu adalah seorang pelayan kalau dilihat dari penampilannya. Apa kau tahu nama keluarga mana yang disebut tadi?" tanya Yura pada Arvan sambil berbisik.


"Lebih tepatnya lagi adalah kepala pelayan dan keluarga yang disebut adalah salah satu keluarga bangsawan yang cukup terpandang," jawab Arvan sambil berbisik pula.


"Kalau begitu, mungkin yang akan muncul untuk melayani dan menyerahkan pesanan pada pelanggan itu adalah pemilik toko ini sendiri," ujar Yura dengan suara pelan.


"Apa itu artinya kita harus waspada?" tanya Arvan dengan suara rendah.


"Meski begitu, kita tidak boleh memperlihatkan kalau kita sedang bersikap waspada. Santailah dan seolah biasa saja," jawab Yura dengan suara kecil.


"Kau juga, kenapa dari tadi diam saja? Harusnya kau ikut bertanya-tanya tentang sesuatu meski sedikit. Tunjukkanlah minatmu sebagai pelanggan sungguhan," sambung Yura


"Aku tidak terbiasa belanja sendiri seperti ini. Biasanya hanya menemani saat Raja bepergian. Maaf," kata Arvan


Benar saja, seperti yang telah diduga oleh Yura. Pemilik toko pun ke luar sambil membawa barang pesanan untuk diberikan pada pelanggan yang baru datang tersebut.


"Benar, ini adalah pesanan kami. Kalau begitu, ini adalah sisa pembayarannya." Pelanggan tersebut memberika sebuah kotak yang kemungkinan berisi uang pada pemilik toko setelah memeriksa barang pesanan yang baru saja diberikan.


"Terima kasih, Tuan. Lain kali pesanlah barang dari toko kami lagi," ucap pemilik toko


Setelah itu pelanggan tersebut pun beranjak ke luar dari toko, sedangkan pemilik toko hendak kembali beralih. Namun, pemilik toko tersebut menghentikan langkahnya saat melihat Yura di sana. Ia ingat dengan gadis bercadar itu.

__ADS_1


Lalu, pemilik toko itu menarik pegawainya untuk mendiskusikan sesuatu.


"Apa kau yang melayani dua pelanggan tadi? Kenapa kau biarkan dia masuk?"


"Benar, keduanya adalah pelanggan yang terhormat."


"Gadis bercadar itu adalah orang yang ingin menyelidiki toko kita!"


"Saya rasa tidak, sepertinya Tuan salah. Nona itu memesan pesanan khusus dalam jumlah banyak, dia juga tahu serba-serbi senjata dengan baik, dan punya selera yang bagus. Saya pikir Nona itu benar-benar hanya ingin membeli barang bagus dari toko ini."


"Memangnya apa yang dia pesan?"


"Nona itu memesan anak panah kualitas terbaik dalam jumlah banyak, yaitu 200 buah. Dia ingin memesan dalam waktu cepat dan bersedia membayar berapa pun biayanya, bahkan sudah memberi uang muka. Dia adalah ciri-ciri orang kaya yang terpandang."


"Tapi, aku bahkan tidak tahu dia berasal dari keluarga mana?"


"Tuan, seperti tidak tahu saja. Mungkin dia adalah anak haram dari suatu keluarga bangsawan, makanya dia memakai cadar karena tidak ingin menunjukkan wajahnya. Pasti seperti itu karena kalau tidak, tidak mungkin seorang Nona malah hobi memesan senjata berbahaya. Kalau dia adalah Nona sah dari suatu keluarga bangsawan, dia pasti lebih memilih untuk pergi ke toko gaun dari pada ke toko senjata seperti ini. Tidak ada Nona sah yang memakai celana, ini pasti bentuk ketidak-patuhan dari seorang anak haram karena tidak diperhatikan oleh keluarganya. Dia pasti hanya ingin menghambur-hamburkan uang keluarga. Namun, dia adalah pelanggan yang berharga karena uangnya yang banyak." Pegawai toko tersebut pun memperlihatkan kantong berisi uang yang diberikan oleh Yura sebelumnya.


Pemilik dan pegawai toko itu pun menghampiri Yura dan Arvan secara bersamaan.


