One & Only

One & Only
50 - Bodoh dan Serakah.


__ADS_3

Yura dan Arvan pun beranjak bersama meninggalkan ruang makan.


Melihat Yura dan Arvan pergi bersama, Ratu tampak merasa senang karena itu artinya usahanya untuk menjodohkan saudari kembarnya dengan Dokter sekaligus Penasehat Kerajaan itu tidak benar-benar gagal dan sia-sia. Ratu pun berharap hubungan Yura dan Arvan dapat membaik setelah keduanya saling bicara kali ini.


"Aku tidak menyangka, aku kira kali ini kau akan menolak untuk bicara denganku ... " kata Yura


"Aku hanya merasa harus melakukannya," sahut Arvan


"Karena kalau tidak, aku tidak tahu kapan lagi bisa dapat kesenpatan diajak bicara denganmu seperti ini. Jika aku menolak dan kau pergi berkeliling sendiri, kau akan bertemu dengan pelayan lelaki itu lagi dan berkeliling bersamanya. Aku tidak suka melihat hal itu. Sekarang aku senang sekali bisa berjalan di dekatmu lagi, bahkan tidak saling mengabaikan, tapi saling bicara. Meski, kau jadi sedikit cuek padaku, itu tidak masalah ... " sambung Arvan dengan bergumam dalam hati.


"Aku ingin mengobrol dengan nyaman. Carikanlah tempat yang bagus untuk kita bicara berdua," pinta Yura


"Baiklah, kau ikuti aku saja ... " kata Arvan


Arvan pun mengajak Yura menuju ke taman samping. Keduanya memilih duduk di bangku taman yang ada yang di samping kanan dan kirinya terdapat pohon rindang dan taman berbunga yang dihias berbentuk menjulang tinggi hingga kemungkinan sulit untuk orang lain menemukan keduanya di sana.


Awalnya, Yura dan Arvan masih saling terdiam tanpa suara. Arvan masih merasa malu dan segan untuk memulai mengajak bicara lebih dulu, sedangkan Yura masih menata perasaan san merangkai kata sebelum mulai bicara.


Yura tampak merasakan kelembutan udara yang menderu kulit halusnya. Merasakan suasana sekitar untuk menenangkan dirinya sebelum akhirnya mulai buka suara dan angkat bicara.

__ADS_1


"Aku sangat mengetahui seperti apa diriku sendiri. Sering sesuka hati saat bicara, bercanda berlebihan. Gadis ceroboh, sembrono, dan serampangan sepertiku ini mungkin sudah menyinggung perasaanmu. Aku minta maaf soal itu, tapi aku tidak menyesali sikapku karena seperti inilah sosok diriku yang apa adanya," ucap Yura


"Kupikir kita sudah berteman, tapi sepertinya hanya aku yang menganggap seperti itu dan salah paham sendiri. Mau kau tidak menyukaiku atau bahkan membenciku, itu adalah hakmu. Aku tidak akan pernah mempermasalahkan atau melarangnya," sambung Yura


"Tidak, Yura. Kau salah paham, kau adalah gadis dan teman yang baik. Aku bukan tidak menyukaimu dan tidak pernah membencimu. Aku tidak menyangka kau akan cepat menyadari niatku yang berusaha menjauh darimu dan aku minta maaf soal itu. Aku yang harus bilang maaf padamu, tapi aku tidak berniat untuk melanjutkannya dan aku merasa malu dan tidak punya wajah untuk berhadapan denganmu lagi setelah kau menyadari kalau aku berniat untuk menjauhimu," ujar Arvan


"Rupanya kau langsung mengakui niatmu untuk menjauhiku. Namun, sebenarnya apa alasan kau melakukannya?" tanya Yura


"Aku tidak bisa memberi tahukan alasannya padamu dan mungkin kau tidak akan bisa mengerti," jawab Arvan


"Aku terlalu malu untuk mendatakan kalau aku menyukaimu dan dengan bodohnya aku memilih untuk menjauh darimu yang malah membuatku tersiksa. Harusnya aku menjawab seperti itu, tapi lagi-lagi aku malah merasa malu dan menjadi bodoh hingga akhirnya tidak bisa mengatakannya," sambung Arvan yang hanya bisa bicara di dalam hati.


