One & Only

One & Only
52 - Kisah yang Sebenarnya Terjadi.


__ADS_3

Arvan sedikut terperanjat saat mendengar cerita Yura yang masih terus berlanjut. Seolah dirinya bisa menebak kelanjutan hingga akhir cerita. Namun, tidak ingin berspekulasi seorang diri, Arvan memilih untuk ingin tetap mendengar Yura yang menceritakan kisah itu dengan mulut gadis sendiri.


"Karena setelah menerima dua potong hidangan itu dari pelayan, tiba-tiba aku mendengar suara minta tolong. Aku mencari sumber suara itu dan melihat seorang kakak lelaki kecil yang sedang dikejar seekor anjing. Aku pun merasa harus menolongnya, jadi aku menghampirinya dan berusaha menghadang anjing itu agar berhenti mengejar lelaki itu yang akhirnya terjatuh karena tersandung setelah terus berlari. Namun, anjing itu tetap tidak mau pergi. Akhirnya aku melempar salah satu kue daging kotak itu agar anjing itu bisa pergi mengejar aroma makanan," ungkap Yura


"Usahaku berhasil, anjing itu pergi dan aku pun membantu kakak lelaki itu berdiri, lalu pergi dari sana agar tidak bertemu dengan anjing galak itu lagi. Setelah itu aku mengobrol dengan kakak lelaki kecil itu, rupanya alasan sampai dia dikejar anjing adalah karena tidak sengaja menginjak ekor anjing itu. Lalu, secara tak sengaja aku melihat telapak tangan kakak itu berdarah dan terluka karena sempat terjatuh, jadi aku memberikan sapu tanganku untuk membalut luka di tangannya," sambung Yura


"Aku juga memberikan satu kue daging kotak yang tersisa untuknya karena kakak lelaki kecil itu bilang tidak bisa mengikuti acara pesta perayaan saat pakaiannya kotor setelah sempat terjatuh saat itu. Tak lama setelah itu, aku mendengar suara kakakku yang sedang mencariku. Jadi, aku pun pergi meninggalkan kakak lelaki kecil itu untuk kembali menemui kakakku, tapi aku sudah bilang pada kakak lelaki kecil itu kalau saat itu kami sudah menjadi teman karena teman pasti akan bertemu lagi," lanjut Yura lagi.


Kali ini Arvan benar-benar terkejut setelah mendengar keseluruhan kisah yang diceritakan oleh Yura padanya.


"Kisah ... cerita masa lalu-" Bicara Arvan jadi tergagap karena benar-benar tidak menyangka dan merasa sangat terkejut.


"Ya, kisah yang kuceritakan sudah berakhir. Hanya sampai di situ," kata Yura


"Kisah barusan, apa itu benar-benar cerita masa lalumu sendiri?" tanya Arvan


"Tentu saja, aku hanya menceritakan kisah asli milikku sendiri. Aku tidak berbohong, tapi adalah hakmu jika kau mau menganggap itu sebagai cerita palsu," jawab Yura


"Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya salah bicara saat bertanya. Maaf," kata Arvan


"Kau tidak perlu sampai bilang maaf seperti itu," sahut Yura


"Aku bodoh sekali sudah bertanya seperti itu, bahkan selama ini aku keliru menganggap Yura sebagai Yuna. Bagaimana bisa aku sama sekali tidak menyadarinya, bahkan berpikir ke arah sana sedikit pun saja tidak pernah?" batin Arvan


"Jadi, itulah sebabnya kau berkata seperti pernah melihat sapu tangan milikku? Karena sebenarnya sapu tangan itu adalah milikmu yang kau sendiri yang memberikannya padaku saat kau menyelamatkanku dulu?" tanya Arvan


"Dulu sapu tangan itu memang milikku, tapi karena sudah kuberikan padamu, jadi sapu tangan itu sudah menjadi milikmu ... " jawab Yura

__ADS_1


"Tapi, kenapa kau hanya terus bungkam dan diam saja? Kenapa kau tidak beri tahu aku kebenaran yang sebenarnya?" tanya Arvan


"Entahlah. Mungkin karena aku tidak ingin mengacaukan ingatan yang kau percaya selama ini tentang sapu tangan itu," jawab Yura


"Dengan cara membiarkan aku keliru selama belasan tahun lamanya? Apa menurutmu hal ini bukan sesuatu yang kacau?" tanya Arvan


"Ya, kau tidak bersalah. Kekeliruan itu adalah kesalahanku selama ini. Aku bahkan tidak membiarkanmu memperbaiki saat sapu tangan itu rusak," sambung Arvan yang cukup merasa frustasi.


