One & Only

One & Only
26 - Contoh Cara Bertarung.


__ADS_3

Yura memberi sesi latihan dengan beberapa contoh gerakan dasar bela diri terhadap Arsha. Arsha pun mengikuti gerakan yang dilakukan dengan baik.


Saat Arsha keliru dalam membuat gerakan, Yura akan membimbing dan membenarkan gerakan Arsha sambil memberi contoh ulang.


Yura juga melatih dan memeriksa seberapa jauh kekuatan yang dimiliki oleh Arsha dengan membiarkan Putra Mahkota yang menjadi murid latihannya itu untuk beberapa kali melakukan serangan pada dirinya dengan contoh gerakan yang telah diajarkan.


Arvan merasa takjub saat sesi latihan yang dilakukan oleh Yura terhadap Arsha. Latihannya sama sekali tidak membosankan bahkan terasa menyenangkan, selalu ada interaksi antara guru dan murid, juga tak jarang ada canda tawa di sela sesi latihan, baik Yura dan Arsha saling tersenyum seolah merasa bahagia tanpa rasa bosan.


Yang membuat Arvan ikut merasa senang adalah saat melihat senyuman Yura yang membuat gadis itu menjadi bertambah cantik. Arvan menyukainya.


"Bibi, apa latihan kali ini hanya sebatas ini? Apa kau tidak ingin melatihku cara bertarung lagi?" tanya Arsha


"Untuk saat ini latihan memang sudah cukup hanya sebatas ini. Latihan melakukan serangan tadi hanya dilakukan untuk nengetes sejauh apa kekuatan yang kau miliki. Masih belum waktunya untuk kau berlatih cara bertarung. Sebaiknya kita lakukan latihan sesuai tahapannya," ungkap Yura


"Baiklah, aku akan mengikuti perkataanmu, Guru ... " kata Arsha dengan patuh.


"Muridku memang pintar," sahut Yura memuji.


Akhirnya, Arsha beralih untuk duduk di tepi ranjang. Mungkin karena kali ini baru benar-benar merasa lelah.


"Latihan kali ini cukup sampai di sini dulu. Kau pasti merasa lelah. Kalau begitu, lebih baik kau makan camilannya dulu, Arsha ... " ujar Yura


"Baiklah, tapi aku mau makan camilan yang diberikan Bibi tadi pagi saja," kata Arsha yang langsung meraih kotak camilan yang sebelumnya ia letakkan di tepi ranjang.


"Baiklah, kalau itu maumu. Kau juga harus minum untuk menghilangkan dahaga dan mencegah dehidrasi setelah latihan. Hanya ada jus jeruk di sini, kau minum dulu ... " ucap Yura sambil memberikan segelas jus jeruk yang telah dituangkan olehnya untuk Arsha.


"Terima kasih, Bibi Yura," ucap Arsha


Yura hanya tersenyum sambil mengangguk. Sedangkan, Arvan sedari tadi tidak lepas dan terus memerhatikan wajah cantik Yura yang tersenyum indah.


"Arvan, kau jangan hanya melamun seperti itu. Makanan dan minumannya jangan diabaikan saja. Kau juga, ayo makan dan minum ... " ujar Yura


"Ah, baik. Kau duluan saja. Ladies first," kata Arvan yang tersadar dari lamunannya yang terus menatap wajah Yura.


Yura dan Arvan pun mengambil camilan dan minuman secara bergantian. Saat itu, Arsha yang awalnya duduk di tepi ranjang kini berpindah bergabung untuk dudu di dekat Yura dan Arvan di atas karpet lantai.


"Arsha, kenapa kau pindah tempat duduk? Sudah benar tadi kau duduk di atas ranjang, rasanya tidak pantas kalau Putra Mahkota duduk di lantai seperti ini ... " ujar Yura


"Akan lebih tidak pantas kalau aku tidak menghormati Bibi dan Paman dengan duduk di atas seorang diri. Lebih baik aku bergabung duduk di sini saja," ucap Arsha


"Kau pintar sekali, Arsha. Kau mengerti sopan santun dan tahu cara menghormati orang yang lebih tua," kata Yura memuji keponakan lelakinya.


