
Begitu kembali dari latihan, sudah ada Raja, Ratu, dan Arvan yang masih terus menunggu sampai Arsha dan Yura kembali. Karena sebelum beranjak untuk latihan, Arsha berpesan agar tidak ada orang yang mengikutinya agar konsentrasinya tidak terpecah selama latihan berlangsung.
"Bagaimana dengan latihannya? Apa sudah selesai?" tanya Ratu
"Sudah, aku mengajari Arsha beberapa teknik dasar berkuda dan seperti yang diharapkan dari seorang Putra Mahkota, Arsha langsung bisa melakukannya dengan baik hanya dengan sekali coba," jelas Yura
"Hebat sekali, Arsha. Kau bahkan bisa membawa Bibimu dengan kau sendiri yang mengendalikan kudanya untuk kembali ke sini. Kalau ke depannya terus seperti ini, kau bisa ikut pelatihan dengan guru berkuda Kerajaan dan Ayah juga bisa sesekali melatihmu," ucap Raja
Arsha pun menoleh ke arah Yura di belakangnya seolah meminta pendapat dan Yura menanggapinya dengan mengangguk kecil.
"Baik, Ayah. Aku akan menantikan saat itu tiba," kata Arsha
"Namun, apa berlatih dengan Bibimu sangat menyenangkan sampai kau menolak saat Ayah juga ingin ikut untuk melatihmu atau hanya sekadar ingin melihat?" tanya Raja
"Berlatih dengan Bibi Yura memang sangat menyenangkan, tapi bukan seperti itu juga maksudku, Ayah. Sejak awal aku sudah meminta secara langsung agar Bibi Yura mau mengajariku cara menunggang kuda dan Bibi Yura juga sudah menyanggupi permintaanku, aku jadi merasa tidak enak kalau tiba-tiba berubah ingin berlatih dengan Ayah. Lagi pula, seperti yang sudah kubilang, biarkan aku berlatih hanya berdua dengan Bibi Yura supaya fokusku tidak terpecah selama berlatih," jelas Arsha
"Baiklah. Putra Ayah memang sangat pandai dan hebat," puji Raja
"Terima kasih, Ayah ... " ucap Arsha
"Selamat untuk Arsha dan Yura yang sama-sama sudah belajar dan mengajari cara berkuda dengan baik," ucap Arvan
"Terima kasih, Paman Arvan ... " ucap Arsha
"Aku tidak melakukan apa-apa selain hanya bicara, Arsha-lah yang sudah melakukannya dengan baik. Namun, karena kau sudah berkata seperti itu, terima kasih," ucap Yura
"Sama-sama," balas Arvan
Setelah itu, Yura pun turun dari atas kuda.
"Karena sebelumnya kau sudah berlatih cara berkuda dengan baik, sekarang cobalah turun sendiri dari atas kuda tanpa bantuan, Arsha," ujar Yura
"Tanpa Bibi suruh pun aku akan turun sendiri," kata Arsha
Arsha pun beranjak turun dari atas punggung kuda seorang diri. Meski pun, tanpa bantuan, ada beberapa orang yang mengawasinya yang pasti akan segera menolongnya jika mungkin terjatuh. Namun, Arsha mampu menapakkan kedua kakinya ke atas tanah dengan baik meski sempat terlihat kesulitan.
"Apa tidak sebaiknya kita mencarikan ukuran kuda yang sedikit lebih kecil untuk menyesuaikannya dengan Arsha? Karena kuda dewasa yang biasa terlihat masih kebesaran untuknya. Apa itu tidak berbahaya?" tanya Ratu
"Tidak, Ibu. Aku ingin menggunakan kuda dewasa, bukan kuda kecil ... " jawab Arsha
"Sebenarnya tidak akan berbahaya karena akan ada yang selalu mengawasi saat Arsha berlatih, Arsha juga cukup tinggi dari pada anak biasa seusianya. Apa lagi, jika Arsha tidak menginginkan hal itu. Kita bisa memantaunya dulu di beberapa kali pada latihan selanjutnya. Jika memang terlihat tidak leluasa atau berbahaya, baru bisa disarankan untuk menukar ukuran kudanya. Lagi pula, aku pasti akan selalu mengawasi Arsha selama latihannya berlangsung," jelas Yura
"Yura ada benarnya, Yuna. Kita biarkan dan pantau saja dulu perkembangan latihannya sampai beberapa kali lagi," kata Raja
"Ibu, tenang saja ... aku akan ceoat tumbuh besar dan menjadi lebih tinggi lagi agar Ibu tidak merasa khawatir dan seperti yang Bibi Yura bilang, aku akan langsung menukar kuda jika aku merasa kesulitan saat berlatih nantinya," ujar Arsha
"Baiklah, kalau kalian berkata seperti itu ... " sahut Ratu
"Kalian semua, kembali ke Vila lebih dulu saja. Aku akan membawa kuda ke dalam kandang dulu," ujar Yura yang kemudian langsung beralih membawa kuda miliknya ke dalam kandang yang tersedia di sana.
