One & Only

One & Only
91 - Lilin Aroma.


__ADS_3

Setelah Yura ke luar dari kediaman Selir Ketiga, Azkia, Arvan datang berkunjung untuk mememui adik dan keponakan perempuannya.


"Rupanya, Afia sudah tidur. Apa kau juga sudah ingin tidur, Azkia?" tanya Arvan


"Karena Kakak datang, maka aku akan menemani Kak Arvan mengobrol ... " jawab Azkia


"Kudengar, Baginda Raja akan mengunjungi kediaman para selir. Apa Raja tidak datang ke sini?" tanya Arvan


"Tidak, mungkin Baginda Raja pergi ke tempat selir lain. Di sini bukan hanya aku yang merupakan selir Raja. Namun, Kak Arvan datang ke sini untuk mencariku, Afia, Baginda Raja, atau malah kak Yura?" tanya balik Azkia usai menjawab.


"Apa tadi Yura juga habis dari sini? Omong-omong, kenapa kau memanggilnya dengan sebutan Kakak?" tanya balik Arvan lagi.


"Aku memutuskan untuk memanggilnya seperti itu mulai saat ini dan kak Yura juga sudah mengizinkannya," jawab Azkia


"Aku memanggil Nona Yura dengan sebutan Kakak juga bukan tanpa alasan. Bisa dibilang aku hanya ingin membiasakan diri memanggilnya seperti itu mulai dari sekarang," batin Azkia


"Afia, keponakanku yang manis dan lucu. Sayang sekali, kau sudah tidur. Padahal terkadang kau masih terjaga dan sedang bermain pada jam segini, harusnya aku datang lebih cepat lagi ... " gumam Arvan


"Ya, kalau Kakak datang lebih cepat sedikit saja, Kak Arvan bisa melihat saat Afia sedang bermain dengan kak Yura. Meski pun terlihat agak kaku, kak Yura sangat pandai saat membantuku mengasuh Afia. Kak Yura juga punya aura keibuan-nya sendiri," ujar Azkia


"Itu karena Yura sudah sering membantu mengasuh beberapa anak selama mengembara. Bahkan karena itu jugalah dia jadi lebih santai dan tidak menganggapku sebagai lawab jenis yang sudah dewasa," batin Arvan


Arvan pura-pura tidak mendengar dan fokus memandangi keponakan perempuannya yang berbaring di atas ranjang. Padahal lelaki itu sangat senang mendengar sesuatu tentang Yura.


"Kak, apa kau masih belum menyatakan perasaanmu pada kak Yura?" tanya Azkia


"Ayo, kita bicara di tempat lain. Jangan sampai menganggu tidur Afia," kata Arvan yang langsung mengalihkan topik pembicaraan.


"Kak Arvan, kau masih belum menjawab pertanyaan dariku tadi ... " ucap Azkia setelah menjauh dari Afia yang sedang tertidur.


"Dari mana dan sejak kapan kau tahu?" tanya Arvan


"Entah sejak kapan, tapi itu jelas terlihat dari gerak-gerik dan wajahmu. Kupikir ini lebih baik, dari pada kau menyukai Yang Mulia Ratu ... " jawab Azkia


"Rupanya, kau sudah mengetahui semuanya ... " kata Arvan

__ADS_1


"Kak Arvan, kita adalah saudara kandung, kakak dan adik. Kau bisa bercerita padaku tentang apa pun itu. Jangan hanya memendamnnya seorang diri," ucap Azkia


"Adikku benar-benar sudah dewasa, rupanya. Apa karena kau sudah lebih dulu berkeluarga dari pada aku, kakakmu ini?" tanya Arvan


"Mungkin, bisa jadi itu benar dan lagi pula usia kita hanya berbeda 1 tahun ... " jawab Azkia


Setelah itu, Arvan pun menceritakan semua dari awal pada Azkia. Dari Yura yang menyelamatkannya saat kecil dulu dan dirinya yang salah mengira kalau yang menyelamatkannya adalah Yuna.


"Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Arvan


"Berbeda denganmu, aku adalah perempuan. Aku tidak tahu cara bersikap sebagai lelaki, tapi sebagai perempuan ... aku ingin melihat bukti dan kesungguhan dari lelaki yang memang dan benar-benar menyukaiku. Mungkin kau hanya perlu terus berusaha, Kak. Cepat atau lambat, kak Yura juga pasti akan menyadari kesungguhan perasaanmu padanya," jelas Azkia


"Lalu, apa kau merasa bahagia dengan kehidupanmu, Azkia?" tanya Arvan yang sadar bahwa yang menjadi pasangan sang adik justru telah memberikan seluruh perasaannya pada wanita lain.


