
Pada akhirnya, Arvan yang memeriksa kondisi luka prajurit yang kembali ke kamp prajurit bersama Yasha sebelumnya. Karena setelah selesai melakukan pengobatan pada luka di tubuh Yasha, Yura langsung mengompres dahi kakak sulungnya yang suhu tubuhnya meningkat akibat luka parah pada tubuhnya.
"Tidak ada yang salah dengan lukanya. Kau sudah mengobati lukamu dengan baik," kata Arvan pada prajurit tersebut.
"Hanya luka ringan, aku memang baik-baik saja. Ketua lebih memerlukan bantuan medis, dari pada aku."
"Terima kasih banyak karena sudah menyelamatkan Ketua dari medan perang dan membawanya ke mari untuk segera mendapat pengobatan," ucap Yura
"Ya, tidak masalah. Kalau aku tidak memaksa untuk membawa Ketua pergi dari medan perang, entah akan jadi seperti apa kondisinya di medan perang itu."
"Sebenarnya apa yang terjadi di medan perang sana? Kenapa Ketua bisa terluka parah seperti ini?" tanya Yura
"Pasukan musuh memang sangat licik dan kejam. Ketua terluka parah saat berusaha melindungi anggota prajurit lain di medan perang sana."
"Kakak sudah berusaha melakukan yang terbaik. Kalau menjadi dirinya, aku pun akan melakukan hal yang sama," ucap Yura sambil menatap ke arah Yasha yang sedang terbaring lemah.
"Jangan menangis, Yura. Maaf karena sudah membuatmu merasa khawatir seperti ini," kata Yasha yang membuka kedua matanya secara perlahan dan melihat kedua mata adik bungsunya berlinang.
"Masih saja cerewet padahal sudah terluka parah. Jangan melarangku menangis karena Kakak yang sudah membuatku jadi seperti ini. Kalau tidak ingin aku terus merasa khawatir padamu, maka kau harus pulih dengan cepat," ujar Yura
"Kau lebih cerewet padahal aku adalah pasien di sini. Aku pasti bisa serera pulih karena adikku sendiri yang merawatku," sahut Yasha
"Tentu saja. Namun, hanya karena kau adalah kakakku, aku tidak akan bersikap lembut selama masa perawatan. Dan tidak ada yang namanya pasien di sini karena prajurit tetaplah prajurit sekali pun dalam keadaan terluka parah, lagi pula kau adalah pemimpinnya, aku tahu kau tidak selemah itu," ucap Yura
"Syukurlah, Anda sudah bisa sadar, Ketua. Saya tahu Anda pasti akan baik-baik saja." Yasha pun hanya bisa berusaha untuk tersenyum, meski pun terasa sulit karena harus menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Sudah kuduga, kau bahkan mssih sanggup untuk tersenyum. Masa hidupmu masih sangat panjang, makanya ingatlah untuk memakai baju besi sebelum pergi berperang agar kau bisa terlindungi dari serangan musuh dan tidak akan sampai membuatmu terluka parah seperti ini. Sekarang kau hanya bisa berbaring di atas ranjang. Bagaimana nasib pasukanmu di medan perang sana?" tanya Yura
"Ketua memang selalu bersigap dan cepat, Nona Yura. Melihat pasukan musuh datang menyerang, Ketua akan langsung membuat perintah dan membawa pasukan kita untuk bersiap melakukan serangan balik hingga terkadang sudah tidak sempat lagi untuk memakai baju besi."
"Kalau begitu, itu adalah suatu kesalahan dan salah satu kelalaian. Kita tidak bisa melindungi orang lain atau bahkan sebuah negara jika kita tidak bisa melindungi diri sendiri. Terluka dalam pertarungan adalah hal yang wajar hingga hal itu menjadi suatu yang selalu dimaklumi," ujar Yura
"Namun, saat dalam perang kita harus selalu ingat untuk memakai baju besi agar senantiasa aman. Jika tidak bisa memakainya dengan cepat, maka lebih baik tidak perlu pergi berperang. Teknologi yang kita punya sudah cukup maju hingga sudah bisa menyediakan baju besi untuk berperang, sia-sia saja jika kita tidak bisa memanfaatkan hal ini," sambung Yura
"Baiklah, aku sudah menyadari kesalahanku. Maafkan aku karena masih belum becus dalam memimpin pasukan, padahal sudah sampai merepotkanmu untuk membantu membuat strategi perang yang sangat bagus," ucap Yasha
Karena sudah berada di kamp prajurit, Yura tidak menyia-nyiakan semua kesempatan yang ada. Meski pun selalu dapat larangan untuk ikut pergi ke medan perang, beberapa kali Yura ikut hadir dalam rapat untuk mengatur strategi perang. Tidak hanya melihat dan mempelajari cara pengaturan strategi saat rapat berlangsung, Yura pun tak ragu menyuarakan pendapatnya untuk ikut dalam perancangan stategi perang.
