
Usai dari tempat Selir Kedua untuk memeriksa dan memberi ramuan penawar racun bagi Raja, Arvan segera kembali ke kediaman Selir Ketiga. Begitu masuk, tidak ada siapa pun di ruang tengah. Saat Arvan ingin masuk ke dalam suatu kamar untuk melihat keadaan Yura, lelaki itu jadi merasa ragu karena bagaimana pun juga itu adalah kamar seorang perempuan hingga Arvan tidak bisa sembarangan masuk.
Saat Arvan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar di hadapannya, saat itulah Azkia ke luar dari dalam kamar tersebut.
"Kak Arvan, kau sudah kembali ... " sambut Azkia
"Azkia, kenapa tidak ada pelayan di dalam kediamanmu ini?" tanya Arvan
"Tadi ada satu orang, tapi sudah kuminta untuk menjaga Afia di dalam kamar," jawab Azkia
"Bagaimana dengan keadaan Yura? Apa dia sudah baik-baik saja?" tanya Arvan
"Ya, sekarang sudah lebih baik. Kak Yura saat ini sedang istirahat, jadi jangan mengganggunya ... " jawab Azkia
"Biarkan aku melihatnya sebentar saja. Supaya bisa merasa tenang, aku ingin memeriksanya untuk memastikan dia sudah baik-baik saja," ujar Arvan yang langsung menerobos masuk ke dalam kamar di depannya.
"Dasar, kakak yang keras kepala ... " gumam Azkia
Saat Arvan masuk, Yura sedang duduk bersandar pada papan ranjang.
"Arvan, apa itu kau? Kau sudah kembali, bagaimana dengan keadaan Baginda Raja?" tanya Yura
"Ya, aku langsung datang ke sini setelah selesai. Baginda Raja sudah lebih membaik. Kau pasti tahu kalau ada prajurit khusus yang menjaga Baginda secara diam-diam. Begitu isyarat untuk memanggil prajurit khusus dilontarkan, prajurit khusus langsung berdatangan. Jadi, aku sudah meminta bantuan mereka untuk memindahkan Baginda Raja ke kediaman utamanya. Kau sudah bisa tenang sekarang," ungkap Arvan
"Apa kau yakin Baginda Raja sudah baik-baik saja? Sudah tidak ada masalah lagi padanya?" tanya Yura
"Ya, sudah kupastikan itu. Kau sendiri, bagaimana dengan keadaanmu? Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya balik Arvan
"Ya, aku hanya perlu menghangatkan diri setelah sempat berendam dalam air dingin tadi. Apa kau datang kareba ingin memeriksa dan memastikan kondisiku. Apa kau ingin mengecek denyut nadiku? Kalau begitu, silakan saja periksa ... " ujar Yura sambil mengulurkan sebelah tangannya untuk diperiksa oleh Arvan.
Karena tidak membawa peralatan kedokteran, Arvan hanya bisa memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan Yura. Karena Yura sendiri telah mengerti dan menawarkan diri untuk diperiksa bahkan sampai mengulurkan salah satu tangannya, maka Arvan pun dapat dengan mudah dan secara leluasa memeriksa keadaan Yura.
Namun, dapat dilihat dan dirasakan oleh Arvan saat melakukan pemeriksaan kalau tangan bahkan tubuh Yura bergetar meski sangat terlihat bahwa gadis itu berusaha menyembunyikan dan menahan getaran tubuhnya. Entah itu karena Yura merasa kedinginan setelah berendam dalam air dingin atau karena Yura merasa trauma setelah Raja sempat menyerangnya hingga membuatnya tidak nyaman berhadapan dengan Arvan yang merupakan seorang lelaki.
