
Sebenarnya Arvan sudah merasa gelisah dan khawatir saat pegawai toko itu menanyakan nama Yura. Pasalnya Yura adalah sosok yang selama ini nenyembunyikan identitas dan jati dirinya dengan mengembara dan selalu memakai cadar untuk menutupi sebagian wajahnya. Arvan juga merasa penasaran, apakah Yura akan menyebutkan nama asli dirinya sendiri?
Namun, ternyata Yura sendiri lebih santai menanggapi orang yang menanyakan namanya dan yang pada akhirnya menyebutkan nama lain yang mungkin digunakan sebagai nama samarannya, yaitu Rara. Itu adalah nama yang diambil dari sepenggal akhir nama aslinya sendiri yang dilipatkan menjadi dua. Yaitu, Yu-ra. Menjadi, Ra-ra. Nona Rara.
Tidak seperti Arvan yang sudah bisa langsung dikenali, Yura bisa menyamarkan nama aslinya.
"Pesanan atas nama Nona Rara sudah saya catat. Apa Nona masih ingin memesan atau membeli senjata lainnya dari toko kami? Anda bisa melihat-lihat isi ruangan ini sekali lagi, mana tahu ada yang kembali menarik perhatian Nona. Mungkin seperti pedang atau belati, misalnya? Atau kali ini Tuan Penasehat Besar yang ingin memilih?"
"Ya, saya memang ingin menambah pedang untuk dikoleksi. Lalu, soal Arvan biar saya saja yang memilihkan barang untuknya karena teman saya ini terlalu pemalu untuk memilih barang yang sesuai dengan seleranya sendiri," jawab Yura yang memelankan suaranya pada akhir kalimat ucapannya.
"Baiklah, Nona. Tuan Penasehat Besar pasti suka dengan apa pun yang Nona pilihkan untuknya." Pegawai toko itu ikut merendahkan suaranya.
Arvan sama sekali tidak sadar dengan pembicaraan antara Yura dan pegawai toko yang saling berbisik meski lelaki itu berada sangat dekat dengan keduanya. Alasannya adalah karena Arvan telah terlena dengan pikirannya sendiri.
"Aku lebih senang dengan kali ini saat Yura menyebutkan nama samarannya untuk diberikan pada saat orang lain menanyakannya. Tidak seperti dengan pelayan lelaki Vila Kerajaan sebelumnya itu, Yura malah menyebut nama aslinya untuk saling berkenalan. Mengingatnya saja sudah membuatku merasa sangat tidak senang dan tidak suka," batin Arvan
"Jadi, bisakah kau langsung saja perlihatkan pedang terbaik yang ada di ruangan ini?" tanya Yura
__ADS_1
"Tentu saja, bisa. Mari, ikuti saya ke sebelah sini."
"Tidak ingin melihat-lihat atau memilih seperti sebelumnya, kali ini ingin langsung diperlihatkan dengan barang terbaik. Tidak salah lagi, Nona Rara ini adalah pelanggan yang terhormat dan berharga. Untung saja pelanggan sepertinya memilihku untuk terus melayaninya seterusnya," batin pegawai toko yang tidak tahu bahwa di balik ini semua masih ada niat terselubung yang belum terungkap.
Pegawai toko mengarahkan hingga ke tempat koleksi pedang terbaik di ruangan tersebut. Yura mengikutinya, begitu juga dengan Arvan. Meski lelaki itu masih tampak sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Pedang mana yang mau kau rekomendasikan?" tanya Yura
"Ini dia, kedua pedang ini adalah pedang pasangan yang terbaik. Meski dengan warna dan ukuran yang berbeda, sebenarnya terbuat dari bahan yang sama. Yaitu, baja hitam kualitas terbaik. Pedang hitamnya dibuat dari baja hitam kualitas terbaik dengan tidak menghilangkan warna aslinya dan ukurannya pun lebih besar, makanya dibuat untuk digunakan oleh lelaki. Sedangkan yang satunya, meski terbuat dari baja hitam yang sama, tapi proses pengerjaannya lebih lama dan mendetail setelah proses pendinginan agar ukuran dan warnanya berubah menjadi lebih kecil dan berwarna putih hingga menjadi pedang yang cocok untuk dipakai oleh perempuan. Namun, karena prosesnya yang terbuat dari bahan yang sama, makanya disebut sebagai pedang pasangan."
