One & Only

One & Only
146 - Calon Kakak Ipar.


__ADS_3

Arvan pun menunda untuk kembali ke ruang kerja Istana Kerajaan dan beralih melangkahkan kaki menuju ke area latihan prajurit.


Begitu masuk ke dalam area latihan prajurit, Arvan langsung mencari sosok Yasha dan begitu menemukan sosok calon kakak iparnya, lelaki itu pun menghampiri kakak sulung Yura itu.


Sejak kembali dari peperangan, Yasha memang tinggal di asrama Istana Kerajaan bersama prajurit lainnya dan melakukan latihan setiap harinya di area latihan prajurit tersebut seperti saat ini.


"Tuan Penasehat Besar, Arvan. Selamat datang."


"Ada perlu apa, ya, Tuan Arvan datang ke sini?"


"Kenapa hanya seorang diri? Di mana nona Yura? Bukankah belakangan ini kalian berdua selalu bersama?"


"Kalau begitu, berarti rumor itu benar? Tentang Tuan Arvan dan nona Yura menjadi sepasang kekasih?"


"Meski pun benar, sepasang kekasih tidak harus selalu bersama. Nona Yura pun pasti punya urusannya sendiri, itulah alasang mengapa Tuan Arvan hanya sendiri saat ini."


"Namun, ada urusan apa Tuan Arvan datang ke sini? Bukankah Tuan Arvan juga punya urusan dan selalu sibuk?"


"Tuan Arvan tidak sedang bersama nona Yura, tapi mungkin Tuan Arvan datang ke sini seorang diri untuk menemui calon kakak iparnya demi saling mengenal dan mendekatkan diri."


Seperti itulah bisik-bisik yang terdengar dari beberapa anggota prajurit yang melihat Arvan berjalan masuk ke dalam area latihan prajurit dan menghampiri ke arah Yasha yang ada di sana.


"Ketua Yasha, apa kau sedang sibuk saat ini?" tanya Arvan


"Aku tidak sibuk karena sedang waktunya istirahat. Kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan seperti itu lagi. Sekarang perang sudah berakhir, lagi pula saat itu kau hanya prajurit bantuan sementara. Semua orang tahu kau punya pekerjaan lain yang sebenarnya," jawab Yasha


"Aku ingin bicara denganmu. Apa kau ada waktu sebentar saja?" tanya Arvan


"Baiklah. Apa kau ingin kita bicara di sini? Sekarang juga?" tanya balik Yasha


"Ya, mungkin kita bisa cari tempat lain agar bisa bicara dengan lebih nyaman," jawab Arvan


Yasha hanya mengangguk. Arvan dan kakak sulung Yura itu pun beralih untuk mencari tempat lain agar bicara berdua dengan lebih leluasa.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku? Apa ini soal Yura?" tanya Yasha


"Ya dan sepertinya Yura sedang marah padaku," jawab Arvan

__ADS_1


"Sejak kita sedang berada di medan perang, aku sudah mulai menyadari kalau kau punya maksud terhadap adik bungsuku itu dan kedua orangtuaku pun sudah menceritakannya padaku soal kau yang melamar karena ingin menikah dengan adikku. Namun, hal seperti ini adalah yang penting yang tidak bisa diputuskan secara terburu-buru. Jadi, tolong beri waktu pada keluarga kami untuk memikirkannya dengan lebih serius," ucap Yasha


"Aku mengerti. Ini adalah salahku yang bertindak dengan terburu-buru hingga membuat Yura marah karena tidak suka. Karena itu, apa kau tahu suatu cara agar Yura bisa memaafkan aku dan tidak marah lagi? Atau mungkin cara menyenangkan hatinya?" tanya Arvan


"Aku tidak terlalu tahu soal itu. Sejak kecil kami belajar secara terpisah dan hanya bersama saat belajar seni bela diri dan berkuda. Karena itu, aku tahu kalau Yura sangat menyukai dua hal itu bahkan kami juga sempat menjadi saudara seperguruan selain memang sudah menjadi saudara kandung," jelas Yasha


"Selain itu aku tidak tahu lagi karena Yura bukan termasuk orang yang terbuka. Lalu, setelah dewasa aku sudah harus bertugas untuk menjadi pemimpin prajurit yang membuatku jauh dari rumah, Yura pun jadi sering bepergian untuk mengembara karena hobinya," sambung Yasha


"Kupikir kau dan Yura sangat dekat karena punya pernah jadi saudara seperguruan," kata Arvan


"Kami memang dekat, tapi selain hanya berlatih dengan guru yang sama, kami berdua tidak pernah melakukan atau membahas hal lain. Sebenarnya aku tahu sesuatu, tapi aku tidak tahu apa informasi ini bisa membantumu atau tidak," ujar Yasha


"Beri tahu saja padaku. Apa itu?" tanya Arvan


"Dulu saat kami berdua sedang berlatih bersama, Yura pernah bilang padaku dengan penuh rasa kagum kalau dia ingin memiliki kuda dari setiap warna. Bahkan dia ingin menikah dengan seseorang yang memberikan kuda sebagai mahar untuknya. Itu karena dia sangat menyukai kuda, selain pedang dan panahan untuk bertarung ... " ungkap Yasha