"Padahal aku tidak akan melakukannya. Atau kau membenciku karena wajahku yang mirip dengan Ratu membuatmu semakin sadar pada kenyataan kalau perasaanmu hanya bertepuk sebelah tangan dan kau tidak bisa bersama dengan perempuan yang kau sukai, makanya kau menjauhiku?" tanya Yura melanjutkan.


Seketika Arvan langsung tampak terkejut saat mendengar Yura yang telah menyadari perasaan terlarangnya terhadap Ratu.


"Bagaimana kau bisa tahu? Sejak kapan?" tanya Arvan


"Soal perasaanmu terhadap Ratu? Aku menyadarinya saat kau mengatakan kalau alasanmu selalu membawa pematik api adalah untuk berjaga-jaga karena Ratu suka menyalakan api unggun saat melihat pemandangan malam, tidak ... aku bahkan bisa mengetahuinya saat melihat wajahmu yang tampak sangat khawatir saat Ratu tak sadarkan diri akibat luka dari goresan kipas besi beracun penari pembunuh saat hari pertamaku masuk ke Istana Kerajaan," ungkap Yura

__ADS_1


"Kalau begitu, berarti sudah sangat lama, bahkan Yura sudah menyadarinya sejak awal. Harusnya Yura tidak perlu tahu soal ini, aku bodoh sekali sampai membiarkan Yura nengetahuinya tanpa kusadari. Bahkan bukan hanya menyukai Ratu, aku juga menyukaimu. Aku ini hanya lelaki bodoh yang akhirnya tidak bisa mendapatkan satu pun dari perempuan yang kusuka karena serakah," batin Arvan


Lagi-lagi Arvan terdiam. Kali ini karena dirinya tidak bisa membantah perkataan Yura yang mengetahui tentang perasaannya terhadap Ratu.


"Arvan, kenapa kau diam saja? Apa kau tidak bisa menyangkal sedikit pun? Berarti semua dugaanku benar adanya," ujar Yura


"Aku ... tidak -" Arvan menghentikan bicaranya karena tidak tahu harus berkata apa.


"Namun, kau jangan salah paham dulu. Meski pun, aku tidak akan mengatakan soal perasaan yang kau sembunyikan ini pada Ratu atau Raja, aku tidak akan pernah memberi restu padamu soal perasaanmu itu. Aku tidak akan membiarkanmu macam-macam apa lagi jika kau sampai berniat ingin merebut Ratu dari Raja. Aku pun tidak akan menghalangi hubungan pekerjaan yang ada antara kau dengan Ratu, tapi hanya sebatas itu dan tidak lebih. Kau harus tahu dan sadar diri akan posisimu sendiri," ucap Yura


"Aku tahu kau mungkin tidak suka dan mungkin tersinggung dengan perkataanku kali ini, tapi aku tidak akan menyesali atau menarik kata-kataku karena aku bukan hanya peduli dengan Ratu, kakakku sendiri, tapi juga peduli denganmu. Ini demi kebaikan semuanya," sambung Yura


"Aku mengerti. Tenang saja, Yura. Raja Evan adalah teman dekatku sejak kecil. Aku tidak mungkin merebut istri yang sangat dicintainya dan merusak hubungan pertemanan kami yang telah terjalin lama hanya karena perasaan terlarangku ini," kata Arvan


"Bagus, kalau kau bisa mengerti ... " sahut Yura


Yura memang sudah cukup lama menyadari tentang perasaan Arvan terhadap Ratu, saudari kembarnya. Namun, Yura hanya membiarkannya sambil terus mengawasi kedekatan antara Arvan dan Ratu agar tetap dalam batas wajar. Asalkan Arvan tidak bertindak melewati batas wajar, Yura pun akan tetap diam.


Yura merasa sedikit lega karena Arvan bisa diajak bicara agar tidak sampai punya keinginan untuk berbuat macam-macam atau hal buruk yang nekat untuk merebut Ratu Yuna dari Raja Evan. Setidaknya Yura sudah berusaha untuk mempertahankan dan tidak membiarkan orang lain merusak keutuhan rumah tangga saudari kembarnya, termasuk jika orang itu adalah Arvan.

__ADS_1


__ADS_2