One & Only

One & Only
81 - Malaikat Pengadilan dan Raja Kematian Dari Neraka.


__ADS_3

Salah satu pekerja toko senjata yang diduga menjadi tersangka yang terlibat dengan insiden penari kipas yang melukai Ratu pun ke luar dari tempat bekerjanya dalam keadaan mabuk.


Ia adalah seorang lelaki yang mempercepat langkahnya saat menyadari ada seseorang yang sedang mengikutinya dari belakang. Dan orang yang mengikuti lelaki tersebut dari belakang adalah Yura.


Yura melihat tersangka di depannya seolah sedang mengejar dan memburu mangsa. Tatapan gadis itu sangat tidak bersahabat.


Yura memukul dengan keras dari belakang hingga tersangka lelaki itu jatuh tersungkur ke depan.


Tersangka lelaki itu marah saat botol minumannya pecah saat terjatuh. Namun, ia tampak ketakutan saat melihat orang yang mengejarnya mengeluarkan sesuatu dari balim jubah yang dipakainya.


Itu adalah Yura yang mengeluarkan sepasang kipas senjata yang sama dengan yang dipakai penari kipas saat melukai Ratu dari balik jubahnya. Tersangka lelaki itu terkejut bukan main saat melihat sepasang kipas senjata itu.


"Kau ... siapa? Tidak mungkin kau adalah penari yang saat itu. Dia sudah mati. Orang yang sudah mati tidak mungkin hidup kembali. Siapa kau sebenarnya!?"


Alih-alih menjawab, Yura malah berjalan mendekati tersangka lelaki itu dengan sepasang kipas yang sudah dibuka lebar-lebar pada kedua tangannya.


"Rupanya dia mengenali penari itu dan sepasang kipas senjata ini. Sudah kuduga dia pasti ada kaitannya dengan insiden itu dan dia pasti merupakan salah satu komplotannya," batin Yura


Melihat orang yang mengikutinya membawa sepasang kipas yang merupakan senjata sambil terus berjalan ke arahnya, tersangka lelaki itu merasa takut hingga ingin melarikan diri. Namun, jangankan lari, bangkit berdiri saja tidak sanggup karena pengaruh alkohol yang membuatnya mabuk. Alhasil, ia hanya bisa beringsut mundur dari tempatnya.


"Siapa dan mau apa kau!? Berhenti di sana dan jangan mendekat!"


Yura mengabaikan perkataan lelaki itu dan terus mendekat hingga berada tepat di depannya. Kini posisi keduanya saling berhadapan dengan Yura yang tetap berdiri dan tersangka lelaki yang masih tersungkur di atas tanah.


Dengan tubuh yang bergetar ketakutan, tersangka lelaki itu mengambil pecahan botol yang tajam dan mengarahkan pada Yura yang tepat berada di depannya.


Namun, Yura tidak merasa gentar atau takut sedikit pun. Yura justru langsung menepis pecahan botol yang diarahkan padanya dengan kipas senjata yang berada di tangannya hingga pecahan botol itu terhempas dari tangan tersangka lelaki itu. Bahkan Yura juga menyayat pergelangan tangan tersangka lelaki itu dengan kipas yang merupakan senjata yang sedang dipegang olehnya.


Tersangka lelaki itu langsung meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya yang terluka dan mengeluarkan darah.


"Tidak sama sepertimu, aku tidak takut sama sekali," kata Yura sambil mengarahkan salah satu kipas senjata ke arah leher tersangka lelaki itu hingga ia tak bisa berkutik dan semakin ketakutan.


"Sebenarnya siapa kau dan apa yang kau mau?"


"Kau sudah mengulang pertanyaanmu sebanyak tiga kali dan aku bahkan belum mulai bertanya, tapi akan kuberi tahu ... aku adalah malaikat pengadilan yang akan menegakkan keadilan di muka bumi ini. Sekarang ungkapkan kejahatan yang kau sembunyikan demi keadilan jika kau tidak ingin aku memanggil Raja Kematian dari neraka untuk mengambil nyawamu," jelas Yura

__ADS_1


"Bicara omong kosong apa kau! Sungguh konyol! Aku bahkan tidak mengerti ucapanmu!"


"Mari, kita lihat yang mana yang lebih konyol ... ucapanku atau nasibmu," kata Yura sambil mendekatkan kipas senjata pada kulit leher tersangka lelaki itu.


"Jauhkan benda itu dariku!" pinta tersangka lelaki itu yang kian merasa ketakutan.


"Kau tahu benda apa ini, kan?" tanya Yura


"Tentu saja, itu adalah senjata yang kubuat sendiri!" ungkap tersangka lelaki itu karena mabuk.


"Kau membuat senjata semacam ini untuk kau berikan pada siapa dan untuk apa?" tanya Yura


Karena mabuk dan merasa takut, tersangka lelaki itu hampir kehilangan kesadarannya dan itu membuat Yura merasa kesal.


"Sadarlah ... dasar, pemabuk! Kalau kau tidak menjawab dengan benar, coba pilih yang mana yang ingin kau korbankan ... tanganmu yang artinya kau tidak akan bisa bekerja untuk membuat senjata lagi atau bahkan lehermu yang artinya kau tidak akan bisa hidup lagi setelah ini?" tanya Yura dengan mode ancaman.


