One & Only

One & Only
113 - Kehidupan Baru.


__ADS_3

Ratu yang memang sedang duduk termenung di atas ranjang langsung tersadar saat ada yang masuk ke dalam kamarnya. Ratu langsung berusaha tersenyum saat melihat kedatangan Raja, Yura, dan Arvan.


"Permisi, Kak. Maaf mengganggu waktumu," kata Yura


"Yuna, ini sudah larut malam. Kenapa kau masih belum tidur juga? Bagaimana keadaanmu?" tanya Raja


"Kak Evan, aku baru saja selesai bicara dengan ibu dan ayah. Aku baik-baik saja, lalu bagaimana denganmu? Para penjahat itu lebih dulu menyusup ke Istana Kerajaan, kan? Kau tidak terluka atau dilukai oleh mereka, kan?" tanya balik Ratu pada Raja yang juga berstatus sebagai suami sahnya.


"Aku pun baik-baik saja sama sepertimu. Kalau tidak, aku tidak akan bisa menyusulmu ke sini begitu cepat seperti saat ini. Aku tidak terluka karena banyak yang melindungiku juga di sana," jawab Raja


"Sudah kubilang, semua akan baik-baik saja. Kalau Kakak masih merasa khawatir karena Arsha, aku sudah melihat ke dalam kamarnya tadi dan kulihat tadi dia sudah tidur," ujar Yura


"Dari pada merasa khawatir, aku lebih merasa bersalah padamu, Yura. Kau jadi terluka parah hanya demi melindungiku dan Arsha," kata Ratu


"Memang sudah jadi tugasku untuk melindungi keluargaku sendiri dan tindakanku itu bukan suatu kesalahan, jadi Kakak tidak perlu merasa bersalah. Begitu terluka, aku langsung menelan pil obat yang dapat menghentikan pendarahan dan begitu sampai di vila ini aku langsung mengobati lukaku. Bahkan lukanya tidak terasa sakit. Aku sungguh baik-baik saja," ucap Yura


"Menjadi pandai berbohong itu tidak baik. Aku bahkan melihat sendiri darah yang mengalir ke luar sangat banyak saat pedang lawan menembus dari punggung sampai ke perutmu. Bahkan Arsha juga melihatnya, tapi bisa-bisanya kau tetap tersenyum saat terluka parah seperti itu," ujar Ratu sambil mencubit pelan pinggang Yura karena merasa gemas dengan saudari kembarnya yang unik dan berbeda dari orang lain.


Yura yang terus tersenyum menjadi tampak meringis saat Ratu mencubit pelan pinggangnya. Ratu langsung tersadar dan menarik kembali tangannya saat sadar dengan reaksi Yura yang tampak merasa kesakitan.


"Maaf, Yura. Pasti lukamu terasa sakit, ya? Seketika saja aku langsung lupa jika kau sedang terluka karena kau selalu tersenyum," ujar Ratu


"Bagus dong. Aku tersenyum memang supaya Kakak lupa dan tidak merasa khawatir karena aku sedang terluka. Lukanya memang tidak terasa sakit saat tidak disentuh, tapi jadi terasa sedikit ngilu saat Kakak mencubitku tadi. Namun, ini adalah hal yang wajar. Sekarang waktunya Kakak untuk melakukan pemeriksaan," ucap Yura


Yura langsung menyentuh pergelangan tangan Ratu untuk memeriksa denyut nadi agar dapat memastikan kondisi kesehatan saudari kembarnya yang sempat tampak berwajah pucat. Saat mendapat hasil pemeriksaan Ratu, Yura langsung menyembunyikan rasa terkejutnya dan beralih menatap Arvan yang sedari tadi terus menatapnya diam-diam.


"Arvan, kenapa dari tadi kau diam saja? Bukankah aku sudah memintamu untuk bantu memeriksa Kak Yuna? Tolong periksa Kakak sekarang," pinta Yura

__ADS_1


"Benar, baiklah. Aku akan langsung memeriksa Yang Mulia Ratu," kata Arvan


Kini giliran Arvan yang memeriksa Ratu dengan menyentuh pada bagian denyut nadi. Seketika saja Arvan langsung mengerti alasan Yura langsung memintanya untuk memeriksa Ratu usai gadis itu melakukan pemeriksaan pada saudari kembarnya.


