One & Only

One & Only
69 - Selera yang Berbeda.


__ADS_3

Begitu masuk ke dalam ruang barang umum, Yura langsung terkagum saat melihat koleksi senjata buatan toko tersebut.


"Silakan dilihat-lihat dulu, Tuan dan Nona."


Yura dan Arvan pun mengangguk, lalu keduanya pun berkeliling ruangan tersebut untuk melihat-lihat senjata buatan toko tersebut secara lengkap dengan ditemani oleh pegawai toko yang sesekali memberi penjelasan tentang cara pembuatan khusus atau keunggulan senjata yang ada di sana.


"Sebenarnya apa alasan Nona dan Tuan tidak suka dengan koleksi senjata buatan toko kami yang sudah dipajang di ruangan depan tadi? Padahal semua senjata yang ada di sana semuanya adalah buatan terbaik dari toko kami ini, lho?"


"Justru itu, kami berdua bukannya tidak suka, tapi hanya kurang tertarik saja. Senjata yang dipajang di ruangan depan tadi, tak bisa disangkal kalau semuanya adalah yang terbaik karena tampak mewah. Namun, tipe senjata yang saya suka adalah yang tidak terlalu mewah, tapi terlihat elegan. Lalu, karena saya adalah perempuan, saya lebih tertarik dengan senjata yang ukurannya agak kecil dari yang biasa digunakan oleh lelaki, tapi tetap memperlihatkan kualitas kekuatan senjatanya," jelas Yura


"Benar, saya juga suka senjata dengan tipe yang terlihat kuat, tapi tidak terlalu mewah. Karena bagaimana pun juga apa pun yang saya miliki harus lebih sederhana dari pada yang dimiliki oleh Raja," ungkap Arvan yang memang sejak awal identitasnya sebagai Penasehat Besar Kerajaan telah lebih dulu dibiarkan terungkap begitu saja.


"Benar juga. Maaf kalau saya tidak berpikir sampai ke sana, lagi pula setiap orang memang memiliki selera yang berbeda."


"Kalau dilihat-lihat, senjata yang ada di dalam ruangan ini juga tampak bagus. Kenapa tidak dipajang di ruangan depan juga?" tanya Arvan


"Karena senjata yang ada di sini, belum semua sampai ke tahap pembuatan akhir dan ada juga yang belum diuji secara keseluruhan kekuatan dan ketahanannya."


Mereka pun melanjutkan berkeliling melihat-lihat senjata secara keseluruhan di dalam ruangan tersebut. Hingga tampak beberapa koleksi busur panah yang ada di sana.


"Sebelumnya Nona sudah memesan pembuatan anak panah dalam jumlah banyak di toko kami. Apa Nona juga berminat untuk membeli busurnya?"


"Aku memang punya niat seperti itu, makanya saya ingin melihat koleksi senjata di toko ini dengan lebih lengkap," jawab Yura


"Baiklah. Kalau begitu, silakan dilihat-lihat saja dulu, Nona."

__ADS_1


"Tidak perlu, saya sudah cukup melihatnya karena sejak awal masuk ke dalam ruangan ini, koleksi busur panah di sini sudah cukup menarik perhatian saya. Sepertinya saya tertarik dengan kedua busur ini. Namun, saya hanya akan memilih salah satu untuk dibeli. Apa kau bisa menjelaskan tentang kedua busur panah ini pada saya?" tanya balik Yura sambil menunjuk dua busur panah yang ada di sana.


"Tentu saja, dengan senang hati saya akan memberi penjelasan tentang kedua busur ini pada Nona. Saya akui selera Nona dalam memilih barang, terlebih jika dalam kategori senjata itu adalah yang terbaik. Anda tidak salah pilih, Nona. Kedua busur panah yang Nona pilih adalah termasuk senjata dengan kualitas terbaik yang dibuat baru-baru ini. Yang membedakannya hanya bahan utama busur dan ukurannya. Yang satu ini terbuat dari bahan perak hingga membuat busur panah ini terlihat indah, tapi juga tidak terlalu mewah. Kalau yang satu lagi bahan buatannya adalah kayu terbaik dengan ukuran yang membuat busur panah ini tampak gagah." Pegawai toko itu terus menjelaskan keunggulan dari kedua busur yang dipilih oleh Yura.


"Kalau seperti ini, saya akan sulit untuk memilih di antara kedua busur ini untuk dibeli," ujar Yura


"Silakan Nona bisa mencoba lebih dulu kedua busur panah ini."


"Apakah boleh?" tanya Yura


"Tentu saja, boleh. Silakan mencoba, Nona."


"Kalau begitu, saya tidak akan sungkan lagi ... " ujar Yura sambil tersenyum.


Yura pun mulai mencoba mengangkat satu per satu busur panah pilihannya secara bergantian. Yura juga memeriksa keseluruhan detail dari kedua busur panah tersebut. Mulai dari struktur bentuk, kekuatan, dan kelenturan, serta berat, sekaligus ukuran.


