One & Only

One & Only
8 - Pertarungan Uji Coba.


__ADS_3

Atas perintah dari Raja, Yura dan Arvan pun mulai bertarung pedang sebagai uji coba.


Dari pertarungan keduanya, bisa dilihat kemampuan keduanya seimbang. Namun, pada akhirnya Yura berhasil menjatuhkan pedang milik Arvan dan menjulurkan pedang miliknya tepat di depan leher Arvan hingga membuat lelaki itu tak dapat berkutik.


"Aku sudah kalah! Apa kau puas dengan hasil ini, Nona?" tanya Arvan sambil mengakui kekalahannya.


"Hei, sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan itu ... " sebal Yura sambil menurunkan pedangnya.


"Sebutan itu hanya apresiasiku atas kemampuanmu. Kau hebat, Yura," puji Arvan


"Kalau begitu, terima kasih," ucap Yura


"Bagus! Inilah yang ingin kulihat!" seru Raja


"Kalau begitu, Anda harus nenepati janji, Baginda Raja," ujar Yura


"Apakah harus sekarang? Kau baru saja selesai bertarung melawan Arvan," ujar Ratu yang merasa cemas.


"Sudah lama tidak berolahraga, aku ingin melakukan banyak perenggangan tubuh," kata Yura dengan penuh percaya diri dan senyuman lebar di wajahnya.


Raja pun memanggil prajurit bayangannya seolah memanggil bayangan dirinya sendiri. Begitu muncul seperti kilat, setelah memberi hormat pada Raja dan Ratu, prajurit bayangan pun mulai menyerang ke arah Yura seolah mengerti akan tugasnya.


Ratu membungkam mulutnya sendiri mencegah jeritan yang hendak ke luar karena khawatir. Namun, melihat Yura yang malah tersenyum penuh semangat, Ratu pun ikut tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dengan jumlah empat orang lawan, Yura melawan mereka seorang diri.


Yura pun melangkah maju, namun terlebih dulu mendekati pedang milik Arvan yang tergeletak begitu saja di atas tanah dan mengambilnya, lalu menggenggamnya dengan erat.


"Arvan, kupinjam dulu pedang milikmu," kata Yura


Pertarungan sengit sebagai langkah uji coba pun terjadi. Yura terus bertahan dan menyerang tanpa memiliki niat untuk menyerah walau berulang kali dipaksa mundur oleh para prajurit bayangan. Semangatnya yang terus bangkit dan tak pernah luntur serta tekadnya yang kuat untuk nenang terlihat jelas pada wajahnya.

__ADS_1


"Cukup! Pertarungan berakhir!" seru Raja


Begitu Raja memerintah, pertarungan pun terhenti dan keempat prajurit bayangan itu pun kembali menghilang secepat kilat seperti saat mereka muncul.


"Kenapa pertarungannya dihentikan, Baginda?" tanya Yura dengan semangat yang masih berapi-api.


"Kau sudah berhasil menorehkan luka pada dua prajurit bayanganku tadi. Itu sudah cukup, Yura," jawab Raja


"Namun, itu bukan berarti aku telah berhasil mengalahkan mereka, Baginda," sesal Yura


"Biarkan dua orang yang lain tadi mengobati rekan mereka. Penilaianku sudah berakhir. Kau memang hebat dan kemampuanmu pantas untuk diakui," ucap Raja


"Memangnya aku tidak tahu, Baginda, memiliki lebih dari empat orang sebagai prajurit bayangan," gumam pelan Yura


"Mau bagaimana lagi, aku tidak ingin melihat Ratu-ku jatuh pingsan karena cemas melihatmu terus bertarung tanpa henti," ujar Raja


"Baiklah. Terima kasih atas pengakuan darimu, Baginda," ucap Yura seraya memberi hormat.


"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih, Baginda," ucap Yura


"Bertemu lagi besok, Yura," ujar Ratu mengatakan salam perpisahan dengan sang adik.


Raja dan Ratu serta tiga pelayan pribadi Ratu pun beranjak pergi dari sana. Yura pun membereskan pedang miliknya dan memberikan pedang milik Arvan kepada sang empunya.


Selir Azkia pun pamit terlebih dulu untuk kembali masuk ke kediamannya karena harus kembali menemani putri balitanya. Selir Azkia memang sudah memiliki anak dengan Raja, seorang putri yang ia diperbolehkan untuk merawatnya sendiri dengan bantuan pengasuh bayi. Putrinya telah diberi nama, yaitu Afia Arsalan.


