
Setelah menunggu beberapa saat, salah satu penjaga penjara istana sebelumnya pun kembali menemui Yura dan Arvan.
"Jadi, bagaimana? Apa kami berdua bisa bertemu dan bicara secara langsung dengan ketua penjaga di sini?" tanya Yura
"Ya, kalian berdua boleh bertemu dengan ketua. Mari, ikuti saya."
Yura dan Arvan pun mengangguk kecil, lalu berjalan mengikuti penjaga penjara istana tersebut untuk menghampiri pos ketua penjaga penjara istana.
"Permisi, Ketua. Ini adalah kedua orang yang meminta ingin bertemu."
"Baiklah, biarkan mereka berdua bicara denganku. Kau kembalilah bertugas."
"Baik, selamat bicara. Kalau begitu, saya akan kembali. Permisi ...."
"Terima kasih karena sudah mengantarkan kami berdua untuk bertemu dengan ketua penjaga," ucap Yura sebelum penjaga penjara istana yang mengantar berlalu pergi dari sana.
Penjaga penjara istana itu hanya mengangguk kecil dan lanjut beralih pergi dari sana.
"Rupanya, ada Tuan Penasehat Besar yang ingin bertemu dengan saya. Katakanlah, ada hal apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya?" tanya ketua penjaga penjara istana.
"Maaf, tapi kali ini pun aku hanya menemani Nona ini untuk bertemu denganmu," kata Arvan karena sebelumnya juga pernah menemani Raja untuk menemui ketua penjaga penjara istana tersebut.
"Baiklah. Kalau begitu, ada keperluan apa sampai Nona datang ke sini untuk mencari saya?"
"Keperluanku datang mencarimu ke sini adalah untuk mengambil bukti dari salah satu kejahatan yang di simpan di sini, yaitu sepasang kipas penari pembunuh ... " ungkap Yura
"Jadi, maksud Nona adalah properti penari kipas itu. Maaf, tapi sepasang kipas itu adalah barang bukti penting dari suatu kejahatan besar. Saya tidak bisa memberikannya dengan mudah begitu saja."
"Aku akan memberikan lencana milikku sebagai penebus. Apa kau tidak bisa memberikan barang itu pada kami berdua untuk sementara waktu?" tanya Arvan
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Itu juga tidak bisa. Jika salah dalam mengambil tindakan, saya yang akan dijatuhi hukuman karena dianggap lalai."
"Apa kau tetap tidak bisa memberikannya pada kami berdua meski sudah diberi izin secara langsung oleh Baginda Raja sendiri?" tanya Yura sambil memperlihatkan lencana emas milik Raja yang diberikan padanya.
Baik ketua penjaga penjara istana atau bahkan Arvan pun menjadi tercengang saat melihat Yura mengeluarkan lencana emas milik Raja. Keduanya tidak menyangka jika Yura telah memiliki hak istimewa dari Raja.
"Itu adalah lencana kehormatan milik Baginda Raja."
"Benar. Baginda Raja sendiri yang memberikan lencana emas ini padaku secara langsung," kata Yura
"Berbeda jadinya jika Baginda Raja sendiri sudah memberi izin secara langsung. Baiklah, kalian berdua boleh membawa sepasang kipas penari itu. Tunggu sebentar di sini, saya akan mengambilkan barangnya dari ruang penyimpanan bukti lebih dulu."
"Ya, silakan saja ... " sahut Yura
Yura dan Arvan pun harus kembali menunggu saat ketua penjaga penjara istana hendak mengambil properti kipas pembunuh dari ruang penyimpanan barang bukti.
Saat itu, meski pun merasa penasaran dengan lencana emas milik Raja yang disimpan oleh Yura, Arvan menahan dirinya untuk bertanya. Lelaki itu hanya tidak ingin gadis bercadar yang ada di sampingnya menjadi merasa jengah jika dirinya terlalu banyak bicara. Untuk saat ini Arvan hanya ingin terus berada di sisi Yura untuk menemaninya.
"Di dalam kotak ini, tersimpan dua kipas properti penari pembunuh itu. Kalian boleh membawanya." Ketua penjaga penjara istana itu memberikan sebuah kotak pada Yura dan Arvan.
Yura lebih dulu membuka kotak tersebut untuk memeriksanya dan benar, isi kotak tersebut adalah sepasang kipas yang terbuat dari besi tajam.
