One & Only

One & Only
23 - Pelampiasan Untuk Menghibur Diri.


__ADS_3

Arvan sangat mengerti dan tahu kalau Yura tidak mungkin mengikuti jejak pelaku percobaan pembunuhan kakaknya sendiri untuk melukai orang lain. Arvan sangat yakin kalau Yura bukan orang yang seperti itu. Namun, lelaki itu juga merasa penasaran dan perlu tahu alasan apa yang membuat Yura memiliki kipas bagai senjata itu.


"Kenapa kau tidak berani melihatku, Yura? Apa kau takut kesalahanmu terungkap?" tanya Arvan


"Aku tidak punya kesalahan apa pun. Kipas ini tidak mirip dengan yang digunakan penari untuk melukai Ratu. Kipas itu sepebuhnya terbuat dari besi yang diukir dan dimodifikasi, sedangkan punyaku ini hanya kipas biasa yang kutambahkan kawat kecil yang tajam. Kali ini aku membawanya untuk berjaga-jaga saja, aku juga tidak menyangka kalau ini akan benar-benar berguna," jelas Yura


"Lalu, apa alasanmu membawa kipas yang hampir sama dengan yang digunakan pelaku percobaan pembunuhan Ratu?" tanya Arvan


"Aku hanya iseng membawanya, lagi pula sudah kubilang tak sangka akan berguna dan ini kipas yang berbeda dengan milik penari itu," jawab Yura


"Kau bilang hanya iseng? Apa kau tidak punya hobi lain selain mengoleksi barang bagai senjata yang berbahaya untuk kau gunakan untuk mengancam orang lain?" tanya Arvan


"Dari pada itu, sebenarnya aku pernah dengar dari beberapa pelayan Istana Kerajaan kalau di hari kejadian sebelum insiden terjadi, penari itu tidak membawa properti apa pun sampai akhirnya ada seorang lelaki yang datang membawakan barang yang katanya properti untuk menari dan beberapa pelayan Istana Kerajaan bilang kalau lelaki yang datang itu terlihat mencurigakan. Bukan karena apa, tapi karena penampilannya bukan seperti rekan penari atau semacamnya, tapi malah mirip seperti tukang tempa senjata," ungkap Yura yang mengalihkan topik pembicaraan agar Arvan tidak terus menerus mencecarnya dengan pertanyaan yang serupa.


"Jadi, setelah mendengar itu aku mencoba mendatangi beberapa toko pembuat senjata untuk menyelidiki asal kipas penari itu. Mulai dari bertanya apa dari toko yang kudatangi itu pernah membuat kipas senjata atau apa toko tersebut bisa membuat senjata berbentuk kipas. Tapi, yang kudapat hanya jawaban tidak pernah atau tidak bisa membuat senjata seperti itu. Penyelidikanku tidak berbuah hasil dan sia-sia belaka," sambung Yura


"Kenapa hal penting seperti ini baru kau katakan padaku sekarang?" tanya Arvan


"Karena kau selalu terlihat sibuk, jadi aku tidak tega membebankan hal seperti tugas ini padamu dan terkadang aku juga lupa untuk mengatakannya," jawab Yura


"Aku memang selalu sibuk setiap hari dan aku sudah terbiasa dengan yang seperti itu, harusnya kau bilang padaku apa lagi jika itu hal penting menyangkut Ratu. Kalau kau bilang lebih awal, kan, aku bisa mengatur beberapa orang pekerja Istana Kerajaan untuk melakukan penyelidikan. Jika seperti ini bisa lebih efektif dari pada kau yang menyelidikinya seorang diri. Sekarang katakan dan coba kau ingat-ingat lagi, mungkin kau mendapat suatu petunjuk saat menyelidiki kipas senjata itu? Atau sesuatu yang kau baru menyadarinya belakangan?" tanya Arvan


"Sebenarnya aku mencurigai salah satu toko pembuat senjata yang aku datangi untuk penyelidikan. Saat itu, para pelayan di toko itu seolah tidak berani bicara banyak dan memilih untuk langsung memanggil pemilik toko untuk melayaniku, tapi pemilik toko itu bahkan juga seperti bicara dengan ragu-ragu dan mengakhiri pelayanan terhadapku dengan cepat seolah mengusirku untuk pergi. Lalu, dari yang kudengar dari orang wilayah sana, toko pembuat senjata itu juga merupakan serikat informasi ilegal yang juga menjual senjata (secara) ilegal," jelas Yura


