One & Only

One & Only
28 - Melihat Pemandangan Langit Malam.


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Arvan menutupi wajah dengan kedua tangannya meski hanya sedang sendirian dan tidak ada lagi orang yang melihatnya karena terlalu merasa malu dan berakhir mengusap wajahnya dengan kasar. Wajah tampan lelaki itu bahkan masih terlihat merona merah.


"Bisa-bisanya aku keliru dengan letak kamarku sendiri dan malah tidak sadar kalau terus mengikuti Yura sampai ke depan kamarnya. Yura sampai mengira hal yang tidak-tidak padaku karena itu. Sungguh memalukan," gumam Arvan


"Aku tidak mengerti dengan diriku dan perasaanku sendiri. Apa aku benar-benar menyukai Yura?" batin Arvan


Dari posisinya yang berada dan bersandar di balik pintu setelah menutupnya, Arvan pun beranjak dari sana.


"Saat Yura hanya pergi berdua dengan Arsha untuk berlatih berkuda, aku merasa sangat khawatir. Aku takut terjadi sesuatu padanya, karena jika ada yang terjadi pada Arsha, Yura pasti akan menyelamatkannya apa pun caranya dan pasti rela menanggung semua resiko bahaya sendirian. Saat melihat keduanya kembali dari latihan berkuda, aku merasa lega saat melihat Yura baik-baik saja. Saat Yura membuka cadarnya aku merasa sangat senang karena bisa melihat wajahnya yang cantik. Tak hanya itu, aku juga senang saat bisa melihat senyumannya, tawanya, interaksinya. Bahkan meski aku merasa malu saat Yura dengan jahilnya meledekku, aku juga merasa senang karena itu ... " gumam Arvan


"Jika aku memang menyukai Yura, bagaimana dengan perasaanku pada Yuna selama ini? Apa aku menyukai Yura hanya karena dia mirip dengan Yuna? Kalau begitu, bukankah perasaanku pada Yura hanya bentuk pelarian karena aku tidak bisa bersama Yuna yang sudah menjadi Ratu, istri dari Raja? Kalau begitu, bukankah ini tidak adil untuk Yura? Yura bukanlah bahan pelarian atau pelampiasan hanya karena perasaanku tak tersampaikan pada Yuna. Sepertinya aku tidak boleh lagi menjadi dekat dengan Yura. Mulai sekarang aku harus menjauhi Yura. Aku tidak boleh memanfaatkan wajah Yura yang mirip dengan Yuna hanya karena perasaan cintaku yang bertepuk sebelah tangan," batin Arvan


Arvan yang kini berada di depan cermin menatap pantulan bayangan dirinya yang terpaut di dalam cermin. Dilihat ekspresinya yang menyedihkan, apa lagi perasaannya saat ini. Hatinya terasa sakit hanya karena memikirkan rencana untuk menjauhi Yura. Namun, lelaki itu sudah mengambil keputusan serta telah menjadi tekadnya.


Entah sadar atau tidak, sepertinya atau memang sebenarnya ... entah sejak kapan Yura telah menguasai seluruh hati Arvan hingga lelaki itu merasa tidak seperti dirinya sendiri bahkan sering merasa kacau karena gadis yang telah mencuri hatinya itu.


...


Malam harinya. Setelah makan malam.


"Bagaimana kalau kita ke luar untuk berkemah? Melihat pemandangan langit malam sambil menyalakan api unggun, bukankah akan terasa menyenangkan?" tanya Ratu memberi saran.


"Aku belum pernah melakukan atau merasakan yang seperti itu, tapi pasti terasa menyenangkan ... " kata Arsha


"Baiklah, kalau kau ingin seperti itu ... " ujar Raja


"Ayo, Bibi Yura dan Paman Arvan ikut juga!" seru Arsha mengajak.


"Benar, lebih baik dilakukan bersama-sama. Lebih banyak orang lebih terasa menyenangkan," ujar Ratu


"Baiklah, aku akan ikut. Ayo, kita lakukan bersama-sama," kata Yura


"Kalau begitu, saya akan meminta bantuan pelayan untuk menyiapkan alat kemahnya. Yang lain silakan duluan saja," ujar Arvan

__ADS_1


Hanya Arvan yang beranjak secara terpisah untuk mencari pelayan untuk meminta bantuan. Yura merasa jika ada yang aneh dengan Arvan bahwa lelaki itu seolah berusaha menghindar darinya. Namun, Yura tidak begitu peduli dan hanya membiarkannya. Karena menurut Yura itu adalah hak Arvan ingin bersikap seperti apa pun juga.


Sementara Arvan menyiapkan peralatan kemah dengan meminta bantuan pelayan, yang lain beralih ke luar Vila lebih dulu untuk mencari tempat menggelar kemah.


