
Setibanya di Istana Kerajaan dari Vila milik Keluarga Haris, Raja tidak langsung kembali mengurus pekerjaan karena harus lebih dulu menemani Ratu dan menjamu kedua mertuanya yang telah diundang secara langsung oleh dirinya sendiri. Hingga Raja baru bisa kembali bekerja dan masuk ke ruang kerja Istana Kerajaan saat sore hari.
Di dalam ruang kerja Istana Kerajaan, Arvan dan Rino langsung menyambut kehadirannya karena sudah lebih dulu berada di sana.
"Baginda Raja, ada surat untuk Anda yang datang dari daerah perbatasan," ucap Arvan yang langsung memberi sepucuk surat ke hadapan Raja.
"Baiklah, suratnya akan langsung kubaca," kata Raja yang langsung mengambil dan membuka amplop surat yang diberikan oleh Arvan.
"Semoga ini bukan kabar atau berita buruk tentang Yura yang kuizinkan pergi ke sana," sambung Raja seraya bergumam di dalam hati.
Raja pun membaca selembar surat tersebut dengan seksama dan perasaan cemas. Namun, Raja merasa lega karena ternyata itu bukan surat yang berisi kabar berita buruk tentang Yura.
"Syukurlah bukan kabar berita buruk tentang Yura. Mereka meminta dikirimkan bantuan pihak medis padahal Yura pergi untuk tujuan mengisi posisi itu. Mungkin surat ini dikirim sebelum Yura sampai di sana," batin Raja
"Apa isi surat itu, Baginda? Ada kabar apa dari daerah perbatasan? Apa di sana membutuhkan sesuatu selain prajurit tambahan?" tanya Arvan
"Ya, mereka butuh dan memintaku mengirim bantuan berupa pihak medis ke sana. Namun, aku sudah mengirim yang mereka perlukan itu. Mungkin mereka mengirim surat ini sebelum bantuan dariku tiba di sana," jelas Raja
"Lalu, memangnya kapan dan siapa saja pihak medis yang Anda kirimkan ke daerah perbatasan?" tanya Arvan
"Aku lupa belum memberi tahu padamu tentang hal ini," jawab Raja
"Ya, karena baru sekarang Anda bertemu dengan saya lagi setelah kembali dari Vila milik Keluarga Haris sejak tadi siang. Anda boleh tidak memberi tahu pada saya jika itu keinginan Anda," kata Arvan
"Apa kau memang tidak ingin mendengarnya meski pun ini tentang Yura? Sepertinya kau berhak tahu soal ini dan mungkin sudah mulai bisa menduganya. Sebenarnya bukan aku yang mengirimnya ke sana, tapi Yura yang meminta izin dariku untuk pergi. Jadi aku tidak punya pilihan lain selain memberi izin padanya. Adik iparku itu sangat keras kepala, aku tidak bisa berbuat apa-apa karenanya. Untuk sementara waktu hal ini dirahasiakan, jadi mohon kerja sama darimu untuk tetap diam," ujar Raja
"Bagaimana bisa Yura pergi ke sana? Apa dia mengetahui sesuatu tentang yang terjadi di daerah perbatasan?" tanya Arvan yang berusaha untuk tetap tenang dan menyembunyikan rasa terkejut dan kekhawatirannya.