"Apa nama toko pembuat senjata itu?" tanya Arvan


"Namanya, Captain Store ... orang lain menyebutnya Toko Kapten Pembuat Senjata. Dilihat dari luar dan nama tokonya tampak biasa saja," jawab Yura


"Kita tidak bisa menilai sesuatu hanya dari tampak luar atau namanya saja dan harus diselidiki secara jelas dengan baik," kata Arvan


"Kau benar. Membahas hal ini setelah kejadian tadi membuatku tambah merasa kesal. Arvan, apa kau punya pematik (korek) api?" tanya Yura


"Punya, kau perlu untuk apa?" tanya balik Arvan sambil menyerahkan pematik api yang dikeluarkannya pada Yura.


"Kau bertanya untuk apa, tapi langsung memberinya padaku. Ini untuk membakar kipas ini," jawab Yura yang langsung mengambil pematik api dari Arvan dan membakar kipas lipat miliknya.


Setelah terbakar dengan api, Yura masih menggunakan kipas itu meski telah dipenuhi oleh api.


"Yura, itu berbahaya! Kenapa kau masih menggunakan kipas itu setelah dibakar? Kalau masih mau menggunakan kipas itu, kenapa malah dibakar?" tanya Arvan sambil menangkis tangan Yura hingga kipas yang sudah terbakar itu jatuh ke tanah.


"Aku hanya ingin menghasilkan angin dengan kipas itu agar kipas itu lebih cepat dan mudah terbakar sampai habis. Kau juga pasti tahu api ditambah dengan angin akan menghasilkan api yang lebih besar. Justru karena aku tidak ingin menggunakan kipas ini lagi maka aku melakukan seperti barusan," jelas Yura


Yura pun menghilangkan sisa api bekas membakar kipas dengan menginjak-injaknya menggunakan kaki hingga api dan kipas lipat itu lenyap sepenuhnya.


"Kalau saja pelayan lelaki tadi melihat adegan ini, akan kuberi tahu dia kalau aku bisa saja melenyapkannya seperti kipas tadi kalau dia masih berani terus menggangguku. Saat sedang merasa kesal seperti ini, aku butuh pelampiasan ... " ujar Yura


Arvan berusaha menyembunyikan bahwa sebenarnya lelaki itu bergidik ngeri saat melihat dan mendengar Yura berkata seperti itu di hadapannya. Namun, sepertinya Yura menyadari ekspresi yang dibuat oleh Arvan.


"Tenang saja. Meski pun, kubilang butuh pelampiasan kekesalan, aku tidak mungkin berbuat hal buruk padamu. Aku punya cara pelampiasan lain yang lebih menyenangkan untuk menghibur diri," ujar Yura


"Lalu, yang kau maksud adalah cara yang seperti apa?" tanya Arvan


"Menunggang kuda. Apa kau mau ikut denganku?" tanya balik Yura

__ADS_1


"Baiklah, aku akan ikut untuk menemanimu ... " jawab Arvan


Keduanya pun beranjak dari sana dan Yura mengembalikan pematik api pada Arvan.


"Omong-omong, kenapa kau punya pematik api? Apa kau merokok?" tanya Yura setelah mengembalikan pematik api pada Arvan.


"Bukan, aku tidak seperti itu. Ini kubawa juga untuk berjaga-jaga. Kalau aku ikut saat Raja dan Ratu berlibur, terkadang Ratu suka melihat pemandangan malam sambil nenyalakan api unggun. Makanya, aku berjaga-jaga dengan membawa pematik api. Namun, aku bukan perokok," ungkap Arvan


"Begitu, ya. Rupanya, kau selalu siap sedia dan siaga. Kau bekerja dengan baik dan tidak tanggung-tanggung. Pertahankan terus yang seperti itu. Saat aku tidak lagi berada di Istana Kerajaan nantinya kuharap kau bisa selalu menjaga Keluarga Kerajaan dengan baik," ujar Yura