"Aku mengerti sekarang. Yura, kau pasti merasa bingung setelah melakukan pemeriksaanmu sendiri terhadap Ratu. Namun, hasil pemeriksaanmu tidak salah. Aku pun bisa merasakannya," ucap Arvan


"Memangnya apa hasil pemeriksaan yang kalian berdua ketahui? Ada apa dengan Yuna? Bagaimana dengan kondisinya?" tanya Raja


"Ini akan menjadi kabar baik bagi kalian berdua," jawab Arvan


"Kak Yuna baik-baik saja, justru sangat baik karena terdapat kehidupan lain yang baru di dalam kandungannya. Selamat atas kehamilanmu, Kak. Kakak dan Kakak ipar akan mempunyai bayi lagi," ungkap Yura


"Kandungannya berusia sekitar 2 bulan. Setelah semua telah dipastikan kembali aman, Anda wajib memeriksakan kembali kandungan Anda. Selamat untuk Yang Mulia Ratu dan Baginda Raja," ucap Arvan


"Kalian berdua tidak sedang bercanda denganku, kan?" tanya Ratu


"Syukurlah, kita berdua masih diberi kepercayaan untuk menjadi orangtua yang lebih baik lagi dengan anugerah anak kali ini," ujar Raja yang langsung memeluk tubuh Ratu.


Tak lama setelah itu, Raja dan Arvan pun beranjak ke luar dari dalam kamar untuk bicara dengan Tuan dan Nyonya Haris. Di dalam kamar, Yura pun membantu Ratu berbaring untuk bersiap-siap tidur.


"Tidurlah, Kak. Kau juga harus memikirkan dan menjaga kehidupan calon adik Arsha. Begadang itu tidak baik untuk ibu hamil sepertimu," ucap Yura


"Tapi, aku masih terus kepikiran. Setidaknya perlihatkan lukamu padaku agar aku bisa memastikan kondisi lukamu," kata Ratu


"Melihat luka juga tidak baik untuk ibu hamil, lagi pula lukanya sudah kubalut dengan perban, jadi tidak mungkin untuk dibuka lagi. Jangan terlalu khawatir, lukanya pasti cepat pulih tanpa berbekas. Aku ini juga punya kemampuan medis seperti Arvan. Kujamin seminggu kemudian lukaku sudah sembuh total dan saat itu aku akan perlihatkannya padamu supaya bisa kau pastikan dan merasa tenang," ujar Yura


"Usia kandunganku sekitar dua bulan yang artinya itu mulai hadir saat kita berlibur di Vila Kerajaan. Aku tidak menyangka akan hamil di saat yang seperti ini. Padahal kita baru saja mengalami musibah, bahkan ketegangan di wilayah perbatasan pun belum kunjung usai. Seolah kehamilanku ini sangat tidak tepat," ucap Ratu

__ADS_1


"Tidak baik bicara seperti itu, Kak. Seorang bayi atau anak tidak bisa memilih kapan dia hadir di dalam kandungan atau siapa orangtuanya. Ini sudah menjadi suatu takdir dan kabar yang bahagia. Kalian tidak sendiri, masih banyak orang yang peduli padamu dan bayimu. Sekarang kau tidak perlu khawatirkan apa pun lagi, tidur dan istirahatlah ... " ujar Yura


"Baiklah. Kau juga harus istirahat setelah ini," sahut Ratu


"Itu sudah pasti karena aku juga sudah mulai merasa mengantuk. Aku akan langsung ke luar," kata Yura yang langsung beranjak ke luar dari dalam kamar tersebut.


Raja tampak bicara dengan serius dengan Tuan dan Nyonya Haris yang merupakan Ayah dan Ibu Mertuanya. Ditemani oleh Arvan yang terus mendampingi di sampingnya.


