One & Only

One & Only
143 - Tanggapan Ibu dan Ayah.


__ADS_3

Begitu Yura masuk ke dalam kediaman Ratu, pandangan mata kedua orangtuanya yang ada di sana terus tertuju pada dirinya. Seolah jika pandangan mata adalah sebuah pisau yang tajam, mungkin saja saat ini tubuh Yura sudah tersayat atau bahkan tertikam oleh pandangan mata kedua orangtuanya itu.


Saat itu, Yura memberikan keranjang makanan pada pelayan Ratu yang terus bersiaga di sana.


"Apa ini, Nona Yura?"


"Keranjang itu berisi makanan pemberian dari Arvan," jawab Yura


"Bukankah ini untuk Nona Yura? Kenapa malah diberikan pada kami? Apa Nona ingin kami menyiapkan dan menghidangkannya di atas piring atau wadah lain?"


"Tadi aku sudah makan bersama Arvan, itu untuk kalian. Bahkan prajurit Pevita dan prajurit Rio saja mendapatkan bagian. Jadi, terimalah ... " jelas Yura


"Terima kasih banyak, Nona Yura. Sampaikan juga terima kasih dari kami pada tuan Arvan nantinya."


"Ya, aku mengerti. Kalian makanlah dulu, biar aku saja yang menjaga kak Yuna dan keponakanku ... " kata Yura


"Baiklah. Kami permisi dulu, Nona Yura."


Ketiga pelayan Ratu, Dina, Ella, dan Manda pun beralih sambil membawa keranjang makanan pemberian Arvan yang diberikan oleh Yura.


"Apa rumor bahwa tuan Arvan dan Nona Yura sudah menjadi sepasang kekasih itu benar?"


"Kalau begitu, berarti saat ini tuan Arvan sedang meniru perbuatan calon kakak iparnya yang memberikan makanan pada kekasihnya juga membawa bagian untuk rekan kekasihnya. Seperti yang dilakukan oleh Yang Mulia Ratu untuk Baginda Raja dan para pekerjanya."


"Sungguh romantis."


"Tuan Arvan dan Nona Yura memang terlihat cocok dan serasi."


"Benar, tuan Arvan-nya tampan dan Nona Yura-nya cantik. Keduanya memang berjodoh."

__ADS_1


Seperti itulah bisik-bisik yang terdengar dari pelayan Ratu tentang hubungan antara Yura dan Arvan.


"Bicaralah jika memang ada yang ingin dikatakan. Jangan hanya terus menatapku seperti itu, Ibu, Ayah ... " ucap Yura pada kedua orangtuanya setelah ketiga pelayan Ratu pergi dari sana.


"Yura, apa rumor yang mereka katakan kalau kau dan Arvan adalah sepasang kekasih itu benar?" tanya Nyonya Haris


"Kapan dan dari mana Ibu mendengar rumor seperti itu? Lalu, apa Ibu langsung percaya begitu saja dengar rumor yang Ibu dengar itu?" tanya balik Yura


"Kalau hanya mendengar dari rumor, mungkin Ayah dan Ibu tidak percaya. Namun, hari ini Arvan sendiri yang datang melamar dirimu pada kami berdua dan meminta restu agar bisa menikah denganmu," ungkap Tuan Haris


"Kapan Arvan bicara seperti itu pada Ibu dan Ayah?" tanya Yura yang berusaha untuk tetap merasa tenang, meski pun sebenarnya merasa terkejut.


"Arvan datang bersama Baginda Raja ke sini selagi jam istirahat kerja. Saat Raja Evan menemui Yuna, Arvan berkata ingin bicara dengan Ibu dan Ayah. Saat itulah dia menyampaikan maksudnya dan dia tampak serius dengan perkataannya," jelas Nyonya Haris


"Apa maksudnya itu? Lalu, bagaimana tanggapan Ibu dan Ayah tentang hal ini? Selain Ibu dan Ayah, apa ada orang lain yang mengetahui tentang yang dibicarakan Arvan tadi? Apa mungkin kak Yuna mendengarnya?" tanya Yura


"Ayah dan Ibu bilang akan memikirkannya dengan serius dan menanyakannya padamu lebih dulu, tapi kami bermaksud memberi restu dan menyetujuinya karena tahu Arvan adalah orang baik. Yura, sebenarnya sampai kapan kau mau terus menyembunyikannya? Bukankah kau memang sudah saatnya untuk menikah?" tanya balik Tuan Haris


"Apa Ibu juga setuju dengan perkataan Ayah tadi?" tanya Yura


"Memangnya kenapa tidak? Bukankah Ayah-mu mengatakan hal yang benar?" tanya balik Nyonya Haris


"Siapa yang sebenarnya tidak mengerti di sini? Aku atau Ibu dan Ayah? Kenapa aku merasa ini tidak benar? Apa hanya aku yang merasa seperti ini?" tanya balik Yura lagi lebih seperti bergumam seorang diri.


