
Tepat setelah Yura dan Rio pergi, pelayan perempuan bernama Pevita datang ke kandang vila. Ia menemui Denny yang berada di sana.
"Vita, ada perlu apa kau datang ke sini?" tanya Denny saat melihat Pevita datang.
"Aku datang mencari Rio karena kudengar dia ada di sini. Di mana dia?" tanya balik Pevita sambil melihat ke sekeliling.
"Sayang sekali, kau terlambat datang. Rio baru saja pergi dengan nona Yura," jawab Denny
"Apa kau tahu mereka berdua pergi ke mana?" tanya Pevita
"Alu tidak tahu, tapi yang kudengar nona Yura ingin berkeliling dan Rio menemaninya untuk jadi pemandu," jawab Denny
"Baiklah, terima kasih. Kalau begitu, aku pergi dulu ... " Pevita pun langsung pergi dari sana.
...
Arvan terus membiarkan kedua kakinya melangkah tak tentu arah hingga akhirnya sampai ke dekat rumah kaca di Vila Kerajaan tersebut.
"Entah kenapa aku merasa tempat yang indah justru terus membuatku merasa sedih. Aku ingat dulu pernah merasa cemburu saat melihat Yuna bersama Evan di dalam rumah kaca ini. Saat itu adalah bulan madu Raja dan Ratu, tapi Evan malah bersikeras mengajakku untuk ikut hingga aku hanya bisa menelan pil pahit kecemburuan. Berbeda dengan saat itu, apa kali ini aku akan merasa cemburu lagi jika melihat Yura bersama pelayan lelaki bernama Rio itu di sini?" batin Arvan sambil melihat ke arah rumah kaca.
Ada orang lain yang mendekat ke arah rumah kaca selain Arvan tanpa disadari.
"Sayang sekali, kita tidak hadi berkeliling sambil menunggang kuda," ujar Rio
"Aku memang suka hal baru yang berbeda, tapi terkadang aku memilih untuk tidak melakukannya karena hal itu merepotkan," ucap Yura
Arvan mendengar suara Yura dan pelayan lelaki itu mendekat ke arahnya. Namun, bukannya beralih pergi, Arvan malah membeku dan terpaku di tempat. Seolah lelaki itu menunggu saat dirinya bisa bertemu dan tatap muka dengan Yura.
__ADS_1
Arvan merasa dilema. Antara tidak ingin bertemu Yura karena malu atau menunggu ingin bertemu dengan Yura karena rindu. Perasaan dan pikirannya yang kacau membuatnya semakin tidak bisa melakukan apa-apa dan terus berdiam diri di tempatnya.
"Rumah kaca di sini dijamin tidak kalah indahnya dengan rumah kaca di Istana Kerajaan," kata Rio
"Di istana Kerajaan, aku bahkan belum sempat melihat rumah kaca karena terus berada di samping Ratu atau Putra Mahkota. Aku jadi tidak sabar ingin melihatnya," sahut Yura
"Kalau begitu, keputusanku sudah tempat saat memilih mengajak Nona Yura ke sini ... " ujar Rio
Rio pun terus menuntun jalan Yura menuju ke arah rumah kaca. Pelayan lelaki itu mungkin tidak sadar karena asik bicara sambil memandangi Yura yang ada di sampingnya. Namun, Yura langsung sadar saat matanya saling bertemu pandang dengan milik Arvan. Padahal niat Yura ingin membantu Arvan untuk saling menjauhkan diri masing-masing. Namun malah tak sengaja bertemu seperti saat ini.
Arvan yang terdiam di tempat dan Yura yang berhenti melangkah saat melihatnya masih saling menatap satu sama lain. Saat Yura menghentikan langkahnya, Rio baru sadar kalau ada Arvan di sana.
"Benar saja, aku merasa cemburu lagi. Sepertinya aku memang tidak cocok dengan tempat yang indah karena terus membuatku merasa sakit hati seperti ini. Aku benar-benar bertemu Yura dan pelayan lelaki itu di sini," batin Arvan
"Rupanya, Tuan Penasehat Arvan juga ada di sini ... " ujar Rio yang baru tersadar kalau Arvan juga ada di sana.
