One & Only

One & Only
142 - Suap-Menyuapi.


__ADS_3

Setelah latihan cukup lama, Yura pun menghentikan sesi latihannya bersama Pevita dan Rio.


"Latihannya cukup sampai di sini. Kita akan selalu latihan bersama setiap seminggu sekali, jadi kita akan latihan lagi minggu depan," ucap Yura


"Baik, Nona. Kami berdua akan mengingatnya dan saling mengingatkan," kata Pevita


"Kalau aku akan sangat menantikannya," ujar Rio


"Setelah istirahat sebentar dan melakukan pendinginan, kalian sudah bisa kembali ada posisi tugas berjaga untuk melindungi Yang Mulia Ratu," kata Yura


"Siap, laksanakan, Nona ... " sahut Pevita dan Rio secara serempak.


Setelah melakukan pendinginan, Yura melihat Rio memberikan selembar sapu tangan pada Pevita. Melihat itu, Yura jadi teringat dengan Arvan. Selain itu juga menyadari bahwa kedua prajurit pelindung saudari kembarnya itu telah menjadi sepasang kekasih.


"Kau beruntung bisa punya kekasih yang sangat sabar seperti Pevita, Rio. Jadi, jangan pernah membuatnya kecewa. Selamat atas hubungan kalian," ucap Yura


"Bagaimana Nona Yura bisa tahu?" tanya Rio


"Maaf karena harusnya kami berdua hanya fokus pada pekerjaan," sahut Pevita


"Tidak masalah karena bisa dibilang saat ini adalah waktu senggang. Asalkan kalian tetap ingat dan patuh saat bekerja," kata Yura


"Sebelumnya kami berdua sangat merindukan Nona Yura dan senang bisa berlatih bersama seperti ini," ujar Rio


"Terima kasih karena Nona Yura telah meluangkan waktu untuk berlatih bersama kami," ucap Pevita


"Tidak perlu sungkan karena ini adalah janjiku pada kalian berdua," sahut Yura


Saat itu Arvan pun datang menghampiri selagi Raja masih berada di kediaman Ratu. Lelaki itu terlihat membawa sebuah keranjang.


"Tuan Penasehat Besar, Arvan ... " sapa Pevita dan Rio sambil sedikit membungkuk hormat.


"Senang bisa melihat kalian berdua lagi," sahut Arvan

__ADS_1


"Arvan, ada perlu apa kau datang ke sini?" tanya Yura


"Aku datang menemani Baginda Raja mengunjungi kediaman Yang Mulia Ratu, lalu aku juga membawa makanan untuk kita makan bersama," jawab Arvan


"Kalau begitu, kau juga membawa bagian untuk Pevita dan Rio, kan? Seperti yang kau lihat, aku tidak hanya sendiri ... " ujar Yura


"Tentu saja, aku juga membawanya. Ini makanan untuk kalian berdua, lalu ini minumannya," kata Arvan sambil mengeluarkan beberapa kotak makan yang ditumpuk menjadi satu juga 2 botol minuman yang langsung diberikan pada Pevita dan Rio.


"Terimalah, itu adalah niat baik pemberian dari Arvan untuk kalian berdua ... " kata Yura


"Sudah merepotkan, Tuan. Terima kasih banyak," ucap Rio


"Kalau begitu, kami berdua akan makan di tempat lain dan tidak akan mengganggu Anda berdua. Permisi, Tuan dan Nona ... " ujar Pevita yang langsung menarik pergi Rio dari sana.


Sementara Pevita dan Rio telah pergi, Yura dan Arvan pun beranjak ke teras duduk di halaman tersebut agar bisa makan bersama sambil duduk santai.


"Tumben sekali kau datang untuk mengajakku makan bersama," kata Yura


"Aku hanya ingin melakukannya bersamamu. Sebenarnya aku ingin kita melakukan semua hal bersama. Namun, karena masih belum bisa seperti itu, jadi aku hanya terpikirkan untuk makan bersama denganmu," ucap Arvan


Arvan pun menyajikan makanan dengan mengeluarkannya dari keranjang yang dibawa olehnya. Bahkan lelaki itu juga menyuapi Yura seperti semalam.