"Menarik dan tampak cantik dengan tidak menghilangkan kesan kuatnya dan yang pedang putih pun tampak lebih elegan hingga memang cocok digunakan oleh perempuan," ucap Yura
Yura pun mengeluarkan kedua pedang dari sarung untuk digenggam pada masing-masing satu di kedua tangannya.
"Ya ampun, pedang itu memang tampak ringan dari pada bobot aslinya, tapi Nona Rara ini bahkan mampu mengangkat kedua pedang pada masing-masing satu di kedua tangannya. Sungguh gadis yang kuat. Sepertinya kesukaannya memilih dan membeli senjata bukan hanya sekadar hobi untuk dikoleksi saja, tapi memang karena Nona Rara memiliki kemampuan luar biasa melebihi gadis pada umumnya. Sungguh hebat dan keren," batin pegawai toko
"Arvan, lihatlah ... bagaimana menurutmu? Apa tampak bagus dan mengagumkan? Apa kau suka?" tanya Yura yang langsung membuat Arvan tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Bukankah itu pedang pasangan? Apa kau ingin membeli keduanya, tapi untuk apa?" tanya balik Arvan
"Memang apa salahnya kalau aku memiliki keduanya? Bukankah akan terlihat sangat hebat, keren, serta mengagumkan saat aku membawa dua pedang ini di kedua tanganku untuk menumpas lawan?" tanya balik Yura lagi.
"Kau sudah memesan banyak barang untuk dibeli hari ini. Lagi pula, kedua pedang itu tampak sama selain warna dan ukurannya, jadi lebih baik kau pilih salah satu saja. Tadi kau sendiri yang bilang kalau menjadi serakah itu tidak baik," jawab Arvan
"Memang benar, sih. Kau sangat membosankan dengan sifatmu yang terlalu lurus itu. Kau bahkan berhasil memberiku pukulan dengan perkataanku sendiri," ucap Yura
"Maaf. Namun, karena kau bertanya, maka aku hanya menjawab sesuai dengan pendapatku sendiri ... " kata Arvan
Yura pun kembali memasukkan kedua pedang ke dalam sarung pelindungnya.
"Jadi, apa Anda tetap ingin membeli pedang ini atau tidak, Nona? Harus saya catat, ya atau tidak? Atau apa Nona akan membeli keduanya atau hanya salah satunya?" tanya pegawai toko sambil berbisik.
"Saya akan membelinya. Masukkan kedua pedang ini pada catatan pesanan yang akan saya ambil 3 hari berikutnya. Namun, jangan sampai teman saya tahu kalau saya membeli kedua pedang ini. Lalu, tambahkan juga desain ukiran yang sama dengan busur dan anak panah pada sarung pedang yang putih saja. Untuk bilah pedangnya berikan ukiran yang sama juga, tapi ukiran kecil saja di dekat penahan gagang," jelas Yura sambil berbisik pula.
"Ingat ukirannya hanya untuk pedang berwarna putih saja. Untuk pedang hitamnya biarkan tanpa ukiran. Namun, saya mau diberi tambahan permata berwarna hijau pada bagian penahan gagang pedang putih dan permata berwarna biru pada penahan gagang pedang hitam. Permata berukuran kecil saja," sambung Yura dengan terus berbisik.
__ADS_1
"Ukiran yang sama dengan busur dan anak panah, yaitu pola sulur tanaman dan 4 helai daun semanggi pada pedang putih, lebih tepatnya pada sarung pedang dan ukiran kecil pada bilah pedang dekat penahan gagang. Pedang hitam tanpa ukiran. Permata hijau kecil untuk pedang putih pada penahan gagang dan permata biru kecil untuk pedang hitam pada penahan gagang. Sudah saya catat," gumam pelan pegawai toko.
Lagi-lagi Arvan tidak mendengar pembicaraan antara Yura dan pegawai toko yang sambil berbisik karena sibuk dengan pemikirannya sendiri yang berbeda lagi dengan pemikirannya yang sebelumnya.