One & Only

One & Only
84 - Bibi dan Guru.


__ADS_3

Saat Yura hendak beranjak pergi, ada Ratu dan Putra Mahkota Arsha yang tampak berjalan mengarah ke ruang kerja Istana Kerajaan tersebut.


Yura pun mengurungkan niatnya untuk pergi dan menunggu kakak dan keponakan lelakinya di depan ruang kerja Istana Kerajaan tersebut.


Arsha tampak merasa senang saat melihat Yura ada di sana.


"Bibi Yura dan Paman Arvan sudah kembali," sapa Arsha


"Ya, kapan kalian berdua kembali?" tanya Ratu


"Kami berdua belum lama ini kembali ke Istana Kerajaan," jaab Yura


"Yang Mulia Ratu dan Putra Mahkota, pasti ingin bertemu Baginda Raja. Silakan masuk, Baginda Raja ada di dalam. Saya baru saya habis menemuinya," sambung Yura


"Bibi Yura, tunggulah di sini. Jangan pergi dulu," pinta Arsha


"Ya, Bibi akan menunggu di sini. Setelah Arsha dan Ibunda Ratu menemui Ayahanda Raja, kita akan kembali ke kediaman Ratu bersama-sama," kata Yura


"Selamat pagi dan salam hormat bagi Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Putra Mahkota," ucap Rino seraya membungkukkan badan.


"Selamat pagi. Apa kami berdua sudah boleh masuk?" sahut Ratu bertanya.


"Tidak ada yang melarang Anda berdua untuk menemui Baginda Raja. Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Putra Mahkota bisa langsung masuk. Silakan," jawab Arvan yang langsung membukakan pintu ruang kerja Istana Kerajaan untuk Ratu dan Putra Mahkota.


"Terima kasih, Paman Arvan ... " ucap Arsha


"Tidak masalah, Yang Mulia Putra Mahkota," sahut Arvan


Ratu dan Arsha pun masuk ke dalam ruang kerja Istana Kerajaan untuk menemui Raja.


"Melihat keranjang makanan tadi, pasti Yang Mulia Ratu membawakan makanan untuk Baginda Raja seperti biasa. Yang Mulia Ratu juga membawakan makanan untuk pekerja Baginda Raja seperti biasa pula. Pokoknya saat Baginda Raja menyuruh, Tuan Arvan harus ikut makan bersama saya," ucap Rino


"Tapi, aku sudah makan tadi ... " tolak Arvan


"Tuan, Anda pikir saya belum? Saya pun sudah makan. Karena bekerja dengan perut kosong akan menghambat kinerja, tapi jika Raja menyuruh untuk makan, saya tidak mungkin bisa menolak. Tolonglah saya," ujar Rino


"Setidaknya aku akan menemani di sampingmu supaya kau tidak perlu merasa canggung karena harus makan di hadapan Raja yang sedang bekerja," kata Arvan


"Tidak. Makanlah bersama saya, meski pun hanya sedikit atau berpura-pura. Itu yang saya maksud," sahut Rino


"Bekerjalah secara fleksibel, Rino. Makanlah jika memang Raja yang menyuruhmu, kau tidak perlu merasa canggung. Kau pasti menuruti apa pun perkataan Raja. Bekerjalah dengan serius saat diminta dan meluculah saat diminta pula," ucap Yura


"Karena kau pekerja yang baik, jangan merasa terbebani atau tertekan. Begitu juga saat Raja memintamu untuk makan. Karena kau tidak bisa menolak atau meminta Raja mengubah perkataannya, maka kaulah yang harus beradaptasi mulai dari sekarang. Jadilah terbiasa, kau pasti bisa. Karena bagaimana pun juga itu adalah kebaikan dari Raja dan Ratu untukmu," sambung Yura

__ADS_1


"Karena Nona Yura sudah berkata seperti itu, baiklah. Akan saya coba untuk terbiasa," ujar Rino


"Tetaplah bekerja dengan semangat," kata Yura


"Terima kasih, Nona Yura ... " ucap Rino


"Tidak masalah. Aku hanya sekadar berkat-kata," sahut Yura


"Yura, kau selalu baik pada siapa pun. Termasuk pada orang yang baru kau kenal, sekali pun itu adalah seorang lelaki. Aku yang selalu cemburu saat melihatmu seperti itu, akulah yang tidak baik. Seolah aku tidak pantas untukmu," batin Arvan


Di dalam ruang kerja Istana Kerajaan, Raja menyambut istri dan anaknya dengan senang hati seperti biasa. Seperti biasa pula, Ratu menyiapkan makanan yang telah dibawanya untuk diberikan pada Raja agar memakannya. Dan Arsha menemani kebersamaan kedua orangtuanya yang menjadi keutuhan keluarga.