"Ibunda Ratu yang telah mengajariku, tapi Bibi Yura ... kau terlihat masih muda," sahut Arsha


"Kau benar, Arsha, tapi Paman Arvan sudah tua. Dia lebih tua dari Bibi," ucap Yura


"Ya, itu sudah terlihat jelas dari wajahnya ... " kata Arsha


"Kalian, Bibi dan keponakan jangan meledekku. Aku juga masih muda dan hanya lebih tua saru tahun dari ibu dan Bibi-mu, Arsha. Paman Arvan seusia ayahmu, Baginda Raja ... " ucap Arvan


"Benar juga. Arsha, apa kau tahu usia ibu Ratu atau ayah Raja?" tanya Yura


"Aku tidak pernah menanyakan soal itu, Bibi," jawab Arsha pertanda tidak tahu.


Arvan pun terkekeh pelan saat Yura gagal mendapat informasi yang ia inginkan.


"Jangan tertawa ... dasar, lelaki tua yang pemalu," bisik Yura meledek Arvan.

__ADS_1


Kali ini giliran Yura yang terkekeh kecil membalas Arvan. Arvan memang berhenti tertawa, namun lelaki itu tetap tersenyum senang saat bisa melihat tawa Yura.


"Arvan, kau sudah melihat latihan kami berdua tadi. Bagaimana menurut pendapatmu soal itu?" tanya Yura


"Tidak membosankan. Caramu melatih cukup menyenangkan dan Arsha juga melakukan latihannya dengan baik," ungkap Arvan


"Terima kasih, Paman Arvan ... " ucap Arsha


"Kukira kau tidak benar-benar memerhatikan kami karena sibuk melamun tadi dan terima kasih atas penilaianmu, Arvan," ucap Yura


Arvan hanya menunjukkan senyum simpul khas dirinya.


"Aku sama sekali tidak melamun tadi, justru aku terlalu fokus melihat ke arahmu, Yura. Mungkin karena itu kau mengira aku sedang melamun, meski kenyataannya tidak seperti itu. Namun, aku tidak bisa mengatakan yang sejujurnya padamu ... " batin Arvan


"Bibi, ada sesuatu yang sedang terpikir olehku. Apa aku boleh mengatakan permintaanku ini?" tanya Arsha


"Katakan saja dulu, apa permintaanmu itu?" tanya balik Yura


"Bibi bilang, belum waktunya untuk aku berlatih cara bertarung, tapi bukankah tidak masalah kalau aku melihat contoh saat dua orang saling bertarung untuk dijadikan latihan? Bisakah Bibi Yura dan Paman Arvan memberi contoh cara bertarung padaku?" tanya Arsha


"Apa malsudmu, kau ingin Bibi dengan Paman Arvan memberimu contoh cara bertarung?" tanya balik Yura memastikan keinginan Arsha.


Arsha hanya mengangguk.


"Itu, kau tanyakan dulu pada Paman Arvan. Apa dia bersedia atau tidak?" tanya Yura


"Paman, bukankah kau punya kemampuan bela diri? Bisakah kau memberi contoh padaku dan coba bertarung dengan Bibi Yura?" tanya Arsha


"Baiklah, kalau itu yang kau mau ... " jawab Arvan


"Kukira kau tidak akan menyetujuinya dengan mudah seperti saat pertama kita bertarung sebelumnya," ujar Yura


"Aku tidak tahu kalau kalian pernah bertarung sebelumnya. Kalian pasti terlihat sangat hebat dan aku jadi sangat menantikan melihat contoh bertarung dari kalian, tapi Paman Arvan tidak akan curang atau melukai Bibi Yura dengan sengaja, kan?" tanya Arsha


"Arsha, kau pikir aku ini lelaki seperti apa? Aku tidak mungkin berbuat seperti itu, asal kau tahu saja ... " ujar Arvan


"Mana kutahu Paman Arvan itu tipe orang yang seperti apa? Karena meski Paman bekerja di Istana Kerajaan, aku tidak dekat dengan Paman karena Paman selalu sibuk dengan urusan yang berkaitan dengan Istana Kerajaan atau ayah Raja dan ibu Ratu. Paman bisa ada di sini saja karena ada Bibi Yura bersama kita," ucap Arsha


