One & Only

One & Only
71 - Kata Sandi.


__ADS_3

Arvan merasa dirinya sama sekali tidak memberi bantuan pada Yura saat melakukan penyelidikan. Mungkin karena Yura lebih dulu melakukan sandiwara sebagai pelanggan dan Arvan tidak handal dalam hal berpura-pura.


Apa lagi saat sedang bersama Yura rasanya Arvan tidak bisa berpikir dengan baik saking senangnya bisa bersama dengan gadis yang disukainya. Terlebih lagi saat ini ada hal yang mengganggu pikirannya.


Dan ini adalah kali kedua Arvan terdiam dalam lamunannya.


"Padahal aku sudah merasa senang saat melihat Yura memegang pedang pasangan dan menunjukkannya padaku seraya menanyakan tentang pendapatku. Kukira Yura memilih pedang pasangan itu untuknya dan untukku masing-masing satu. Dengan pedang pasangan itu bisa kuanggap kalau kita juga adalah pasangan atau paling tidak bisa kembali berteman. Namun, rupanya Yura hanya ingin memiliki pedang pasangan itu untuk dirinya sendiri. Lagi-lagi aku terlalu banyak berharap hingga salah paham sendiri," batin Arvan yang langsung merasa sedih dan kecewa.


"Sepertinya Tuan Penasehat Besar langsung merasa sedih dan kecewa karena mengira Nona Rara tidak menawarkan pedang pasangan itu untuk dirinya. Tenang saja, Tuan. Nona Rara benar-benar akan memberikan pedang itu padamu hanya saja Nona ingin memberikannya sebagai kejutan untukmu," batin pegawai toko


"Jadi, apa kau sudah selesai memilih senjata yang ingin kau beli, Rara?" tanya Arvan sambil menyebut nama samaran yang dipakai oleh Yura.


"Ya, baiklah. Aku mengerti kalau kau menemaniku untuk datang ke sini di tengah kesibukanmu. Sepertinya aku sudah terlalu larut dalam kesenanganku sendiri sampai lupa waktu tanpa memikirkan dirimu," jawab Yura


"Maaf, Rara. Aku bukan bermaksud untuk memaksamu untuk berhenti sekarang juga. Aku hanya ingin bertanya," kata Arvan


"Tenang saja. Aku memang sudah selesai. Namun, apa kau benar-benar tidak ingin memilih sesuatu untuk dibeli?" tanya Yura


"Mungkin lain kali saja aku memilih untuk membelinya," jawab Arvan


"Jadi, Tuan dan Nona tidak ingin membeli senjata lain lagi?"


"Ya, sudah cukup untuk kali ini ... " jawab Yura


"Kalau begitu, Tuan dan Nona silakan kembali ke ruangan depan lebih dulu. Saya akan memindahkan barang yang akan dibeli oleh Nona Rara ke dalam ruang barang pesanan lebih dulu, baru setelah itu saya akan menghampiri Tuan dan Nona ke ruangan depan."

__ADS_1


"Baiklah. Pastikan kau datang menemui kami berdua agar saya bisa membicarakan soal harga pesanan saya tadi. Kau bisa memindahkan barang pesanan sambil menghitung total biayanya," ucap Yura


"Baiklah. Saya mengerti maksud Anda, Nona."


"Kalau begitu, kami berdua akan kembali ke ruangan depan lebih dulu," ujar Arvan


Yura dan Arvan pun beranjak untuk kembali ke ruang depan, sedangkan pegawai toko beralih untuk memindahkan senjata yang sudah dipilih oleh Yura untuk dimasukkan ke dalam daftar pesanan ke ruang barang pesanan.


Saat Yura dan Arvan kembali ke ruangan depan, di sana sudah ada beberapa pelanggan lainnya yang sedang melakukan transaksi dengan pegawai lainnya.


Yura dan Arvan pun kembali duduk di tempat duduk yang tersedia di sana. Ada juga pegawai yang menghampiri keduanya untuk menawarkan pemesanan makanan atau minuman. Akhirnya, Yura dan Arvan memesan masing-masing segelas minuman.


Pelanggan lain yang melihat seorang Tuan Penasehat Besar bersama seorang gadis bercadar ada di sana pun mulai menjadikan keduanya bahan perbincangan hangat untuk bergosip. Sama seperti saat Yura dan Arvan yang sedang menunggang kuda melewati pengguna jalan yang ramai.


Meski merasa terganggu, kali ini Arvan lebih memilih untuk mengabaikannya dan tetap bersikap biasa saja seperti Yura yang hanya sibuk menyeruput segelas minuman dari sedotan setelah pegawai toko mengantarkan minuman yang dipesan oleh Yura dan Arvan.


"Arvan, dengarkan aku. Kita akan mulai beraksi untuk melakukan misi penyelidikan mulai dari sekarang. Meski sepertinya ini baru akan jadi permulaannya," ucap Yura dengan suara pelan.


"Aku mengerti. Lalu, apa kau sudah punya rencana? Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Arvan sambil berbisik.