"Begitu, rupanya. Baiklah, aku mengerti. Ini sudah cukup membantuku. Terima kasih," ucap Arvan


"Tidak masalah dan tidak perlu sungkan," sahut Yasha


"Kak Yasha, rupanya kau sedang ada sini bersama Arvan," ucap Yura


"Yura, kau datang bersama Yang Mulia Putra Mahkota ... " sahut Yasha


"Ya, aku bermaksud memperkenalkan Arsha pada Paman-nya," kata Yura


"Paman Yasha, kau panggil aku dengan namaku saja sama seperti saat Bibi Yura memanggilku," ucap Arsha


"Senang bisa bertemu denganmu, Arsha. Saat pertama kali bertemu, kau masih sangat kecil hingga mungkin kau tidak mengingatku lagi. Jadi, ada apa kau datang mencariku ke sini bersama Bibi Yura?" tanya Yasha


"Aku sudah pernah berlatih dengan Bibi Yura, kali ini apa kau bisa melatihku juga, Paman Yasha?" tanya balik Arsha


"Baiklah, ayo berlatih bersama. Tunggulah sebentar karena aku ingin berkata pada prajurit lainnya agar bisa berlatih tanpaku untuk sementara waktu," kata Yasha


"Ya, kau duluan saja, Paman. Aku akan menyusulmu nanti," sahut Arsha


Yasha pun berajak pergi, sedangkan Arsha berlajan mendekat ke arah Arvan yang juga ada di sana.

__ADS_1


"Paman Arvan, aku sudah setuju tentang hubunganmu dengan Bibi Yura sejak awal. Namun, akan berbeda jadinya jika kau membuat Bibi-ku merasa kecewa. Jadi, jangan lakukan hal yang seperti itu lagi," ucap Arsha dengan nada suara seperti sedang berbisik.


"Aku mengerti, Yang Mulia Putra Mahkota ... " sahut Arvan


"Bibi Yura, aku akan menyusul Paman Yasha untuk berlatih dulu," ucap Arsha


Yura pun mengangguk sambil tersenyum kecil. Sejak pulang dari peperangan, Yura sudah tidak lagi memakai cadar meski pun berada di Istana Kerajaan. Arsha pun beranjak pergi menyusul Yasha untuk mulai berlatih.


"Yura, bukankah tadi kau masih memakai mahkota bunganya?" tanya Arvan


"Ya, mahkota bunganya sudah kusimpan. Aku menyukainya," jawab Yura


"Yura, apa kau sedang marah padaku?" tanya Arvan


"Tidak kok," jawab Yura dengan singkat.


"Jangan menutupinya. Aku sudah tahu kesalahanku dan aku minta maaf. Apa kau mau memaafkan aku?" tanya Arvan


"Sebenarnya aku memang bertengkar dengan kedua orangtuaku, tapi kurasa ini hanya masalah di antara keluarga kami. Jadi, tolong jangan dibahas lagi kalau kau tidak mau aku semakin merasa kesal dan malah berakhir dengan menyalahkanmu," jelas Yura


"Apa yang harus kulakukan agar kau merasa lebih baik?" tanya Arvan


"Tidak ada, kau tidak perlu melakukan apa pun. Aku hanya perlu menenangkan diri dan hati ini. Bukankah harusnya kau kembali ke ruang kerja Istana Kerajaan? Apa tidak masalah jika kau membolos kerja seperti ini?" tanya balik Yura


"Sebelum aku pergi, aku sudah meminta izin agar Raja memberiku waktu lebih lama," jawab Arvan


"Lebih baik kau kembali sibuk mengurus pekerjaanmu. Aku tidak ingin menjadi kekanakan lebih dari ini, jadi berilah waktu agar aku bisa menenangkan diri. Aku merasa lelah dan hanya ingin menghibur diri," ucap Yura


"Apa Yura merasa lelah dengan hubungan kami yang baru saja dimulai ini? Apa aku benar-benar sudah terlalu mendesaknya hingga dia merasa muak dan ingin mengakhiri hubungan kami? Kumohon, semoga ini hanya perasaan khawatirku saja ... " batin Arvan


"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Memang sudah waktunya untukku kembali bekerja. Namun, jika terjadi sesuatu kuharap kau mau menceritakannya padaku," ujar Arvan


"Hal seperti ini tidak akan membuatku menjadi membencimu. Jadi, kembalilah bekerja dengan tenang. Semua akan baik-baik saja," kata Yura sambil tersenyum.


Arvan merasa sedikit lega karena setidaknya lelaki itu bisa melihat Yura yang tersenyum manis hingga membuatnya tak kuasa untuk ikut tersenyum kecil.


Setelah itu, Arvan pun beranjak pergi untuk kembali menuju ruang kerja Istana Kerajaan. Sedangkan Yura tetap berada di sana untuk melihat kakak sulung dan keponakan pertamanya berlatih. Pada akhirnya, Yura pun ikut berlatih bersama.

__ADS_1


__ADS_2