"Arsha, ayo kita kembali lebih dulu ... " ajak Raja
"Tapi, Ayah, tidak enak kalau aku pergi meninggalkan Bibi yang sudah melatihku dengan baik tadi. Aku akan menunggu Bibi Yura dulu di sini," kata Arsha
"Evan, kau ajak saja istrimu untuk kembali bersama lebih dulu. Aku akan menemani Arsha menunggu Yura di sini. Kasihan Yuna yang masih harus banyak istirahat," ucap Arvan
"Apa benar tidak masalah kalau hanya aku dan Kak Evan yang kembali lebih dulu?" tanya Ratu
"Ya, tidak masalah ... benar begitu, kan, Arsha?" tanya Arvan
"Benar, Ibu dan Ayah kembali saja lebih dulu. Karena sebenarnya aku ingin sekalian ingin mengajak Bibi untuk bermain bersamaku di kamarku setelah ini, jadi aku harus menunggu Bibi dulu di sini," jelas Arsha
"Baiklah. Kalau begitu, kami berdua duluan, ya ... " ujar Raja
Arsha dan Arvan pun saling menganggukkan kepala secara bersamaan. Raja dan Ratu pun beranjak pergi bersama dari sana untuk kembali menuju ke Vila.
"Apa Bibi Yura masih lama, ya, Paman?" tanya Arsha
__ADS_1
"Mungkin sebentar lagi akan ke luar. Apa kau mau menyusul ibu dan ayahmu kembali ke Vila lebih dulu? Atau kau butuh sesuatu, Arsha?" tanya balik Arvan
"Tidak, aku akan tetap menunggu Bibi. Benar juga, mungkin Bibi Yura masih mengurus kuda miliknya dulu karena dari yang kudengar langsung dari cerita Bibi, Bibi Yura sangat menyayangi kuda miliknya yang selalu menemaninya saat mengembara selama ini," jelas Arsha
"Kau sering mendengar Yura bercerita, ya?" tanya Arvan
"Ya, Paman. Bibi Yura punya banyak sekali cerita dan aku tidak pernah bosan mendengarnya. Tiap cerita yang Bibi Yura punya selalu berbeda dan sangat menarik. Seolah aku ikut ke dalam pengalaman petualangan dan pengembaraannya," ungkap Arsha
Tak lama kemudian, Yura pun terlihat ke luar dari kandang kuda di sana.
"Bibi Yura!" seru Arsha memanggil.
"Kalian masih di sini? Kenapa tidak kembali lebih dulu saja?" tanya Yura yang tersenyum dan langsung menghampiri dua lelaki yang sedang menunggunya.
"Raja dan Ratu sudah kembali lebih dulu, tapi Arsha bilang ingin menunggumu, jadi aku menemaninya di sini ... " jawab Arvan
"Kalau begitu, maaf karena membuat kalian berdua menunggu lama," ujar Yura
"Tidak masalah, kau tidak lama kok ... " kata Arvan
"Sebenarnya setelah dari sini, aku ingin mengajak Bibi Yura untuk bermain di kamarku. Bibi masih ada janji untuk melatihku sesuatu," ujar Arsha
"Kau masih ingin lanjut berlatih lagi? Apa kau tidak merasa lelah, Arsha?" tanya Yura
"Aku tidak lelah. Tadi aku hanya berlatih berkuda sebentar, jadi aku ingin berlatih hal yang lain lagi," jawab Arsha
"Baiklah, ayo kita kembali dan berlatih di dalam kamarmu ... " kata Yura
Yura, Arsha, dan Arvan pun kembali menuju ke Vila.
