
Selir Pertama dan Selir Kedua, Nitami dan Frizka, merasa takut saat melihat tatapan mata Yura yang sangat tajam. Namun, kedua selir itu berusaha untuk menyembunyikan ketakutannya.
"Bukankah ini adalah adik Yang Mulia Ratu yang menjadi pelaysn istana? Kenapa Nona memakai cadar untuk menutupi wajah?" tanya Selir Pertama, Nitami, yang berusaha memberanikan diri meski nyatanya merasa waspada dan takut pada sosok Yura.
"Nyonya Selir, Anda baik sekali masih mau menyebut saya sebagai Nona meski tahu saya sudah menjadi pelayan di sini. Saya sengaja memakai cadar agar kedua Nyonya tidak salah mengira saya adalah hantu. Namun, jika ada yang berani bertindak macam-macam pada Yang Mulia Ratu atau Yang Mulia Putra Mahkota, meski pun saya bukan hantu, saya akan tetap membuat mereka merasakan yang namanya kehidupan neraka dunia," jawab Yura
"Sudah bagus kau tahu diri hanya seorang pelayan. Harusnya kau juga bicara lebih sopan," kata Selir Kedua, Frizka.
"Tenanglah, Frizka. Nona Yura hanya ingin menunjukkan usahanya dalam melindungi Tuannya," ujar Selir Pertama, Nitami.
"Terima kasih karena Nyonya Selir Pertama sudah bersedia untuk mengerti dengan maksud perkataan saya. Maaf juga jika perkataan saya sudah menyinggung perasaan Nyonya Selir Kedua. Namun, saya merasa heran karena biasanya yang merasa tersinggung adalah orang yang berbuat salah. Apa Nona Selir Kedua pernah berbuat salah?" tanya Yura
"Bicaramu semakin lancang saja. Apa kali ini kau bermaksud ingin menuduhku?" tanya balik Frizka, Selir Kedua.
"Sepertinya Nyonya salah paham. Saya berkata seperti sebelumnya karena yang biasa terjadi memang seperti itu dan karena saya tidak tahu, makanya saya bertanya seperti tadi. Kenapa Nyonya Selir Kedua malah semakin merasa tersinggung?" tanya balik Yura lagi.
"Kau-"
"Sudahlah, Frizka. Makanya, tadi kuminta kau untuk tenang. Sekarang kau sudah tergiring oleh opini Nona Yura, dia hanya ingin menyudutkanmu dengan opini dan perkataannya. Jika kau terus meladeni perkataannya, kau hanya akan tersudutkan dan mau tidak mau jadi mengakui kesalahan yang tidak kau perbuat sesuai seperti yang dia inginkan. Kali ini aku sudah benar-benar memperingatkanmu," bisik Selir Pertama, Nitami.
Selir Kedua Frizka langsung mendengus kesal, sedangkan Yura malah tampak senang. Mungkin saat ini gadis itu sedang tersenyum mengejek di balik cadarnya.
Arvan yang ternyata juga masih ada di sana ikut tersenyum bahkan terkekeh kecil saat melihat aksi debat antara Yura dengan kedua selir. Bahkan sampai bisa membuat Selir Kedua Frizka merasa kesal.
"Tak hanya pandai ilmu bela diri, rupanya Yura juga bisa bersilat lidah. Ucapan yang benar harusnya adalah merasakan kehidupan surga dunia, Yura justru malah mengatakan yang sebaliknya, yaitu merasakan kehidupan neraka dunia. Yura sangat pandai membalas perkataan orang yang berusaha merendahkannya dengan menyudutkan orang tersebut. Bahkan dia sangat berani tanpa merasa takut sedikit pun. Ya, memang seperti itulah dirinya ... " batin Arvan
Selir Pertama Nitami dan Selir Kedua Frizka pun beranjak pergi bersama. Mungkin kedua selir itu merasa enggan berbincang lebih lanjut dengan Yura yang terus tidak mau kalah.
Saat ada kesempatan itulah, Arvan langsung menghampiri Yura.
"Yura, tunggu sebentar. Aku ingin bicara denganmu," pinta Arvan
"Arvan, rupanya kau masih di sini, tapi maaf. Aku tidak bisa. Aku harus segera pergi untuk melatih Arsha," ujar Yura yang menolak.
__ADS_1
"Apa tidak bisa kita bicara meski hanya sebentar?" tanya Arvan
"Tidak bisa karena aku juga harus memeriksa barang bawaan setelah kembali dari Vila," jawab Yura
Saat itu ada seorang lelaki yang merupakan Asisten Penasehat Besar datang menghampiri.
"Rupanya, Tuan Penasehat Besar masih ada di sini bersama Nona Yura. Maaf, tapi Anda dipanggil oleh Baginda Raja untuk segera menemuinya, Tuan."