Sebelum masuk untuk istirahat dan membersihkan diri, Yura memilih untuk lebih lama berada di pekarangan itu. Duduk untuk menunggu hari berakhir dan menyaksikan matahari terbenam.


Di pekarangan yang luas itu, Yura menengadah menatap ke arah langit. Angin semilir yang damai pun ikut menyapa dan membelai wajah serta menerbangkan pelan helaian rambut indahnya.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak masuk ke dalam? Kau pasti lelah sehabis bertarung tadi," ujar Arvan ikut duduk di samping Yura.


"Justru ini bagus untuk melepas lelah. Menyaksikan bagaimana hari berakhir dengan indah," kata Yura


"Benar juga. Pemandangan saat ini sedang bagus-bagusnya," sahut Arvan berakhir menjatuhkan pandangannya untuk menatap wajah Yura.


Yura terus tersenyum menatap langit kemerahan senja kala itu.


"Terlepas dari kau yang suka mengomel, ternyata kau juga sering tersenyum ya," ucap Arvan


"Memangnya kenapa? Tidak boleh?" tanya Yura


"Tidak apa-apa. Gadis lain lebih memilih berada di rumah atau berbondong-bondong ingin memiliki status tinggi dengan mencari suami terbaik, tapi kenapa kau tidak? Kau malah memilih bepergian dengan mengembara dan juga pandai berpedang. Apa alasanmu?" tanya balik Arvan


"Tidak ada salahnya juga mencoba hal lain yang baru. Ini juga tidak buruk dan bukan juga kejahatan. Seperti Kak Yuna yang mengikuti pilihan hatinya untuk bersanding dengan Raja, aku pun mengikuti kata hatiku. Aku menyukai seperti ini dan inilah diriku. Tidak perlu orang lain suka melihatku yang seperti ini atau tidak peduli apa kata orang, yang penting aku menyukai dan menikmati pilihanku. Hidup itu hanya sebentar, lebih baik kita menikmati dan merasa bahagia dengan pilihan kita sendiri. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah menyesal," jelas Yura


"Sejak kapan kau pandai bela diri dan menggunakan pedang?" tanya Arvan


"Sejak kecil aku suka mengintip saat kakak lelakiku berlatih ilmu bela diri dengan gurunya di rumah. Setelah Kak Yuna menikah dan masuk istana, aku mulai bosan sendiri karena biasanya selalu bersama Kakak. Pada saat itulah aku mulai meminta dan memohon guru bela diri kakak lelakiku untuk ikut mengajariku dan mengangkatku menjadi muridnya. Saat itu bukanlah hal yang mudah, tapi aku berhasil melewatinya sampai jadilah seperti sekarang. Walau pun tidak mahir, tapi aku akan terus melakukan hal yang kusuka untuk hal kebaikan," ungkap Yura


"Lalu, apa tujuanmu dengan memiliki kemampuan itu pada dirimu? Hidup harus punya tujuan, kan?" tanya Arvan lagi.


"Aku ingin melindungi dan menolong orang banyak, terutama orang-orang yang kusayang. Itulah tujuan hidupku dengan memiliki kemampuan ini," jawab Yura


"Tujuanmu sangat mulia," kata Arvan


"Kau sudah banyak bertanya, kini giliranku. Aku tahu kau juga memilih tujuan hidup yang mulia dengan menjadi dokter dan penasehat untuk Raja, pasti kau memilih begitu untuk menolong dan menyelamatkan orang-orang. Namun, apakah kau bahagia dengan pilihanmu? Apa kau menyukai hidupmu yang seperti ini, Arvan?" tanya Yura


"Ya, sama sepertimu. Aku pun bahagia dan menyukai semua ini. Aku tidak terlalu sadar sebelumnya, namun karena sedang membahasnya sekarang, ternyata aku cukup menikmati hidupku," jawab Arvan

__ADS_1


"Pasti juga bukan hal yang mudah untukmu bisa jadi seperti saat ini. Kau sudah bekerja keras. Pilihanmu adalah yang yang baik dan benar. Bagus sekali, Arvan. Orang-orang pasti bangga dengan melihatmu, terutama Raja yang mempunyaimu di sisinya. Teruslah jalani hidupmu dengan bahagia. Selalu tersenyum dan semangat," ucap Yura


"Aku belum pernah mendengar kata-kata seperti ini dari orang lain sebelumnya. Ternyata, aku sangat senang mendengarnya. Terima kasih, Yura ... " batin Arvan


__ADS_2