"Syukurlah, kalau kau baik-baik saja. Sebelumnya kau mengatakan agar berhati-hati dengan selir kedua. Memangnya, apa yang kau sadari atau ketahui tentang selir kedua?" tanya Arvan
"Ini hanya dugaanku saja, tapi aku pikir selir kedua punya kemampuan untuk memperdaya seseorang dengan kata-kata. Tepatnya setelah dia menyentuh atau menepuk tubuh seseorang. Karena sekarang aku sadar kalau sebelumnya itu aku tidak bisa menolak permintaannya setelah aku merasa pundakku ditepuk. Aku ingat, dia memanggilku sambil menepuk pundakku, barulah setelah itu dia meminta bantuan padaku ... " ungkap Yura
__ADS_1
"Apa maksudmu selir kedua bisa teknik hipnotis?" tanya Arvan dan Yura menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Hmm ... itu sebabnya kau memintaku berhati-hati dan mengingatkan untuk membuat Baginda Raja sadar. Kita bisa mengetahui hal ini dengan jelas setelah menyelidiki dengan sangat hati-hati. Namun, sudah larut malam seperti ini. Kenapa kau masih belum juga tidur?" tanya Arvan
"Sepertinya malam ini aku tidak akan bisa tidur," jawab Yura
"Apa yang mengganggumu hingga membuatmu tidak nyaman dan tidak bisa tidur? Atau karena aku ada di sini? Kalau begitu, aku akan pergi ... " ujar Arvan
"Kalau kau ingin pergi, bawalah benda di atas meja itu bersamamu," pinta Yura sambil menunjuk ke arah sebuah meja yang ada di dalam kamar tersebut.
"Memangnya benda apa itu?" tanya Arvan
"Hati-hati saat menyentuh atau membawanya, jangan sampai kau melepas kain cadar yang kugunakan untuk membungkusnya. Itu adalah lilin aroma. Aku menduga kalau lilin itu yang membuat Raja mabuk dengan aromanya. Awalnya kukira aroma dari lilin itu hanya aromaterapi biasa hingga aku merasa ada yang aneh pada situasi kamar dan kondisi Raja saat itu, jadi saat aku menyadarinya aku langsung memadamkan api pada lilin itu," jelas Yura
"Namun, tetap saja aku sudah sempat menghirup aromanya, terutama Raja yang sudah lebih lama berada di dalam kamar tersebut. Kuharap kau mau memeriksa kandungan apa saja yang ada pada lilin aroma itu untuk memperjelas dan menyelidiki apa yang telah terjadi malam ini. Aku sengaja membungkuknya dengan cadar milikku agar sidik jari orang yang ada di permukaan lilin itu tidak hilang agar bisa menemukan dalang yang terlibat. Meski pun sudah sangat diyakini kalau selir kedua ada hubungannya dengan semua ini," sambung Yura
"Aku mengerti, tapi yang tidak aku mengerti adalah kenapa kau sangat santai setelah kejadian ini? Setelah mendengar semua cerita dan penjelasan darimu, aku bisa menebak apa yang telah terjadi, tapi bisa-bisanya kau biasa saja? Apa kau tidak merasakan sesuatu sama sekali?" tanya Arvan
"Akulah yang tidak mengerti dengan yang sedang kau bicara dan tanyakan. Sebenarnya apa maksudmu?" tanya balik Yura
"Kan, kau sendiri yang bilang kalau Baginda Raja sempat menyerangmu. Bagaimana Baginda Raja melakukannya padamu? Apa kau merasa tidak takut sama sekali?" tanya balik Arvan lagi.
"Aku tahu, justru karena itu ... bukankah kau sebagai seorang gadis harusnya merasa takut? Baginda Raja menyerangmu dengan menodongkan dirinya sendiri padamu, kan?" tanya Arvan
"Kalau kau sudah mengerti dan bisa menebak apa yang telah terjadi, harusnya kau tahu kalau Baginda Raja bukan karena ingin atau dengan sengaja, makanya melakukan hal seperti itu padaku. Baginda Raja hanya mabuk karena efek aroma obat bius dari lilin itu. Baginda Raja kehilangan setengah dari kesadarannya dan salah menganggapku sebagai orang lain," ungkap Yura
"Tapi, apa kau bahkan tidak merasa takut sama sekali? Meski kau orang yang kuat dan berani sekali pun, kau pasti merasa sedikit takut atau bahkan terbayang-bayang dan menjadi trauma, kan? Buktinya saja kau sampai merasa tidak bisa tidur malam ini?" tanya Arvan
"Jika aku memang merasakan sesuatu sampai seperti yang kau katakan, biarkan itu menjadi urusanku. Apa hubungannya hal itu dengan dirimu? Kenapa kau harus seperti ini? Kalau kau tahu apa yang Baginda Raja lakukan padaku, lalu apa yang mau kau lakukan? Kau mau marah ... apa kau bisa marah pada Baginda Raja? Aku berterima kasih karena kau sudah peduli bahkan sampai menolongku. Namun, cukup sampai di situ ... " jawab Yura
"Sebagai lelaki, aku memang tidak sepenuhnya berguna. Namun, apa kau masih tidak mengerti bahkan setelah aku mengatakannya padamu? Aku seperti ini karena aku menyukaimu," ujar Arvan
"Aku rasa sudah cukup, tidak perlu bahas hal ini atau bergurau lagi. Aku sudah mulai mengantuk. Tolong tinggalkan aku," kata Yura
Arvan menghela nafas pelan. Lagi-lagi Yura tidak percaya dengan pernyataan perasaan darinya.
