
Usai pergi meninggalkan arena latihan prajurit, Baginda Raja dan Arvan memisahkan diri untuk kembali bekerja dan menuju ke ruang kerja Istana Kerajaan. Yura pun berjalan sejajar dengan Ratu, sedangkan Pevita dan Rio berjalan di belakang kedua saudari kembar itu. Sementara pelayan Ratu yang sebelumnya ikut menemani saat ingin menemui Raja sudah lebih dulu diminta kembali ke kediaman Ratu.
Sesampainya di kediaman Ratu, sang pemilik kediaman, yaitu Ratu, lebih dulu masuk ke dalamnya.
"Pevita, Rio, maafkan aku. Harusnya aku mengajakmu ke arena latihan prajurit tadi untuk membawa kalian latihan di sana. Namun, hanya aku yang sibuk bertarung di sana, sedangkan kalian berdua tidak melakukan apa pun di sana selain hanya menyaksikan diriku yang bertindak gegabah semauku," ucap Yura
"Tidak perlu bilang maaf, Nona. Yang harusnya minta maaf adalah mereka yang berkata kurang ajar tanpa tahu kebenarannya tentang dirimu. Kau sangat hebat tadi. Aku baru pertama kali melihatmu bertatung seperti tadi. Sungguh mengagumkan," kata Rio
"Meski tidak melakukan apa pun, kami berdua bisa belajar dan menjadikan sesi pertarungan Nona tadi sebagai bahan latihan kami. Secara tidak langsung Nona telah memberi kami pelatihan dengan sangat baik. Nona tidak perlu khawatir dan saya setuju bahwa Nona sangat hebat dan mengagumkan tadi. Saya juga baru pertama kali melihat Nona bertarung dengan keren seperti tadi," ujar Pevita
"Kalian berdua terlalu berlebihan dalam memujiku, namun terima kasih. Lain kali aku akan memberi pelatihan sungguhan pada kalian, meski mungkin tidak dalam waktu dekat ... " kata Yura
"Kami berdua akan mengingatnya dan kembali mengingatkan Nona untuk melakukannya nanti," sahut Pevita
"Yura, cepatlah masuk!" seru Ratu dari dalam kediaman.
"Kalau begitu, aku akan masuk. Tetaplah berjaga di sini," ujar Yura
"Kami mengerti, Nona ... " sahut Pevita dan Rio secara bersamaan.
Yura pun masuk ke dalam kediaman karena Ratu sudah memanggilnya. Begitu masuk, Ratu pun langsung menyuruh Yura untuk duduk di dekatnya dan Yura pun mematuhi perkataan sang kakak.
"Ada apa, Kak?" tanya Yura setelah duduk di samping Ratu.
"Diam dan tunggulah. Aku akan mengobati luka di lenganmu," jawab Ratu
"Aku bisa mengobatinya sendiri nanti," kata Yura
__ADS_1
"Harus langsung diobati. Kalau tidak lukamu bisa infeksi meski hanya luka kecil sekali pun. Biarkan aku yang mengobati lukamu seperti kau yang pernah mengobati lukaku sebelumnya. Karena hanya hal ini yang bisa kulakukan untukmu sebagai seorang kakak," ujar Ratu yang langsung membuat Yura terdiam dengan patuh agar tidak membuat Ratu merasa sedih karena terlalu banyak membantah.
"Yang Mulia Ratu, biar saya saja yang mengobati luka Nona Yura," ucap salah satu pelayan Ratu yang membawakan kotak obat untuk mengobati luka.
"Biar aku yang melakukannya. Kau ambilkan saja makanan untuk Yura makan. Adikku ini sangat nakal karena terlalu lama meninggalkan waktu makan," kata Ratu
"Baiklah, Yang Mulia Ratu."
"Kalau begitu, tolong bawakan segelas air hangat. Perutku terasa dingin karena terlalu lama kosong, aku ingin menghangatkannya dengan air minum ... " ujar Yura meminta.
"Bsiklah, saya juga akan mengambilkan makanan yang masih hangat."
"Terima kasih banyak," ucap Yura
Ratu pun membuka sapu tangan yang membalut dengan terikat pada lengan atas Yura dan mulai mengobati lukanya sampai membalutnya lagi dengan perban baru.
Di dalam ruang kerja Istana Kerajaan, kini Rino tidak lagi sendiri karena Raja dan Arvan sudah kembali untuk bekerja.
