
Yura tersenyum saat melihat kereta kuda berjalan pergi menjauh dari tempat itu. Lalu, Yura kembali fokus bertarung pada detik selanjutnya dengan tersenyum seringai dan tatapan mata yang berkilat tajam.
"Kalian sudah salah jika mencari masalah denganku," kata Yura
Yura bertarung dengan sangat serius saat ini, gadis itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menumpas semua lawannya.
Melihat kereta kuda yang pergi dari sana, para penjahat itu hendak mengejarnya lagi. Namun, Yura tidak membiarkan itu terjadi. Yura bergerak dengan cepat hingga membuat satu per satu lawannya tumbang. Bahkan saat melihat lawan yang berusaha menaiki kuda untuk pergi dari sana, Yura dengan cepat melempar belati kecil miliknya hingga akhirnya melesat dan berakhir menancap tepat pada bagian tengah dahi lawan tersebut.
"Tak ada satu pun dari kalian yang boleh pergi dari tempat ini selagi aku masih berdiri tegak dan bernafas," kata Yura
Tak hanya itu, Yura juga mengambil pedang milik lawan yang tergeletak begitu saja di atas tanah hingga kini Yura memegang dua pedang di kedua tangannya. Lalu, Yura pun bergerak dengan membabi-buta dan langsung menyerang titik vital lawan membuat lawannya terkapar jatuh tak berdaya karena serangan mematikannya.
Kurang dari 10 menit bertarung, Yura berhasil menumpas habis lawannya. Tak ada satu pun dari lawannya yang sanggup bangkit kembali karena semuanya telah meregang nyawa. Yura pun menghela nafasnya saat pertarungan berakhir. Namun, Yura tidak merasa senang karena telah membunuh orang. Meski pun begitu, Yura tidak menyesal karena ia terpaksa melakukannya untuk melindungi keluarganya yang berharga.
Setelah pertarungan berakhir, Yura masih harus menyusul perginya kereta kuda yang ditumpangi oleh saudari kembar dan keponakan lelakinya. Yura pun berjalan mendekat ke arah kuda yang ditunggangi oleh para penjahat sebelumnya tanpa membuang senjata yang berada di kedua tangannya yang entah milik siapa dan menaiki salah satu kuda yang ada.
Yura sengaja memilih naik ke atas punggung kuda yang terdapat banyak senjata cadangan di atasnya. Hal ini dilakukan hanya untuk berjaga-jaga jika masih ada penjahat yang mengejar, maka Yura telah memiliki senjata yang bisa digunakan meski pun itu semua milik lawannya sendiri.
Awalnya saat Yura menaiki kuda yang juga merupakan milik lawannya, kuda itu memberontak karena bagaimana pun juga Yura bukanlah pemiliknya. Namun, dengan kemampuan penjinakan yang Yura miliki, kuda tersebut menjadi patuh dengannya. Setelah itu, Yura pun mulai melajukan kuda yang ditungganginya untuk pergi dari sana menuju ke vila milik kedua orangtuanya.
Lalu, dengan sekali siulan beberapa kuda lainnya yang ditinggalkan pun mengikuti kuda yang ditunggangi olehnya, karena Yura merasa tidak tega meninggalkan kuda-kuda itu di sana, maka Yura membiarkan para kuda itu mengikutinya.
Yura bergerak dengan cepat menunggangi kuda dan diikuti oleh kuda lainnya hingga akhirnya ia melihat kereta kuda yang ditumpangi oleh saudari kembar dan keponakan lelakinya.
"Nona, apa itu Anda? Bagaimana Anda bisa menyusul dengan kuda itu?" tanya kusir yang merupakan seorang prajurit yang membawa kereta kuda yang ditumpangi oleh Ratu dan Arsha.
"Ya, ini aku. Aku sengaja mengambil kuda milik para penjahat itu," jawab Yura
"Apa Anda hanya sendiri? Apa masih ada yang mengikuti Anda?"
"Aku tidak mungkin membahayakan kalian dengan menyusul saat masih ada yang mengikuti. Aku sudah mengalahkan mereka semua, setidaknya sementara sejauh ini tidak ada yang mengikuti. Jalan terus saja sampai tempat tujuan, aku akan terus mengikuti dengan menunggang kuda sambil berjaga-jaga," jawab Yura
__ADS_1
"Ibu, itu suara Bibi Yura. Bibi Yura berhasil menyusul kita, Bibi Yura datang dengan menunggang kuda," ucap Arsha
"Ya, Ibu harap Bibi Yura-mu baik-baik saja dan semoga dia tidak terluka parah," kata Ratu
Di dalam hati, Ratu sangat mengkhawatirkan saudari kembarnya yang terluka karena melindunginya serta anaknya.
Di Istana Kerajaan, para prajurit di sana berhasil menangkap beberapa penyusup yang masuk. Cukup banyak penyusup yang berhasil ditangkap.
"Siapa saja, cepat ambilkan kuda milikku. Aku akan pergi ke Vila milik Keluarga Haris. Aku baru bisa tenang saat memastikan keluargaku dalam keadaan baik-baik saja," pekik Raja
"Bawakan kuda milikku juga. Aku akan ikut pergi bersama Baginda Raja. Bawa juga 2 kuda lainnya, 2 prajurit Ratu juga akan ikut bersama kami ... " ucap Arvan
"Rio, Pevita, kalian berdua akan ikut pergi ... " sambung Arvan
"Baik, Tuan. Siap laksanakan," sahut Pevita dan Rio secara bersamaan.