"Baiklah, aku akan ke luar. Aku akan memberi tahu padamu hasil kandungan lilin aroma ini setelah diperiksa. Selamat malam," ucap Arvan yang berlalu ke luar dari kamar tersebut sambil membawa lilin aroma tanpa melepas kain cadar yang membungkusnya.
__ADS_1
Akhirnya Yura berhasil mengusir Arvan dari kamar tersebut setelah mengatakan kebohongan tentang dirinya yang sudah mulai merasa mengantuk. Setelah Arvan ke luar dari dalam kamar tersebut, Yura memegangi kepalanya yang terasa pusing setelah pembahasan panjang kali ini. Lalu, tangan Yura turun hingga menyentuh kedua pipinya. Gadis itu merasa pipinya mungkin memerah karena terasa memanas.
"Apa ini? Apa efek racun obat bius itu masih tersisa? Kenapa aku jadi merasa seperti ini?" batin Yura bertanya-tanya.
Yura pun mulai membaringkan tubuhnya dan mencari posisi yang nyaman di atas ranjang.
"Pernyataan dari Arvan itu ... apa dia benar-benar menyukaiku? Itu tidak mungkin, kan? Ya, itu pasti hanya sekadar gurauan ... " batin Yura
Arvan pun berpapasan dengan Azkia setelah ke luar dari dalam kamar tersebut.
"Kak, kau sudah ke luar. Apa kak Yura sudah tidur? Padahal aku membuatkan teh hangat untuknya. Kalau begitu, tehnya untukmu saja ... " ujar Azkia
"Aku masih ada urusan. Aku akan langsung pergi. Kau minum saja sendiri teh hangat yang kau buat," kata Arvan yang langsung beranjak pergi ke luar dari kediaman Selir Ketiga.
"Terburu-buru sekali. Kukira kak Arvan akan menginap di sini karena sudah larut malam. Memangnya ada urusan apa lagi tengah malam seperti ini?" gumam Azkia
Karena tidak biasa mengonsumsi apa pun pada tengah malam, Azkia tetap masuk ke dalam kamar untuk mengantar teh hangat buatannya pada Yura. Atau setidaknya Azkia ingin memeriksa keadaan Yura untuk terakhir kalinya jika memang Yura sudah tertidur.
"Kak Yura, sudah tidur rupanya. Namun, kenapa wajahmu terlihat merah seperti itu? Apa kau jadi demam setelah berendam air dingin tadi?" Azkia langsung mendekat ke arah ranjang usai menaruh secangkir teh hangat di atas meja dan beralih menyentuh wajah Yura.
Azkia berniat memeriksa, apakah Yura demam atau tidak. Namun, justru membuat Yura membuka kembali kedua matanya.
"Aku tidak demam dan baik-baik saja. Ini hanya karena rasa kantukku terlambat datang," kata Yura
"Kak Yura, apa aku mengganggu tidurmu?" tanya Azkia
"Tidak, aku memang baru memejamkan mata. Belum benar-benar tertidur," jawab Yura
"Kau datang membawakan teh untukku, ya? Bisa kau berikan padaku. Aku akan meminumnya," sambung Yura setelah kembali beringsut bangkit dari posisi tidurnya dan terduduk di atas ranjang.
"Hati-hati saat meminumnya. Itu masih baru dibuat," kata Azkia berpesan saat memberikan secangkir teh pada Yura karena menyaksikan Yura terburu-buru untuk meminum teh buatannya.
"Rupanya, ini lebih panas dari dugaanku. Aku jadi ceroboh. Namun, terima kasih untuk tehnya ... " ucap Yura
"Sama-sama, tapi apa benar Kak Yura baik-baik saja? Kenapa wajahmu masih saja merah seperti ini?" tanya Azkia
"Ya, ini bukan apa-apa ... " jawab Yura
__ADS_1
"Aku pun merasa aneh dan tidak tahu kenapa jadi seperti ini," batin Yura
Setelah menghabiskan teh hangat dan Azkia ke luar dari kamar tersebut, Yura pun kembali pada posisi berbaring di atas ranjang dan mencoba untuk tidur meski pun sulit.