"Tuan, bagaimana dengan keadaan nona Yura? Saya sempat mendengar kalau nona Yura bertarung di arena latihan prajurit?" tanya Rino sambil berbisik.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya karena Yura baik-baik saja," jawab Arvan
"Syukurlah, kalau begitu ... " kata Rino
"Arvan, aku meminta kau untuk menyampaikan sesuatu pada Yura, tapi kenapa kau dism saja saat melihat Yura bertarung? Kenapa kau tidak mencegahnya?" tanya Raja
"Saya tidak punya hak untuk mencegahnya melakukan sesuai keinginannya, saya hanya bisa memiliki niat untuk turun tangan saat situasi menjadi tak terkendali. Karena dari itu saya hanya bisa memerhatikannya sambil menunggu," jawab Arvan
__ADS_1
"Sebenarnya apa saja yang terjadi sebelum aku datang ke arena latihan prajurit tadi?" tanya Raja
Arvan pun mulai menjelaskan satu per satu kronologi percakapan dan kejadian yang terjadi di arena latihan prajurit sebelumnya tanpa terkecuali.
"Sebelum mengikuti Yura ke arena latihan prajurit, aku memang sempat bicara pada Yura, tapi aku sama sekali tidak menyampaikan pesan yang dititipkan Raja pada Yura. Semoga Raja tidak bertanya soal itu," batin Arvan yang tidak menyampaikan perkataan maaf dan rasa sesal atas kejadian semalam yang telah diamanahkan Raja untuk disampaikan pada Yura karena lupa.
"Para prajurit itu memang sudah sangat keterlaluan hingga saya pun merasa marah saat memdengarnya. Namun, selain memang tidak punya hak, saya tidak bisa berbuat apa-apa saat Yura tidak ingin mempermasalahkan hal ini sampai akhir. Mungkin karena hal inilah Yura memilih untuk bertarung karena Yura ingin memperi pelajaran secara tidak langsung pada prajurit itu," ucap Arvan setelah menceritakan kronologi di arena latihan pada Raja.
"Kau benar, Arvan. Yura memang selalu ingin mengatasi masalahnya seorang diri. Namun, aku bisa mengikuti caranya untuk memberi hukuman pada para prajurit itu secara tidak langsung. Aku bisa mengatur untuk mereka agar pelatihan ditingkatkan lagi 10 atau 20 kali lipat," ujar Raja
"Baginda, izinkan saya bertanya suatu hal remeh. Saya sudah sangat ingin bertanya hal ini sejak lama. Sebagai pasangan Ratu dan kakak ipar Yura, bagaimana cara Anda membedakan kedua saudari kembar itu selain dari pakaian mereka yang berbeda atau saat Yura yang memakai cadar?" tanya Arvan dengan tingkat rasa penasaran yang tinggi.
"Apa kau masih belum mengetahuinya? Ya ampun, kalau seperti ini bagaimana bisa kau dikatakan sebagai orang yang benar-benar menyukai adik iparku? Jangan sampai kau salah mengira istriku sebagai adik ipar dan salah mengejar cinta seseorang," jawab Raja membuat Arvan tersinggung karena dirinya memang pernah salah mengenali kedua saudari kembar itu dalam waktu yang lama dahulu.
"Yuna memiliki tahi lalat pada daun telinga kirinya, namun tidak dengan Yura. Adik ipar justru memiliki tahi lalat pada kelopak mata kanannya, itu masih bisa terlihat saat matanya terbuka karena letaknya lebih dekat dengan alis. Aku sudah memberi petunjuk padamu, jangan sampai kau tertukar target seperti yang kukatakan tadi," sambung Raja menjelaskan.
"Saya tidak pernah tahu Ratu memiliki tahi lalat di sana karena saya tidak mungkin memerhatikannya dari dekat, sedangkan pada Yura, saya hanya tidak menyadarinya. Meski begitu, saya sangat berhati-hati untuk tidak sampai salah menyerang orang," ucap Arvan yang balik menyindir Raja.
"Semalam itu aku terpengaruh oleh aroma obat bius. Kau sendiri juga yang mengatakan seperti itu. Omong-omong soal semalam, apa kau sudah menyampaikan hal yang kuminta pada Yura?" tanya Raja
Seketika Arvan merasa panik dan bingung harus memberi jawaban seperti apa karena dirinya lupa untuk menyampaikan hal yang diminta Raja untuk disampaikan pada Yura. Pada akhirnya, Arvan hanya bisa mengalihkan topik dengan membicarakan masalah pekerjaan.
Pada salah satu kediaman selir, ada seseorang yang berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Wajahnya tampak kesal. Namun, ia bukanlah Selir Kedua yang gagal melakukan rencananya semalam. Melainkan adalah Selir Pertama, Nitami.
"Si Frizka itu tidak bisa diandalkan. Baru sekali disuruh buat rencana sendiri saja sudah gagal. Dengan rencana buruknya yang gagal itu jangan sampai namaku ikut terseret menjadi dalang di baliknya jika ada yang mengintrogasinya. Namun, apa lagi yang harus kulakukan untuk menghancurkan Ratu? Apa lagi-lagi aku harus meminta bantuan pada ayah?"
Selir Pertama, Nitami, akhirnya mengambil selembar kertas dan pena untuk menulis surat.
__ADS_1