
Begitu kembali Afia terlihat memakai mahkota bunga di kepalanya dan membawa seikat bunga di tangan kecilnya. Arvan pun langsung menurunkan keponakan perempuannya dari gendongannya dan Afia pun langsung berlarian ke arah sang ibu, Azkia.
"Ibu, aku membawakan bunga untukmu. Aku sendiri yang memetik dan memilih yang cantik," ucap Afia sambil memberikan seikat bunga pada Azkia.
"Benar, bunganya cantik sekali. Namun, putri Ibu ini masih jauh lebih cantik dengan mahkota bunga itu," puji Azkia
"Ini mahkota yang kubuat dengan bantuan Paman. Aku juga ingin coba membuatnya saat Paman membuat mahkota untuk Bibi," kata Afia sambil memperlihatkan mahkota bunga lain yang sedang dipegang olehnya.
"Apa itu sungguh untuk Bibi?" tanya Yura
"Ya, aku menggantikan Paman memberikan mahkota bunga ini untuk Bibi. Tolong Bibi mendekat sedikit ke sini," jawab Afia
"Baiklah, coba Afia pakaikan mahkota bunganya pada Bibi ... " sahut Yura yang langsung mengangkat tubuh kecil Afia ke atas pangkuannya alih-alih mendekatkan diri pada keponakan perempuan Arvan itu.
"Benar-benar cantik," puji Afia usai memakaikan mahkota bunga pada kepala Yura.
"Terima kasih, Afia. Sekarang Bibi sudah jadi cantik sama seperti Afia," ucap Yura
"Bibi memang cantik, tapi Bibi halusnya bilang telima kasih pada Paman karena yang membuat mahkota bunga itu adalah Paman," kata Afia dengan cara bicaranya yang masih cadel khas anak kecil.
"Kalau begitu, terima kasih, Paman-nya Afia," ujar Yura
"Afia, kalau Bibi Yura cantik, Paman Arvan tampan, tidak? Apa kami berdua terlihat cocok?" tanya Arvan
__ADS_1
"Paman tampan, Bibi cantik. Altinya cocok. Ya, kan, Bu?" tanya balik Afia yang sebenarnya tidak mengerti dengan hal yang dibahas saat itu.
Azkia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan anak perempuannya itu. Yura pun ikut tersenyum melihat tingkah Afia yang tampak menggemaskan.
Setelah Yura pergi dari kediaman selir, Arvan pun mengobrol dengan sang adik, Azkia. Karena lelaki itu ditolak saat berniat mengantar Yura pergi.
"Azkia, saat aku pergi melihat bunga bersama Afia tadi kau sempat bicara dengan Yura? Dia seperti sedang marah padaku. Apa kau tahu alasannya? Atau apa mungkin dia menceritakan sesuatu padamu?" tanya Arvan
"Kenapa Kakak merasa kalau kak Yura sedang marah? Apa Kak Arvan telah melakukan kesalahan? Apa Kakak tahu kesalahan apa yang telah Kakak lakukan?" tanya balik Azkia
"Aku juga tidak mengerti, makanya aku bertanya padamu. Sebagai sesama perempuan mungkin kau tahu sesuatu atau mungkin dia telah mengatakan sesuatu padamu," jawab Arvan
"Kalau kau telah berbuat kesalahan, maka kau harus berusaha mencari solusi dan jalan ke luar sendiri. Akan jadi kebiasaan jika sejak awal kau sudah meminta bantuan orang lain, itu adalah hal yang buruk. Yang ada orang yang marah padamu akan merasa sulit untuk memaafkan karena kau seolah tidak menyadari kesalahanmu sendiri. Yang paling penting adalah kau harus meminta maaf dengan sungguh-sungguh," ujar Azkia
"Tentu saja, kau harus menyadari kesalahanmu lebih dulu ... " sahut Azkia
"Yura jadi kembali cuek seperti dulu, makanya aku yakin kalau dia sedang marah padaku, tapi aku tidak tahu apa kesalahan yang telah kulakukan. Apa aku sungguh tidak bisa mendapat petunjuk?" tanya Arvan lebih seperti bergumam seorang diri.