"Memangnya kau berjanji akan memberi latihan apa pada Arsha?" tanya Arvan
"Aku berjanji melatihnya cara bela diri dengan tangan kosong karena aku melarangnya membawa pedang kayu yang sering kami gunakan untuk berlatih. Awalnya Arsha ingin terus berlatih cara berpedang dan sebagai ganti melarangnya berlatih pedang, aku berjanji untuk melatihnya cara bela diri," jelas Yura
"Kalau begitu, apa aku boleh ikut melihat saat kalian berdua sedang berlatih?" tanya Arvan
"Ya, silakan saja kalau mau ikut melihat ... " kata Yura
Begitu kembali ke Vila, Yura, Arsha, dan Arvan langsung menuju ke kamar Arsha.
"Permisi, bisa tolong ambil dan antarkan camilan ke kamar Putra Mahkota?" tanya Yura meminta pada pelayan yang berjaga di sekitar lorong kamar.
"Putra Mahkota ingin makan camilan, rupanya. Baik, akan saya ambil dan segera diantar ke kamar Putra Mahkota." Pelayan itu segera beralih untuk menyiapkan camilan.
"Untuk apa Bibi meminta camilan pada pelayan tadi? Camilan pagi yang Bibi berikan sebelumnya juga masih ada di dalam kamarku dan itu masih bisa dimakan," ujar Arsha
"Bibi pikir akan lebih baik jika ada camilan yang bisa di makan saat sedang berlatih, Bibi tidak mengira kalau kau masih punya camilan yang Bibi berikan tadi pagi," ucap Yura
"Ya sudah, biarkan saja. Anggap saja camilan yang dibawakan nanti untuk tambahannya," kata Arsha
Arsha pun masuk ke dalam kamarnya ditemani oleh Yura dan Arvan.
Di dalam kamarnya, Arsha langsung mengambil kotak camilan yang sempat Yura berikan sebelumnya.
"Ini adalah camilan yang Bibi siapkan untukku sebelumnya. Aku sudah makan setengah dari isi kotaknya dan masih tersisa setengahnya lagi," ucap Arsha
"Itu bagus. Setidaknya kau masih memiliki camilan sampai pelayan tadi mengantar camilan tambahan untukmu," kata Yura
"Kalau begitu, ayo kita mulai latihan bela dirinya ... " ujar Arsha
"Apa kau yakin ingin langsung berlatih lagi, Arsha? Apa kau sungguh tidak merasa lelah? Apa kau tidak mau menunggu setidaknya sampai pelayan datang mengantar camilan tambahan dan minuman ke sini? Kau bahkan belum minum sesuatu usai berlatih menungang kuda tadi, kan?" tanya Yura
"Makan dan minum bisa kulakukan nanti, tidak perlu menunggu sampai pelayan datang. Aku tidak merasa lapar, haus, atau lelah, dan aku sudah siap untuk berlatih ... " jawab Arsha
"Rupanya, Arsha sangat senang berlatih dengan Yura ... " ujar Arvan
"Itu memang benar, Paman ... " kata Arsha
__ADS_1
"Saat meminta camilan pada pelayan tadi, aku lupa meminta untuk sekalian dibawakan minuman. Apa nanti dia hanya akan membawa camilan tanpa ada minumannya?" tanya Yura seraya bergumam.
"Kau tenang saja, Yura. Pelayan tadi pasti langsung mengerti dan akan membawakan minuman juga. Mereka yang bekerja di sini juga bukannya belum lama bekerja sampai tidak mengerti hal seperti itu," ujar Arvan
"Paman Arvan, benar. Jadi, tenang saja dan kita mulai saja latihannya, Bibi," kata Arsha
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, kau lakukan pemanasan dan perenggangan dulu sebelum latihan dimulai, Arsha. Lakukan seperti biasa sebelum kita latihan cara berpedang," ujar Yura
"Baik, Bibi ... " sahut Arsha dengan patuh.
"Seperti yang sudah kuberi tahu, melakukan pemanasan peregangan sebelum memulai latihan itu penting kalau ingin mencegah agar tidak terjadi masalah selama latihan. Pemasan serta peregangan yang dilakukan sama saja pada setiap jenis latihan yang akan dilakukan, jadi kau harus selalu mengingat gerakannya. Bahkan sebelum berperang pun kalau bisa dan situasi tidak terlalu mendesak, ada baiknya jika setiap pasukan melakukan pemanasan lebih dulu. Kau juga harus mengingat hal ini, Arsha," ucap Yura selagi Arsha melakukan pemanasan.