"Aku sudah memiliki Afia sebagai anakku, tentu saja aku merasa bahagia. Aku juga merasa senang bahwa Raja dan Ratu sebagai keluargaku sangat baik padaku. Lalu, aku juga bisa tinggal dekat dengan Kakak dan anakku juga memiliki kakak dan bibi yang hebat seperti Putra Mahkota Arsha dan kak Yura. Aku merasa bahagia dengan semua itu," ungkap Azkia


"Kau benar, Azkia. Lalu, menurutmu ... apa ayah mengirimku pergi dari rumah karena ayah membuangku?" tanya Arvan


"Kau ini bicara apa, Kak? Apa kau sungguh berpikir seperti itu? Ayah tidak pernah membuangmu. Ayah mengirimmu ke sini karena tidak mau kau besar di tempat yang penuh dengan pertikaian saat seharusnya kau lebih banyak bermain pada usiamu saat itu," jelas Azkia


"Kak Yura adalah orang yang baik. Kalau Kakak menyukainya, kejarlah cintanya dan jangan pernah sakiti hatinya ... " ujar Azkia


"Aku tahu dan pasti akan melakukan yang terbaik. Aku jadi mengerti alasanmu memanggilnya dengan sebutan kakak. Pasti kau juga ingin Yura menjadi kakak iparmu, kan?" tanya Arvan


"Untuk mewujudkannya, Kak Arvan harus berusaha lebih banyak dan keras lagi. Sampaikanlah perasaanmu dengan jujur kalau kau masih belum melakukannya," jawab Azkia


"Aku mengerti," sahut Arvan


...


Yura berjaga di depan pintu kediaman Selir Kedua sambil menunggu Nyonya Frizka kembali dengan perasaan jenuh. Namun, gadis yang tetap memakai cadar untuk menutupi sebagian wajahnya itu tetap fokus selama berjaga karena yang berada di dalam kediaman tersebut adalah Baginda Raja yang terhormat.


Saat itu tiba-tiba saja terdengar suara benda berjatuhan dari dalam kediaman.


"Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi pada Raja di dalam?" tanya Yura seraya bergumam.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan masuk. Permisi ... " sambung Yura yang langsung membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kediaman selir kedua.


Yura melihat ke sekeliling. Tidak ada siapa pun di sana. Lalu, suara benda jatuh kembali terdengar dan arah suara tersebut adalah dari suatu kamar di sana.


"Apa Baginda Raja ada di dalam? Apa aku harus masuk ke sana? Tapi-"


Saat Yura tampak sedang berpikir, suara lainnya kembali terdengar. Hingga tanpa berpikir panjang lagi, Yura langsung masuk ke dalam kamar setelah membuka pintu lebar-lebar.


Begitu masuk, kamar tersebut tampak gelap temaram karena penerangan yang sangat minim. Mungkin itu sudah disengaja untuk menambah kesan romantis, bahkan ada aroma wangi di dalam kamar tersebut yang sangat jelas menambah kesan romantis.


Saat telah mengedarkan pandangan, Yura pun menemukan Raja yang sudah terjatuh bersimpuh dan berpegangan dengan ranjang.


Yura pun berlarian mendekat ke arah Raja dan segera memeriksa kondisi Raja.


Saat memeriksa denyut nadi Raja, Yura mengetahui bahwa Raja masih bernafas. Namun, nafas Raja sangat teratur dan lebih lambat. Itu artinya Raja hanya jatuh pingsan. Saat hendak membantu memindahkan posisi Raja ke atas ranjang, Yura baru menyadari ada yang aneh dengan kondisi Raja dan situasi di dalam kamar tersebut.


"Sudah berapa lama Raja seperti ini?" gumam Yura yang langsung tersadar akan sesuatu.


Yura baru sadar setelah sempat memeriksa kondisi Raja kalau Raja bukan pingsan karena kelelahan seperti yang dikhawatirkan oleh selir kedua, tapi karena obat bius. Dan itu bukan obat bius biasa yang sumbernya adalah aroma wewangian.


Yura langsung menutup hidungnya begitu melihat ke arah lilin aromaterapi yang dinyalakan sekaligus menjadi satu-satunya penerangan di sana.


"Itu bukan lilin aromaterapi biasa, ada yang salah dengan lilin aroma itu. Aku harus memadamkan lilinnya," batin Yura


Kalau langsung memadamkan api dari lilin aroma, penerangan satu-satunya di sana akan hilang sepenuhnya. Jadi, Yura lebih dulu membuka jendela kamar agar pencahayaan alami dari luar bisa masuk ke dalam kamar tersebut dan agar aroma dari lilin tidak hanya terjebak di dalam kamar tersebut hingga bisa menimalkan reaksi obat bius dari lilin aroma.


Lalu, Yura memadamkan api dari lilin aroma dan membungkus lilin aroma dengan cadar miliknya yang telah dilepas dan menyimpan lilin aroma itu ke dalam saku pakaiannya. Yura sengaja tidak memegang langsung lilin aroma dan lebih dulu membungkus dengan cadarnya agar sidik jarinya tidak membekas pada permukaan lilin aroma hingga ia tidak akan dituduh sebagai orang yang memasang lilin aroma tersebut.


"Aku akan memeriksa kandungan lilin aroma ini nanti," batin Yura


Setelah itu, Yura kembali untuk membantu membaringkan Raja ke atas ranjang. Saat itu, Raja pun terbangun dengan kedua matanya yang tampak sayu yang menatap ke arah Yura.


"Yuna, Ratu-ku ... " gumam Raja yang langsung memeluk tubuh Yura yang sedang membantunya untuk berbaring di atas ranjang.


Yura tertegun. Inilah yang Yura khawatirkan dengan kondisi Raja saat ini.

__ADS_1


__ADS_2