"Aku baru akan mengatakan ini padamu, tapi ini adalah hal penting yang dianggap rahasia. Kau ingat kalau aku pernah bilang, toko senjata ini juga berperan ganda sebagai penyebar senjata dan informasi ilegal, kan? Sebenarnya aku tahu bagaimana cara agar kita bisa masuk ke dalam grup daftar pelanggan VIP untuk bisa mendapat informasi dari tempat ini. Asalkan bisa membayar harga yang sesuai, katanya kita bisa mendapat senjata atau informasi apa pun yang kita mau. Mungkin dari cara ini kita bisa mengetahui dalang dan motif insiden penari kipas saat itu," jelas Yura


"Jadi, bagaimana caranya?" tanya Yura


"Caranya adalah dengan menyebut kata sandi agar kita bisa masuk grup pelanggan VIP itu. Kata sandinya adalah dengan cara mengatakan kita akan memesan senjata khusus kelas atas bagai auman harimau," ungkap Yura

__ADS_1


"Caranya hanya seperti itu?" tanya Arvan


"Seperti itulah yang kutahu. Konon katanya, karena ini adalah toko senjata, maka harus tetap mengatakan akan memesan senjata, lalu bagai auman harimau maksudnya mengacu pada mulutmu adalah harimaumu yang berarti mulut yang menyebarkan informasi dan karena harimau adalah hewan buas yang berbahaya, yang juga dapat diartikan sebagai penyebaran senjata dan informasi yang bersifat penting dan sangat rahasia secara ilegal," jelas Yura


"Baiklah. Aku mengerti," kata Arvan


"Jadi, siapa yang akan menyebut kata sandi ini agar kita bisa masuk ke dalam daftar grup pelanggan VIP?" tanya Yura


"Biar aku saja yang mengatakannya," jawab Arvan


"Apa kau yakin?" tanya Yura


"Ya, setidaknya aku harus melakukan ini karena tidak bisa ikut bersandiwara menjadi pelanggan biasa sepertimu tadi. Aku juga harus melakukan sesuatu karena ini misi kita berdua, bukan hanya misimu seorang diri. Bukan kau yang memaksaku, tapi aku sendiri yang ingin melakukannya. Aku juga tidak merasa terbebani sama sekali," jawab Arvan


"Aku hanya sekadar ingin memberi tahu soal kata sandi ini padamu, tapi kalau kau sendiri yang ingin menyebutnya untuk melancarkan misi, ya ... terserah kau saja," ujar Yura


"Serahkan saja hal ini padaku. Namun, Rara ... apa kau sengaja memesan semua senjata tadi untuk dibeli? Kalau begitu, bukankah 3 hari lagi kita harus datang ke sini lagi untuk mengambil pesanan senjatamu itu?" tanya Arvan


"Kuakui, sebenarnya aku memang terpesona dengan senjata itu, makanya aku memesannya untuk dibeli. Namun, ini juga sebagian dari rencanaku. Aku menunjukkan sikap seorang pembeli biasa yang loyal dalam membeli barang dalam harga yang tidak biasa agar orang-orang di toko ini menghilangkan kecurigaan yang sebelumnya padaku dan supaya mereka menganggapku tidak punya maksud lain selain berbelanja karena memang menyukai barang-barang yang dijual di sini," ungkap Yura


"Dengan begitu, kita bisa melangkah ke tahap selanjutnya untuk masuk menjadi pelanggan VIP dan mencari informasi atau petunjuk. Kalau tidak salah mengira, orang-orang di toko ini semuanya adalah penyembah harta. Jadi saat kita menghabiskan banyak uang di sini, maka mereka tidak punya pilihan lain untuk memberikan apa saja yang kita mau. Ini seperti sekali tembak bisa dapat dua burung," sambung Yura


"Lalu, masalah 3 hari lagi kita harus kembali untuk mengambil pesanan, aku mengira misi kali ini tidak bisa langsung berhasil dalam sekali percobaan dan butuh sedikit lebih banyak waktu untuk mendapat hasil yang jelas. Jadi, aku sengaja menarget waktu selama 3 hari. Kalau memang berhasil lebih cepat dari yang diduga itu lebih bagus dan biarkan saja toko ini bangkrut karena pesanan itu kuabaikan. Namun, kalau begitu, sepertinya kau yang akan dirugikan karena orang di toko ini tahu kalau aku memesan semua barang itu saat datang denganmu," lanjut Yura lagi.


"Itu tidak akan terjadi karena toko ini sudah lebih dulu ditutup setelah terungkap menjadi bagian dari dalang insiden yang membuat kakakmu terluka," ucap Arvan

__ADS_1


"Kau benar dan itu bagus. Artinya kau memiliki semangat yang teguh untuk segera menyelesaikan misi kali ini," kata Yura


Meski hanya kata-kata yang terdengar remeh, Arvan merasa senang saat mendengar Yura seolah memberinya pujian.


__ADS_2