"Rio, kita lihat rumah kacanya lain kali saja. Ayo, kita ke tempat lain. Kau pasti tahu tempat bagus lainnya, tunjukkanlah padaku ... " ucap Yura
Yura hanya terdiam karena tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa untuk dijadikan alasan. Saat ini situasinya mirip seperti Arvan yang bahkan tidak bisa bicara sepatah kata pun saat bertemu Yura dan Rio.
Sebenarnya Arvan ingin sekali memanggil nama Yura dan memintanya untuk tidak pergi dan tetap di sana bersamanya. Namun, lelaki itu tidak sanggup bicara. Seolah suaranya tertahan, tenggorokannya tercekat, lidahnya kelu, dan mulutnya membisu. Sama seperti dirinya yang terdiam seperti patung yang membeku di tempat.
"Kalau Rio memang benar jadi pemandu saat berkeliling, dia mungkin datang ke sini. Itu dia Rio yang sedang bersama Nona Yura, ada Tuan Penasehat Arvan juga di sana ... " batin Pevita
Pevita yang sedang mencari Rio akhirnya bisa menemukan teman pelayan lelakinya itu yang terlihat sedang bersama Yura dan Arvan.
"Rio!" seru Pevita memanggil dan langsung berlarian menghampiri lelaki yang dipanggil olehnya.
__ADS_1
"Pevita, ada apa kau mencariku sampai ke sini?" tanya Rio
"Kepala pelayan memanggilmu dan menyuruhmu untuk menemuinya," jawab Pevita dengan suara pelan.
"Apa harus sekarang? Tapi, aku sedang bersama Nona Yura untuk memandunya berkeliling," bisik Rio
"Kepala pelayan sudah mencarimu sejak kemarin. Jangan biarkan aku yang terkena omelannya lagi karena tidak bisa membawamu ke hadapannya," ucap Pevita
"Baiklah, aku mengerti. Aku akan ikut denganmu untuk menemui kepala pelayan," kata Rio
"Nona Yura, maaf. Aku hanya bisa memandumu sampai di sini. Mungkin jika lain kali Nona ingin berkeliling lagi, aku bisa melanjutkan memandumu saat itu," sambung Rio yang beralih bicara pada Yura.
"Baik, aku sudah mengerti. Kau pergi saja karena sepertinya urusanmu lebih penting," kata Yura
"Kalau begitu, kami berdua pergi dulu, Nona Yura, Tuan Penasehat Arvan ... " ujar Rio
"Permisi, Nona Yura, Tuan Arvan ... " pamit Pevita
Pevita dan Rio, kedua pelayan itu pun beralih pergi dari sana meninggalkan Yura dan Arvan yang masih sama-sama terdiam di tempat masing-masing.
Tidak dekat dan juga tidak jauh. Namun, suasana jadi terasa canggung antara Yura dan Arvan. Apa lagi saat keduanya tampak saling bersitatap sekali lagi, namun tetap tidak dapat bicara apa-apa.
Yura pun mengalihkan pandangan kedua matanya ke arah lain dan berbalik arah untuk segera pergi dari sana.
"Aku merasa lelah dan ingin istirahat saja," gumam Yura
Melihat Yura yang pergi meninggalkannya seorang diri di sana, Arvan tahu jika itu hanya alasan saat Yura berkata merasa lelah. Saat itu juga salah satu tangan Arvan bergerak seolah berusaha meraihnya. Namun, tetap saja tidak membuahkan hasil saat kakinya masih terasa sulit untuk melangkah dan suaranya terasa tak mampu untuk ke luar.
__ADS_1
"Yura, jangan pergi dan tetaplah di sini bersamaku. Aku tidak akan menjauh lagi darimu, jadi kau tidak perlu menghindar dariku lagi. Harusnya aku bisa bicara seperti itu padanya, bukannya malah hanya bergumam dalam hati. Bodoh sekali diriku ini," batin Arvan merutuki dirinya sendiri.
Akhirnya Arvan pun menghentakkan kakinya karena merasa emosi pada dirinya sendiri