"Arvan, kau bantulah aku memilih. Menurutmu, aku lebih cocok dengan panah busur yang mana?" tanya Yura


"Kedua panah busur itu sama-sama terlihat cocok untukmu. Namun, kalau dilihat dari tipe abak panah yang kau pesan tadi dan kalau kau memang lebih suka tipe ukuran senjata yang lebih kecil agar tampak elegan, maka kau lebih cocok memilih yang berbahan perak karena busur panah yang berbahan ukurannya terbilang besar dan lebih cocok untuk digunakan lelaki. Ini hanya saran dariku kalau kau memang ingin memilih salah satu di antara keduanya," ungkap Arvan


"Tampaknya Nona ini memang benar-benar telah berhasil memikat hati Tuan Penasehat Besar. Dia bahkan sama sekali tidak merasa sungkan memanggil nama Tuan Penasehat Besar secara langsung. Sepertinya keduanya memang memiliki hubungan yang istimewa," batin pegawai toko.


"Masalahnya terkadang aku juga ingin memiliki senjata yang sering digunakan oleh lelaki pada umumnya, sama seperti saat ini, aku sangat menginginkan kedua busur panah ini hingga merasa sangat bingung untuk memilih," ucap Yura


"Maaf jika aku mengatakan ini, tapi kau yang suka dengan senjata saja sudah seperti lelaki, jadi tidak masalah mau kau memilih yang mana pun juga. Atau kalau kau masih terus merasa bingung, apa kau ingin membeli keduanya saja sekaligus?" tanya Arvan

__ADS_1


"Saran Tuan Penasehat sangat bagus, saya juga setuju dan ikut menyarankan hal yang sama pada Nona."


"Tidak, tidak baik untuk menjadi serakah. Aku harus memilih hanya salah satu. Atau, apa kita beli masing-masing satu saja? Supaya aku bisa ikut melihat busur panah ini saat kau juga memakainya," ujar Yura


"Itu juga saran yang bagus, Nona."


"Utamakan dulu yang kau inginkan, tidak perlu pikirkan aku ... " kata Arvan


"Ya ampun, Tuan dan Nona ini mengabaikan dan tidak mendengar perkataanku. Sepertinya aku tidak seharusnya berada di sini bersama mereka berdua, tapi ini adalah pekerjaan dan tempat kerjaku. Seperti inilah nasib seorang lajang sepertiku ini," batin pegawai toko.


"Kalau begitu, dengan berat hati aku akan memilih salah satu ... " ujar Yura


"Tidak perlu merasa sedih. Lain kali kau pasti bisa mendapat kesempatan untuk memiliki senjata yang kau inginkan seperti ini lagi," kata Arvan


"Sepertinya Nona sangat sedih. Namun, benar yang dikatakan oleh Tuan Penasehat Besar. Nona masih punya banyak kesempatan. Jika lain kali Anda datang lagi ke toko kami, akan kami buatkan senjata apa pun sesuai yang Nona inginkan, termasuk yang sama persis dengan busur panah kali ini."


"Ya, kalian berdua benar. Aku akan bersabar untuk datangnya kesempatan lain nanti," kata Yura


"Akhirnya kali ini Nona menanggapi perkataanku. Namun, itu pun karena perkataanku tak jauh beda dengan Tuan, jadi Nona baru mau menanggapinya," batin pegawai toko.


"Jadi, Nona ingin memilih busur panah yang mana untuk dibeli?"


"Saya pilih busur dengan bahan perak ini. Karena kau bilang, semua senjata yang ada di ruangan ini masih belum sampai ke tahap pembuatan akhir, maka sempurnakanlah dulu dan masukkan saja pesanannya dengan pemesanan 200 anak panah. Agar bisa sekalian saya ambil semua pesanan pada 3 hari berikutnya," jelas Yura


"Baik, Nona. Lalu, apa Nona juga mau menambahkan desain ukiran pada busur panah seperti pada anak panah pesanan Nona? Lalu, saya lupa bertanya satu hal. Pesanan Nona akan dimasukkan atas nama siapa?"

__ADS_1


"Benar juga. Saya ingin tambahkan desain pada busur panahnya, samakan saja dengan desain ukiran anak panah, yaitu pola sulur tanaman dan 4 helai daun semanggi. Lalu, untuk pesanannya tuliskan saja atas nama saya, Rara ... " jawab Yura


"Baiklah. Busur panah berbahan perak dengan desain ukiran yang sama seperti anak panah, pola sulur tanaman dan 4 helai daun semanggi. Pesanan atas nama Nona Rara yang akan di ambil pada 3 hari mendatang," gumam pegawai toko yang mendikte ulang pesanan yang diminta oleh Yura sambil menuliskannya pada kertas nota pemesanan barang.


__ADS_2