"Baiklah, aku mengerti ... " kata Arvan
"Baginda Raja sudah memanggilmu, jangan biarkan dia menunggumu terlalu lama. Kalau begitu, aku permisi pergi dulu," ujar Yura yang langsung berlalu pergi dari sana.
Arvan menghela nafas pelan saat dirinya lagi-lagi gagal bicara dengan Yura. Lalu, Arvan pun tidak punya pilihan lain selain pergi bersama asistennya untuk menemui Raja di ruang kerja Istana.
Sedangkan, Yura terus beranjak menemui Ratu dan Arsha di kediaman Ratu.
Begitu tiba di sana sudah ada seorang pelayan yang menemani Ratu dan Arsha.
"Bibi Yura, baru datang? Bukankah tadi kita sampai di Istana Kerajaan bersamaan?" tanya Arsha
"Tidak, Bibi. Aku menunggumu justru karena sebaliknya. Aku ingin memberi tahu padamu kalau aku tidak bisa latihan hari ini karena sudah lebih dulu menerima ajakan untuk belajar bersama ayah," jawab Arsha
"Begitu, rupanya. Ya, itu tidak masalah. Apa kau ingin Bibi antar menemui ayahanda Raja-mu?" tanya Yura
"Tidak perlu, Bibi. Biar aku pergi bersama Bibi Manda saja. Bibi Yura, tetaplah di sini temani dan istirahat saja bersama Ibu ," jawab Arsha
"Baiklah. Manda, tolong kau temani Arsha sampai bertemu dengan Baginda Raja," ucap Yura
"Baik, Nona ... " sahut Manda, pelayan Ratu.
"Yura, sepertinya kau lebih peduli dengan anakku dari pada aku sebagai Ibu-nya?" tanya Ratu
"Maaf, Kak Yuna. Aku tidak bermaksud seperti itu," jawab Yura
__ADS_1
"Tidak perlu bilang maaf, aku juga tidak bermaksud untuk menyalahkanmu," kata Ratu
"Arsha, ingatlah untuk tidak jadi anak nakal dan patuhlah pada ayah Raja-mu nanti," sambung Ratu yang beralih bicara pada Putra Mahkota.
"Baik, Ibu. Aku mengerti," sahut Arsha
"Kalau begitu, saya pergi mengantar Yang Mulia Putra Mahkota untuk menemui Baginda Raja lebih dulu ... " ujar Manda
"Ibu, Bibi, aku pergi dulu ... " pamit Arsha
Setelah itu, Arsha pun beranjak pergi untuk menemui Raja bersama Manda yang menemaninya.
"Lebih bagus seperti ini. Arsha tidak ingin aku yang mengantar pergi menemui Raja, jadi aku tidak perlu bertemu dengan Arvan. Karena Arvan pasti sedang bersama Raja setelah tadi ada asisten yang memanggilnya," batin Yura
"Yura, tadi kau sempat bicara dengan para selir?" tanya Ratu
"Ya, mereka berdua adalah selir yang menyangka aku adalah roh yang ke luar dari tubuhmu saat kau sempat tak sadarkan diri sebelumnya," jawab Yura
"Apa yang kau bicarakan dengan mereka berdua? Mereka berdua tidak menyulitkanmu, kan?" tanya Ratu
"Bukan hal yang penting dan bahkan aku sudah tidak ingat lagi. Kau tenang saja, Kak. Aku bukan tipe orang yang mudah ditindas. Kalau kau berpikir aku akan bisa dikalahkan, justru sebaliknya. Kurasa tadi aku sudah menang adu debat," jawab Yura
"Kau berdebat dengan mereka? Apa kau sama sekali tidak takut dijadikan target oleh mereka?" tanya Ratu
"Aku sama sekali tidak takut. Kau sendiri bicara dengan sangat khawatir seperti ini, apa sebelumnya mereka pernah berbuat macam-macam padamu?" tanya balik Yura
"Tidak. Aku adalah Ratu dan ada Raja yang melindungiku. Mereka tidak akan berani berbuat macam-macam padaku," jawab Ratu
"Benarkah seperti itu? Mereka tidak akan berani atau tidak akan terlalu berani?" tanya Yura
"Entahlah, tapi yang jelas aku selalu baik-baik saja ... " jawab Ratu
"Kau mungkin hanya tidak tahu, tapi kau bahkan sempat terluka dari percobaan pembunuhan penari kipas sebelumnya. Aku merasa ini termasuk keterlibatan pertarungan intrik licik dari selir penghuni Istana Harem. Aku janji akan segera menyelidiki hal ini sampai tuntas dan jelas," batin Yura
__ADS_1
Yura pun akhirnya melepaskan cadar yang menutupi sebagian wajahnya setelah merasa aman berada di kediaman Ratu bersama saudari kembarnya.