
Di pagi hari, usai bersiap dan berpakaian dengan rapi, Yura justru malah termenung di dalam suatu kamar kediaman Selir Ketiga.
"Semalam aku benar-benar tidak bisa tidur. Lalu, bagaimana aku bisa berhadapan dengan kak Yuna hari ini? Setelah apa yang terjadi semalam dan ada pelayan yang menjadi saksi mata, pasti berita ini tersebar dengan cepat, dan mungkin kak Yuna sudah mengetahuinya. Aku sungguh malu berhadapan dengan kak Yuna," batin Yura yang termenung dalam diam.
Saat ini Azkia sedang mengurus Afia yang baru saja terbangun di pagi hari, hingga ia menyadari sang kakak kembali datang untuk berkunjung.
"Afia, sudah bangun ... " sapa Arvan
"Ya, Afia baru saja bangun dan sedang bersiap untuk mandi," sahut Azkia
"Di mana Yura? Kenapa tidak terlihat? Atau dia sudah pergi ke kediaman Ratu?" tanya Arvan
"Sudah kuduga, Kakak datang untuk mencarinya ... " ujar Azkia
"Ada yang ingin kuberi tahu padanya," kata Arvan
"Kak Yura masih di dalam kamarnya. Aku juga belum melihatnya pagi ini," ucap Azkia
"Kalau begitu, aku akan pergi ke kamarnya. Sekalian ingin memeriksanya," ujar Arvan yang langsung beranjak menuju ke kamar yang ditempati Yura di kediaman sang adik.
Sebelum masuk, Arvan lebih dulu mengetuk pintu dan suara ketukan pintu darinya mampu membuat Yura tersadar dari lamunannya di dalam kamar tersebut.
"Ya, silakan masuk ... " kata Yura dari dalam kamarnya.
Setelah Yura mempersilakan masuk, pintu kamar tersebut pun terbuka dari luar.
"Rupanya itu kau, Arvan. Ada apa kau mencariku?" tanya Yura
__ADS_1
"Ada yang ingin kuberi tahu padamu. Ini soal lilin aroma yang kau minta untuk kuperiksa semalam. Aku memang belum sepenuhnya selesai memeriksa dan mengetahui kandungannya, tapi aku bisa menduga kalau memang benar lilin aroma itu dapat membuat reaksi mabuk bagi yang menghirup aromanya," jelas Arvan
"Bagaimana bisa kau menyimpulkan seperti itu padahal kau belum selesai memeriksanya untuk mengetahui kandungannya? Kau tidak menghirup aroma dari lilin itu setelah kau nyalakan hanya untuk memastikannya, kan?" tanya Yura
"Kalau aku melakukan seperti yang kau katakan barusan, memangnya kenapa? Apa kau khawatir padaku?" tanya balik Arvan
"Tentu saja. Dasar, Arvan ... kau bodoh. Aku sendiri sudah merasakan bagaimana efek karena menghirum aroma dari lilin itu dan bahkan kau melihat sendiri bagaimana reaksiku semalam, kau juga pasti melihat kondisi Baginda Raja yang menghirup aroma dari lilin yang sama denganku saat kau memeriksanya," jawab Yura
"Namun, bisa-bisanya kau bertindak ceroboh dengan menyalakan lilin itu hanya untuk memeriksa reaksi yang ditimbulkan? Apa karena kau bisa membuat penawarnya, maka kau merasa boleh saja melakukan hal seperti itu? Ini salahku karena tidak mengatakan padamu untuk berhati-hati saat memeriksa kandungan pada lilin aroma itu," sambung Yura
"Baiklah, maaf. Aku tidak melakukan hal seperti itu kok. Aku sangat berhati-hati saat memeriksa lilin aroma itu. Aku hanya sekadar tahu reaksi yang ditimbulkan oleh lilin aroma itu karena pernah melihatnya," ucap Arvan
"Kalau kau memang sudah tahu, kenapa kau bertanya seambigu itu tadi? Lalu, kau pernah melihat lilin aroma itu apa artinya sudah pernah ada kejadian yang sama di Istana Kerajaan ini sebelumnya?" tanya Yura
"Aku hanya ingin tahu dan lihat reaksi darimu. Lalu, sebelumnya aku melihat lilin aroma ini di tempat lain. Sedangkan lilin aroma yang semalam adalah yang baru pertama kali kulihat di Istana Kerajaan ini," jawab Arvan
"Yura, apa kau benar-benar tidak tidur semalam?" tanya Arvan
"Kau sendiri malah langsung memeriksa lilin aroma itu, pasti kau juga tidak tidur. Kenapa kau harus peduli denganku yang tidur atau tidak semalam?" tanya balik Yura
"Karena kau bilang tidak akan bisa tidur, jadi semalam aku sengaja tidak tidur dan memilih untuk mulai memeriksa lilin aroma. Seolah menemanimu yang tidak tidur sepanjang malam," ungkap Arvan
"Dasar, orang aneh. Sudahlah, aku akan pergi ke kediaman Ratu saja," ujar Yura
"Aku memang aneh karena aku sedang jatuh cinta padamu. Aku senang melihat reaksimu yang ikut merasa khawatir untukku," sahut Arvan di dalam hati.