"Aku mengerti dan akan mengingatnya, Bibi ... " sahut Arsha di sela-sela pemanasan yang dilakukannya.
Saat Arsha masih melakukan pemanasan, terdengar suara ketukan pada pintu kamarnya.
"Sepertinya itu adalah pelayan yang mengantar camilan. Aku akan membuka pintu dulu sebentar," kata Yura
Yura pun beranjak untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Benar saja seperti yang Yura duga, itu adalah pelayan yang mengantarkan camilan sekaligus minuman.
"Permisi, saya datang mengantar camilan sekaligus minuman ke sini ...."
"Kau pengertian sekali, kau bahkan membawakan ninuman yang lupa kupesan untuk Putra Mahkota. Namun, saat ini Putra Mahkota sedang belajar dengan Penasehat Arvan di dalam dan tidak ingin diganggu. Jadi, aku yang akan mengambil ini dan biar kubawa troli makanannya sekaligus ke dalam kamar. Aku akan mengembalikan troli makanannya nanti, jadi kau tidak perlu menunggu. Terima kasih banyak," ucap Yura
"Kalau begitu, saya permisi ...."
"Silakan dan terima kasih sekali lagi," ucap Yura
"Sama-sama." Pelayan itu pun langsung berlalu pergi dan Yura pun membawa masuk troli makanan yang baru saja diantarkan ke dalam kamar tersebut.
"Bibi, aku sudah selesai melakukan pemanasan," kata Arsha
"Baiklah, kita akan lanjut berlatih dan sesekali kau bisa makan camilannya atau kita istirahat dulu sambil makan camilan juga tidak apa-apa. Ini camilan tambahannya sudah diantar," ucap Yura
"Karena sudah melakukan pemanasan, kita langsung mulai latihan saja. Makan camilannya nanti saja," ujar Arsha
Yura hanya mengangguk menyetujui perkataan keponakan lelakinya.
"Arvan, kenapa kau duduk di lantai seperti ini? Kenapa tidak duduk di sofa saja?" tanya Yura
"Kalau duduk di sofa terlalu jauh untuk melihat sesi latihan kalian berdua. Lagi pula, aku bukan duduk di lantai, tapi di atas karpet sebagai alasnya," jawab Arvan
"Terserah kau saja. Makanlah camilannya kalau kau mau," kata Yura
Arvan hanya mengangguk. Sebelum mulai melatih Arsha, Yura lebih dulu membuka penutup cadar pada wajahnya dan meletakkannya di atas meja kamar tersebut.
"Harusnya seperti itu dari tadi. Apa kau tidak merasa sesak terus memakai cadar bahkan setelah berkuda tadi?" tanya Arvan
"Aku terbiasa dengan sering memakai cadar selama masa mengembara dulu dan tidak merasa sesak sama sekali. Kali ini aku baru melepasnya karena masih harus membuka pintu untuk mengambil camilan yang diantar oleh pelayan tadi," jelas Yura
"Apa kau sangat tidak ingin ada orang lain yang melihat wajahmu?" tanya Arvan
"Ya, setidaknya untuk saat ini ... " jawab Yura
"Sudahlah, Arvan. Jangan mengganggu sesi latihanku dengan Arsha dengan pertanyaanmu itu," sambung Yura
"Baiklah," sahut Arvan dengan patuh dan pasrah.
"Ayo, Arsha ... kita mulai latihan yang sesungguhnya," kata Yura
"Baik, Bibi. Aku sudah siap," sahut Arsha
"Padahal kau sangat cantik saat tidak memakai cadar yang hanya menghalangi wajahmu itu, Yura ... " batin Arvan sambil tersenyum tipis.
Yura pun memulai sesi latihan tambahan seni bela diri bersama Arsha.
"Arsha, Bibi akan memberimu beberapa contoh gerakan dan kau bisa melihat untuk ditiru setelah Bibi selesai melakukannya atau kau juga bisa melakukan gerakannya bersamaan dengan Bibi," ucap Yura
__ADS_1
Arsha hanya mengangguk. Yura pun mulai memberi contoh gerakan dan Arsha ikut melakukannya bersama dari sisi samping Yura. Sedangkan, Arvan hanya terus memerhatikan sesi latihan antara Bibi dan keponakan lelakinya itu.