"Baik dulu atau pun sekarang, kupikir kita adalah teman, tapi sepertinya aku sudah jadi teman yang buruk. Namun, kau adalah teman bicara yang baik. Meski pun hanya sementara, aku senang berpikir kalau kita berteman. Hanya saja sepertinya hubungan pertemanan kita tidak cocok," ucap Yura


"Tidak, Yura ... " lirih Arvan


Yura pun bangkit dari duduknya di samping Arvan. Arvan menatap gadis bercadar di hadapannya dengan pandangan sendu.


"Sudah cukup sampai di sini saja. Terima kasih karena sudah bersedia bicara dengan saya, Tuan Penasehat Besar. Saya pun telah menepati janji untuk menceritakan suatu kisah padamu. Kalau begitu, saya permisi lebih dulu karena masih ada urusan lain yang harus dilakukan ... " ucap Yura yang langsung beranjak pergi dari sana meninggalkan Arvan seorang diri.


"Selama ini aku sudah salah mengira penyelamat masa kecilku dulu adalah Yuna, padahal yang saat itu menyelamatkanku adalah Yura. Kalau seperti ini semuanya jadi masuk akal, gadis yang kusukai sejak dulu adalah gadis kecil penyelamatku. Itu artinya sejak awal yang kusukai adalah Yura. Perasaan sukaku pada Yuna selama ini adalah suatu kekeliruan karena menganggapnya sebagai penyelamatku yang rupanya adalah Yura. Namun, sepertinya semua sudah percuma dan sia-sia belaka," batin Arvan


"Dari perkataan terakhir Yura seolah terdengar dia tidak ingin lagi memiliki huhungan apa pun denganku. Bahkan sampai akhir pun aku juga tidak sempat mengatakan tentang perasaanku yang sesungguhnya padanya, padahal aku juga sudah merasa kalau bukan sekarang, aku tidak bisa lagi bicara dengannya. Dan semua pun telah terjadi, aku benar-benar tidak bisa mengatakan apa pun bahkan setelah mengetahui semua kenyataan yang terjadi. Aku sungguh sangat bodoh. Aku tidak pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya. Soal perasaan dan orang yang kusuka, aku sangat bodoh dalam hal ini ... " sambung Arvan yang terus merutuki dirinya sendiri di dalam hati.


Tanpa sadar Arvan bahkan menitikkan air dari sudut matanya. Lelaki itu sangat menyesali kebodohannya yang seolah sudah tak tertolong lagi. Ia sudah menghabiskan waktu belasan tahun lamanya untuk menyukai gadis yang salah hanya karena keliru dengan wajah yang mirip.


Usai pergi meninggalkan Arvan, Yura langsung beralih menuju lorong kamar. Gadis bercadar itu ingat telah berkata untuk membantu mengemas barang milik Arsha sebelum pergi meninggalkan Vila Kerajaan untuk kembali ke Istana Kerajaan.


Yura pun mengetuk pintu kamar Arsha.


"Arsha, ini Bibi Yura yang datang untuk membantumu berkemas," ucap Yura

__ADS_1


"Ya, tunggu sebentar, Bibi ... " sahut Arsha dari dalam kamar.


Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan lelaki kecil muncul dari baliknya.


"Silakan masuk, Bibi Yura ... " kata Arsha


"Apa aku mengganggumu?" tanya Yura yang lalu melangkah masuk ke dalam kamar Arsha usai dipersilakan masuk.


"Tidak kok, Bibi. Aku hanya sedang mulai mengemas barang milikku sendiri," jawab Arsha


"Begitu, rupanya. Kalau begitu, aku akan membantumu," ujar Yura


"Ya, mohon bantuanmu, Bibi ... " kata Arsha


"Tidak perlu sungkan. Dari awal, aku memang sudah berkata akan membantumu mengemas barang," sahut Yura


Yura langsung mendekat ke arah koper barang yang sedang dikemas oleh Arsha di dalam kamar tersebut. Arsha berkemas dengan sangat rapi. Namun, sepertinya Putra Mahkota itu merasa kesulitan saat melakukannya dan itu dapat terlihat dari baru sedikit barangnya yang dikemas ke dalam koper barang.


Yura pun mulai beranjak untuk membantu mengemas barang milik Arsha dengan teliti, telaten, dan dengan gerakan cepat.


"Jadi, Bibi, apa kau sudah selesai bicara dengan paman Arvan? Apa pembicaraan kalian berdua berjalan lancar?" tanya Arsha


"Sudah dan semuanya lancar. Karena itu Bibi langsung menghampirimu ke sini untuk membantu mengemas barang. Jadi, mari kita selesaikan ini dengan cepat supaya kita bisa pergi membantu ibunda Ratu-mu mengemas barangnya juga," jawab Yura


"Baiklah," kata Arsha


Yura sengaja menjawab seperti itu agar Arsha tidak bertanya hal lainnya lagi tentang pembicaraannya dengan Arvan.

__ADS_1


Lalu, Arsha pun ikut membantu untuk mengemas barang miliknya bersama Yura.


__ADS_2