Dengan strategi buatannya yang matang dan terencana, semua pun setuju dengan strategi yang dirancang oleh Yura. Meski pun ada yang merasa ragu, saat Yasha sebagai Ketua yang memimpin sudah mengatakan setuju, maka tidak akan ada lagi yang berani menolak atau pun menentangnya.
"Sekarang harus bagaimana? Kakak, Ketua Yasha sudah tidak bisa ikut berperang untuk sementara waktu. Harus ada yang menggantikannya untuk memimpin pasukan. Bagaimana keadaan Wakil Ketua di medan perang sana?" tanya Yura
"Ya ampun, bagaimana ini? Wakil Ketua pasti juga tidak memakai baju besinya. Kak Yasha, kurasa kau harus menunjuk seseorang untuk menggantikan posisimu dalam memimpin pasukan. Siapa yang akan kau tunjuk dan menerima kehormatan itu?" tanya Yura
"Yura, aku perlu dan ingin meminta bantuanmu ... " ungkap Yasha
"Ya, asalkan kau patuh untuk istirahat dengan baik, maka aku akan melakukan apa pun sesuai permintaanmu. Jadi, apa yang kau butuhkan, Kak?" tanya Yura
"Tolong gantikan posisiku dan majulah ke medan perang, jadilah Ketua dan pimpinlah pasukan dengan baik. Tunjukkan pada musuh si Brande itu kalau keturunan Keluarga Earl Haris dari Chuya tidak akan kehilangan taringnya dengan begitu mudah," ungkap Yasha
Saat itu juga semua tampak terkejut, terutama Yura. Padahal sebelum ini Yasha selalu melarang Yura untuk ikut pergi ke medan perang. Namun, kali ini Yasha justru menyerahkan posisi Ketua dan meminta Yura untuk menggantikannya menjadi pemimpin pasukan. Sebenarnya perasaan Yura saat ini lebih mengarah pada hati yang senang, sedangkan Arvan merasa khawatir.
__ADS_1
"Ketua, apa Anda yakin dengan keputusan yang Anda buat barusan itu?"
"Ya, aku sudah yakin dengan keputusan yang kubuat kali ini. Yura adalah perancang strategi yang baik dan memiliki kemampuan bertarung yang baik pula. Yura adalah adik seperguruanku yang pernah berlatih bersamaku dan kulatih sendiri, jadi aku sangat tahu seperti apa kemampuannya," jelas Yasha
"Ya, aku akan menerima dan melakukan amanat darimu dengan baik. Terima kasih banyak sudah memberi kepercayaanmu padaku, Kak. Aku tidak akan membuatmu menganggung rasa kecewa," ucap Yura
"Ya, aku percaya padamu, Yura. Ambillah lencana pemimpin pasukan milikku dan gantikan posisiku di medan perang sana," kata Yasha sambil menyerahkan lencana miliknya pada Yura.
"Kalau begitu, aku akan kembali untuk ikut bersama Nona Yura ... maksudku dengan Ketua Yura ke medan perang sana."
"Berikan saya waktu untuk bersiap. Kalau Tuan Prajurit ingin kembali ikut ke medan perang, pakailah baju besi Anda. Lalu, siapkan juga baju besi dengan ukuran kecil untuk saya pakai. Kita punya persediaan baju besi yang cukup, kan?" tanya Yura
"Ya, akan segera kusiapkan baju besi untuk Ketua Yura."
Yura pun bergegas pergi untuk bersiap dengan cepat sambil membawa lencana pemimpin pasukan yang telah diberikan oleh Yasha padanya.
"Tuan Arvan, kau masih ada di sini. Aku pun ingin meminta bantuan padamu. Tolong kau ikulah ke medan perang untuk mengawasi Yura untukku," ucap Yasha
"Kebetulan aku juga ingin meminta izin darimu untuk ikut ke medan perang. Kalau begitu, aku akan langsung bersiap. Permisi," ujar Arvan
"Sepertinya aku akan segera memiliki ipar lagi," batin Yasha setelah Arvan beranjak pergi.
Setelah selesai bersiap dan memakai baju besi yang telah disiapkan oleh anggota prajurit lainnya, Yura melihat Arvan juga ke luar dari suatu tenda dan telah memakai baju besi.
"Arvan, apa yang kau lakukan? Apa kau juga ingin ikut pergi ke medan perang? Lalu, bagaimana dengan posko medis kalau kau juga ikut pergi?" tanya Yura
__ADS_1
"Ada orang-orang yang membantu dari Suku Barat dan aku juga telah memberi mereka panduan untuk merawat prakurit yang sedang terluka di sini. Kau tenang saja. Bagaimana pun juga aku akan tetap ikut pergi karena Yasha juga sudah memberi izin padaku," jelas Arvan
Setiap harinya memang selalu ada yang datang dari wilayah Suku Barat untuk membantu di kamp prajurit. Karena Arvan adalah putra dari Kepala Suku Barat, maka orang-orang Suku Barat itu selalu menuruti perkataannya karena menghormatinya yang merupakan Pangeran Suku Barat.