"Aku juga tidak tahu dari mana Yura tahu tentang perang yang terjadi di daerah perbatasan. Katanya, dia merasa khawatir dan ingin membantu kakaknya yang ada di sana. Aku jadi tidak berdaya untuk melarangnya karena dia juga memaksaku," ungkap Raja
"Yura pasti kesulitan di sana. Bantuan pihak medis tidak mungkin hanya satu orang, karena itu tolong beri izin dan kirimkan juga saya ke sana. Meski pun saya tidak di sini, ada Rino yang akan tetap membantu Anda," ucap Arvan
"Aku memang sedang merencanakan dan memikirkan tentang hal yang kau minta, itu pun kalau kau bersedia. Namun, apa kau yakin ingin pergi?" tanya Raja
"Ya, saya akan langsung bersiap sekarang juga ... " jawab Arvan
"Apa kau ingin segera pergi? Hari sudah sore, kalau kau pergi sekarang mungkin kau baru akan sampai di daerah perbatasan saat tengah malam nanti. Kau juga akan mengalami kesulitan selama berada di perjalanan karena sebentar lagi hari sudah akan menjadi gelap. Apa kau benar-benar yakin?" tanya Raja
"Saya yakin dan tidak masalah dengan itu," jawab Arvan
__ADS_1
"Arvan, aku tahu kau sangat peduli dengan Yura. Kau menyukai Yura, tapi kau selalu menyembunyikannya. Kali ini adalah kesempatan terakhir dariku untuk kau mengejar dan mendapatkan hati Yura. Kalau kau tidak mau atau tidak berusaha soal ini, aku akan menjodohkan Yura dengan orang lain. Sepertinya akan tampak serasi dan cocok jika adik ipar dan kak Dean menjadi pasangan," ucap Raja
"Anda tidak perlu memikirkan hal ini karena saya tidak akan menyerah," kata Arvan
"Kalau begitu, pergilah bersiap dan hati-hati saat di perjalanan nanti. Aku tidak akan mengantarmu," ujar Raja
"Rupanya, Tuan Arvan menyukai nona Yura. Ya, itu bukan hal yang mengherankan karena bisa terlihat dari caranya bersikap," batin Rino
Arvan pun beranjak pergi dengan cepat. Usai bersiap dengan terburu-buru, Arvan pun langsung mengambil seekor kuda miliknya dari kandang Istana dan bergegas pergi dengan menunggang kuda ke luar dari Istana Kerajaan menuju ke daerah perbatasan.
Di kamp prajurit yang ada di perbatasan, Yura tak hanya mengobati para prajurit yang terluka, tapi juga memasak hidangan sederhana di dapur darurat. Di sana hanya ada banyak lelaki, jarang sekali ada perempuan. Kecuali Yura dan beberapa anggota Suku Barat yang ikut membantu kegiatan di kamp prajurit karena wilayah mereka ada di dekat daerah perbatasan tersebut.
"Nona Yura, kau istirahat saja dulu. Kau belum istirahat sama sekali sejak kau datang ke sini."
"Saya akan istirahat nanti. Saya adalah tipe orang yang tidak ingin diganggu saat sedang istirahat, jadi lebih baik saya selesaikan dulu pekerjaan yang ada di sini," ucap Yura
"Itu karena Nona Yura terlalu banyak bekerja dan merasa sangat lelah, jadi Nona bukannya tidak ingin diganggu, tapi tidak bisa diganggu lagi saat istirahat. Nona Yura, lebih baik istirahat karena sekarang ini juga sudah malam."
"Saya tipe orang yang bekerja sampai tuntas, jadi Anda sekalian tenang saja dan makanlah makanan yang sudah disiapkan ... " kata Yura
"Ada Nona Yura yang memasak untuk kami semua, pasti rasa makanannya sangat lezat."
"Rasa masakanmu memang terasa mewah dari segi rasa dibandingkan masakan buatan prajurit di sini. Apa kau membawa bumbu dapur saat datang ke sini?" tanya Yasha
"Ya, aku memang membawa beberapa bumbu dapur karena selain bisa digunakan untuk memasak, bumbu dapur juga bisa digunakan untuk bahan obat tradisional sebagai alternatif lain. Silakan menikmati masakannya. Aku juga sudah menambahkan bumbu bahan penambah energi tanpa efek samping apa pun ke dalam masakannya. Dijamin setelah makan akan tetap fit dan segar bugar," ungkap Yura
"Terima kasih dan selamat makan!"
Semua pun mulai makan bersama. Begitu juga dengan Yura dan Yasha.
"Memangnya di sini tidak ada persediaan bumbu dapur sama sekali untuk memasak?" tanya Yura
"Sebelumnya memang ada, tapi sudah habis. Hanya bumbu dapur yang habis dengan cepat, padahal persediaan makanan yang dikirim dari Istana Kerajaan pun masih ada. Bantuan yang datang dari wilayah sekitar pun hanya mengirim makanan pokok, jadi kami hanya terus makan apa yang ada. Mau meminta bantuan bumbu dapur pada wilayah sekitar pun kami terlaku segan bahkan ingin meminta pun selalu lupa," jelas Yasha
"Ya, aku bisa mengerti. Kondisi di medan perang memang seperti itu karena selalu sibuk dan fokus pada pertempuran," kata Yura
Saat sedang makan, tiba-tiba saja Yura melayangkan pisau hingga hampir mengenai salah satu anggota prajurit di sana.
"Nona Yura, ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba kau bereaksi seperti ini terhadapku?"