Saat Yura melangkahkan kakinya, ia merasa tubuhnya tidak seimbang saat berdiri hingga membuatnya terhuyung dan hampir terjatuh. Arvan pun langsung dengan sigap meraih dan menahan tubuh Yura yang hendak terjatuh.
__ADS_1
"Sudah kuduga, kau akan jadi seperti ini. Pasti ini karena kau tidak tidur semalam," ujar Arvan
"Aku hanya tidak bisa tidur nyenyak semalam. Berbeda dengan seseorang yang sengaja tidak tidur untuk melakukan sesuatu yang bisa dilakukan lain waktu," kata Yura yang langsung berdiri tegak dan melepaskan diri dari jangkauan Arvan.
"Jika kau yang meminta bantuan, mana bisa aku melakukannya lain waktu, itu harus segera kulakukan dan selesaikan. Apa yang akan kau lakukan setelah kandungan pada lilin aroma itu diketahui?" tanya Arvan
"Aku ingin menjadikannya sebagai bukti bahwa yang telah terjadi semalam adalah jebakan yang sengaja dibuat oleh orang yang tak bertanggung jawab. Aku ingin membersihkan nama baikku dan jangan sampai kejadian kali ini mencoreng nama baikku dan Baginda Raja. Aku tidak ingin jika sampai ada yang salah paham padaku dan Baginda Raja, terutama kak Yuna," jawab Yura
"Sejak semalam sepertinya kau terus mengkhawatirkan Baginda Raja. Apa kau menyukai Baginda Raja?" tanya Arvan
"Tentu saja. Siapa yang tidak suka dengan Raja yang muda dan tampan? Sebagai kakak ipatku, suami dari kakakku, aku menghormati dan mengaguminya. Dia adalah panutan bagi semua orang," jelas Yura
"Apa sebagai kakak beradik kembar, Yura juga menyukai orang yang sama dengan Yuna? Apa perasaanku sungguh tidak akan terbalas?" batin Arvan bertanya-tanya.
Yura pun beranjak ke luar dari dalam kamar tersebut diikuti dengan Arvan yang berjalan di belakangnya. Yura dan Arvan pun bertemu dengan Azkia dan si bayi, Afia.
"Afia, cantik. Sedang sarapan dengan Ibu, ya?" tanya Yura sambil menyapa.
"Ya, Bibi. Setelah ini baru akan bermain sambil berjemur di luar," jawab Azkia yang mewakili bayinya bicara sambil memberi susu yang telah diseduh hangat pada Afia.
"Berjemur saat pagi hari itu baik untuk kesehatan, tapi maaf karena Bibi Yura tidak bisa menemani. Karena sudah harus pergi ke kediaman Ratu," ujar Yura
"Aku juga akan pergi untuk bekerja," kata Arvan
"Akan lebih baik jika kau tidak bekerja untuk hari ini saja. Kau dan Baginda Raja sama-sama butuh istirahat lebih," ucap Yura
"Menurut wataknya, Baginda Raja tetap akan bekerja. Jadi, aku sebagai penasehat juga tetap harus bekerja," ujar Arvan
__ADS_1
Usai berpamitan dengan pemilik tempat, Yura pun memakai cadar miliknya untuk menutupi sebagian wajahnya dan beranjak pergi menuju ke kediaman Ratu. Begitu pula, Arvan yang beranjak menuju ke ruang kerja Istana Kerajaan.