"Permisi, Tuan dan Nona. Apa Anda berdua mungkin ingin makan atau minum sesuatu sambil memesan barang dari toko kami?"


"Tidak perlu karena setelah ini kami ingin melihat-lihat lagi barang selain yang dipajang di ruangan ini. Boleh, kan?" Kali ini Arvan-lah yang lebih dulu membuka suara.


"Tentu saja, boleh. Oh, ya ampun. Maaf karena saya tidak mengenali Tuan Penasehat Besar sebelumnya dan maaf juga atas perlakuan tidak menyenangkan dari saya pada kunjungan Nona sebelumnya."


"Memangnya apa yang telah kau lakukan pada temanku ini?" tanya Arvan yang seolah tidak terima kalau Yura diperlakukan dengan buruk sebelumnya, pemilik toko itu langsung terlihat khawatir saat Arvan seolah marah dengan pertanyaannya.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa kok, tidak masalah ... " jawab Yura yang langsung mampu meredakan amarah Arvan dan hal ini membust pemilik toko merasa lega saat Arvan tidak jadi marah padanya, seolah Yura telah membelanya kali ini.


"Apa pegawai kami sudah melayani Anda berdua dengan baik? Jika ada yang kurang berkenan, mohon maaf karena orang ini adalah pegawai baru di toko kami."


"Justru saya sangat suka pelayanan yang diberikan oleh pegawai ini saat berusaha memenuhi keinginan pesanan teman saya dengan baik," kata Arvan


"Benar, pelayanannya sangat bagus. Justru saya berpikir ingin pegawai Anda ini yang terus melayani kami berdua. Saya hanya ingin dia, tidak ingin orang lain untuk melayani kami bahkan kau yang merupakan pemilik toko ini sekali pun," ujar Yura


"Kalian berdua sudah bisa mendengarnya langsung, kan? Jadi, apa kau bisa memenuhi harapan temanku yang ingin dia sebagai pelayan tetap bagi kami berdua terus ke depannya?" tanya Arvan


"Tentu saja, bisa. Pegawai lain atau saya sekali pun tidak akan mencampuri pelayanan terhadap Anda berdua dan hanya akan pengawai kami ini yang akan melayani Anda berdua ke depannya. Kalau begitu, silakan lanjutkan saja dan mintalah pegawai kami ini untuk melihat-lihat ke ruang barang umum. Saya tidak akan mengganggu lagi dan hanya akan kembali ke dalam ruangan saya dengan tenang."


"Mari, Tuan dan Nona ikuti saya menuju ke ruang barang umum di toko kami."


Yura dan Arvan pun bangkit untuk mengikuti pegawai toko menuju ke ruang barang umum untuk melihat-lihat lebih banyak senjata di sana.


Pegawai toko tersebut mengarahkan jalan agar Yura dan Arvan bisa berjalan lebih dulu menuju ke ruang barang umum. Saat itulah pemilik toko menahan sejenak pegawai tersebut.


"Kerja bagus! Seperti katamu, Nona itu adalah pelanggan berharga. Dia bahkan mampu memikat hati seorang Tuan Penasehat Besar untuk ikut datang ke toko ini. Jadi, kau harus melayani keduanya dengan amat baik."


"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya layanj kedua pelanggan terhormat kita dulu."


Pegawai itu pun menyusul Yura dan Arvan, sedangkan pemilik toko kembali ke dalam ruangan pribadinya sendiri.


"Kalian berdua salah. Arvan itu membenciku bukan terpikat padaku," batin Yura yang sempat mencuri dengar pembicaraan antara pegawai dan pemilik toko tersebut.


"Kalian berdua benar. Yura memang gadis yang berhasil memikat hatiku. Dia adalah gadis yang kusukai," batin Arvan yang juga sempat mencuri dengar pembicaraan antara pegawai dan pemilik toko tersebut.

__ADS_1


Yura dan Arvan sama-sama telah mendengar pembicaraan antara pegawai dan pemilik toko. Namun, keduanya justru memiliki pemikiran yang berbeda terhadap pembicaraan yang terdengar itu karena kesalah-pahaman yang pernah terjadi sebelumnya.


Setelah itu, Yura dan Arvan pun masuk ke dalam ruang barang umum bersama pegawai toko untuk melihat lebih banyak senjata.


__ADS_2