
Saat melihat, mengetahui, dan mendengar langsung bahwa Yasha memilih dan menunjuk Yura untuk menggantikan posisinya sebagai ketua untuk memimpin pasukan di medan perang, seketika saja Arvan merasa terkejut dan lebih merasa khawatir Yura akan terluka.
Karena itu Arvan berniat untuk ikut pergi ke medan perang. Untung saja saat itu Yasha justru meminta bantuan darinya untuk mengawasi dan melindungi Yura saat berada di medan perang hingga Arvan tidak perlu lagi merasa bingung untuk meminta izin karena ingin ikut pergi.
Pada akhirnya, Arvan segera bersiap sebelum ikut pergi menuju ke medan perang dan segera menemui Yura untuk mengatakan telah mendapat izin untuk ikut pergi menuju ke medan perang.
"Baiklah, kalau begitu. Kau juga sudah siap dengan memakai baju besi. Itu bagus," kata Yura
"Namun, sebenarnya aku lupa membawa senjata milikku saat pergi dari Istana Kerajaan karena aku berpikir benar-benar hanya akan menjadi bantuan pihak medis di sini," ucap Arvan
"Apa kau sudah lihat dan periksa cadangan di gudang senjata?" tanya Yura
"Aku sudah dari sana dan yang kutemukan hanya beberapa senjata yang rusak dan lainnya tidak cocok denganku. Namun, karena kau bilang seperti itu, aku akan memeriksa sekali lagi ke gudang senjata," jawab Arvan
"Tidak perlu. Kau pakai ini saja, alu memang sudah menyiapkannya lumayan lama untuk kuberikan padamu. Pakailah karena sekarang ini adalah pedang milikmu," ujar Yura
Yura memberikan sebuah pedang baja hitam dengan hiasan permata berwarna biru pada Arvan yang dikeluarkan dari tas berupa kantong beeukuran cukup besar yang berisi beberapa senjata miliknya. Arvan pun menerima pedang yang diberikan oleh Yura untuknya.
"Bukankah ini pedang yang ada di toko senjata beberapa waktu lalu? Harganya pasti mahal, kan? Apa kau yakin membeli pedang ini untuk diberikan padaku?" tanya Arvan
"Saat itu aku memberi sepasang pedang di toko senjata itu dan aku hanya akan memakai salah satu pedang lainnya, jadi dari pada tidak terpakai, maka lebih baik kuberikan padamu saja. Aku membelinya dengan desain biasa yang ditambahkan sedikit hiasan permata. Semoga cocok saat kau pakai," jelas Yura
"Pasti cocok. Pedang ini sangat bagus dan aku menyukainya. Aku akan memakai dan setelahnya akan kusimpan dengan baik. Terima kasih banyak, Yura," ucap Arvan
__ADS_1
"Tidak masalah, aku memang ingin memberikan pedang itu untukmu. Jadi, tidak perlu sungkan dan pakai saja pedang itu sesukamu," kata Yura
Yura kembali merogoh sambil memandang ke dalam tasnya dan saat itu Arvan terus menatap ke arah gadis jelita di hadapannya sambil merasakan debaran kencang pada jantung miliknya.
"Kali ini aku sangat yakin. Jantung yang berdetak lebih kencang, perasaan senang saat melihat wajah cantikmu, lalu juga perasaan tersentuh dengan sikap baik darimu ... membuatku sangat yakin kalau aku memang menyukaimu, Yura. Tidak peduli apa yang terjadi pada perasaanku di masa lalu, yang paling penting adalah saat ini hingga ke depannya aku hanya akan, terus, dan selalu menyukaimu seorang di dalam hatiku. Tak hanya itu, aku juga sangat mencintaimu. Aku pastikan kalau aku tidak akan goyah, keliru, atau pun salah. Aku pun tidak akan merasa ragu lagi untuk mengatakan padamu yang sebenarnya. Aku harap kau akan menantikannya, Yura ... " batin Arvan
"Kalau kau menghargai pedang yang merupakan pemberian dariku untukmu, maka kau juga harus menghargai nyawamu saat kau memakai pedang itu. Arvan, selain kak Yasha, di sini aku paling kenal dan dekat denganmu. Kak Yasha sudah terluka parah, jadi kau jangan sampai terluka sepertinya," ucap Yura sambil mengikatkan sapu tangan miliknya pada pedang baja hitam pemberian darinya yang kini telah menjadi milik Arvan.
"Kita pergi ke medan perang bersama, maka harus kembali bersama dengan selamat juga. Aku memberikan sapu tangan untukmu agar bisa memberi semangat juga padamu dan semoga bisa mengingatkanmu kalau kau harus baik-baik saja dan kembali dengan selamat," sambung Yura sambil tersenyum kecil.
"Sebagai sedikit pemberitahuan saja, ini adalah sapu tangan yang sama persis dengan yang kau miliki dan simpan selama ini. Saat aku lupa kalau telah memberi sapu tangan favorit milikku itu padamu, aku pun membuat satu lagi sapu tangan yang sama persis karena mengira telah kehilangan yang lama. Kan, sapu tangan yang sudah lama kau simpan itu sudah rusak, jadi aku memberikan yang baru untukmu dan kau bisa membuang yang lama ... " lanjut Yura lagi yang mampu membuat Arvan kembali tersentuh sekaligus terpana.
