
"Sangat sulit melakukan tindakan terhadap Ratu sejak adik kembarnya masuk Istana Kerajaan ini. Si Yura itu selalu berjaga dan bersikap waspada di dekat Ratu. Apa lagi terkadang dia juga menginap di tempat selir Azkia hingga kita berdua kesulitan menyusun rencana di sini seperti saat ini."
"Pokoknya sekarang giliran kau yang bertindak karena sebelumnya selalu aku yang bergerak."
"Baiklah. Selir Pertama, tenang saja. Kali ini biar aku yang urus dengan baik."
Selir Pertama pun ke luar dari kediaman Selir Kedua setelah saling mendiskusikan siasat jahat.
"Meski pun, kau yang selalu bertindak, tapi akulah yang selalu membuat rencananya. Sudah untung hanya tinggal bertindak, sekarang malah narah-marah. Memangnya membuat rencana itu mudah? Apa lagi jika Yura menginap di tempat selir Azkia, dia selalu menggagalkan kami yang ingin menyusun rencana. Lagi pula, dia bukan selir Raja, tapi kenapa sering menetap di kediaman selir, sih? Merepotkan saja." Selir Kedua, Frizka sibuk bermonolog ria.
"Saudari kembar Ratu sedang ada di kediaman para selir ini, dia selalu berkeliling seperti sedang patroli saat malam hari. Dan kudengar Raja juga akan datang ke kediaman selir tanpa memberi tahu ingin mengunjungi siapa di antara kami, ketiga selir. Sepertinya aku bisa membuat seolah ada musibah. Ini bisa membuat keretakkan antara hubungan Ratu dan saudari kembarnya. Jika hubungan keduanya retak, maka setelah itu akan lebih mudah untuk melakukan tindakan apa pun," batin Frizka, Selir Kedua.
...
Saat ini Yura sedang berada di kediaman Selir Azkia dan bermain bersama anak perempuan Raja yang masih bayi.
"Afia, sangat pintar. Aku jadi merasa bersalah karena belum pernah memberi apa pun sebagai hadiah," ucap Yura yang sedang memangku putri Selir Azkia.
"Tidak perlu merepotkan Nona Yura untuk memberikan hadiah pada Afia," kata Selir Azkia
"Ya, Afia pasti tidak kekurangan sesuatu sebagai putri Raja. Padahal aku sudah sering menumpang di sini, tapi belum pernah memberikan apa-apa pada pemilik tempat. Harusnya saat pergi ke luar dari Istana Kerajaan sebelumnya aku membeli sesuatu untuk Afia dan Nyonya Azkia, tapi dengan ceroboh aku malah melupakannya," ujar Yura
"Itu tidak masalah karena sudah cukup dengan Nona Yura membantuku mengurus Afia sesekali saat pelayanku tidak ada. Lalu, jangan panggil aku dengan sebutan Nyonya. Karena kita seumuran, panggil saja langsung dengan namaku," ucap Selir Azkia
"Kalau begitu, kau juga tidak perlu memanggilku dengan sebutan Nona," kata Yura
"Alu akan memanggilmu dengan sebutan Kakak karena sepertinya aku sedikit lebih muda darimu," sahut Selir Azkia
__ADS_1
"Benarkah? Memangnya berapa usiamu? Atau setidaknya kapan kau lahir?" tanya Yura
"Usiaku tahun ini adalah 26 dan aku lahir pada tahun ke xxxx bulan ke-9," jawab Selir Azkia
"Kalau begitu, usia kita hanya berbeda 2 bulan. Tidak masalah jika kau juga memanggilku hanya dengan nama. Namun, kalau kau lebih nyaman memanggilku dengan sebutan Kakak juga terserah kau saja," ujar Yura
"Afia, ayo sini sama Ibu. Biarkan Bibi Yura istirahat dulu karena baru kembali dari kediaman Yang Mulia Ratu," kata Selir Azkia
"Aku tidak menyangka akan dipanggil dengan sebutan Bibi oleh anak lain selain Arsha, aku sangat senang. Afia, anak yang patuh. Kalau tidak, tidak mungkin aku yang belum pernah punya anak bisa ikut membantumu mengasuhnya," ucap Yura yang menyerahkan Afia pada Selir Azkia.