"Apa kau sungguh tidak menyadari apa pun? Kak Arvan, kau sungguh tak tertolong. Namun, bisa saja tidak terjadi apa-apa karena kak Yura memang sudah dari dulu bersikap cuek," ujar Azkia
"Azkia, kau tahu sesuatu, kan? Tolong beri tahu padaku, apa alasan Yura marah?" tanya Arvan dengan nada memohon.
"Sungguh, tidak bisa berbuat apa-apa terhadapmu. Itu kesalahanmu karena kau melamar kak Yura tanpa diketahui olehnya seolah kau mendesaknya tanpa memberinya kesempatan untuk mempersiapkan diri, itu membuatnya merasa kesal. Padahal kak Yura sudah merasa senang saat kau berkata ingin ikut ke kediaman kedua orangtuanya untuk melamarnya saat waktu libur nanti," ungkap Azkia
__ADS_1
"Jadi, karena itu Yura jadi marah? Bukankah dia sudah setuju kalau aku akan melamarnya? Bukankah ini hanya masalah waktu yang sedikit lebih cepat?" tanya Arvan
"Kau memang terlalu terburu-buru, tapi selain itu kau seolah tidak melibatkan kak Yura dalam hal ini. Padahal kau ingin menikah dengannya, tapi dia tidak tahu tentang kau yang telah melamarnya tanpa memberi tahu padanya lebih dulu. Itulah yang tidak disukai oleh kak Yura. Sesuatu hal memang tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru, itu tidak baik ... " jelas Azkia
"Hanya karena itu? Bukankah kalau dia memberi tahu soal ini padaku, aku jadi bisa tahu kesalahanku? Kenapa dia harus marah dan hanya diam?" tanya Arvan
"Kalau semudah itu kau ingin kak Yura memberi tahu apa kesalahanmu, lalu kenapa kau juga tidak memberi tahu padanya kalau kau akan melamarnya lebih cepat? Bukankah hanya bicara saja? Bukankah itu mudah? Ini bukan karena kak Yura ingin membalas perbuatanmu yang melamarnya tanpa memberi tahu padanya, tapi kak Yura ingin kau lebih berkompromi padanya. Makanya kau harus berdiskusi dengan lebih terbuka, itu pun kalau kau serius tentang hubunganmu dengannya ... " jelas Azkia
"Aku mengerti sekarang dan sungguh telah menyadari kesalahanku. Lalu, apa yang harus kulakukan agar Yura bisa memaafkan aku?" tanya Arvan
"Bukankah selama masa peperangan kau selalu bersama dengan kak Yura? 3 tahun itu waktu yang cukup lama, tapi apa kau masih belum mengerti apa pun tentang dirinya? Contohnya, seperti cara menyenangkan hatinya?" tanya balik Azkia
"Yura itu berbeda dari perempuan biasa pada umumnya. Dia jauh lebih sulit ditebak dan memiliki kesukaan yang berbeda. Dia tidak suka perhiasan seperti gadis lain, lagi pula aku sudah pernah memberikan perhiasan saat melamarnya secara pribadi. Itu pun dia sudah hampir menolaknya, dia tidak akan mau menerima hal serupa lagi ... " jawab Arvan
"Aku pun tidak tahu. Kalau begitu, coba kau tanyakan pada orang yang lebih dekat dengannya. Atau mungkin kau bisa coba meminta maaf sambil berikan sesuatu yang lebih sederhana dulu. Kak Yura suka sesuatu yang indah meski pun tidak mewah dan dari yang kulihat dia terlihat senang saat menerima mahkota bunga buatanmu yang diberikan oleh Afia. Mungkin kau bisa memberinya seikat bunga seperti yang Afia lakukan dan berikan padaku," ujar Azkia
"Kau memberi saran yang bagus. Terima kasih, Azkia ... " ucap Arvan
"Tidak masalah. Setelah ini jangan buat kak Yura marah lagi," kata Azkia
"Baiklah, aku mengerti. Akan aku usahakan," sahut Arvan
Saat Arvan beranjak pergi untuk kembali bekerja, lelaki itu melihat ke arah area latihan prajurit yang berada di seberang jalannya. Lalu, Arvan pun memutuskan untuk singgah ke area latihan prajurit tersebut.
__ADS_1