"Ayah dan Ibu Mertua, aku sungguh minta maaf karena harus merepotkan Anda berdua bahkan saat Yuna hamil muda seperti ini. Aku ingin Yuna tetap tinggal di sini untuk sementara waktu sampai aku bisa memastikan kondisi di Istana Kerajaan benar-benar telah aman," ucap Raja


"Tidak ada yang merasa direpotkan dengan anak sendiri. Sebagai mertua, kami berdua juga sudah menganggap Baginda Raja sebagai anak kami sendiri. Tidak masalah jika Anda ingin meminta bantuan seperti apa pun. Selagi kami masih sanggup, kami pasti akan berusaha melakukannya. Memang lebih baik Yuna dan Yura tinggal di sini untuk sementara waktu sampai semuanya dipastikan telah aman. Kami akan menjaga mereka karena memang sudah seharusnya seperti itu," ujar Tuan Haris


"Sebelumnya kami berdua minta maaf karena tidak bisa menyediakan dokter di saat seperti ini karena dokter keluarga kami sudah terlebih dulu mengambil cuti beberapa hari yang lalu. Untung saja ada Tuan Arvan yang bisa melakukan pemeriksaan hingga kehamilan Yuna dapat diketahui tepat waktu. Terima kasih atas bantuan ini. Namun, bisakah kami meminta Tuan Arvan untuk memeriksa kondisi luka Yura juga? Kami sungguh merasa khawatir dengannya begitu melihat dia tiba dengan gaun yang penuh dengan darah," pinta Nyonya Haris


"Kau tidak perlu mendengar permintaan Ibu-ku yang merepotkan itu, Arvan. Ibu, sudah kubilang lukaku sudah diobati. Aku mempunyai kemampuan medisku sendiri dan aku sudah baik-baik saja. Percayalah pada putrimu sendiri. Lagi pula, tidak mungkin Arvan yang merupakan seorang lelaki memeriksa kondisi luka putrimu yang merupakan seorang gadis. Apa lagi, Ibu sudah tahu di mana letak lukaku, jadi itu lebih tidak mungkin lagi ... " ucap Yura yang tiba-tiba saja muncul di ruangan tersebut setelah ke luar dari kamar yang ditempati oleh saudari kembarnya.


"Ayah, tolong hentikan Ibu. Biarkan Baginda Raja dan Arvan istirahat karena ini sudah larut malam. Lalu, tolong ingat sekali lagi ... jangan ganggu aku. Aku benar-benar ingin istirahat setelah ini. Permisi," sambung Yura yang lalu beralih pergi dari sana.


"Tolong maafkan ketidak-sopanan putri kami yang satu itu. Namun, sudah menjadi tugas seorang dokter untuk memeriksa pasien tidak peduli dengan siapa dan seperti apa pasiennya. Jadi, saya juga meminta tolong hal yang sama seperti yang diminta oleh istri saya pada Tuan Arvan. Tolong periksa kondisi luka Yura," pinta Tuan Haris


"Saya bersama istri akan menemani saat pemeriksaan dilakukan, jadi tidak perlu khawatir dengan rumor atau fitnah. Tingkah dan hobinya yang berbeda dari gadis biasa membuat kami selaku orangtua selalu merasa khawatir dengan Yura. Karena tidak ada dokter lain yang bisa dijangkau dengan cepat, jadi kami tidak punya pilihan selain meminta bantuan pada Tuan Arvan. Kami mohon ... " sambung Tuan Haris


"Baiklah, saya akan memerika Yura karena saya juga merasa khawatir padanya. Sepertinya jika Anda berdua tidak meminta bantuan saya, saya yang akan memohon agar Anda memberi izin pada saya untuk memeriksa kondisi Yura," ucap Arvan


"Tunggu sampai Yura tertidur dulu saj, baru masuk agar Tuan Arvan bisa melakukan pemeriksaan pada luka Yura," kata Nyonya Haris


Setelah itu, Tuan dan Nyonya Haris lebih dulu mengantar Raja sampsi ke depan kamar yang ditempati oleh Ratu agar Raja bisa masuk untuk beristirahat. Lalu, barulah Tuan dan Nyonya Haris bersama Arvan beralih menuju ke kamar Yura.

__ADS_1


__ADS_2