"Itu kuberikan pada seorang penari untuk membunuh Raja," jawab tersangka lelaki saat merasa perih pada lehernya karena goresan kipas senjata yang mampu membuatnya sadar.


"Rakyat biasa sepertimu ingin membunuh Raja, katakan alasannya!" bentak Yura


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Yura


"Pemilik toko menyuruhku atas perintah pendukung yang selalu menginvestasikan uangnya pada toko kami, Duke Azariel."


"Kenapa Duke Azariel menginginkan kematian Raja?" tanya Yura


"Aku tidak tahu apa pun lagi, sungguh. Aku sudah memberi tahu semua yang kutahu, tolong Anda minta Raja Kematian untuk kembali ke neraka saja dan jangan ambil nyawaku. Tolong ampuni aku ... aku berjanji tidak akan berbuat jahat semacam itu lagi." Tersangka lelaki itu bicara dengan seluruh tubuh bergetar saat melihat ke arah Arvan berjalan mendekat.


Bahkan Yura melihat celana tersangka lelaki itu merembes basah dan tatapannya mengarah pada Arvan yang berjalan mendekat dengan jubah hitam yang menyembunyikan wajahnya.


"Kau jangan bersikap keterlaluan," kata Arvan yang dimaksudkan pada Yura.


"Aku tidak akan bersikap keterlaluan lagi, Raja Kematian. Ampunilah aku, kumohon ... " Tersangka lelaki itu menyahuti perkataan Arvan yang ditujukan pada Yura.


Arvan pun merasa bingung dan hanya bisa menatap Yura dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


Tidak menanggapi tatapan pertanyaan Arvan, Yura menarik tangannya menjauhkan kipas senjata dari leher tersangka lelaki itu.


"Pergilah ... pulang karena kau harus mengganti celanamu yang basah itu," kata Yura


"Dasar, pemabuk menjijikan ... " sambung Yura sambil bergumam.


"Aku akan pulang dan mengganti celana. Terima kasih banyak!" Tersangka lelaki itu pun segera melarikan diri sambil terhuyung-huyung karena mabuk seolah berjalan tak tentu arah.


Yura dan Arvan pun hanya membiarkan tersangka lelaki itu lolos dan pergi begitu saja untuk kali ini.


"Arvan, kenapa kau menghampiri ke sini? Bukankah sudah kutitipkan kudaku padamu? Tapi, kau bahkan meninggalkan kudamu sendiri?" tanya Yura


"Kuda-kuda itu sangat patuh. Mereka tidak akan melarikan diri, kau bahkan bisa melihat mereka dari sini. Namun, aku datang karena khawatir padamu," jawab Arvan


"Kau berlebihan. Apa kau khawatir aku akan melukai pria tadi? Jika aku benar-benar melakukan itu, dia bahkan pantas mendapatkannya. Namun, aku justru membiarkannya pergi," ujar Yura


"Apa seharusnya aku menangkapnya dan tidak membiarkannya lolos? Tapi, aku sungguh tidak tahan. Baru kali ini aku melihat pria dewasa mengompol di celana seperti itu. Aku sudah pernah menghadapi banyak penjahat, tapi baru kali ini nendapati penjahat yang ketakutan sampai mengompol seperti itu," sambung Yura seraya memgoceh.


"Biarkan saja dia. Toh, kita masih punya sketsa wajahnya. Kita masih bisa menggunakan sketsa wajah itu untuk menangkap dan memasukkannya ke dalam penjara nanti. Ke marilah, biar kulihat dirimu baik-baik ... " kata Arvan yang langsung memegangi kedua bahu Yura dan memerhatikan gadis itu secara seksama.


"Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau sedang memeriksa, apa aku terkena ompol pria itu tadi?" tanya Yura


"Tidak, kau tidak terkena ompolnya. Aku pastikan hal itu. Namun, apa kau terkena pecahan botol alkohol tadi? Apa kau terluka?" tanya balik Arvan sambil menatap Yura lekat-lekat.


"Sepertinya sudah pernah kubilang padamu sebelumnya, aku bukan tipe orang yang mudah ditindas dan aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku tidak terluka sama sekali," jawab Yura


"Syukurlah, kalau begitu. Namun, apa yang kau katakan padanya tadi sampai dia sangat ketakutan bahkan mengira aku adalah Raja Kematian?" tanya Arvan


"Aku mengatakan bahwa aku adalah malaikat pengadilan dan kalau dia tidak menjawab pertanyaanku dengan benar, maka aku akan memanggil Raja Kematian dari neraka untuk mengambil nyawanya. Sepertinya dia mengira kau adalah Raja Kematian karena penampilanmu yang memakai jubah hitam. Menghadapi pemabuk penakut sepertinya memang mudah. Aku bahkan mendapat informasi penting darinya," ungkap Yura


"Baiklah, kita bisa bahas itu nanti. Ayo, kita pergi dari sini dan kembali ke Istana Kerajaan," kata Arvan


Yura hanya mengangguk, lalu jalan bersama Arvan menghampiri kuda milik masing-masing untuk kembali menuju ke Istana Kerajaan.


Untunglah saat itu adalah waktu dini hari, lewat tengah malam. Hingga tidak ada yang menyaksikan hal-hal yang dilakukan oleh Yura terhadap tersangka lelaki itu karena suasana sekitar sangat sepi.

__ADS_1


__ADS_2