Rahang Yura mengeras saat membayangkan saat kipas besi itu menggores leher saudari kembarnya hingga menimbulkan luka fatal karena saat kejadian terjadi, kipas itu juga dilumuri dengan racun. Apa lagi saat kejadian terjadi, Yura tidak ada di samping saudari kembarnya untuk melindunginya. Yura merasa bersalah karena itu meski pun itu bukan kesalahannya dan meski dirinya telah datang untuk membantu membawakan penawar racun untuk menyelamatkan saudari kembarnya sekali pun. Yura masih merasa dirinya diliputi rasa bersalah karena dirinya tidak bisa ada untuk dan saat saudari kembarnya membutuhkannya.
"Aku ingat, memang benar ini adalah kipas yang digunakan untuk melukai Yang Mulia Ratu saat kejadian itu ... " kata Arvan
"Baiklah, terima kasih karena sudah bersedia memberikan barang ini pada kami berdua. Kalau begitu, bukankah setelah ini kau memerlukan cap sidik jari kami berdua sebagai tanda bukti kau memberikan barang ini untuk dipinjamkan pada kami berdua?" tanya Yura
"Mungkin yang Nona maksud adalah data diri?" tanya balik ketua penjaga penjara istana.
__ADS_1
"Menulis data diri terlalu merepotkan, jadi itu tidak perlu. Lebih baik langsung cap sidik jari saja yang lebih mudah dan cepat. Lagi pula, sidik jari juga bisa mengungkap identitas seseorang. Tolong langsung siapkan agar kami bisa memberikan cap sidik jari kami berdua," jelas Yura
"Baiklah, saya akan langsung menyiapkannya." Ketua penjaga penjara istana itu pun langsung mengambil kertas dan cap stamp untuk dibubuhkan pada jari tangan Yura dan Arvan, lalu mencetak cap jari keduanya di atas kertas yang disediakan.
Yura dan Arvan pun melakukan penecapan sidik jari di atas nasing-masing selembar kertas yang berbeda.
"Baik, dengan begini bukti sudah sah dibuat."
"Terima kasih sudah bersedia bicara dan menerima permintaan kami meski harus melakukan proses dengan cukup merepotkan. Maaf juga jika ada perlakuan kami berdua terutama dariku yang menyinggung atau kurang berkenan bagimu," ucap Yura
"Kalau begitu, kami berdua akan segera pergi. Permisi," ujar Arvan
Yura dan Arvan pun berlalu pergi dari pos tersebut bahkan meninggalkan penjara istana dengan membawa kotak barang bukti.
"Kita sudah mendapatkan barang bukti kasus percobaan pembunuhannya. Lalu, apa kita akan langsung pergi ke toko senjata yang kau maksud sebelumnya?" tanya Arvan
"Tentu saja, memang harus menunggu apa lagi? Lebih cepat dilakukan, lebih ceoat diselesaikan, maka itu lebih baik ... " jawab Yura
"Namun, biasanya toko senjata akan buka sedikit lebih siang karena waktu bukanya akan sampai lewat tengah malam. Kalau kita pergi sekarang, mungkin toko senjatanya masih belum dibuka," ujar Arvan
"Aku mengerti. Harusnya kau langsung katakan saja tadi," kata Yura
"Yura, kau mengambil barang bukti kali ini, apa karena kau ingin menggunakan metode introgasi saat melakukan penyelidikan nanti?" tanya Arvan
"Ya, itu memang sudah ada di dalam rencanaku, namun akan kulakukan sebagai cara terakhir untuk mendapatkan informasi yang pasti. Karena aku ingin langsung menuntaskan semuanya dengan jelas," ungkap Yura
"Kalau begitu, apa kau sudah tahu siapa yang harus kau temui untuk diintrogasi nantinya?" tanya Arvan
"Ya, sudah. Itu adalah orang yang mengantarkan sepasang kipas ini pada si penari. Dugaanku dia adalah salah satu pekerja di toko senjata itu. Entah dia itu mungkin hanya kurir atau tukang tempa. Aku cukup yakin kita bisa menemukannya," jelas Yura
__ADS_1
"Lalu, apa kau sudah tahu ciri-ciri orang itu?" tanya Arvan
"Ya, sudah. Dari beberapa pelayan yang tahu dan aku tanyai, aku bahkan sudah membuat sketsa wajah orang itu," jawab Yura sambil memperlihatkan selembar kertas yang dikeluarkan dari tas miliknya yang menggambarkan potret wajah seseorang pada Arvan.