"Arvan, sebenarnya aku bisa makan sendiri. Berikan saja makanannya padaku," ucap Yura


"Aku senang melakukannya untukmu, jadi biar aku saja. Kuharap kau tidak merasa tertekan dengan tindakanku kali ini. Sebaliknya kuharap kau menganggapnya sebagai perlakuan istimewa dariku," kata Arvan


"Jadi, hal apa yang kau inginkan dariku untuk membalasnya?" tanya Yura


"Memangnya aku boleh meminta sesuatu darimu? Kalau begitu, sama saja tindakanku kali ini tidak tulus, kan?" tanya balik Arvan


"Aku sudah menerima ketulusan dan niat baik dari tindakanmu kali ini. Namun, aku tahu kalau hubungan antar manusia itu seperti timbal balik yang menguntungkan, jadi tidak masalah kalau kau ingin aku membalas kebaikanmu. Asalkan kau bukan meminta hal yang merugikan padaku," jelas Yura


"Sebenarnya aku sangat ingin merasakan masakan yang kau buat seperti saat di wilayah perbatasan sebelumnya. Di sana persediaan serba terbatas, tapi kau mampu memasak makanan yang lezat. Aku jadi ingin merasakannya lagi. Meski pun setelah kita menikah nanti, aku bisa merasakan masakanmu sepuasnya setiap hari, tapi aku sangat menantikannya sampai jadi tidak sabar ... " ungkap Arvan

__ADS_1


"Baiklah, aku mengerti dan akan mengingatnya. Namun, sepertinya aku tidak bisa melakukannya dalam waktu dekat," kata Yura


"Tidak masalah, aku akan menunggu dengan senang hati," sahut Arvan


"Kau bilang ingin makan bersama, tapi kenapa sedari tadi kau hanya menyuapiku dan hanya aku yang makan? Kau juga makanlah sesuatu," ujar Yura yang langsung menyuapi makanan ringan yang juga dibawa oleh Arvan ke dalam mulut lelaki itu.


Bukan menyuapi sedikit demi sedikit dalam beberapa gigitan, Yura langsung memasukkan satu camilan utuh pada Arvan. Sepertinya Yura sedikit salah tingkah setelah Arvan membahas soal kehidupan permikahan mereka berdua nantinya.


Namun, Arvan tidak merasa keberatan atau pun tersedak. Lelaki itu justru mengunyah camilan utuh yang dimasukkan oleh Yura ke dalam mulutnya secara perlahan hingga menelannya dengan sedikit susah payah. Tak hanya itu, Arvan juga masih saja terus tersenyum.


"Tidak hanya makanan berat, kau juga membawa makanan ringan. Sebenarnya seberapa banyak makanan yang kau bawa?" tanya Yura


"Aku tidak tahu makanan apa yang kau suka yang sesuai dengan seleramu, jadi aku membawa banyak makanan agar kau bisa memilih. Lagi pula, aku ingat dan mengikuti kebiasaan Ratu yang membawa makanan untuk Raja juga para pekerjanya, jadi aku bawa banyak makanan agar kau bisa berbagi pada rekanmu di sini. Lalu, meski pun bukan aku sendiri yang memasaknya, kuharap kau suka dengan rasa makanannya," jelas Arvan


"Aku bukan tipe orang yang pilih-pilih makanan dan aku cukup menikmatinya. Terima kasih," ucap Yura


"Aku senang mendengarnya," sahut Arvan


"Omong-omong, sepertinya aku masih belum mengucapkan terima kasih setelah kau memberi gelang dan tusuk rambut padaku semalam. Terima kasih banyak," ujar Yura


"Aku juga senang melihat kau memakai pemberian dariku. Pokoknya aku akan merasa senang melakukan dan memberikan apa pun untukmu. Aku akan bersikap baik dan tidak akan mengecewakanmu jadi kau tidak akan merasa menyesal telah memilih untuk menerima diriku. Aku janji," ucap Arvan


"Ya, lebih baik kau melakukannya dari pada hanya berjanji ... " kata Yura


"Kau bisa memastikannya sendiri," sahut Arvan


Kali ini tak hanya Arvan yang menyuapi Yura, tapi juga sebaliknya. Hingga kedua insan itu tampak mesra dengan adegan suap-menyuapi satu sama lain.


"Omong-omong, bagaimana kabar Azkia dan Afia? Aku belum sempat menemui mereka berdua, aku merindukan mereka ... " ujar Yura bertanya.


"Aku baru sempat menemui mereka berdua sebentar pagi ini dan keduanya tampak sehat dan baik-baik saja. Azkia juga menanyakan tentang dirimu," kata Arvan


"Mungkin besok aku akan menemui mereka berdua. Kau temanilah aku," pinta Yura

__ADS_1


"Baiklah, dengan senang hati. Mereka berdua juga pasti merasa senang bertemu denganmu lagi setelah sekian lama," sahut Arvan


Setelah makan bersama selesai, Yura dan Arvan berjalan kembali menuju ke kediaman Ratu. Saat itu, Raja baru saja ke luar karena harus kembali pada pekerjaannya. Jadi, Arvan pun pergi bersama Raja kembali menuju ke ruang kerja Istana Kerajaan. Sedangkan Yura beranjak masuk ke dalam kediaman Ratu sambil membawa keranjang makanan yang sebelumnya dibawa oleh Arvan karena masih ada makanan yang tersisa.


__ADS_2