"Memangnya kau mau pergi ke mana? Bukankah Raja sudah memperbolehkan kau tetap tinggal di Istana Kerajaan untuk melindungi Ratu?" tanya Arvan


"Raja memang sudah berkata seperti itu, tapi tidak tahu berlaku sampai kapan dan berapa lama. Mungkin saja aku tidak bisa terus berada di Istana Kerajaan dan harus ke luar suatu hari nanti. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan," jawab Yura


Arvan langsung berpikir setelah Yura berkata seperti itu. Memikirkan Yura yang mungkin akan pergi dan tidak bisa bertemu lagi, tiba-tiba saja Arvan merasakan kesedihan di dalam hatinya secara dengan tak terduga.


...


Usai beranjak pergi dari seorang Nona dan Tuan Penasehat, seorang pelayan perempuan memarahi teman pelayan lelakinya untuk memberinya efek jera.


"Rio, kau ini bagaimana, sih? Bisa-bisanya kau malah menggoda tamu dari Istana Kerajaan? Meski pun, dia hanya seorang pelayan sama seperti kita, apa kau tidak pernah berpikir kalau dia punya kehormatan khusus padahal sudah jelas bahwa Keluarga Kerajaan yang membawanya untuk ikut ke sini? Bagaimana kalau nona tadi benar-benar menggunakan kuasa yang didapatnya dari Raja untuk menghukummu? Bagaimana jadinya kalau tadi aku tidak datang?" tanyanya, pelayan perempuan bernama Pevita.


Pelayan perempuan bernama Pevita itu bicara panjang lebar. Namun, yang diajak bicara malah diam sambil terus tersenyum tak menentu.


"Kau ini bisu atau tuli? Diajak bicara, kenapa malah diam saja? Senyum-senyum tidak jelas seperti itu pula ... jangan bilang kalau kau sungguhan menyukai nona pelayan tadi?" tanya Pevita


"Vita, kau seperti tidak mengenalku saja. Aku tidak mungkin menggoda sembarangan kalau tidak punya rasa suka. Kukira nona tadi orangnya lembut, tapi ternyata dia sangat berani. Gadis misterius sudah menarik perhatianku," ungkapnya, pelayan lelaki yang bernama Rio.


"Dasar, si bodoh gila! Kau masih saja berani menyukai nona itu setelah apa yang kau perbuat padanya. Apa kau pikir nona itu akan berbalik menyukaimu juga? Kenapa kau selalu saja menyukai orang yang tidak tepat? Bukankah saat rasa sukamu itu tak terbalas, kau juga yang akan sakit hati? Bukankah kau kenal dengan banyak perempuan? Kenapa kau tidak suka dengan perempuan lain saja? Kenapa kau selalu mempersulit dirimu sendiri? Lalu, bukankah sudah terlihat jelas kalau nona itu lebih tua usianya dari pada dirimu?" tanya Pevita


"Terserah aku mau suka dengan siapa pun juga. Perbedaan usia sekarang tidak lagi penting. Perempuan lain yang kukenal hanya para pekerja di Vila Kerajaan ini karena kita semua rata-rata datang dari kampung halaman yang sama untuk bekerja di sini. Aku sudah menganggap kau dan mereka semua sebagai saudara sendiri. Aku tidak mungkin suka dengan saudara sendiri," jawab Rio


"Baiklah, terserah kau saja. Memang sulit memberi tahu orang yang tak bisa diajak bicara seperti dirimu," kata Pevita


Akhirnya, Pevita pun pergi meninggalkan Rio.


...


Arsha masih terus berada di dalam kamar Raja dan Ratu, berbincang dengan kedua orangtuanya.


"Ayahanda, Ibunda, bagaimana kalau kita berkeliling di luar seperti bibi Yura dan paman Arvan? Aku memang sudah melihat pemandangan dari jendela kamarku, tapi sepertinya akan lebih menyenangkan kalau melihatnya langsung sambil berkeliling," ujar Arsha yang mengemukakan pendapatnya.


"Jadi, kau ingin pergi berkeliling, ya, Arsha?" tanya Ratu


Arsha pun langsung mengangguk sebagai jawaban.