"Apa maksud perkataanmu ini, Yura? Sebenarnya kau menyukai Arvan atau tidak? Apa kau ingin menikah dengan Arvan?" tanya Tuan Haris


"Ini bukan tentang aku atau perasaanku, tapi tentang Ibu dan Ayah sebagai orangtuaku. Aku juga tahu kalau Arvan itu lelaki baik, tapi apa Ibu dan Ayah akan dengan mudahnya melepaskanku untuk menikah dengan seorang lelaki? Apa Ibu dan Ayah sama sekali tidak merasa sedih saat ingin melepaskanku untuk pergi menikah?" tanya balik Yura


"Padahal saat kak Yuna ingin menikah, Ibu dan Ayah bahkan seolah ingin menundanya karena merasa sedih jika ditinggal pergi kak Yuna setelah menikah. Namun, saat ini terjadi padaku Ibu dan Ayah biasa saja seolah justru ingin mengusirku dengan cepat. Sebenarnya aku ini anak Ibu dan Ayah atau bukan? Apa jangan-jangan aku hanya anak angkat yang kebetulan memiliki wajah yang sama dengan kak Yuna?" tanya Yura melanjutkan.

__ADS_1


"Hati-hati dan jaga bicaramu, Yura. Perkataanmu menyakiti hati orangtuamu. Berbeda dengan Yuna yang menikah pada usianya yang masih muda, kau sudah sangat cukup umur untuk menikah. Mengertilah hal ini," tegur Tuan Haris


"Maaf jika perkataanku tentang aku yang hanya anak angkat menyakiti hati Ibu dan Ayah, tapi aku juga sedih jika selain perkataanku yang itu ternyata benar. Ibu dan Ayah bahkan tidak peduli dengan perasaanku. Apa aku sudah siap menikah atau belum? Apa aku ingin cepat menikah atau menundanya sedikit waktu lagi? Ibu dan Ayah bahkan tidak bertanya padaku tentang hal ini seolah hanya ingin memaksaku untuk cepat menikah. Kalau begitu, suruh saja kak Yasha yang merupakan anak sulung menikah lebih dulu," ujar Yura


"Ibu dan Ayah bahkan tidak tahu bahwa sebelumnya Arvan sangat menyukai kak Yuna. Ibu dan Ayah hanya tak sabar ingin melemparkanku pada seorang lelaki yang bahkan tidak tahu ketulusan hatinya hanya untukku atau justru hanya menganggap dan menjadikanku sebagai pelarian atau pengganti dari perempuan lain. Seolah jika lelaki itu menyakiti perasaanku, Ibu dan Ayah tidak akan peduli dan tidak akan merasa menyesal. Setidaknya jika Ibu dan Ayah mencintaiku, berilah sedikit rintangan pada lelaki yang ingin menikahiku. Itulah yang kumau," sambung Yura dengan kedua mata yang memerah karena menahan tangis.


"Yura, kami berdua tidak tahu soal semua itu ... " kata Nyonya Haris


"Itu karena Ibu dan Ayah bahkan tidak pernah ingin mencari tahu. Aku sudah memberi tahu semua isi hati dan pikiranku tentang hal ini. Setelah ini terserah saja pada Ibu dan Ayah ingin membuat keputusan seperti apa. Aku akan menurutinya," ucap Yura yang akhirnya hanya bisa pasrah setelah mengeluarkan semua uneg-uneg dalam dirinya.


Pembicaraan antara kedua orangtua dan anak itu terinterupsi dengan kehadiran Arsha di sana. Yura yang hendak beranjak pergi akhirnya tersenyum saat melihat sosok keponakannya di sana.


"Arsha, rupanya kau datang. Kau pasti ingin menemui Ibunda Ratu-mu dan adik-adikmu, ya? Ya ampun, kau sudah semakin besar saja. Bibi merindukanmu," ujar Yura


"Selain ingin bertemu dengan Ibunda dan adik-adik, aku juga ingin bertemu dengan Bibi Yura karena sudah sangat merindukanmu. Namun, apa aku datang di saat yang tidak tepat?" tanya Arsha


"Tidak kok. Bibi sudah selesai bicara dengan Nenek dan Kakek. Ke marilah dan jangan lupa beri salam pada Nenek dan Kakek," jawab Yura


"Selamat siang. Bagaimana kabar Nenek dan Kakek?" tanya Arsha


"Cucu pintar. Kami berdua baik-baik saja, Arsha," jawab Tuan Haris


"Jika, Arsha ingin bertemu dengan Ibu dan adik-adik, Bibi Yura yang akan menemanimu," ujar Nyonya Haris


"Ayo, Arsha. Nenek dan Kakek mungkin ingin istirahat. Bibi akan menemanimu untuk bertemu dengan Ibunda Ratu-mu dan adik-adik," kata Yura


"Sampai jumpa lagi, Nenek, Kakek ... " ucap Arsha yang lalu berjalan bersama Yura untuk menemui Ratu dan kedua adiknya.


"Kasihan, Yura. Putri kita itu sedang diterpa badai keraguan sebelum menikah. Harusnya kita bertanya dan mendengarkannya lebih dulu," ujar Nyonya Haris setelah Yura dan Arsha beranjak pergi.

__ADS_1


"Ibu, benar. Sepertinya kita terlalu cepat merasa senang hanya karena akhirnya Yura akan menikah hingga kurang memberi perhatian yang seharusnya untuk putri kita," kata Tuan Haris


__ADS_2