Pevita dan Rio memang ikut bertarung saat ada keributan yang timbul karena para penyusup. Keduanya pun siap untuk ikut pergi bersama Raja dan Arvan.
"Bawa dan masukkan para penyusup ke dalam penjara. Introgasi mereka dengan metode ketat, buat mereka mengaku siapa yang telah menyuruh mereka melakukan pemberontakan kali ini. Tetap lakukan penyisiran di setiap penjuru untuk memastikan tidak ada penyusup lainnya. Lalu, perketat penjagaan juga agar tidak ada lagi kejadian serupa dan yang penting pastikan semuanya aman. Laporkan padaku jika ada apa pun yang terjadi," ucap Raja
Setelah itu, Raja pun beranjak pergi bersama Arvan, Rio, dan Pevita dengan menunggangi kuda masing-masing. Mereka terus pergi tanpa henti sebelum tiba di tempat tujuan.
Namun, tiba-tiba saja Raja menghentikan laju kuda miliknya saat melihat tempat bekas pertarungan. Hal itu membuat Arvan, Rio, dan Pevita ikut menghentikan kuda mereka.
Tempat itu terdapat banyak korban berjatuhan yang kemungkinan besar sudah tak bernyawa. Senjata dengan noda darah berserakan di mana-mana dan darah bersimpah di permukaan tanah.
"Baginda Raja, telah terjadi pertarungan di tempat ini sebelum kita tiba di sini. Dari pakaian korban, mereka adalah kawanan penyusup yang masuk ke Istana Kerajaan malam ini. Rute ini adalah jalan tercepat menuju ke Vila milik Keluarga Haris. Mungkin mereka telah mengejar kereta kuda yang ditumpangi Ratu dan yang lain," ucap Arvan
"Kau benar, Arvan. Semoga saja Ratu dan yang lain baik-baik saja dan berhasil selamat dari kejaran penjahat," kata Raja
"Baginda Raja, apa kami harus melakukan pemeriksaan pada tempat ini?" tanya Pevita
__ADS_1
"Tidak perlu. Bisa dilihat bahwa mereka semua hanya para penjahat yang bahkan sudah mati. Lebih baik kita lanjutkan perjalanan agar bisa cepat tiba di tempat tujuan," jawab Raja
Seperti perkataan Raja, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke Vila milik Keluarga Haris.
Setelah menempuh perjalanan panjang tanpa henti, kereta kuda yang ditumpangi Ratu dan Arsha yang dikendarai oleh kusir yang merupakan seorang prajurit dan juga Yura yang menunggang kuda secara terpisah akhirnya sampai di tempat tujuan, yaitu Vila milik Keluarga Haris.
Begitu melihat ada yang datang dan Yura tampak dalam rombongan, pelayan yang sudah bersiap di gerbang masuk langsung membuka gerbang dengan lebar. Saat itu Tuan dan Nyonya Haris langsung ke luar dari dalam vila.
Nyonya Haris hampir saja jatuh pingsan saat melihat salah satu putri mereka berlumuran darah pada gaun yang dikenakannya. Jika saja tidak ada Tuan Haris yang mendampingi di sampingnya, Nyonya Haris pasti sudah terkulai lemas.
Yura langsung beranjak turun dari atas punggung kuda dengan cepat dan menghampiri kereta kuda. Yang berada di dalam kereta kuda pun beranjak turun ke luar.
"Arsha, kita sudah sampai. Kakek dan Nenek-mu sudah menunggu. Hampirilah mereka dan beri salam," ucap Yura
Arsha pun berlarian menghampiri Tuan dan Nyonya Haris. Lalu, Ratu melangkahkan kakinya.
"Kau tidak perlu membantuku, justru kaulah yang memerlukan bantuan ... " kata Ratu
"Tenanglah, Kak. Aku baik-baik saja. Darahnya sudah berhenti ke luar dan tidak terasa sakit. Namun, wajahmu tampak sangat pucat," ujar Yura
"Tak ada bedanya denganmu wajahmu yang pucat karena kehilangan banyak darah," sahut Ratu. Namun, lagi-lagi Yura hanya tersenyum.
"Seseorang tolong antarkan kusir untuk istirahat. Dia adalah seorang prajurit yang terluka, jadi tolong bantu dia obati lukanya ... " ucap Yura
"Nona, jangan pedulikan saya. Anda juga terluka."
"Kalau kau sudah mengobsumsi pil obat yang kuberikan pasti kau merasakan khasiatnya pada tubuhmu. Itu adalah obat yang dapat menghentikan pendarahan. Kau akan baik-baik saja jika menelan pil obat itu, sama sepertiku yang juga sudah menelannya. Aku akan mengobati lukaku dan kau pun sama," ujar Yura
"Terima kasih atas kerja sama dan bantuan darimu. Semua akan baik-baik saja setelah tiba di sini karena banyak yang orang yang akan menjaga kami. Jadi, kau istirahatlah dengan baik ... " sambung Yura
"Saya tidak pantas menerima ucapan terima kasih dari Anda karena Anda-lah yang telah banyak membantu saja selama di perjalanan tadi. Saya akan langsung istirahat sesuai perkataan Anda. Terima kasih banyak, Nona."
__ADS_1
Seisi Vila milik Keluarga Haris pun menjadi sangat sibuk karena kedatangan putri kembar, serta cucu mereka di sana.