One & Only

One & Only
33 - Gadis Serampangan.


__ADS_3

Setelah Arsha melepaskan syal dari lehernya, Yura langsung membenarkan letak selimut Arsha agar keponakan lelakinya tetap merasa hangat selagi berbaring tidur. Bahkan Yura juga melepaskan selimut yang sedang dipakai olehnya untuk dipakaikan pada Arsha supaya keponakan lelakinya itu semakin bertambah hangat.


"Yura, kalau selimutmu kau berikan pada Arsha juga, kau akan merasa kedinginan di luar sini ... " ujar Ratu


"Tidak apa-apa, Yang Mulia Ratu. Saya bisa memakai syal yang dipakai Arsha tadi untuk menghindari rasa dingin," kata Yura yang langsung memakai syal yang sebelumnya sempat dipakai oleh Arsha.


"Padahal aku sempat mendengar dengan jelas kalau Yura kurang suka memakai syal. Sepertinya itu hanya alasan yang dibuat-buat agar dia bisa memberikan syal ini untuk dipakaikan padaku. Dia gadis yang baik yang bahkan sudah menyadarkan aku kalau aku bukan seorang tawanan. Setelah ini aku harus baik-baik bilang terima kasih padanya. Karena meski pun aku ingin menghindar darinya, aku tidak boleh tidak tahu rasa terima terima kasih padanya," batin Arvan


Yura pun terlihat mengusap-usap sambil sesekali menepuk-nepuk pelan punggung Arsha seolah menina-bobokan keponakan lelakinya seraya bersenandung ringan.


"Yura, sepertinya kau sudah cocok untuk menjadi seorang ibu dan punya anak ... " ucap Raja


"Maaf, Baginda Raja. Saya hanya seorang gadis lajang, bagaimana bisa punya anak dengan mudah?" tanya Yura sambil mengkritik pelan yang baru saja diucapkan oleh Raja.


"Sepertinya aku salah bicara. Maksudnya adalah kau sudah pantas untuk membangun rumah tangga. Kapan kau berencana untuk menikah?" tanya balik Raja


"Maaf, jika saya telah salah paham dengan ucapan Anda, Baginda. Namun, sepertinya tidak ada lelaki yang akan tertarik dengan gadis serampangan seperti saya," jawab Yura

__ADS_1


"Jaga perkataanmu, Yura. Hati-hati kalau bicara. Ingatlah bahwa perkataanmu adalah harimaumu atau ucapan adalah bagian dari doa. Lebih baik kau berkata kalau tidak ada lelaki yang bisa menarik perhatianmu, dari pada kau bilang tidak ada lelaki yang akan tertarik padamu, dan kau bukanlah gadis serampangan ... " ucap Ratu


"Mohon maaf atas kesalahan saya barusan, Yang Mulia Ratu," ujar Yura


"Tidak perlu sampai bilang maaf juga," kata Ratu


Saat itu, Arsha tampak telah terlelap dalam tidur nyenyaknya di atas pangkuan Yura yang ikut merangkulnya dengan hangat. Selain Arsha yang tertidur, semuanya tampak melihat ke arah langit malam yang indah bertabur bintang atau sesekali melihat ke arah api unggun yang menyala dengan sangat membara yang seolah hanya dengan menatap ke arahnya saja sudah bisa membuat tubuh merasa hangat.


Terlihat, Raja yang merangkul Ratu dengan mesra. Lagi-lagi, hanya Arvan yang sendirian tanpa teman pendamping. Karena meski tertidur, Arsha adalah teman pendamping bagi Bibi-nya, Yura.


"Mohon maaf atas kelancangan saya ini, tapi apa saya boleh bertanya tentang sesuatu pada Yang Mulia Ratu?" tanya Arvan yang terlebih dulu meminta izin.