"Aku baru tahu kalau Yura dan Arvan sudah kembali," kata Ratu


"Aku juga sama. Katanya, Yura mampir ke sini untuk memberi tahu soal kembalinya ke Istana Kerajaan sebelum menemui kalian berdua," ujar Raja


"Kapan mereka berdua kembali?" tanya Ratu


"Dini hari, lewat tengah malam tadi. Aku sudah menyuruh Arvan untuk istirahat dan tidak perlu bekerja hari ini, tapi dia bersikukuh ingin tetap bekerja setidaknya setengah hari saja. Jadi, kubiarkan saja ... " jelas Raja


"Jadi, Arsha ... kau jangan dulu meminta bibi-mu untuk melatihmu sehari ini saja. Biarkan dia istirahat," sambung Raja


"Baik, Ayah. Aku mengerti," kata Arsha


"Belum, karena kau bilang ingin memberi tahu sendiri pada bibi-mu. Namun, karena bibi Yura-mu sudah kembali, kapan kau mau berangkat ke akademi kerajaan? Kau sendiri yang bilang akan sekolah setelah bibi-mu kembali, kan?" tanya balik Raja


"Ya, soal itu terserah pada Ayah saja ... " jawab Arsha


"Kau yakin ingin sekolah? Bukan karena kau terpaksa, kan?" tanya Ratu


"Aku yakin dan ingin tanpa paksaan, Ibu. Belajar dengan Ayah, bibi Yura, paman Arvan, atau para pengasuh memang nenyenangkan. Namun, kupikir aku juga harus mengetahui lebih banyak hal dan mengenal serta bertemu lebih banyak orang lagi. Aku tahu ini demi kebaikan diriku sendiri juga," jawab Arsha


"Anak pintar ... " puji Raja dan Ratu secara bersamaan.


Usai menemui Raja sambil menemaninya makan dan berbincang bersama, Ratu dan Arsha pun beranjak ke luar dari dalam ruang kerja Istana Kerajaan.


"Arvan dan Rino, kalian berdua masuklah. Bantu Raja mengurus pekerjaannya," ucap Ratu


"Baiklah, Yang Mulia Ratu. Kalau begitu, kami berdua akan masuk ke dalam. Permisi," ujar Arvan yang lalu beranjak masuk ke dalam ruang kerja Istana Kerajaan bersama asistennya, Rino.


"Sudah selesai menemui Raja?" tanya Yura


"Ya, Bibi. Ayo, kita kembali bersama ... " kata Arsha

__ADS_1


Ketiganya pun berjalan bersama menuju ke kediaman Ratu. Arsha berjalan di tengah antara bibinya, Yura, dan ibunya, Sang Ratu.


"Omong-omong, tas apa yang kau bawa itu, Bibi?" tanya Arsha setelah sampai di kediaman Ratu.


"Ini adalah tas yang berisi buah tangan yang Bibi beli untukmu," jawab Yura


"Ternyata Bibi masih mengingatnya," kata Arsha


"Tentu saja, Bibi harus menepati janji ... " sahut Yura


Yura memang membawa tas ransel yang digendong di balik punggungnya. Yura pun membuka tasnya itu dan mengeluarkan satu per satu barang buah tangan dari dalamnya.


"Ini untuk Arsha dan yang ini untuk Kak Yuna. Lalu, ini untuk kalian bertiga. Aku tidak membeli banyak dan bukan barang mewah, jadi tolong jangan lihat dari jumlah dan harganya ... " Yura membagikan sebuah kotak satu per satu dan yang tiga terakhir adalah untuk ketiga pelayan Ratu.


"Aku pun dapat. Padahal kau tidak perlu repot-repot membelinya untukku," kata Ratu


"Kami suka buah tangannya."


"Cantik sekali."


"Terima kasih, Nona Yura."


Yura membelikan sepasang anting mutiara dengan warna yang berbeda untuk ketiga pelayan Ratu. Dua buah gelang permata untuk Ratu dan sebuah bross liontin permata untuk Arsha.


"Aku akan menyimpan dan memakainya dengan baik, bahkan saat aku berada di akademi kerajaan. Terima kasih, Bibi Yura ... " ucap Arsha


"Akademi Kerajaan? Apa kau akan sekolah, Arsha?" tanya Yura


"Ya, Bibi. Karena kau juga adalah guru latihanku, maka aku harus memberi tahukan hal ini padamu," jelas Arsha


"Arsha menunggumu kembali untuk memberi tahunya, dia bahkan sampai menunda keberangkatannya ... " ujar Ratu


"Terima kasih sudah mau menunggu untuk memberi tahu pada Bibi dan selamat, Arsha. Kau pasti akan menjadi pelajar yang hebat dan cerdas," ucap Yura


"Justru aku yang harus berterima kasih. Terima kasih karena kau sudah bersedia untuk melatihku, Bibi Yura ... " balas Arsha


"Tidak masalah karena Bibi merasa senang saat melatihmu. Kau harus merasa senang di mana pun tempatmu belajar dan berlatih, Arsha. Meski pun baru sebentar, ingatlah selalu apa yang Bibi ajarkan padamu. Itu pasti bisa membantumu suatu saat nanti," ujar Yura


"Aku juga merasa senang bisa berlatih denganmu, Bibi. Begitu juga saat aku di akademi kerajaan nanti. Aku pasti merasa senang karena aku telah membawa bekal pelajaran darimu yang telah kupelajari sebelumnya. Selamanya kau adalah Bibi dan guruku yang berjasa," ucap Arsha


"Kau adalah murid yang pintar dan berbakat, Arsha ... " puji Yura


Bibi dan keponakan lelaki itu pun terus berbincang tentang banyak hal. Seolah itu adalah momen terakhir sebelum berpisah karena Arsha akan pergi untuk bersekolah di Akademi Kerajaan.

__ADS_1


__ADS_2