"Akan kupastikan, aku akan baik-baik saja dan kembali dengan selamat bersamamu. Aku juga akan memakai, menjaga, dan menyimpan pedang dan sapu tangan pemberian darimu dengan baik seperti aku menjaga diriku sendiri," ujar Arvan
"Itu bagus. Kalau begitu, cepatlah. Kita harus pergi sekarang," kata Yura
"Untuk saat ini fokus saja pada perang dan keselamatanmu dulu," sahut Yura yang kemudian beranjak pergi.
"Yura tidak hanya memberikan pedang padaku, tapi juga sapu tangan yang diikatkan di pedang yang diberikan olehnya. Ini hal yang dilakukan dengan harapan yang diberikan akan kembali dengan selamat dari pertarungan dan yang melakukannya adalah keluarga atau orang terdekat dan yang paling umum adalah seorang kekasih. Apa Yura sudah mulai membuka hatinya dan menerima perasaanku? Kalau sudah seperti ini, aku pasti akan menjaga keselamatan diriku dan tentunya juga dirimu. Agar setelah semuanya selesai dengan baik, aku akan menyatakan perasaanku sekali lagi, lalu kita akan menikah setelah aku melamarmu. Aku akan mewujudkan semua itu dan kita akan bahagia bersama selamanya," batin Arvan
"Siapa saja, tolong bantu keluarkan kuda yang akan kami pakai untuk pergi ke medan perang!" teriak Yura
Akhirnya beberapa kuda pun di keluarkan dari kandang dan setelah beberapa waktu di daerah perbatasan Yura pun bertemu kembali dan akan menunggang kuda hitam bernama Nick yang kali ini akan menuju ke medan perang sesungguhnya.
__ADS_1
Nick si kuda hitam itu tampak girang setelah bisa ke luar dari kandang yang penuh dengan pasukan kuda lainnya. Yura pun medekat untuk mengusap kepala kuda hitam itu.
"Kau pasti sudah merasa sangat bosan terus berdiam di dalam kandang. Nick, sekarang bersiaplah karena kita akan segera beraksi sungguhan. Kita pergi jauh-jauh ke sini untuk tujuan ini dan inilah saatnya. Tunjukkanlah kekuatanmu pada mereka semua dan kita kalahkan semuanya bersama-sama. Aku mohon kerja sama dan bantuan darimu." Yura pun mengajak bicara Nick si kuda hitam hingga keduanya tampak sama-sama bersemangat.
Yura pun beranjak naik ke atas punggung kuda. Di sana sudah ada prajurit yang akan ikut pergi ke medan perang bersamanya. Semua adalah prajurit cadangan yang sebelumnya sempat terluka dan diharuskan istirahat untuk sementara.
"Kami semua akan ikut pergi bersamamu menuju ke medan perang, Ketua Yura."
"Bukankah kalian semua adalah prajurit yang sebelumnya sempat terluka? Apa kalian yakin akan ikut pergi berperang lagi?" tanya Yura
"Kami sangat yakin. Sebelumnya kami hanya terluka ringan dan telah cukup pulih setelah Ketua Yura dan Tuan Arvan mengobati dan merawat luka kami. Sekarang kami dalam kondisi prima untuk kembali berperang."
"Ya, aku mengerti. Setiap prajurit pasti akan tetap berperang meski terluka sekali pun. Baiklah, kalian ikutlah ke medan perang. Saya tidak akan melarang karena kalian juga sudah memakai baju besi masing-masing," ucap Yura
"Ketua Yura, berikan kami perintah pertama Anda. Apa yang harus kami lakukan? Apa kita akan menggunakan strategi baru yang berbeda?"
"Kita tidak akan mengganti strategi, pakai saja strategi yang memang sudah ada sebelumnya. Meski begitu, biarkan aku bertanya satu hal. Apa dalam pasukan kita mempunyai nama panggilan khusus bagi setiap anggota prajurit?" tanya balik Yura
"Ada. Setiap anggota prajurit memiliki julukan angka masing-masing untuk panggilan khusus bagi satu sama lain."
"Kalau begitu, saya ingin siapa pun dari kalian menarik mundur siapa saja anggota prajurit yang tidak memakai baju besi. Lalu, perintahkan pada mereka agar kembali ke kamp untuk memakai baju besi lebih dulu baru boleh kembali ke medan perang setelahnya. Tekankan pada mereka bahwa keselamatan diri adalah yang paling penting dan kalau ada dari mereka yang ingin istirahat karena terluka, katakan bahwa mereka boleh tidak kembali ke medan perang," ujar Yura
"Baik, perintah dimengerti. Saya sebagai anggota ke-28 menerima perintah dan siap segera laksanakan."
__ADS_1
"Itu saja perintah pertama untuk kebaikan kita bersama dengan tanpa mengubah strategi perang yang akan digunakan. Cukup diskusi sampai di sini, ayo kita berangkat sekarang juga ... " kata Yura
Yura pun memakai pelindung besi pada kepalanya, lalu mulai melajukan kuda yang ditunggangi olehnya untuk bergerak maju menuju ke medan perang bersama beberapa anggota prajurit lainnya. Begitu Yura melajukan kudanya, barulah yang lain juga ikut melajukan kuda masing-masing dan mengikuti Yura sebagai Ketua Pasukan mereka saat ini.