"Kau mencurigaiku, tapi kau tidak mencurigai Yura?" tanya Arvan


"Karena aku tahu Bibi Yura bukan orang yang seperti itu, sedangkan Paman ... seperti yang kubilang tadi, kita tidak dekat, jadi aku tidak tahu ... " ungkap Arsha


"Arsha, meski pun semua tindakan didasari dengan kesungguhan dan tanggung jawab, yang namanya latihan itu tidak akan boleh sampai saling melukai. Kau harus mengerti dan ingat hal ini, jadi jika kau sedang latihan dengan siapa pun nantinya kau tidak boleh melukai lawanmu sama seperti yang dilakukan oleh Bibi dan Paman Arvan setelah ini. Apa kau masih ingin melihat kami berdua untuk memberi contoh padamu cara bertarung?" tanya Yura


"Ya, aku mengerti dan akan mengingatnya. Lalu, tolong perlihatkan padaku cara bertarung yang benar, Bibi Yura, Paman Arvan ... " jawab Arsha


Yura melirik ke arah Arvan dan dilihatnya lelaki itu mengangguk tanda setuju.


Sebenarnya Arvan cukup menyukai saat bertarung melawan Yura. Bukan karena itu berarti lelaki itu ingin menyakiti seorang gadis. Namun, Arvan suka saat bisa berdekatan dengan Yura tanpa harus peduli dengan batas jarak etika yang harus dijaga antara lelaki dan perempuan.


Karena bagaimana pun juga saat bertarung aturan etika seperti itu tidak lagi dibutuhkan. Apa lagi, kali ini adalah pertatungan bela diri tanpa senjata yang artinya Arvan bahkan bisa menyenyuh Yura secara langsung.


"Baiklah. Arsha, kau duduklah dan lihat baik-baik," kata Yura


"Baik ... " sahut Arsha


Yura dan Arvan pun bangkit berdiri dan bersiap memilih posisi untuk mulai bertarung.

__ADS_1


"Arvan, kau bukan tipe lelaki yang curang atau sanggup melukai orang lain yang tidak bersalah, tapi apa kau adalah tipe orang yang berdebat dengan ansk kecil dan bersikap kekanak-kanakan? Kenapa kau selalu menyahuti perkataan Arsha yang masih belum mengerti tentang banyak hal?" tanya Yura sambil berbisik.


"Maaf, aku bersalah karena terbawa suasana ... " jawab Arvan dengan suara pelan seolah menyesal.


"Kau terbawa suasana atau terbawa emosi?" tanya Yura


"Benar, aku terbawa emosi sesaat ... " jawab Arvan


Dari posisi bersiap, Yura dan Arvan memulai sesi latihan bertarung melawan satu sama lain. Sedangkan, Arsha terus memerhatikan.


Yura mulai dengan menggerakkan kedua kakinya secara bergantian dan dalam tempo gerakan yang berbeda. Yura menggerakkan kaki kanannya dengan gerakan lambat dan hanya menggeser dengan sedikit menyeretnya, menandakan siap melakukan serangan. Lalu, kaki kirinya digerakan setengah perlahan saat diangkat.


Begitu Arvan mengira Yura akan menyerangnya dengan kaki kiri dan lelaki itu berusaha menghindarinya, Yura malah menghentakkan kaki kirinya dengan tempo cepat. Saat melihat Arvan yang terkejut bahkan sedikit kehilangan keseimbangannya, Yura pun tersenyum menyeringai dan langsung menyerang bagian perut lelaki itu.


Saat Arvan sadar dirinya lengah, ia langsung berusaha menghindar dengan terlebih dulu membungkuk sebelum pukulan Yura mengenai perutnya. Namun, rupanya Yura tak benar-benar berniat menyerang bagian perut Arvan dan saat lelaki itu membungkuk untuk menghindari pukulan, Yura justru memukul bagian punggung Arvan yang terekspos saat membungkuk. Lelaki itu pun jatuh dengan posisi berlutut.


"Meski kau mengakui kesalahanmu yang sempat terbawa emosi sesaat, bukan berarti kau boleh membiarkan dirimu lengah saat bertarung. Arvan, kau melakukan kesalahan lagi ... " ucap Yura sambil tersenyum.


Arvan pun mengangkat wajahnya untuk menatap Yura dengan tatapan tidak terima saat dirinya berhasil dikalahkan.