"Silakan saja kalau kau memang mau bertanya," sahut Ratu


"Yang Mulia Ratu, sebenarnya apa alasan Anda menyukai saat bisa melihat pemandangan langit malam sambil ditemani api unggun yang menyala seperti ini?" tanya Arvan


"Kukira kau ingin bertanya hal seperti apa, kalau soal ini sebenarnya karena Yura. Yura yang memberi tahu hal ini padaku. Saat itu adalah beberapa hari sebelum aku menikah dengan Raja yang dulu masih seorang Putra Mahkota dan malam harinya terus berada di halaman rumah kami bersama beberapa pelayan. Saat ibu memanggilnya bersama ayah yang sudah siap menegurnya yang terlalu lama berada di luar rumah, Yura malah mengajak keduanya ke luar dan dengan hebohnya memanggilku dan kakak kami untuk ikut ke luar," ungkap Ratu

__ADS_1


"Rupanya, Yura menyiapkan api unggun dan kemah sederhana di halaman. Karena Yura ingin kami sekeluarga mengingat momen seperti saat itu karena tak lama lagi aku akan meninggalkan rumah dan tinggal di Istana Kerajaan karena akan menikah dengan Putra Mahkota saat itu. Sebenarnya momen seperti ini adalah hal yang disukai Yura dan aku juga ikut menyukainya karena bisa membuatku tidak terlalu merasa rindu dengan keluarga dan rumah," sambung Ratu


"Sekarang hal seperti ini hanya menjadi kesukaan Yang Mulia Ratu, aku tidak akan menyukainya lagi. Hal yang Anda sukai, mana mungkin boleh saya juga menyukainya ... " ujar Yura


"Itu peraturan zaman kapan? Sudah kuno sekali. Hal yang aku sukai ini bahkan kau yang lebih dulu menyukainya. Dahulu memang ada peraturan yang menyatakan hal disukai oleh Keluarga Kerajaan tidak boleh disukai orang lain lagi, tapi ini hal yang kau sukai lebih dulu. Aku tidak mungkin merebut hal yang kau sukai, kecuali kita masih sama-sama boleh menyukainya. Katakan saja dengan jujur, kau masih sering melakukan hal yang kau sukai ini, kan?" tanya Ratu


"Kalau memang harus jujur, sebenarnya aku masih sering melakukan hal seperti ini selama mengembara sebelumnya. Saat jauh dari rumah dan keluarga, melihat pemandangan langit malam sambil menyalakan api unggun membuatku tidak terlalu merasa rindu dengan keluarga dan rumah," ungkap Yura


"Yura, kukira kau cukup dekat dengan Arvan hingga bisa menceritakan hal seperti yang kau sukai ini padanya," ucap Ratu


"Yang Mulia Ratu, sepertinya sudah salah mengira. Hubungan kami tidak sedekat itu," ujar Yura


"Bahkan hal ini pun sebenarnya adalah kesukaan Yura dan Ratu hanya dapat semacam rekomendasi dari saudari kembarnya. Aku baru tahu soal ini sekarang. Alasan lain aku menyukai Ratu selain dia adalah penyelamat semasa kecil dulu, yaitu karena Ratu menyukai hal-hal sederhana seperti ini, tapi kalau hal ini adalah sesuatu yang disukai oleh Yura ... sebenarnya peremuan yang aku sukai adalah Ratu atau saudari kembarnya, Yura? Aku lebih menyukai gadis penyelamatku dulu atau gadis yang menyukai hal-hal sederhana?" batin Arvan


"Tidak, sekarang aku tidak boleh merasa bimbang lagi. Yang kusukai adalah gadis penyelamatku dulu. Karena dari pada menyukai sosok Ratu yang menyukai hal-hal sederhana yang rupanya semua hal itu lebih dulu disukai Yura, aku lebih menyukai sosok Ratu yang menyelamatkan aku dahulu. Aku tidak menyukai Yura, aku hanya merasa sedikit tertarik pada Yura hanya karena wajahnya yang mirip dengan Ratu. Karena itu aku lebih tidak boleh menyukai Yura hanya karena alasan itu." Arvan meyakinkan dirinya dalam hati yang malah terkesan seolah mencari-cari alasan dan berusaha untuk menyangkal jika dirinya juga menyukai Yura bersamaan saat dirinya masih menyukai Ratu.


Meski pun di dalam hati terus menyangkal soal perasaannya untuk Yura, Arvan tetap merasa sedih saat mendengar saudari kembar Ratu itu berkata bahwa hubungan keduanya tidaklah dekat. Seolah hatinya terasa dihantam sesuatu yang sangat besar dan keras.

__ADS_1


Lagi-lagi, Arvan terdiam dalam lamunan karena masalah perasaan di dalam hatinya yang seolah menampung 2 nama perempuan sekaligus.


Kali ini pun tidak hanya Arvan, bahkan Ratu dan saudari kembarnya, Yuna juga ikut terdiam melamun karena sesuatu. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh kakak beradik kembar itu hingga membuat Raja merasa bingung dan penasaran.


__ADS_2