"Baiklah, ayo kita pergi berkeliling bersama ... " kata Raja


Arsha pun ke luar dari kamar tersebut bersama Raja dan Ratu karena hendak pergi berkeliling bersama.


Saat sedang berkeliling, ketiganya melihat Yura dan Arvan yang sedang bersama.


"Itu Bibi Yura dan Paman Arvan," kata Ratu

__ADS_1


"Ayahanda, Ibunda, apa Paman Arvan akan menikah dengan Bibi Yura seperti Anda berdua dan menjadi Paman-ku sungguhan?" tanya Arsha


"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, Arsha?" tanya Ratu


"Karena keduanya terlihat dekat dan cocok," jawab Arsha


"Soal itu kenapa tidak kau tanyakan sendiri saja pada Bibi Yura atau Paman Arvan?" tanya Raja


"Aku sudah pernah bertanya pada Paman Arvan dan dijawab kalau mereka berdua memang cukup dekat dan hanya berteman," ungkap Arsha


"Kalau Bibi Yura sungguhan menikah dengan Paman Arvan, apa kau tidak apa-apa? Maksudnya, apa kau akan setuju, Arsha?" tanya Ratu


"Keputusannya ada pada Bibi Yura dan Paman Arvan. Aku suka kok," jawab Arsha


"Kalau begitu, kali ini kau bisa menanyakan pada Bibi Yura secara langsung. Ayo, kita hampiri Bibi Yura dan Paman Arvan," ujar Raja


"Lebih baik Ayahanda saja yang bertanya karena aku sudah bertanya pada Paman Arvan sebelumnya," kata Arsha


Raja, Ratu, dan Arsha pun menghampiri Yura dan Arvan.


Melihat kedatangan Keluarga Kerajaan, Yura dan Arvan langsung memberi salam hormat.


"Salam sejahtera bagi Baginda Raja, Yang Mulia Ratu, dan Putra Mahkota," ucap Yura dan Arvan sambil membungkuk hormat secara bersamaan.


"Kebetulan bertemu Bibi Yura dan Paman Arvan di sini, katanya ada hal yang ingin ditanyakan Ayanda pada kalian berdua," ujar Arvan


"Hal apa yang ingin Anda tanyakan pada kami berdua, Baginda?" tanya Yura


"Bukankah kau yang ingin bertanya pada Bibi Yura, Arsha?" tanya Raja


Arsha langsung menggeleng sambil tersenyum kecil.


Ratu hanya bisa menggeleng pelan melihat anak dan suaminya yang saling melempar keinginan untuk bertanya padahal sangat jelas kalau kedua lelaki itu sama-sama merasa penasaran dengan jawaban yang mungkin diberikan atas pertanyaan yang sama-sama terlintas dan mengganjal pada benak keduanya.


"Jadi, Yura, Arvan ... kalian berdua hendak pergi ke mana?" tanya Ratu yang mengambil alih peran untuk bertanya, meski pertanyaan yang diajukan sama sekali berbeda dengan yang ingin ditanyakan oleh suami dan anaknya itu.


"Rupanya, hanya ingin bertanya soal itu ... " gumam pelan Yura


"Kami berencana menunggang kuda bersama. Apa Anda bertiga juga ingin ikut?" tanya Arvan


"Kalau begitu, aku juga ingin ikut. Ayahanda, Ibunda, bagaimana kalau kita juga ikut menunggang kuda bersama Bibi Yura dan Paman Arvan?" tanya Arsha


"Memangnya tidak masalah kalau kami bertiga juga ikut?" tanya Ratu


"Tentu saja, tidak masalah ... " jawab Yura


"Kalau begitu, mari kita pergi bersama ... " ujar Arvan


Pada akhirnya, Yura dan Arvan tidak menunggang kuda hanya berdua. Melainkan juga bersama Raja, Ratu, dan Arsha.


Tiga kuda dikeluarkan dari kandang untuk ditunggangi bersama.


Arsha menunggang kuda yang sama dengan Yura, Raja menunggang kuda yang sama dengan Ratu, sedangkan Arvan menunggang kuda seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2