Seolah tak membiarkan Arvan balas berbicara, Yura melanjutkan serangannya. Gadis itu menggunakan tendangan pada bagian samping kepala Arvan untuk benar-benar merobohkan lelaki itu.


"Apa sejak awal kau sengaja bicara seperti itu untuk memprovokasi dan mempengaruhiku? Jadi, seperti inilah strategimu saat bertarung? Bukankah artinya kau curang?" tanya Arvan


"Kau salah sebagian. Kalau aku memprovokasimu, harusnya kau marah dan menyerangku dengan membabi-buta, lalu aku memang mempengaruhimu untuk membuatmu lengah, tapi itu pun karena aku tahu kalau sejak awal kau sudah tidak fokus untuk mulai bertarung dan aku tidak curang. Karena ini hanya latihan dan tidak peraturan apa pun yang dibuat sebelum bertarung," ungkap Yura


Yura kembali menargetkan bagian dada Arvan. Saat Arvan sudah bersiap siaga dengan serangan Yura, lelaki itu pun dengsn mudah mengantisipasi serangan dengan mencekal tangan gadis yang menjadi lawannya. Namun, posisi Arvan masih tidak menguntungkan hingga Yura bisa kembali menguasai pertarungan. Gadis itu balas mencekal tangan lawan dan memelintirnya yang dilakukan dengan satu tangan, sedangkan satu tangan lainnya mencekik leher lelaki itu.


Yura mencekik leher Arvan bukan dengan mencengkram, melainkan hanya sedikit menekannya dengan tenaga minimum. Yura pun tersenyum.


"Aku ingin tahu dan lihat bagaimana caramu untuk membalik keadaan," kata Yura dengan menambahkan sedikit tenaga pada tangan yang mencekik (menekan) leher Arvan.


Awalnya, Arvan sedikit kesulitan bernafas. Namun, lelaki itu tak ingin berdiam diri. Arvan pun mulai menyerang balik dengan menargetkan titik samping leher Yura seolah menotoknya hingga akhirnya gadis itu melepaskan cekikan pada lehernya.


"Aku tidak akan membiarkanmu menang seperti pertarungan uji coba sebelumnya, meski ini hanya latihan ... " ujar Arvan yang kembali bangkit, begitu juga dengan Yura.


"Itu bagus, Arvan. Aku suka dengan semangatmu," kata Yura


Keduanya pun kembali bertarung. Saat mendengar kata suka yang diucapkan oleh Yura, Arvan kembali terpengaruh hingga tidak fokus pada pertarungan.


"Namun, Arvan ... apa kau tahu apa yang tidak kusuka?" tanya Yura


"Memangnya hal apa yang tidak kau suka?" tanya balik Arvan


"Aku tidak suka saat orang lain meremehkan kemampuanku karena memandangku yang hanya seorang perempuan," ungkap Yura


"Aku tidak pernah meremehkanmu meski kau seorang gadis. Karena aku juga sudah tahu seperti apa kemampuan yang kau miliki," kata Arvan


"Dan ada satu lagi. Aku memang tidak suka dengan orang yang meremehkan kemampuan orang lain, tapi aku lebih tidak suka dengan orang yang tidak fokus saat bertarung melawanku karena bagiku itu sama saja artinya dengan meremehkan kemampuanku," ucap Yura


"Aku tidak seperti itu," sahut Arvan


"Kalau begitu, fokuslah bertarung denganku. Aku tahu kau masih kurang fokus saat ini," ujar Yura


Yura pun kembali berhasil memberi Arvan sebuah pukulan. Saat itu barulah Arvan tersadar setelah mendengar kata-kata Yura dan mulai serius dan fokus bertarung. Pertarungan keduanya pun menjadi sengit. Keduanya terlihat seimbang dan tidak mau kalah.


Hingga akhirnya saat Arvan hendak menyerang Yura dan gadis itu berusaha menghindar, Yura malah kehilangan keseimbangan dan Arvan justru membantunya dengan menangkap dengan merengkuh pinggang Yura.

__ADS_1


Sepertinya keduanya jadi tidak sadar kalau masih ada seorang anak lelaki yang masih terus menyaksikan di sana karena terlalu asik dan fokus bertarung meski hanya sekadar memberi contoh latihan, apa lagi jika akhirnya malah seperti sekarang ini.


__ADS_2