"Kak Yura sendiri ... apa tidak pernah terpikir ingin menikah dan punya anak serta membangun rumah tangga sendiri?" tanya Selir Azkia
"Memikirkan hal seperti itu memang pernah dan mudah, tapi mencari seseorang yang tepat dan cocok itu tidak mudah. Aku lebih suka menemukan jodohku sendiri karena aku memiliki pribadi yang bebas. Karena itulah selama ini aku lebih suka pergi mengembara. Aku tidak suka dikekang dengan peraturan yang sulit, apa lagi seperti halnya perjodohan atau pernikahan politik. Lalu, tidak banyak juga lelaki yang suka dengan kepribadianku yang seperti ini," jelas Yura
"Mungkin memang belum tiba waktunya," kata Selir Azkia
"Ya, Afia baru akan tertidur setelah puas bermain ... " jawab Selir Azkia
"Kalau begitu, Afia bermain dengan Ibu dulu, ya. Bibi mau mandi dulu. Pasti dari tadi Afia risih dengan aroma tidak sedap dari tubuh Bibi yang berkeringat setelah seharian bekerja," ujar Yura
"Tidak kok. Afia tampak sangat senang bisa bermain dengan Bibi Yura," kata Selir Azkia
Setelah sengaja mengalihkan topik seputar jodoh dan pernikahan, kali ini Yura memakai alasan ingin mandi untuk melarikan diri dari topik tersebut.
Usai mandi, terlihat Afia yang telah tertidur di dalam gendongan Selir Azkia. Lalu, Selir Azkia pun meletakkan putri kecilnya di atas ranjang.
"Afia sudah tidur, rupanya ... " gumam pelan Yura yang masih mampu terdengar oleh Selir Azkia.
__ADS_1
"Kak Yura, rambutmu basah. Lebih baik kau cepat mengeringkannya dari pada nantinya kau jadi sakit," ucap Selir Azkia saat melihat Yura yang baru saja selesai mandi.
"Aku lebih suka mengeringkan rambut sambil mencari udara di luar. Jadi, aku akan pergi berkeliling ... " kata Yura
"Udara malam saja sudah tidak baik untuk kesehatan. Ditambah jika kau ke luar dengan rambut basah, kau akan lebih mudah sakit," ujar Selir Azkia
"Aku punya daya tahan tubuh yang kuat. Selain karena terluka karena berlatih atau berkelahi, aku tidak mudah sakit. Tenang saja," ucap Yura yang lalu beranjak ke luar untuk berkeliling.
Belum lama berkeliling, ada seseorang yang menepuk pundak Yura hingga gadis itu pun berbalik badan.
"Nona Yura, apa aku boleh meminta bantuan darimu?" tanyanya
"Selir Kedua, Nyonya Frizka. Ada apa?" tanya balik Yura
"Seperti ini, Baginda Raja datang mengunjungi tempatku malam ini. Karena merasa senang, aku sudah menyuruh semua pelayanku untuk pergi meninggalkan kami berdua. Namun, aku harus pergi mengambil sesuatu untuk Baginda Raja karena Baginda tampak sangat kelelahan setelah seharian bekerja. Namun, aku merasa khawatir jika meninggalkannya sendirian. Bisakah kau berjaga di depan pintu kediamanku selama aku pergi? Jadi, jika terjadi sesuatu pada Baginda Raja atau terdengar sesuatu dari dalam, kau bisa langsung membantu Baginda Raja dengan masuk ke dalam," jelas Selir Kedua, Frizka.
"Kau berbicara terlalu berbelit, Nyonya. Aku hanya perlu berjaga di depan pintu kediamanmu, kan? Kalau tidak, biar aku saja yang pergi mengambil yang kau butuhkan. Katakan saja, kau ingin mengambil apa?" tanya Yura
"Harus aku yang pergi mengambilkan sesuatu untuk Bsginda Raja. Kau berjaga saja di depan pintu kediamanku," jawab Frizka, Selir Kedua.
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, cepatlah kembali ... " ujar Yura
"Ya, aku tidak akan lama. Mohon bantuanmu," kata Selir Kedua, Frizka.
Selir Kedua, Frizka pun beranjak pergi dari sana. Sedangkan Yura beralih menuju ke depan kediaman Selir Kedua untuk berjaga di sana.
"Hampir saja gagal. Saudari kembar Ratu ini memang bukan orang yang mudah. Aku harus bertindak dengan sangat hati-hati terhadapnya," batin Frizka, Selir Kedua.
__ADS_1
"Aku memang tidak suka dengan selir selain Azkia, tapi bukan berarti aku akan mengabaikan orang yang butuh bantuan. Tetap harus menolong sesama," batin Yura