"Kita menggelar kemah di sini saja. Sekarang hanya perlu menunggu Arvan membawakan peralatan kemah dengan pelayan," ucap Raja


"Benar, di sini tempat yang tepat. Lokasinya nyaman dan berada di sekitar pemandangan yang terlihat indah," kata Yura


Tak lama kemudian, Arvan datang bersama beberapa pelayan dengan membawa peralatan kemah.


"Kita berkemah di sini saja," kata Raja


"Rupanya, Anda sudah menemukan tempat yang cocok. Kalau begitu, kalian tolong bantu saya menggelar kemahnya di sini," ujar Arvan yang bicara dengan Raja dan beralih pada beberapa pelayan yang ikut untuk membantunya.


"Baik, Tuan ... " sahut para pelayan.


Peralatan kemah yang disiapkan adalah beberapa kayu bakar, tikar sebagai alas dan tenda atap.


Note: tenda yang digunakan bukan yang berfungsi untuk tidur saat camping, namun hanya tenda untuk melindungi dari kemungkinan bila terjadi hujan, yang biasa disebut terpal. Oleh karena itu disebutnya adalah menggelar kemah, bukan membangun kemah.


"Arsha, kau tetap di sini bersama Ayahanda Raja dan Ibunda Ratu. Bibi Yura mau membantu yang lain dulu," ucap Yura


"Baik, Bibi ... " sahut Arsha


"Aku akan membantu," kata Yura yang sudah beralih menghampiri Arvan.


"Kau adalah perempuan, tidak perlu membantuku. Kau temani Putra Mahkota saja," tolak Arvan


Saat bertemu usai istirahat bahkan sampai saat makan malam tadi, Yura menyadari gelagat aneh dari Arvan. Mulai dari menghindar secara halus, bahkan sampai barusan saat lelaki itu mendorongnya untuk menjauh. Yura hanya ingin memastikannya dan kesimpulannya adalah benar bahwa Arvan berusaha menjauhkan diri darinya.


"Beberapa pelayan yang ikut denganmu kebanyakan adalah perempuan, tapi mereka tetap membantu ... " kata Yura


"Kau berbeda dari mereka," sahut Arvan

__ADS_1


"Sama saja kok. Aku juga pelayan yang datang dari Istana Kerajaan. Bedanya mereka bekerja di sini, Vila Kerajaan. Itu saja," ujar Yura


"Terserah kau saja," kata Arvan


"Aku sudah biasa melakukan yang seperti ini saat mengembara di luaran sana. Lebih baik kau menyalakan api unggun saja. Di luar sini terasa dingin karena sudah malam, jangan sampai keluarga Kerajaan merasa kedinginan. Bukankah kau membawa pematik api? Karena sepertinya pelayan yang kau mintai bantuan lupa membawa pematik api," ucap Yura


"Baiklah. Kalau begitu, aku permisi ... " ujar Arvan yang langsung beralih mengurus potongan kayu bakar untuk menyalakan api unggun.


"Karena aku sudah memastikan kalau kau ingin menjauh dariku, aku akan membuatmu menjauh dengan lelusa tanpa harus memedulikan aku sama seperti saat ini," batin Yura


"Apa terlalu sulit untuk menyalakan api?" tanya Arvan


"Maaf, Tuan, kami lupa membawa pematik api, tapi salah satu dari kami sedang mengambilnya."


"Tidak perlu menunggu sampai dia kembali. Aku bawa pematik apinya, pakai saja yang aku punya," kata Arvan


"Baik, Tuan."


Pada akhirnya, Arvan sendirilah yang menyalakan api pada kayu bakar yang sudah disusun rapi untuk membuat api unggun.


Sementara Arvan masih mengurus api unggun yang belum mau menyala, Yura yang menggelar tikar sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik.


Saat itu, pelayan yang diminta untuk mengambilkan pematik api akhirnya muncul.


"Saya sudah membawakan pematik apinya di sini."


"Serahkan saja pematik api itu pada mereka, tapi sepertinya kau sudah terlambat. Lebih baik kau atau siapa pun, tolong siapkanlah camilan dan minuman untuk keluarga Kerajaan. Lalu, tolong bawakan juga selimut dan syal untuk penghangat badan. Mohon bantuannya," ujar Yura


"Baiklah, mohon ditunggu sebentar."


"Meski terlambat, ambillah ini. Mungkin akan butuh pematik api lain baru bisa menyalakan api unggunnya. Aku harus menyiapkan hal lainnya dulu." Pelayan tersebut pun menyerahkan pematik api yang diambilnya pada pelayan lain dan langsung beralih untuk mengambilkan apa yang Yura minta.


"Tikar alas duduk sudah siap. Baginda Raja, Yang Mulia Ratu, Putra Mahkota, silakan Anda semua duduk dulu. Saya akan menyiapkan tenda peneduhnya dulu," ucap Yura

__ADS_1


Raja, Ratu, dan Arsha pun beranjak untuk duduk di atas tikar yang sudah disiapkan alih-alih terus berdiri. Melihat pemandangan langit malam sambil duduk santai lebih menyenangkan dari pada terus menerus berdiri.


__ADS_2