__ADS_1
"Tenanglah, Yura tidak berniat untuk menyakirimu. Aku bukan berniat membela adikku, tapi Yura hanya ingin membunuh seekor ular yang ada tepat di sisi belakangmu," jawab Yasha mewakili sang adik.
Semua perhatian pun tertuju pada seekor ular yang sudah dalam keadaan mati karena tertancap pisau di bagian belakang kepalanya.
"Kenapa Nona Yura tidak bilang saja?"
"Kalau aku harus mengatakan sesuatu sebelum bertindak, mungkin sekarang yang mati bukan ular itu, melainkan Anda, Tuan Prajurit. Maaf, aku tidak bermaksud menyumpahimu, tapi mungkin tidak ada yang melihatnya tadi, tapi ular itu bergerak dengan sangat gesit," jawab Yura yang langsung mengambil dan mencabut kembali pisau yang menancap pada tubuh ular yang sudah mati tak berdaya itu.
"Ini adalah ular yang memiliki bisa yang sangat mematikan. Apa di sini memang selalu muncul hewan liar seperti ini?" tanya Yura melanjutkan.
"Dari mana kau tahu kalau ular itu berbisa, Yura?" tanya balik Yasha
"Orang yang mempunyai kemampuan medis memang selalu tahu hal seperti ini karena setidaknya pernah meneliti racun dari hewan berbisa setidaknya sekali dan sejak itu jadi mencari tahu tentang berbagai ciri hewan berbahaya dan berbisa. Ular ini memiliki ciri corak ular berbisa," ungkap Yura
"Ini pasti siasat pasukan musuh untuk membuat pasukan kita tidak bisa atau kalah dalam berperang. Pasukan musuh memang sangat licik, mereka juga sangat kejam. Kalau tidak, tidak mungkin perang yang belum berlangsung lama sudah membuat kita meminta pasukan tambahan dan bantuan pihak medis ke Istana Kerajaan."
"Memangnya sudah berapa lama perang berlangsung?" tanya Yura
"Sebelumnya hanya sering terjadi bentrokan kecil antar dua wilayah Negara Kerajaan dan kami hanya bertugas menjaga daerah perbatasan ini. Tiba-tiba saja suatu hari Negara Brande mendeklarasikan perang dan menyerang tanpa aba-aba. Hingga kami cukup dibuat kewalahan. Itu dimulai tidak sampai sebulan terakhir ini," jawab Yasha
"Tidak siap dengan situasi bahaya yang mengancam juga merupakan suatu kelalaian dan itu bisa menyebabkan kegagalan atau kekalahan. Sama seperti kejadian ular saat ini, jadi berhati-hatilah. Bahkan malam hari yang gelap pun tidak bisa dijadikan sebagai alasan. Untuk ke depannya, mungkin pasukan prajurit kita masih perlu berlatih kepekaan dan gerak refleks," ucap Yura dengan tatapan mata yang tajam.
"Nona Yura, sangat ketat bahkan melebihi Ketua Yasha."
"Sebenarnya seberapa besar kemampuan bertarung yang Nona Yura miliki sampai bisa menilai pasukan kita dengan mudah?"
"Seberapa besar kemampuan yang saya miliki, kalian bisa melihatnya secara lsngsung perlahan-lahan," jawab Yura yang mendengar pertanyaan berbisik dari salah satu anggota prajurit.
Saat itu, lagi-lagi Yura melayangkan pisau di tangannya ke suatu arah di belakangnya. Pisau itu melesat dengan sangat cepat.
"Kali ini ada bahaya apa lagi, Nona Yura?"
"Ada orang yang mengintip ke arah sini secara diam-diam," jawab Yura
"Yura, bagaimana kalau itu adalah anggota prajurit kita atau orang dari Suku Barat yang datang untuk memberi bantuan?" tanya Yasha
"Jika memang benar, tidak mungkin dia mengintip secara diam-diam, tapi dia pasti akan langsung bergabung bersama kita di sini," jawab Yura
Yura pun langsung berlarian menuju ke arah pisau yang telah dilempar olehnya, Yasha dan beberapa prajurit pun mengikutinya. Namun, tidak ada siapa pun di sana. Hanya ada jejak tetesan darah yang entah milik siapa. Bahkan pisau yang tadi digunakan untuk melempar oleh Yura pun sudah tidak ada di sana.
__ADS_1